“Apakah tiupan terompet ketika mereka pergi adalah hal yang benar-benar baru untukmu?” tanya Drue setelah mendengar perkataan Weraki.
“Ya, ini pertama kalinya aku mendengar serta melihat secara langsung mereka menggunakan terompet seperti itu sebelum mereka pergi. Tidak ada yang pernah melaporkan anggota mereka menggunakan terompet macam itu,” kata Weraki kembali meyakinkan Drue.
“Mungkinkah itu karena kabutnya sudah menghilang maka ada salah seorang dari mereka yang memberikan isyarat untuk mundur kepada anggota yang lainnya?” Beatrice mengira-ngira.
“Itu juga masih masuk akal. Namun, apakah hanya aku yang berpikir bahwa tiupan terompet itu merupakan sebuah sinyal dari mereka yang dikirim kepada seseorang?” Vulken mengemukakan pendapatnya dan langsung mendapat perhatian dari yang lain.
Zed menghela napasnya. “Astaga, bagaimana sinyal itu dikirikan untuk kerajaan yang masih mencari kita?” Dengan perkataan Zed tersebut malah membuat yang lain mulai panik.
“Tenang, jangan terlalu panik. Kita langsung kembali ke gua, ambil serta kemasi barang-barang kalian lalu kita langsung pergi ke kaki bukit menuju desa tempatku tinggal,” ajak Weraki.
Mereka pun mengiyakan ajakan dari Weraki dan langsung bergegas untuk kembali ke dalam gua. Membawa semua barang-barang yang ada tanpa menyisakan apa pun. Begitu juga dengan kotak barang di sudut gua yang dibawa sekaligus oleh Weraki. Tidak hanya sampai di sana, Vulken masih saja sempat untuk menghanguskan sedikit kayu bakar yang tersisa hingga semuanya berubah menjadi abu menggunakan sihir api miliknya.
“Hei, kenapa kau menghanguskan kayu bakarnya?” tanya Beatrice.
“Setidaknya ini bisa sedikit menyamarkan jejak kalau kita pernah bermalam di sini. Setelah ini bisakah kau kembali menggunakan sihir anginmu dan menghempaskan semua abu ini supaya tersebar ke seluruh gua dan tidak menumpuk di sini?” tanya Vulken meminta.
Beatrice mengangguk pelan, tampaknya ia sedikit ragu untuk melakukannya entah karena hal apa. “Tentu … aku dapat melakukannya.”
Beatrice melihat ke arah yang lain terlebih dahulu. Memastikan semuanya sudah siap dengan barangnya masing-masing. “Alihkan pandangan kalian juga barang-barang yang harus tetap bersih. Abu ini akan membuat kotor sebagian tubuh,” kata Beatrice yang diikuti dengannya menggunakan sihir angin miliknya kembali `tuk menghilangkan jejak bekas abu dari api unggun. Kini seisi gua menjadi bersih tanpa ada bekas jejak yang tampak hanya dalam sekilas penglihatan saja. Inisiatif Vulken untuk menghilangkan jejak berhasil kali ini.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Drue.
“Ya, aku akan berada di depan menunjukkan jalan. Jangan membuat kebisingan atau keributan sedikit pun ketika sampai di sana karena orang-orang di desaku dapat mengartikannya sebagai ajakan untuk pertarungan ataupun ingin memulai keributan,” beber Weraki memberi tahu yang lainnya terkait kebiasaan tersebut.
“Kami akan berada di belakangmu, tolong arahkan serta tunjukkan petunjuknya untuk kami semua,” kata Drue.
Akhirnya mereka berjalan bersama-sama meninggalkan gua yang kini sudah kosong tak berisi lagi dan hanya meninggalkan suasana lembap saja di dalam sana. Satu malam yang menjadi saksi bagi mereka serta kali pertama Vulken berada di luar bangunan istana. Dari puncak hutan, mereka berhenti sejenak untuk melihat arah langit. Jika mereka berbalik, maka itu akan menunjukkan jalan kembali ke arah kerajaan Frist. Arah matahari akan terbenam. Dengan tujuan mereka, timur Meideleenia, mereka akan terus menyusuri jalan di mana sang fajar lahir di setiap harinya. Bagai mencari seluruh kehidupan baru di setiap siklus yang berputar tanpa henti dan tanpa akhir.
Mereka mulai menuruni bukit, dengan penuh pepohonan di bagian kanan dan kiri serta tanah lembap yang sedikit licin karena semalaman terguyur oleh hujan. Embun dan tetes air melewati dedaunan satu persatu, menguap ke langit yang biru ditemani cahaya sang fajar membuat rembulan tersipu malu.
“Sudah setengah jalan dan hampir sampai ke kaki bukit. Terus berjalan dengan hati-hati, semakin kita menuruni bukit maka jalanannya akan semakin licin. Terlebih baru saja hujan, tetap waspada!” Weraki mengingatkan yang lainnya untuk berhati-hati.
