XIV. Arwah Leluhur

1216 Words
Jalan setapak yang dipenuhi dengan pohon yag memiliki banyak akar. Semuanya berjalan dengan perlahan sambil melihat keadaan sekitar. Jalan itu sangat gelap saking tebal dahan dan dedaunannya. Tidak ada seberkas cahaya pun yang dapat menembus ke dalam. Vulken dengan yang lainnya hanya bergantung pada cahaya yang datang dari ujung jalan untuk melihat. Drue menghela napasnya dalam-dalam. “Suasananya langsung berubah ketika memasuki tempat ini. Energi sihir yang mengelilinginya membuat bulu kudukku berdiri,” ujar Drue. “Paman benar, seperti tempat keramat yang sengaja dibuat untuk melindungi sekaligus sebagai jalan menuju desa tempat Weraki tinggal,” kata Vulken menyetujui pernyataan Drue. “Di sini juga tidak ada cahaya yang dapat masuk sama sekali. Berhati-hatilah dengan akar-akar pohon yang sedikit menembus tanah. Mereka bisa saja membuat kalian tersandung,” sambung Zed memperingatkan yang lainnya. “Leluhur yang tinggal di desa memang membuat jalur ini khusus untuk sampai ke desa. Satu-satunya jalur dari arah barat menuju ke desa. Dari sepengetahuanku, tidak ada jalan lainnya selain jalan setapak ini jika kita berjalan dari arah barat.” Weraki berkata. “Kurasa tanpa orang yang memang tinggal di desa, hanya orang tersesat saja yang bisa menemukan jalan ini. Turun ke kaki bukit dan semuanya hanya pohon entah di kanan ataupun kiri. Melewati bagian yang penuh dengan pepohonan hingga akhirnya sampai di jalan ini. Aku mungkin akan langsung menghindarinya jika bukan untuk melakukan perjalanan ini.” Beatrice mulai mengoceh tentang jalanannya. Ia terlihat tidak begitu nyaman berada di sana. “Lihat ke depan!” Weraki menunjuk sambil terus berjalan. “Sebentar lagi kita sampai di jembatan tua. Ingat perkataanku sebelumnya, jagalah sikap kalian saat melintasi jembatannya. Ikuti saja aku dari belakang, jangan bertingkah mencurigakan juga,” ucap Weraki yang tetap terus berjalan dan kini ia menegakkan postur tubuhnya. Bergantian dengan Vulken untuk berjalan di bagian paling depan sebelum ia akhirnya menginjakkan kaki di jembatan tua. Tibalah mereka pada jembatan tua yang dimaksudkan oleh Drue. Entah bagaimana, setelah Vulken dan yang lainnya sudah menginjakkan kaki di atas jembatan terasa atmosfer yang amat berbeda di sepanjang jembatan itu. Jembatan tua dengan susunan bebatuan berwarna monokrom yang sudah dimakan usia. Membentang dengan kokoh dari ujung ke ujung dengan jurang penuh pepohonan di bawahnya. Satu hal lagi yang unik dari jembatan tersebut. Tanaman pendek dengan daun hijau kekuningan yang berada di pinggir jembatan. Tanaman itu memiliki banyak bunga berwara putih yang ukurannya amat kecil dan mengeluarkan aroma yang begitu harum. Sulit untuk dideskripsikan tapi aromanya sangat menenangkan. “Apakah kita hanya perlu mengikutimu hingga ke bagian ujung jembatan ini?” tanya Vulken sambil berbisik kepada Weraki karena ia takut membangunkan arwah para leluhur desa. “Ya, teruslah berjalan dengan mengikutiku dari belakang,” kata Weraki. “Aku masih tidak bisa mempercayai ada jembatan seperti ini di tengah-tengah hutan. Sangat luas dan cukup panjang untuk sebuah jembatan tua yang disusun dari bebatuan. Ditambah lagi dengan aromanya yang sangat harum serta menyejukkan,” tutur Zed yang tampaknya sangat senang dapat berada di atas jembatan tua tersebut. Setelahnya Weraki pun mulai berjalan kembali dan perlahan diikuti oleh yang lainnya secara satu persatu. Pada awalnya semua berjalan normal dan tidak ada hal yang aneh sama sekali, hanya orang-orang yang berjalan di atas jembatan di tengah hutan. Namun, ketika mereka sudah berada tepat di bagian tengahnya, tiba-tiba saja muncul asap yang cukup tebal dari bagian bawah jembatan. Entah bagaimana bisa, tapi yang jelas asap itu semakin banyak dan menebal. Langsung peka akan hal tersebut, Vulken langsung melihat sekitarnya dengan kebingungan akan apa yang sebenarnya tengah terjadi. “Astaga ada apa ini? Mengapa mendadak muncul banyak sekali asap dari bawah jembatan?” “Asapnya terus muncul, semakin banyak dan anehnya malah mengelilingi kita. Weraki, apa yang terjadi di sini?” tanya Drue yang mulai panik dengan keadaan di sekitarnya. Weraki tersenyum tipis. “Tenanglah, ini adalah bagian kecil dari sambutan yang ingin diberikan oleh arwah para leluhur desa. Kembali lagi ingat dengan kata-kataku. Aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan kalian supaya dapat menjaga perilaku di sini.” Percaya atau tidak, kini asap tebal yang muncul dari bagian bawah jembatan sudah sepenuhnya mengelilingi Vulken dan yang lainnya. Kini tempatnya seolah berubah menjadi lingkaran pada dimensi lain. Pasalnya, setelah asap itu membuat ruang lingkaran bagi Vulken dan yang lain, muncul cahaya terang dari bagian bawah jembatan. Setelah beberapa saat diambang rasa kebingungan akan apa yang terjadi, muncul lingkaran sihir yang begitu besar di hadapan Vulken dan yang lain. Tepat ke arah ujung jembatan yaitu desa tempat Weraki tinggal. “Apa yang tengah terjadi di sini? Lingkaran sihir besar tiba-tiba muncul di hadapanku dengan energi sihir yang sangat besar. Bahkan tubuhku serasa lemas dan tak dapat berkata-kata,” batin Vulken seraya ia memandangi lingkaran sihir biasa yang perlahan berubah menjadi lingkaran sihir sempurna yang dapat aktif. Bentuknya sama seperti ketika Weraki ingin menggunakan sihirnya, hanya saja yang ini skalanya jauh lebih besar. “Jika ada kesempatan, aku harus mempelajari bagaimana caranya mengaktifkan lingkaran sihir sebesar itu,” gumam Beatrice yang menatapi pembentukan lingkaran sihirnya tanpa berkedip sama sekali. Lingkaran sihir yang amat besar itu pun telah sempurna dan mengeluarkan cahaya yang terang. Namun, suasana menjadi senyap untuk sesaat. Di tengah kesenyapan tersebut, Weraki tiba-tiba saja berteriak dan jelas yang lainnya amat terkejut karenanya. “Terpujilah wahai kalian yang terus berada di samping Andhiel dan Anthiel. Tunjukkanlah wujud rupa kalian lalu berikan petunjuk untuk orang-orang yang dibawa melewati jalan suci yang telah kalian miliki!” Setelah seruan itu dilontarkan dari mulut Weraki dengan amat nyaringnya, lingkaran sihir itu aktif dan muncullah banyak sekali orang dari sana. Ada satu orang yang paling berbeda dengan tubuh besar yang bercahaya di antara yang lainnya. Orang dengan tubuh bercahaya itu pun berkata, “Kalian adalah orang yang terpilih oleh jembatan. Bukan sembarang orang yang dapat diterima menginjakkan kaki di jembatan yang keramat ini. Kau ….” Ia menunjuk langsung ke arah Vulken. “Iblis di dalam dirimu bukanlah masalah, tapi hati yang bisa menghitam merupakan masalah besar yang sebenarnya.” Vulken memiringkan kepalanya dengan raut kebingungan. “Apa yang kau maksud?” tanyanya begitu pelan. “Aku hanya akan memberikan contoh orang-orang yang hatinya menghitam.” Orang yang tubuhnya bercahaya itu pun sekali menjentikkan jari dan pada bagian kiri jembatan langsung penuh dengan banyak orang. Mereka hanya berdiri tegak, tak dapat memandang karena sekujur tubuhnya hangus menghitam. Pemandangan mengerikan itu muncul hanya dalam satu kali jentikan jari dan kembali hilang pada jentikan berikutnya. "Perempuan di antara kalian. Jangan biarkan ia terjerumus kepada hal buruk. Kalian akan menyesalinya hingga akhir hayat. Percayalah perkataan ini." Orang yang tubuhnya bercahaya itu menambahkan. "Apa itu aku? Memangnya aku kenapa? Rasanya aku ini hanya seorang prajurit penjaga biasa. Apakah mungkin karena aku memiliki dua atribut sihir di saat bersamaan dan bisa menggunakan sihir gabungan?" Beatrice langsung bertanya-tanya setelah menyadari bahwa yang dimaksud adalah dirinya sendiri. "Tidak ada pertanyaan lain. Aku ucapkan selamat kepada kalian karena telah dipilih oleh jembatan untuk bertemu dengan kami. Jangan beri tahu siapa pun akan hal ini. Weraki ... tolong jaga mereka sampai ke desa saja. Setelah itu biarkan mereka melanjutkan perjalanannya sendiri. Aku mendoakan Andhiel dan Anthiel bahagia dengan kedatangan kalian." Setelah ucapan itu berakhir, semuanya seketika menghilang berikut dengan asap tebal yang mengelilingi mereka. Kini jalan membentang kembali terbuka untuk mereka menuju ke desa tempat Weraki tinggal. Hanya butuh beberapa langkah lagi karena gerbangnya sudah jelas terlihat di depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD