Tarawih Pertama (A)

1714 Words

“Jadi, aku tidak bisa melakukan sesuatu seperti menciummu? Memelukmu?” tanyaku menatap Tsabina yang saat ini menganggukkan kepala. Ia terlihat begitu santai. “Selama satu bulan full?” Tsabina mengangguk lagi. Aku membulatkan mata dan merengek di sampingnya. Tsabina tertawa terbahak-bahak melihatku merengek. Aku tersenyum dan berkata, “Kamu menertawakanku?” “Dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari,” jawabnya. “Kalau sudah buka puasa ya boleh-boleh saja.” “Malam hari?” Tsabina mengangguk dengan senyum diwajahnya. “Tapi tetap saja,” lirihku. “Mas, kamu ini, kayak anak kecil saja,” geleng Tsabina. “Kamu anggap aku anak kecil hanya karena aku—” “Stop ya. Kan bisa dilakukan di malam hari kalau kamu mau menciumku, memelukku, melakukan hal-hal yang kamu inginkan.” “Tapi kan pasti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD