Tentang Sahabat

1370 Words

Dan benar saja, esoknya saat pagi buta perempuan itu kembali datang ke rumahku. Dia tersenyum lebar, memperhatikan aku yang sibuk menyirami tanaman. "Owh, apa sekarang kamu sudah mau melangkah keluar dari rumah? Apa jangan-jangan karena aku?" Perempuan itu menutup mulutnya, tertawa meledek. Jujur aku kesal melihatnya, tapi di sisi lain, dia benar. Aku bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan karena melihat dia, aku tidak tau kenapa. Tapi aura positifnya menular padaku, menjadikan aura negatif yang sudah aku tanam sejak kematian tante Ratih dan Rayhan menjadi netral. Itu kemungkinan yang tepat. Aku memilih mengacuhkannya, masih ada beberapa tanaman yang belum aku siram. Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu sebelum meladeni perempuan ini. "Hei Hana! Mau aku bantu?" ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD