XI. Kabut Putih

2364 Words
Rembulan yang gelap mendapat pencerahan dari sang surya hingga akhirnya dapat bersinar sepertinya. Ditemani oleh para bintang tak ingin untuk berjauhan ataupun pergi meninggalkan yang lainnya sendirian. Hujan semalam telah usai dan menyisakan jejak-jejaknya di muka bumi dengan genangan air, embun tebal di atas dedaunan, serta kabut yang menghalangi jarak pandang pada seluruh penjuru hutan. Udara sejuk pagi hari di tengah hutan serta kicauan burung-burung yang seolah tak ada habisnya berhasil membangunkan Vulken seorang diri. Ia mengucek-ngucek matanya lalu mencoba melihat keadaan di sekitarnya. Ia melihat yang lainnya masih tertidur dengan pulas. Setelahnya ia mencoba berdiri dan sedikit meregangkan tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya lalu menguap dengan begitu santainya hingga seluruh mulutnya terbuka lebar. “Astaga, udara dan aroma yang tidak bisa dijelaskan ini … sangat menakjubkan! Tidak mungkin aku dapat merasakannya jika hanya terus berada di dalam istana seumur hidupku,” gumamnya seraya berjalan ke bagian luar gua. Vulken dengan perlahan menghirup udara segar lalu kembali menghempasnya dengan perlahan pula. Udara yang masih sangat bersih dan terjaga berhasil melalui kedua rongga hidungnya. Ia kembali melangkah kecil. “Pantas gua ini sangat lembap, cahaya matahari tak dapat menembus tebalnya dedaunan untuk sampai ke sini,” ucapnya sambil melihat pepohonan di sekitarnya. Rupanya langkah kaki Vulken yang disertai embusan angin pagi membangunkan Zed dan Weraki di saat yang bersamaan. Zed yang ketika bangunnya langsung melihat Vulken sudah berada di bagian luar gua sontak berdiri dan ingin menghampirinya. Namun, ia melihat ayahnya yang masih tertidur pulas. Zed seketika mengurungkan niatnya `tuk menghampiri Vulken. “Hei, ada apa? Mengapa kau tidak pergi menghampiri saudaramu itu di luar?” tanya Weraki kepada Zed sambil ia memegangi bahunya. Mendengar itu Zed hanya menggeleng pelan lalu berbicara dengan nada pelan. “Itu bukan apa-apa. Sepertinya ayah bisa tidur dengan nyenyak semalam. Tidak seperti biasanya.” “Tenanglah, biarkan ia yang masih tidur pulas. Ini sudah di luar area kerajaan. Kau tidak perlu takut akan dihukum jika mendahului orang yang berada di atasmu,” ujar Weraki. Zed langsung saja menampakkan ekspresi kebingungan yang amat terlihat jelas. “Bagaimana kau tahu akan istilah dan peraturan itu? Aku hanya mencoba untuk memahaminya tapi bagaimana bisa kau tahu akan hal itu? Maksudku … kau bukanlah seseorang yang berasal dari kerajaan Frist,” tanya Zed yang kebingungan dengan perkataan Weraki. Weraki tertawa kecil menyeringai. “Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku adalah seorang pendeta yang senang untuk mencari ilmu dan dulunya adalah prajurit dari kerajaan Frist sama seperti kalian? Bedanya aku tidak memiliki darah langsung dari keluarga Frist,” ucapnya. “A- apa kau serius akan hal tersebut? Bagaimana mungkin itu nyata jika kau adalah mantan prajurit dari kerajaan Frist?” Zed yang tidak percaya langsung bertanya dengan nada bicara yang cukup rendah karena takut suaranya dapat membangunkan Drue dan Beatrice. Weraki menundukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Aku berhasil keluar kerajaan hanya karena mereka semua mengira diriku ini gugur dalam pertempuran padahal tidak. Aku memutuskan untuk mencari tempat baru dan menemukan desa tempatku tinggal sekarang. Belajar menjadi seorang pendeta dari salah seorang di sana hingga saat ini aku dapat menggantikan tugasnya sebagai pendeta. Oh ya, semua kiat-kiat untuk para prajurit tampaknya akan terus menerus diturunkan untuk membentuk pola pikir prajurit yang lainnya,” beber Weraki sedikit tentang apa yang telah ia alami. Zed hanya terdiam untuk beberapa saat karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Weraki tentang masa lalunya. “Astaga, apakah pamanku … maksudku sang raja mengenalmu?” tanya Zed. “Tidak, ia sama sekali sudah tidak ingat denganku. Dia hanya mengatakan kalau ia tidak asing dengan wajahku. Itu pun karena terakhir kali aku menjadi prajurit kerajaan Frist saat ia masih muda. Namun, aku rasa tidak pernah melihat ayahmu selama menjadi prajurit kerajaan,” ujar Weraki. “Seingatku ayah pernah cerita jika ia pernah melakukan perjalanan panjang hanya untuk menjelajah bagian barat Meideleenia selama bertahun-tahun. Mungkin itu bertepatan saat kau menjadi prajurit,” ucap Zed menebak. Weraki tampak setuju dengan perkataan Zed melalui anggukan pelannya. “Kemungkinan besar itu adalah benar. Aku hanya menjadi prajurit tidak lebih dari dua tahun.” Weraki kembali melihat ke arah luar gua dan Vulken sudah samar terlihat berjalan jauh. “Hei, lebih baik kau menghampiri saudaramu itu. Sebelum ia pergi terlalu jauh dan tersesat, ia seperti orang yang baru pertama kali pergi ke luar istana,” ucap Weraki. “Umm, ia memang baru pertama kali … aku akan menghampirinya. Tolong biarkan ayah dan Beatrice tidur, mereka selalu bekerja tanpa henti.” Zed langsung meninggalkan gua `tuk mengejar Vulken yang sudah semakin jauh. Terlebih lagi pagi hari di tengah hutan, jarak pandang cukup terbatas karena adanya kabut. “Percayakan saja hal itu padaku,” ucap Weraki yang begitu pelan tidak ingin berteriak supaya tidak membangunkan Drue dan Beatrice. Zed berlari secepat mungkin yang ia bisa untuk mengejar Vulken yang rasanya semakin jauh saja. Ia bahkan berteriak untuk dapat mengetahui di mana posisi Vulken saat ini. Langkah Vulken pun terhenti setelah mendengar panggilan dari Zed. Ia menoleh ke belakang lalu balik berteriak kepada Zed. Akhirnya Zed berlari menuju arah suara Vulken dan mereka pun bertemu. “Astaga, kau ingin pergi ke mana pagi-pagi seperti ini?” tanya Zed. “Hanya melihat sekitar sini saja. Aku tidak pernah pergi ke luar istana sekali pun. Berbeda dengan kau dan para prajurit lainnya yang setidaknya pernah pergi ke luar istana walau hanya sekali. Oh ya, udara di sini begitu segar!” ujar Vulken tampak amat senang. “Tadi Weraki memintaku untuk menghampirimu. Kau memiliki kebiasaan buruk saat sudah berada dalam duniamu sendiri maka kau tidak akan peduli dengan apa yang ada di sekitarmu,” kata Zed sambil ia mengatur napasnya. Vulken melihat sekitarnya. “Ya ampun, kau benar. Aku baru sadar kini sudah hampir berada di jalan utama puncak bukit ini. Untung saja tadi kau berteriak memanggil.” “Omong-omong soal Weraki, tadi ia bercerita sedikit kalau dulunya ia adalah salah satu dari prajurit kerajaan Frist. Aku sangat terkejut ketika mendengarnya.” Zed bercerita sambil keduanya terus berjalan di tengah pepohonan di atas bukit. “Bagaimana mungkin? Lalu bagaimana ia bisa menjadi pendeta di desa?” tanya Vulken. “Dari yang kudengar, semua orang mengira ia telah gugur dalam pertarungan. Padahal ia tidak pernah begitu. Ia memanfaatkan kesempatan untuk akhirnya dapat hidup dengan tenang dan tidak terikat dengan kerajaan lagi. Bahkan ia sampai mengingat bahwa para prajurit kerajaan selalu dilarang untuk melangkahi ataupun mendahului atasannya. Ini yang selalu ditekankan ayah padaku,” kata Zed memberi tahu Vulken. “Oh ya, paman Drue dan Beatrice. Bagaimana dengan mereka berdua, apakah keduanya sudah bangun?” Vulken kembali bertanya setelah mendengar Zed menyebutkan ayahnya. Sontak Zed menggeleng. “Aku meminta Weraki untuk membiarkan mereka berdua tetap tidur saja. Hitung-hitung berlibur dan mendapat istirahat. Seperti yang kau tahu, para prajurit seperti mereka dan aku sulit sekali untuk mendapat jam tidur yang cukup,” ujar Zed. Keduanya terus berjalan hingga mereka kembali sampai di puncak bukit. Yang mana, pada hari sebelumnya tepat di sana mereka memutuskan untuk berbelok karena cuaca yang tidak mendukung. Tanpa mereka sadari, kabut semakin menebal dan dengan penglihatan pun kini menjadi benar-benar terbatas. Vulken yang pertama kali menyadarinya langsung menghentikan langkah kaki serta menghentikan langkah Zed pula. “Hei, berhenti! Lihatlah sekitarmu, bukankah kabutnya semakin menebal atau ini hanya penglihatanku saja yang bermasalah?” Dengan refleksnya Zed langsung melihat sekitar dan benar saja kabutnya menjadi begitu tebal. “Tidak, penglihatanmu tidak bermasalah. Namun, mengapa kabutnya bisa menebal padahal seharusnya semakin berkurang ketika matahari telah terbit,” ujar Zed. “Tunggu, Zed … tenang sedikit dan diamlah. Bisakah kau merasakan energi sihir yang tercampur di dalam kabut tebal ini?” tanya Vulken yang mencoba untuk terus berdekatan dengan Zed seraya ia mencoba merasakan energi sihir yang ada di sekitarnya. Mendengar perkataan saudaranya, Zed mulai tenang dan mencoba merasakan energi sihir di dalam kabut yang baru saja dikatakan. “Kau benar, energi sihir itu ada di mana-mana. Kabut ini bukanlah alami karena alam. Ini pasti ulah seseorang yang-.” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ada sebuah pisau menancap di tanah. Hanya beberapa senti dari kaki Vulken. Vulken langsung menghela napasnya ketika melihat pisau itu mendarat tak jauh dari kakinya. Dengan jarak pandang yang amat pendek, mereka kesulitan untuk melihat dari mana pisau itu berasal. “Aku tidak mungkin bermimpi, ada orang yang ingin menyerang kita berdua di dalam kabut tebal seperti ini!” seru Vulken kepada Zed seraya ia menyiapkan kuda-kuda bertarungnya. *** Drue terbangun dengan kayu bakar yang sudah hangus menjadi abu di depan matanya. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri serta melakukan sedikit peregangan setelah tidur nyenyaknya semalam. Beberapa saat kemudian, ia baru menyadari kalau Vulken dan Zed tidak berada di sana. Ia pun langsung membangunkan Beatrice yang masih tertidur. “Astaga, tidurku nyenyak sekali. Apakah kini sudah kembali waktunya untuk berjaga?” ucap Beatrice dengan mata yang masih terpejam mengangkat kedua tangannya sambil menguap. Beatrice terlihat sangat menikmati tidurnya, ia mencoba untuk merapikan rambutnya sambil ia kembali menguap. “Hei, ini bukan hal main-main. Vulken dan Zed tidak ada di tempatnya!” seru Drue. Beatrice langsung mengerutkan dahinya, menyipitkan mata tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Drue. Hal itu membuat Drue bingung sekaligus terpaku saking ia bingung ingin bereaksi apa terhadap tingkah Beatrice. Selang beberapa detik dalam situasi yang aneh serta membingungkan antara Drue dan Beatrice, Drue melihat Weraki berada di sudut gua sedang merapikan barang-barangnya. Drue pun bertanya padanya. “Hei, Weraki. Apa sudah sejak tadi kau merapikan semua barang-barang itu? Tidakkah kau melihat Vulken dan Zed? Mereka tidak ada di sini.” “Tadi aku melihat mereka. Namun, saat ini memang keduanya tidak ada di sini ….” Weraki berbalik dari arah sudut gua ke arah Drue di mana pada bagian belakangnya langsung lurus ke bagian luar gua. “… mereka sedang berjalan-jalan sebentar melihat ….” Setelah berbalik badan, seketika saja ia menjatuhkan sebuah balok kayu kecil dari tangannya hingga jatuh ke tanah. Drue benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Weraki. “Hei, apa yang terjadi padamu, kau tidak apa-apa? Mereka berdua sedang melihat apa?” Pertanyaan beruntun itu langsung dikeluarkan Drue yang kebingungan dengan pernyataan Weraki yang tidak lengkap. “Drue, tidak mungkin mereka berjalan di tengah kabut tebal seperti itu, kan?” ucap Beatrice yang sejak tadi masih saja menatap ke bagian belakang tubuh Drue yaitu ke bagian luar. Drue menghela napasnya. “Aku tidak akan permasalahan pemanggilan nama itu secara langsung karena kita sudah tidak berada di dalam lingkungan kerajaan lagi. Namun, apa yang kau maksud dengan kabut tebal? Bukankah hari semakin siang dan matahari terus naik? Tidak mungkin ada kabut tebal, seharusnya semua kabut mulai kabur,” kata Drue. Ia tidak menyadari apa yang terjadi hingga akhirnya ia ikut berputar balik melihat ke arah luar gua. Sama seperti apa yang tengah dilakukan Beatrice dan Weraki. “Gawat, mereka sudah kembali. Aku tidak menyangka ini akan terjadi lagi setelah satu tahun atau mungkin lebih mereka hilang entah ke mana.” Weraki berkata. Dahi Drue ikut mengerut sama seperti apa yang dilakukan Beatrice. “Apa yang kau maksud `mereka`, apakah ada orang lain di sini selain kita? Tolonglah, jangan membuatku semakin bingung di saat seperti ini,” protes Drue yang terus saja dibuat kebingungan, “Warga desa sering menyebut mereka dengan nama White Mist. Kelompok bandit yang kerap mencuri di dalam kabut saat targetnya kekurangan jarak pandang,” jelas Weraki. “Namun, bagaimana bisa mereka menciptakan kabut setebal itu dikala pagi hari seperti ini? Apakah ada seorang penyihir dengan tingkat nol atau semacamnya di dalam kelompok mereka?” Beatrice bertanya. “Kabar burungnya memang ketua mereka adalah seorang penyihir tingkat nol yang dapat menggunakan sihir kabut. Tetapi salah seorang warga desa sempat bersaksi kalau mereka menggunakan semacam alat sihir yang dapat menciptakan kabut tebal seperti itu,” kata Weraki. “Apa Vulken dan Zed berada di dalam sana?” tanya Drue. Weraki terdiam untuk sesaat. “Seharusnya begitu, kita harus cepat menghampiri mereka. Aku takut ada hal tidak baik yang menimpa mereka jika terlalu lama berada di sana.” “Haruskah kita mencari mereka di dalam kabut itu?” tanya Drue. Weraki menghela napasnya. “Yang aku takutkan hanyalah ada yang melihat tanda kekuatan iblis pada mata kiri Vulken. Itu bisa menjadikannya incaran bagi mereka.” “Atau mungkin saja … mereka berdua yang menjadi target mereka,” ujar Beatrice yang langsung membuat Weraki berlari ke arah kabut tebal tanpa berpikir. Semuanya terjadi begitu cepat ketika mereka semua baru menyadari adanya kabut tebal tersebut. Drue bersama Beatrice yang baru saja bangun dari tidurnya pun beranjak dari gua mengejar Weraki dengan berlari ke arah kabut tebal. *** Satu lagi lemparan pisau yang kini jatuh di samping Vulken. Beruntungnya lagi pisau tersebut tidak sampai mengenai bagian tubuh mereka. Sementara itu, Vulken dan Zed masih terus mencoba mengamati sekitar mereka untuk mengetahui dari mana arah datangnya pisau yang dilemparkan ke arah mereka. “Vulken, apakah kau punya sebuah ide untuk menangani hal ini? Aku tidak bisa melihat sekitarku dengan jelas,” tanya Zed. “Apakah kau memiliki sebuah kain di sakumu?” tanya Vulken. “Aku memiliki kain yang sudah terobek, tapi untuk apa?” Zed bertanya balik seraya ia mengeluarkan kain yang ukurannya cukup panjang dan memberikannya pada Vulken. Saat Vulken mengambilnya dari tangan Zed, ia langsung menggunakan kain itu pada kepalanya dan diikat miring hanya untuk menutupi tanda iblis di mata kirinya. “Ibu selalu mengingatkanku bahwa tidak semua orang perlu melihat tanda iblis ini. Karena bisa membuat kemungkinan ada yang ingin berniat jahat padaku. Lalu … apa kau memiliki semacam teknik sihir untuk perlindungan?”” “Tentu sebagai prajurit khusus pertempuran aku memilikinya dan dapat dengan mudah melindungimu. Hanya saja, bagaimana bisa aku melakukannya dengan jarak pandang seperti ini?” Zed mulai kebingungan untuk melakukan hal apa di saat seperti ini. “Siapkan posisi pertahanan, aku akan menggunakan sihir apiku dan membuat kumpulan energi sihir. Seharusnya panjang cahaya spektrum warna merah dari sihir api cukup untuk mengembalikan sedikit jarak pandang di dalam kabut ini,” ucap Vulken. Setelahnya, Vulken mengangkat kedua tangannya. Memfokuskan energi sihirnya sedikit demi sedikit. Dalam beberapa saat, energi sihirnya terkumpul menjadi bola apa dengan ukuran yang lumayan besar dan benar saja, ide cemerlang dari Vulken itu berhasil mengembalikan sebagian jarak pandang yang terhalangi kabut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD