Tangan Zana menepuk pelan d**a Brama yang masih senyum-senyum di depan wajahnya. “Aku lupa betapa menyebalkannya kamu,” sinis Zana dalam suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Hm,” Brama menjawabnya hanya dengan gumaman tidak jelas. Zana memicing, ia melirik beberapa kamera yang masih menyorot mereka, “Udah selesai?” bisiknya dalam suara yang bisa didengar orang-orang di depannya. Brama mengangguk juga, “Udah,” jawabnya, “Kamu lagi konferensi pers?” Zana terkikik, “Dadakan,” sahutnya. Ia menoleh pada para wartawan, “Perkenalkan semuanya, ini suamiku, sekaligus adik dari bintang utama hari ini,” Zana memperkenalkan Brama, menempel pada Brama yang dengan ringannya membiarkan tangannya di pinggang Zana. Tangan Zana menepuk d**a Brama yang berbalut suit hitam. Kepala Brama m

