XII. Tiupan Terompet

1271 Words
Setelah Vulken berhasil mengumpulkan energi sihirnya dan mengembalikan jarak pandang, akhirnya Zed dapat melihat beberapa bayangan orang dari balik kabut. Walaupun begitu, tetap saja yang terlihat hanya bayangannya karena tetap kabur pandangan ketika melihat dari tengah-tengah bagian kabut. “Apa kau melihat mereka?” tanya Vulken pada Zed selagi ia menahan bola sihirnya. “Aku hanya melihat bayangan saja, itu pun hanya beberapa. Firasatku mengatakan masih ada banyak lagi dari mereka yang bersembunyi di dalam kabut,” ujar Zed. “Bidiklah dan coba kenai mereka. Kita tidak bisa hanya berdiam di sini, bisa-bisa mereka terus melempari kita dengan pisau. Kita masih beruntung karena tidak ada yang tepat sasaran,” ucap Vulken. “Aku akan mencobanya, tahanlah energi sihirmu untuk beberapa saat lagi. Ledakan tanpa perhitungan dapat menyebabkan hutan ini terbakar.” Zed berkata sambil ia mengumpulkan energi sihir miliknya. “Sihir api: Fire Bullets!” Bola-bola api kecil dilemparkan dari jari jemari Zed. Hanya beberapa yang salah sasaran dan berujung hangus menabrak pepohonan. Sisanya yang mengenai orang-orang misterius di dalam kabut membuat mereka berhenti melemparkan pisau. Tebalnya kabut semakin menipis, melihat kesempatan ini Vulken langsung bersiap untuk meledakkan energi sihir yang telah dikumpulkannya. Namun, Zed memegang bahu Vulken dan menahannya untuk meledakkan kumpulan energi sihir tersebut. “Hei, kenapa kau menahanku? Kita akan kehilangan momentum untuk melakukan ini,” protes Vulken pada Zed lengkap dengan kerutan di dahinya. “Aku merasakan ada sebuah energi sihir yang baru saja dilepaskan. Entah apa itu, tapi sepertinya kau harus menahan untuk meledakkan energi sihir itu terlebih dahulu,” tutur Zed. “Akanku ikuti saja kata-katamu. Aku mempercayai arahan darimu yang sudah berpengalaman dalam situasi seperti ini,” ujar Vulken sambil ia terus menahan energi sihirnya. Tidak lama setelahnya, terdengar suara seperti sebuah ban yang kempis. Sesaat berikutnya, kabut kembali menebal dan kumpulan energi sihir api milik Vulken tidak lagi dapat mengembalikan jarak pandang mereka berdua. Vulken pun menyerap kembali energi sihirnya dan ia tahan pada kedua lengannya sewaktu-waktu ia harus melepaskan energi sihir itu. “Bagaimana ini, tiba-tiba kabutnya kembali menebal. Pandangan kita kembali terganggu.” “Kita harus menyiapkan posisi untuk bertahan, tidak tahu apa lagi yang akan datang. Mungkin mereka kembali akan melemparkan pisau ke arah kita. Intinya harus selalu siap di dalam posisi apa pun.” Zed memberikan arahannya pada Vulken. Keduanya kembali bersiap dengan kuda-kudanya masing-masing pada posisi mereka saat ini. Sementara Zed kembali menciptakan bola-bola sihir di tangannya, Vulken hanya fokus untuk mengumpulkan kembali energi sihir pada lengannya supaya ketika nanti dilepaskan maka menciptakan ledakan yang hebat. Di saat Vulken dan Zed sedang dalam ancang-ancang jikalau ada yang menyerang secara mendadak, samar terdengar suara langkah kaki yang tengah berlari. Bukan satu orang, suaranya jelas terdengar ada lebih dari satu orang. Namun, mau dikata apa karena yang dapat Vulken dan Zed lihat hanyalah kabut dan kabut dalam setiap sudut pandangannya. “Kau tentu mendengar suara itu, kan?” tanya Vulken. Zed menghempaskan napasnya dan mencoba untuk lebih tenang. “Ya, aku juga mendengarnya. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengamati keadaan di sekitar kita.” Sebilah pisau kembali dilemparkan dari dalam kabut. Arahnya lurus menuju tubuh Zed, untungnya ia sudah siap dengan kuda-kuda serta sihir apinya sehingga pisau itu dapat dihentikan. Ketika pisau dan sihir api biru milik Zed saling bertabrakan, pisau itu seketika kehilangan kecepatannya dan langsung jatuh ke tanah. Menegaskan bahwa pisau tersebut adalah pisau asli yang dilemparkan. Bukan pisau dari sihir penciptaan. Tidak seperti sebelumnya yang memiliki jeda untuk lemparan pisau selanjutnya. Kali ini hanya selang beberapa detik saja, kembali sebuah pisau dilemparkan. Dari arah yang sama dan Zed kembali berhasil menangkisnya. Setelah menangkis kembali untuk kedua kalinya, Zed melemparkan bola sihirnya ke arah pisau tersebut dilemparkan. Walaupun pelan, tetap saja ada suara rintihan dan dedaunan yang riuh dari sana. “Tampaknya kau berhasil mengenai salah satunya. Namun, kita harus