“Beruntunglah banyak pepohonan di sini, jika tidak maka cahaya mataharinya bisa langsung menusuk mataku. Sangat menyilaukan,” keluh Beatrice dengan matanya yang disipitkan untuk menghindari cahaya matahari yang satu dua menembus dedaunan hutan.
“Bukannya aku mau mengajarimu ataupun tidak sopan, tapi kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan. Jika kau pernah membaca buku sejarah benua Meideleenia, maka kau akan menemukan peristiwa gerhana panjang yang banyak mengakibatkan orang-orang terutama di bagian barat Meideleenia mengalami kebutaan secara massal,” ujar Vulken.
“Peristiwa itu menjadi pembelajaran untuk menambah pengetahuan. Jangan menatap gerhana matahari secara langsung. Terlebih di tempat terbuka tanpa pelindung,” sambung Zed.
Mendengar Vuken menyebutkan peristiwa tersebut langsung membuat Beatrice termenung sambil berjalan. Ia tidak mengatakan apa pun juga tak bereaksi apa pun. Karena sama-sama dibuat bingung untuk merespons apa, Vulken tidak ambil pusing dan terus melanjutkan perjalanan mereka menuju kaki bukit.
Beberapa saat berlalu, akhirnya mereka sampai juga di kaki bukit. “Hei, bukankah kita saat ini sudah berada di kaki bukit? Lantas di mana desa … ah tidak, maksudku tempat transit barang-barang itu?’ tanya Beatrice yang berada di samping Weraki secara langsung.
Weraki langsung menunjuk pepohonan tebal di depan mereka. Memang tampak sebuah jalan setapak, tetapi jalan itu amat kecil. Tampaknya hanya muat untuk satu kereta kuda dengan bagian atap yang akan sedikit bergesekkan dengan dahan dan ranting pohon.
“Kita akan melewati jalan sempit itu untuk sampai ke jembatan tua. Setelah melewati jembatan itu maka kita akan sampai di tempat yang digunakan sebagai transit barang-barang dari kerajaan Frist sebelum akhirnya disalurkan ke desa yang sesungguhnya,” ujar Weraki seraya mulai berjalan dengan langkah kecil diikuti oleh yang lainnya.
Mendengar hal itu Vulken yang kebingungan sampai mengerutkan dahinya. “Jembatan tua? Aku benar-benar tidak menyangka ada jembatan dibalik pepohonan yang lebat seperti itu. Bahkan akar-akarnya saja seperti mengikat satu sama lain."
“Ya, jembatan kokoh yang disusun dari bebatuan khusus dari dasarnya. Jembatan yang cukup lebar bahkan muat untuk dua kereta kuda berjalan secara berdampingan. Tapi jangan pernah sesekali kalian menggunakan sihir kalian dengan niat buruk di sana. Arwah para leluhur desa akan mengamuk pada kalian jika melakukan hal itu.” Weraki memberi tahu yang lainnya.
Langkah Zed seketika terhenti. “Tunggu, bukan maksudku ingin mengatakan hal buruk, tapi apa yang terjadi sampai-sampai arwah para leluhur desa berkumpul di jembatan itu?” tanya Zed yang dipenuhi rasa penasaran.
“Para leluhur desa sudah memberikan amanat bahwa setiap kali ada yang meninggal, jasadnya harus dikirimkan ke dasar jembatan sebagai tempat peristirahatan sekaligus untuk menjaga kedamaian desa. Itu tradisi turun temurun yang aku ketahui. Dari yang aku amati juga di dasar jembatan tua itu sendiri memang memiliki segel yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aku bisa takut dan takjub di saat yang bersamaan ketika melihatnya,” jelas Weraki.
“Apakah kau yakin tidak apa-apa kami melewati jembatan itu bersamamu?” tanya Drue.
"Tentu saja tidak apa-apa. Jika bepergian aku selalu menggunakan jalan ini dan aku juga salah satu penduduknya, jadi kalian tidak perlu khawatir. Selagi kalian mengiyakan peringatanku untuk tidak menggunakan sihir dengan niat buruk di atas jembatan itu," ulang Weraki kembali mengingatkan yang lain.
"Baiklah kalau begitu, mau bagaimana lagi. Ayo kita pergi ke sana, bersama-sama dan pastikan tidak ada hak buruk yang menimpa kita. Ini adalah perkembangan untuk perjalanan kita ke timur benua Meideleenia." Vulken dengan penuh semangat mengajak yang lainnya untuk yakin melewati jalan setapak pepohonan di kaki bukit sebelum akhirnya sampai di jembatan tua yang dikatakan Weraki.
Langkah pertama dari kaki Vulken memijak tanah pada jalan setapak itu. Lembab, licin dan penuh akar pohon di mana-mana. Entah pohon macam apa yang berada di sepanjang jalan itu, tapi yang jelas ketika memasukinya ada energi sihir misterius yang seolah melindungi tempat tersebut.