IX. Orang Misterius

2101 Words
Di antara api unggun yang masih terus membakar kayunya. Suasana menjadi sunyi untuk sesaat, tidak ada yang berbicara ataupun menanggapi pertanyaan Vulken sedikit pun. “Hei, ayolah. Jawab pertanyaanku, jangan hanya diam saja,” ucap Vulken. “Semalam, tepat sebelum kejadian pagi ini. Ibumu memintaku datang. Saat itu bertepatan dengan aku dan Zed baru saja selesai latihan dengan prajurit kerajaan lainnya. Jadi, kami berdua menemui ibumu. Di sana ia memberi tahu semuanya tentang rencana kalian untuk pergi ke timur benua Meideleenia dan mengambil kembali s*****a pusaka keluarga Frist untuk menyegel iblis di bawah tanah kerajaan. Bahkan aku baru tahu jika segel iblis di ruang bawah tanah kerajaan terus memudar pada setiap tahunnya,” ujar Drue menjawab pertanyaan Vulken. “Menjadi pertanyaan besar mengapa iblis itu bisa tersegel di bawah bangunan kerajaan. Terlebih, ada akses ruang bawah tanah untuk sampai ke sana,” celetuk Beatrice. “Dari yang aku baca dan kutahu, iblis itu merupakan sisa dari peperangan beribu-ribu tahun lalu. Hingga akhirnya iblis itu bangkit. Ayah yang saat itu tengah mewarisi s*****a pusaka kerajaan, ikut berperang dan menyegelnya.” Vulken berkata. “Lalu kerajaan ini dibangun di atas bangkainya yang tersegel di bawah tanah?” tanya Zed. "Begitulah, kenyataan bahwa setelah menghabisi iblis itu ayah Vulken mendapatkan peningkatan kekuatan serta penampilan yang awet muda tidak dapat terelakkan. Terlebih ia yang mewarisi takhta sebagai raja kerajaan Frist dan yang dapat mengakses ruangan bawah tanah hanya sang raja saja,” ucap Drue. “Kita tidak bisa menunda-nunda hingga iblis itu bangkit. Kerajaan ini … tidak, benua Meideleenia bisa dalam bahaya jika iblis itu kembali bangkit.” Vulken berkata. Setelah itu, tiba-tiba saja Beatrice mengambil sesuatu dari kantungnya yang ternyata adalah sebuah kain. Ia pun menggulungnya pada goresan di tangan Vulken yang masih mengeluarkan darah. “Jika tidak ditangani, kau bisa kehilangan banyak darah.” “Astaga, terima kasih Beatrice. Aku hampir melupakan tanganku yang terluka,” ucapnya. “Jangan hanya mementingkan urusan lain sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri.” “Perjalanan kita masih jauh, entah apa yang menanti di depan sana,” ujar Zed. Hari semakin gelap dan udara yang berembus semakin dingin saja. Petir pun sesekali masih menyambar daratan. Vulken mendekatkan tubuhnya lagi ke arah api unggun dengan kain yang mengitari luka di lengannya. Tampaknya Vulken sedikit kedinginan. Tidak hanya Vulken, Beatrice dan yang lainnya pun mulai menggosok-gosokkan telapak tangan mereka untuk menciptakan suhu hangat. Di tengah sunyinya keadaan saat itu, bertepatan dengan bunyi gemuruh petir. Datanglah secara tiba-tiba seorang laki-laki yang sekujur tubuhnya sudah basah kuyup sambil ia membawa kayu bakar yang tentunya basah juga. Ia datang menggunakan sebuah topi, ia langsung melepasnya seketika setelah melihat Vulken bersama yang lainnya berada di dalam gua. “Siapa kalian, mengapa kalian bisa berada di sini?” tanya orang itu. Hanya beberapa saat setelah ia bertanya, ia langsung meraih pisau berukuran sedang dari dalam pakaiannya. Tanpa wajah ragu ataupun takut, dengan mantapnya ia mengarahkan pisau itu tepat ke hadapan wajah Vulken. Melihat hal tersebut dan merasa terancam, Vulken langsung mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah setelah melakukan kesalahan. “Tenanglah, bisakah kau menurunkan pisau itu? Kami bukan orang jahat, kami orang baik-baik.” Dengan nada yang begitu tenang orang itu berkata, “Apa yang bisa membuktikan bahwa kalian adalah orang baik-baik? Aku tidak melihat aura jahat darimu, tetapi tanda iblis di mata kirimu itu perlu dipertanyakan.” Mendengar perkataan dari orang itu, Drue langsung meliriknya dengan mata yang melebar. “Tunggu, bagaimana kau bisa tahu kalau yang ada di matanya merupakan tanda iblis? Orang biasa tidak seharusnya tahu akan hal itu. Mereka umumnya akan mengira itu hanyalah cacat biasa ataupun sebatas bekas lupa juga tanda lahir saja,” ujar Drue bertanya-tanya. Hujan dan angin kencang masih menciptakan suara gaduh di luar gua. Orang itu tak bergeming untuk sesaat setelah Drue bertanya. Setelahnya, ia menghela napas panjang lalu kembali diembuskan. “Aku memang bukan orang biasa, aku seorang pendeta dengan sihir khusus. Walaupun penampilanku cukup tua seperti ini, kalian tidak bisa begitu saja meremehkanku.” Orang itu berkata. “Maafkan aku jika lancang. Namun, setelah melihat dan mendengarkan kau berkata seperti itu membuatku makin curiga,” ujar Beatrice. “Apa maksudmu? Gua ini tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku yang pertama berada di gua ini sebelum kalian. Barangku ada di sudut gua, di belakang kalian. Serta kalian menggunakan kayu bakar milikku tanpa izin, apakah aku salah jika curiga kepada kalian?” Orang tersebut bertanya balik dengan pisau yang masih dipegang erat mengarah kepada Vulken. Vulken menghela napasnya. “Maafkan kami soal menggunakan kayu bakar milikmu tanpa izin. Kau pasti sangat lelah mengumpulkan kayu bakar sebanyak ini ditambah dengan yang sedang kau bawa saat ini. Namun, kami hanya sedang dalam perjalanan dan kebetulan hari sudah hampir gelap juga terlihat awan mendung di langit. Kebetulannya lagi kami menemukan jalan hingga sampai ke gua ini. Kami hanya ingin berteduh dari hujan, tidak lebih. Tolongkah kau untuk mengerti keadaan kami juga di sini, kami sungguh bukan orang jahat.” Orang itu malah menatap tajam Vulken. Ia dengan sengajanya menjatuhkan pisau dari genggamannya, semua yang melihat langsung terheran dengan apa yang dilakukannya. Sesaat setelahnya ia membuka lingkaran sihir pada telapak tangannya dan langsung di arahkan kepada Vulken. Vulken yang waspada dengan sedikit rasa takutnya sontak mengambil beberapa langkah kecil mundur. Yang lainnya pun hanya melihat saja karena tidak tahu harus berbuat apa di tengah situasi yang amat membingungkan seperti itu. “Lingkaran sihir, ia benar-benar memiliki sihir khusus. Tidak boleh diremehkan,” gumam Beatrice sambil mengusap keringat di dahinya. Setelah itu lingkaran sihirnya menyala dan seketika langsung menghilang. Orang itu langsung menunjuk ke arah Beatrice. Jelas saja Beatrice langsung dibuat terkejut sekaligus kebingungan dengan hal itu. Raut wajahnya tak bisa dibohongi. “Hei … tunggu, mengapa kau tiba-tiba menunjukku seperti itu? Aku benar-benar minta maaf jika kata-kataku menyinggungmu. Tapi jika boleh jujur, aku benar-benar merasa tidak nyaman saat ini karena kau menunjuk seperti itu,” ujar Beatrice. “Kau … semuanya memiliki darah dari keluarga kerajaan Frist kecuali kau. Mengapa kau bisa di sini bersama anggota keluarga kerajaan?” tanya orang itu kepada Beatrice yang membuat Vulken dan yang lainnya tidak bergeming untuk sesaat. “Umm … aku salah satu orang yang dipercaya oleh sang ratu untuk menemani dalam perjalanan ini. Namun, terlepas dari hal itu bagaimana kau bisa tahu kalau yang lainnya adalah anggota keluarga kerajaan Frist?” Kini giliran Beatrice yang bertanya balik kepada orang itu. Orang itu pun menyeringai. “Sudahku bilang sebelumnya, kan? Aku ini seorang pendeta yang memiliki kemampuan sihir khusus. Jangan tanyakan bagaimana cara kerja ataupun teknis sihirnya. Yang jelas, kalian sudah melihat apa yang bisa kulakukan dengan sihirku,” ujarnya. “Jujur saja sihirmu mengesankan tapi di sisi lain menyeramkan juga jika untuk mengetahui informasi dari ornag lain tanpa bertanya.” Zed berkata. “Semuanya, supaya lebih tenang bagaimana jika kita berbicara sambil duduk saja. Kau juga basah kuyup, sebaiknya menghangatkan tubuh terlebih dahulu sebelum penyakit menghampirimu,” ucap Drue dan setelah itu semuanya langsung duduk mengelilingi api unggun. “Perjalanan apa dan ke mana kalian ingin pergi? Terakhir kali raja Frist mengunjungiku sekitar empat atau lima bulan yang lalu ia berkata bahwa tidak akan ada keluarga kerajaan yang keluar dari istana bila bukan karena tujuan khusus yang mendesak. Lalu saat ini di hadapanku ada tiga orang yang memiliki darah keluarga Frist.” Orang itu langsung memulai pembicaraannya. “Kami sedang melakukan perjalanan ke timur benua untuk mencari sesuatu.” Vulken langsung menjawabnya tanpa ragu. Lalu ia menoleh ke arah Beatrice lagi. “Jika seperti itu bagaimana denganmu? Kau … dipercayakan oleh sang ratu, tapi kenapa sang ratu atau bahkan sang raja tidak ada di sini?” tanya orang itu. Bibir Beatrice sudah terbuka, tetapi langsung disela oleh Vulken. “Maafkan aku memotong, tetapi sang ratu sudah tiada. Ada yang melakukan sabotase terhadap acara kerajaan sehingga menyebabkan ibu keracunan,” ujar Vulken menjawab pertanyaannya. “Astaga maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyinggung kalian. Namun, sang ratu dikenal dengan baik oleh orang-orang di desaku. Oh ya, namaku Weraki. Panggil saja seperti itu supaya memudahkan kita dalam berkomunikasi,” ujarnya. “Tunggu, bukankah tadi kau mengatakan kalau tempat tinggal atau desamu itu berada di dekat sini? Apakah itu berarti desa di kaki bukit yang beberapa kali dikirimi suplai dari kerajaan Frist?” Drue bertanya pada Weraki. Weraki langsung menganggukkan kepalnya. “Betul, itulah desa tempatku tinggal. Tepat di kaki bukit ini,” jawabnya. “Tujuan kami kebetulan ialah ke bagian timur benua Meideleenia. Bisakah kami singgah sejenak di desamu sebelum melanjutkan perjalanan? Maksudku … setelah hujan ini reda.” Vulken langsung bertanya setelah mengetahui desa yang sejak tadi dibicarakan oleh pamannya adalah desa di mana Weraki tinggal. Weraki terdiam untuk sesaat seperti memikirkan suatu hal. Pandangannya tak berisi untuk sesaat. Setelahnya ia pun balik bertanya, “Apakah yang kalian maksud benar-benar bagian timur dari benua Meideleenia? Tidakkah kalian tahu kalau semakin kalian pergi ke timur Meideleenia maka semakin banyak hal menyeramkan yang akan ditemui?” “Setahuku yang paling terkenal dari bagian timur benua hanyalah bukit Andhiel dan Anthiel saja. Tidak ada yang lain,” kata Beatrice. Zed menghela napasnya dengan cepat. “Itu merupakan nasihat dari para leluhur yang tinggal di benua Meideleenia. `Akan ada banyak yang ditemui jika terus berjalan ke Timur, sebagian kecil bahagia dan bagian besar lainnya selalu hal buruk`. Kau bisa menemukannya pada buku Riwayat sejarawan benua Meideleenia,” tutur Zed. Pandangan Drue langsung melebar, ia langsung memberikan isyarat kepada Beatrice dan Zed untuk segera diam. Drue lalu mengalihkan pandangannya pada Weraki. “Maafkan aku jika perkataan mereka ada yang menyinggungmu, aku benar-benar minta maaf,” ucap Drue. Sontak perkataan Drue barusan membuat yang lainnya kebingungan. Namun, Weraki hanya menyeringai setelah mendengarnya. “Tidak apa-apa, itu bukan masalah.” “Maaf, tapi memangnya mengapa Paman sampai berkata seperti itu?” tanya Vulken. Belum sempat menjawab, Drue terdahului oleh Weraki untuk berbicara menjelaskannya pada Vulken. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya, lalu mulai berbicara. “Begini, desa kami memiliki kepercayaan yang mana mempercayai bahwa Andhiel dan Anthiel-lah yang membawa kesuburan di timur Meideleenia. Tanpa mereka, kami yakin timur Meideleenia akan langsung hancur dan gersang seperti bagian baratnya.” Entah kenapa Beatrice langsung terbatuk sesaat setelahnya. Padahal ia hanya sedang mendengarkan Weraki berbicara saja, tidak makan ataupun minum. Setelah itu Weraki pun melanjutkannya. “Setelah peristiwa peperangan para iblis, mereka berdua bertengkar dan membuat THE WORTHY ONE marah hingga akhirnya mengikat mereka pada dua bukit yang berbeda. Kami sebagai penduduk desa yang berada di bawah kaki bukitnya percaya bahwa jika tidak ada yang mendoakan mereka berdua maka mereka akan enggan untuk menciptakan kesuburan pada tanah timur Meideleenia,” jelas Weraki. “Ternyata begitu rupanya, aku rasa semua yang ada di benua Meideleenia sekarang ini terikat dengan kejadian di masa lampau itu. Akan menjadi mimpi buruk jika kejadian itu terulang kembali,” ujar Vulken. Weraki seketika mengerutkan dahi sekaligus dengan alisnya. “Apa maksudmu dengan `terulang kembali.` Tidak mungkin iblis-iblis itu akan bangkit kembali!” seru Weraki. Vulken lalu melirik pamannya. Drue langsung menggeleng pelan mengisyaratkan Vulken untuk hanya diam saja dan tidak perlu mengatakan apa pun. Lalu Weraki tiba-tiba saja menurunkan nada bicaranya menjadi begitu pelan. “Tunggu, apakah kalian masih ragu-ragu denganku hanya karena aku ini orang asing yang hanya beberapa menit lalu bertemu dengan kalian?” tanya Weraki. “Begini, mungkin kenyataannya seperti itu tapi kami tidak ingin membuatmu … kau seharusnya tahu apa yang aku maksud. Walaupun aku tidak memiliki garis keluarga Frist, aku tahu bahwa mereka cukup tertutup dengan orang lain selain yang berada di lingkup kerajaan saja.” Beatrice berkata terus terang kepada Weraki. Saat itu juga Drue menghempaskan napasnya seperti orang yang tidak tahu ingin berbuat apa karena Beatrice sudah terlanjur mengatakannya. Weraki memejamkan matanya sambil berkata, “Aku kira sang raja sering menceritakan tentang hubungan kerajaan Frist dengan desaku. Selain kepala desa, hanya akulah yang sering berinteraksi dengan sang raja. Mungkin jumlahku lebih banyak jika dihitung-hitung. Bahkan aku tahu kalau sang raja memiliki bekas luka yang menggores bagian pinggangnya secara horizontal,” ucap Weraki yang langsung membuat Beatrice serta yang lainnya terdiam. “Astaga, dia benar soal luka itu. Sulit dipercaya tapi ia benar-benar mengatakannya dengan jelas,” gumam Drue. “Ayah memang memiliki luka itu … bagaimana ia bisa mengetahuinya?” batin Vulken. “Hei, tunggu. Bagaimana kau bisa mengetahui hal semacam itu?” tanya Zed. “Kini sudah jelas kalau sang raja tidak menceritakan tentangku sama sekali. Sekitar beberapa bulan yang lalu, ia sempat menanyakan ramuan untuk menyamarkan lukanya. Aku meminta untuk melihat lukanya seperti apa terlebih dahulu, setelah dicek barulah aku menyiapkan ramuannya. Jika ia menggunakannya secara rutin, seharusnya sekarang ini bekas lukanya mulai memudar.” Weraki berkata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD