Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Kemudian, dia harus mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang begitu menyilaukan matanya. Ketika pandangannya sudah bisa menatap dengan fokus, dia menoleh ketika mendengar suara desahan berat dari sampingnya. “Arsyad?” tanya Victor dengan suara parau dan serak. Laki-laki itu meringis ketika merasakan kepalanya seperti dilempar oleh batu yang sangat besar. Victor memegang kepalanya dan meremas rambutnya pelan, sekedar untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya. Victor juga merasa suhu tubuhnya seperti terbakar api. Sangat panas. Mungkin, demamnya masih tinggi. “Bagus gue ngikutin elo dan Shabrina semalam,” ucap Arsyad pelan. Nada suaranya begitu rend