tetap berhati-hati karena tidak akan tahu kapan mereka akan melemparkan pisau itu ke arah kita,” kata Vulken. “Aku hanya beruntung mengenainya karena ia melemparkan pisau dari arah yang sama dengan target yang sama dalam jeda waktu yang singkat.” Zed menanggapi Vulken. Beralih ke sisi lain kabut …. Yang mana suara langkah kaki lebih dari satu orang yang tadi didengar oleh Vulken dan Zed adalah Drue bersama Beatrice dan Weraki yang tengah mencari keduanya. Saat ketiganya berlari pun sempat-sempatnya Weraki menggunakan sihirnya. Tampaknya itu dilakukan untuk melihat kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Kita harus mengerahkan kekuatan kita sebisa mungkin. Sepertinya orang-orang dalam kelompok White Mist ini hanya kuat di dalam kabut saja,” ujar Weraki tiba-tiba. “Itu terdengar agak aneh, tapi karena kau yang mengatakannya maka aku akan melakukannya. Aku akan menggunakan sihir angin milikku `tuk membuka pertarungan,” kata Beatrice dengan begitu percaya dirinya. Padahal sesaat setelahnya ia kembali menguap. “Di depan sana aku sudah bisa merasakan energi sihir kedua anak itu. Beatrice, siapkan penggunaan sihir angin milikmu. Weraki, tetap berada di sekitarku. Kita tidak tahu sampai mana kekuatan musuh.” Drue memberikan arahan kepada yang lainnya. Beberapa langkah dilalui mereka hingga sampai pada titik yang dimaksudkan oleh Drue. Langsung saja Drue mengumpulkan energi sihir pada kedua tangannya dengan Weraki di belakangnya mengamati keadaan sekitar. Sementara itu, Beatrice melompat ke depan dengan kedua tangannya ke atas menyilang. “Sihir angin: Shock Wave!” Sihir Beatrice yang menciptakan gelombang kejut angin. Cukup kuat untuk mengusir kabut tebal ke bagian sudut hutan. Seketika itu juga cahaya matahari perlahan menembus dedaunan dan pandangan langsung tertuju pada Vulken dan Zed yang hanya terpaku melihat aksi dari Beatrice. Sementara itu, Drue langsung berlari sekencang mungkin ke tempat anak dan keponakannya berada dan tentunya diikuti oleh Weraki di belakang. Langsung saja ia menggunakan sihir api birunya dan membuat pelindung sihir. “Bisa-bisanya kalian pergi tanpa izin. Kalian tidak ada yang terluka, kan?’ tanya Drue. Vulken langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak ada yang terluka sama sekali. Maafkan aku karena aku sangat penasaran dengan suasana pagi hari di hutan seperti ini. Kali ini juga pertama kalinya aku pergi ke luar bangunan istana kerajaan,” ucap Vulken meminta maaf. Weraki menghela napasnya. “Sudahlah, jangan berdebat di sini. Lagi pula ini bukan kesalahannya juga untuk pergi ke hutan.” “Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Sudah bersyukur kalian tidak terluka. Sekarang, ayo usir mereka yang mengganggu dari tempat ini,” ajak Drue yang membuat semangat Vulken dan Zed memanas. Beatrice sudah memulai dengan menjatuhkan dua orang menggunakan sihir angin miliknya. Lalu Zed datang dan melemparkan bola-bola apinya ke arah mereka. Setelahnya disusul dengan Vulken yang sebelumnya sudah mengumpulkan banyak energi sihir pada lengannya. Saat ia menemukan beberapa anggota White Mist yang baru saja keluar dari balik pohon untuk kabur, ia langsung melemparkan energi sihirnya. Saking banyaknya energi sihir yang sudah disimpan Vulken sebelumnya, membuat pakaian dari orang-orang itu terbakar dan sempat membuat Vulken panik karena takut akan melukai mereka lebih parah. Beruntung salah satu dari mereka ada yang memiliki sihir air dan langsung memadamkan api yang membakar pakaian mereka. Ada sebuah kejadian yang membuat Vulken dan yang lainnya terdiam. Salah seorang anggota White Mist mengeluarkan sebuah terompet lalu meniupnya dengan keras dan panjang tanpa terputus. Sesaat setelahnya semua langsung keluar dari balik pepohonan dan para anggota kelompok White Mist itu pun lari terbirit-b***t meinggalkan puncak bukit. Kini semuanya sudah aman dari ancaman, setidaknya untuk pagi ini. Setelah kelompok White Mist pergi, Drue dan yang lainnya berkumpul. “Syukurlah mereka dapat diatasi. Namun, selama warga desaku mendapatkan kabar serangan dari mereka baru kali ini aku mengetahui mereka meniupkan terompet sebelum pergi meninggalkan targetnya. Yang ku ketahui mereka datang dan menghilang dari dalam kabut tanpa ada yang tahu rupa dan keberadaan mereka,” ungkap Weraki pada yang lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD