III. Kepercayaan Dalam Amanat

1048 Words
“A-apa Ibu serius? Jika seperti itu mendapatkan s*****a pusaka ini adalah hal yang sangat penting Bu!” seru Vulken yang setelah itu menggenggam kedua tangan ibunya. “Ibu harus percaya dan selalu mendoakanku untuk selamat, ya?” Keduanya pun melanjutkan obrolan mereka, tentang keseharian dan apa-apa saja berita baru di sekitaran istana. Jarang sekali Vulken berbicara banyak kepada sang ibu, sepertinya keinginan Vulken sendiri untuk dapat diakui menjadi bibit api Helios yang akan terus berkobar. Di tengah percakapan antara Vulken dan ibunya, prajurit kerajaan yang pagi tadi berpapasan dengan Vulken berkeliling melewati kamar. Prajurit itu sekilas melirik Vulken dan ibunya di dalam kamar karena kebetulan pintu kamar tidak tertutup. Prajurit perempuan itu bernama Beatrice, prajurit kerajaan yang terkenal sebagai penyihir tingkat I pertama yang paling muda dan terkenal dingin. Umurnya hanya dua tahun lebih tua dari Vulken dan entah kenapa semenjak ia bergabung menjadi prajurit kerjaan ia selalu berpatroli menjaga area di sekitar kamar Vulken. Ia tidak pernah berpindah sekali pun. Ibu Vulken tak sengaja pula melihat Beatrice lalu memanggilnya. “Beatrice, kemarilah!” Langkah Beatrice terhenti, ia menggeleng menolak panggilan ibu Vulken. Ibu Vulken kembali memanggilnya. “Ayo, tidak perlu takut. Aku memiliki sebuah perintah unutkmu,” panggilnya sekali lagi. “B- baik ratu!” “Ibu seorang ratu tapi selalu terlihat seperti orang biasa ya,” gumam Vulken. Beatrice perlahan melangkah memasuki kamar Vulken lalu menutup pintu rapat-rapat. “Apakah sedang banyak yang berjaga di luar?” tanya sang ratu. “Tidak, yang mulia. Aku hanya tidak ingin ada yang melihat diriku berada di dalam kamar ini. Bisa-bisa aku dicurigai bersekongkol dengan tuan muda untuk berbuat hal yang tidak-tidak,” kata Beatrice. “Hei, aku ini bukan seorang penjahat tahu!” ujar Vulken memalingkan wajahnya. “M- maafkan aku tuan muda.” “Bisakah kau menemani Vulke dalam perjalanannya menuju timur Meideleenia?” tanya sang ratu. Mendengar itu Beatrice benar-benar terkejut. “Aku menolaknya. Semua orang tahu jika bagian timur Meideleenia sangat berbahaya. Bila pergi ke sana maka harus melewati bukit Andhiel dan lembah Anthiel yang terkutuk. Ini bukan hal yang main-main!” tegas Beatrice menolak. “Aku baru ingat tentang legenda itu. Katanya, banyak orang hilang setelah menginjak tempat tersebut. Tetapi karena itu sebuah legenda dan cerita dari mulut ke mulut apakah kita bisa mempercayainya?” ujar Vulken meragukan legenda tersebut. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk lancing atau bagaimana. Tetapi memang banyak laporan orang hilang di sekitaran tempat itu.” Beatrice menanggapi. “Aku yakin jika kau dan Vulken dapat melaluinya. Aku percaya kepadamu, Beatrice,” ujar sang ratu kembali meyakinkan Beatrice. Meski terus menolak pada awalnya, akhirnya Beatrice mengiyakan permintaan sang ratu untuk menemani tuan muda yang adalah Vulken `tuk pergi ke timur Meideleenia. Mungkin juga Beatrice mengiyakan permintaan sang ratu karena memang hubungan mereka berdua sangat dekat, jadi seperti tidak mungkin menolak permintaannya. Apalagi yang meminta seorang ratu. “Aku akan menyiapkan semuanya. Pastikan esok pagi kau terus bersama dengan Vulken. Aku akan memberikan tugas pengiriman barang palsu kepada beberapa prajurit yang berjaga supaya penjagaan lebih lengang dan kalian dapat lebih mudah keluar dari istana.” “Ibu yakin tidak ingin pergi bersamaku?” tanya Vulken. “Percayakan semua kepada Ibu, Nak. Semua akan baik-baik saja di sini.” “Aku akan menjaga kepercayaanmu, ratu. Dengan segala hormat akan kulakukan yang terbaik.” Beatrice mengatakan hal itu sambil menunduk. Tidak terasa larut telah tiba, bulan sabit menerangi langit malam penuh bintang-bintang. Beatrice telah pergi sejak tadi, tetapi ibu Vulken belum juga pergi melanjutkan pembicaraan dengan Vulken. Sang ibu meminta Vulken untuk beristirahat dan tidur yang cukup. Ibunya mengatakan Vulken harus bersiap untuk esok pagi karena sang ibu akan datang pagi-pagi sekali untuk membangunkannya. “Esok pagi aka nada jamuan makanan dengan para keluarga kerajaan lainnya. Pagi tadi ayahmu baru saja menunjuk juru masak kerajaan yang baru. Sekaligus menguji masakannya, ayahmu meminta untuk diadakan jamuan esok pagi. Jadi, bersiap-siap ya!” “Baik Bu, setidaknya sebelum pergi aku bisa menikmati makanan lezat dari kerajaan ini. Sang ibu pun pergi meninggalkan Vulken di kamar. Vulken menjadi tidak sabar untuk esok hari. Ia akan memakan jamuan kerajaan lalu untuk pertama kalinya ia akan keluar dari istana. Sebuah tanggung jawab besar sebagai anak tunggal keluarga Frist untuk menjaga kerajaan supaya tidak hancur. Beberapa saat setelahnya, Vulken terpikirkan bagaimana jika iblis yang terseel di ruang bawah tanah benar-benar bangkit. Pastinya akan terjadi kekacauan di mana-mana dan bukan tidak mungkin istana dapat porak poranda dalam waktu yang singkat. Tidak ingin memikirkannya terlalu lama hingga dibuat pusing sendiri, Vulken memutuskan untuk tidur dan menunggu hari esok tiba. -Ruins- Hari silih berganti, semalam Vulken lupa untuk menutup pintu balkoninya sebelum tidur. Hal itu membuat cahaya sang fajar menerangi setiap sudut kamarnya, membuat kehangatan seperti memanggil Vulken untuk pergi ke sana. Bunyi lonceng kerajaan menandakan sudah waktunya untuk beraktivitas, berarti tidak lama lagi pesta jamuan akan dimulai. Beberapa saat setelah Vulken siap-siap, sang ibu mengetuk pintu kamarnya. “Vulken, apakah kau sudah bangun?” tanya sang ibu dari balik pintu. “Tentu saja sudah, Bu!” ujar Vulken seraya membukakan pintu untuk ibunya. Sang ibu menggunakan pakaian serba putih seperti anggota keluarga kerajaan lainnya saat ada acara penting. Ibunya benar-benar sudah menyiapkan diri untuk acara jamuan. Tidak seperti Vulken yang mengenakan pakaian untuk bertualang dengan zirah besi tipis di balik bajunya. “Semalam Ibu sudah menitipkan beberapa barang kepada Beatrice. Barang-barang itu mungkin akan berguna  selama perjalanan kalian nanti. Pergilah menemui Beatrice,” ujar sang ibu. “Baiklah, setelah ini aku akan menemuinya.” “Kalau begitu, Ibu pergi ke ruang makan duluan ya! Ibu ingin mencicipi hidangan spesialnya duluan. Sampai nanti Vulken, Ibu akan menunggumu,” pungkas yang ibu mengakhiri percakapan dan pergi. “Wah hidangan spesial ya … kalau begitu aku harus cepat-cepat bertemu dengan Beatrice dan setelah itu mencoba hidangannya. Perutku sudah tidak sabar menantikan banyaknya hidangan jamuan!” Vulken berbicara sendiri. Akhirnya Vulken merapihkan kamarnya, seolah-olah memberikan salam perpisahan. Ia mengambil kunci kamar lalu menguncinya rapat dari luar. Tidak aka nada yang bisa memasuki kamarnya kecuali dibuka paksa. Setelahnya Vulken pergi mencari Beatrice di sekitaran kamarnya, ia terus mencari tetapi anehnya ia tidak menemukan Beatrice sama sekali. Prajurit yang berjaga juga hanya satu dua yang terlihat. Ini merupakan pemandangan yang aneh bagi Vulken karena tak biasanya penjagaan sepi walaupun sedang ada acara penting di kerjaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD