Setelah itu Vulken memutuskan untuk ke bawah, pergi ke ruang makan di mana seharusnya di sana acara penting kerajaan sedang dilaksanakan. Ia masuk melalui pintu samping karena ia tahu jika ia masuk lewat pintu depan maka akan ada banyak orang termasuk para tamu yang diundang untuk melakukan santap jamuan bersama di ruang makan kerajaan. Saat Vulken membuka pintu samping ruang makan dan memasukinya, ia tambah dibuat kebingungan ketika melihat ruang makan yang kosong melompong. Tidak ada koki maupun pelayan yang seharusnya sibuk menyiapkan jamuan. Vulken mulai menelusuri ruang makan hingga ke bagian ujung di mana seharusnya sang raja yang sekaligus ayahnya duduk saat perjamuan di atas singgasananya.
“Astaga, piring milik siapa itu? Bukankah perjamuannya belum dimulai?” Vulken membatin bertanya-tanya setelah melihat sebuah kue pai yang tersisa setengah bagian berada di atas piring. Tepat di depan singgasana raja.
Vulken pun mendekati singgasana raja dengan langkah kecil hamper tak bersuara. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sang ibu sudah tergeletak lemas. Vulken pun langsung menghampiri sang ibu dan mencoba untuk membangunkannya. Semua usaha yang ia lakukan bak sia-sia setelah akhirnya ia menempatkan telunjuk tepat di bawah hidung sang ibu. Sudah tidak ada lagi embusan napas … tak ada pula tampaknya hal yang dapat diharapkan oleh Vulken. Hanya setetes air mata yang diikuti setetes lainnya mengalir di atas pipinya.
“Mengapa ini harus terjadi padaku secepat ini? Bodohnya diriku ini bahkan sampai tidak sempat berpamitan,” gumam Vulken sambil menahan air mata di kedua sisi lalu ia mulai meremas kelapanya sendiri seolah sudah putus asa dengan keadaan yang ada.
Tak lama kemudian, datanglah Beatrice dari pintu samping yang tadi dilalui Vulken. Beatrice terlihat seperti orang yang tengah diburu-buur entah karena apa. Yang jelas napasnya terengah-engah dan ia berkeringat dengan peralatan prajurit kerajaan yang lengkap. Vulken berdiri menunjukkan tempatnya dan Beatrice berlari menghampiri. Tidak berbeda jauh dengan Vuken, langkah Beatrice langsung terhenti ketika melihat sang ratu tergeletak begitu saja di samping singgasana raja.
Beatrice awalnya masih terdiam. Hingga akhirnya ia pun bertanya, “Apa yang terjadi pada sang ratu? Apa yang kau lakukan dan mengapa kau ada di sini?” Semua pertanyaan itu langsung ditujukan kepada Vulken dengan tatapan tajam penuh curiga dari Beatrice.
“Sungguh, aku bersumpah aku tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Seharusnya hari ini kita pergi ke timur Meideleenia, sesuai dengan permintaan dari ibuku semalam,” ujar Vulken.
“Bola matanya tidak menunjukkan kebohongan, ada bekas usapan air mata di pipinya. Tuan muda ini tidak berbohong.” Beatrice berbicara di dalam hati. “Aku mempercayaimu tuan muda, apakah ada yang kau temukan untuk masalah ini?” tanya Beatrice.
“Aku hanya menemukan kue pai yang sudah setengah dimakan itu. Seharusnya itu jadi hidangan spesial untuk perjamuan hari ini. Aku curiga ibu mengalami keracunan setelah memakan kue pai itu,” kata Vulken sambil menunjuk kue tersebut.
Beatrice melihat kue itu dengan seksama, tapi dilihat dari sudut mana pun tetap saja itu terlihat seperti kue biasa. “Aku tidak melihat sesuatu yang aneh dari kue ini. Namun, aku rasa aromanya yang agak menyengat patut dicurigai,” ujar Beatrice.
Vulken kembali berlutut, menunduk di samping tubuh ibunya yang sudah tak berdaya. Ia mengangkat tangan lalu berdoa untuk sang ibu. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya dapat melihat wajah sang ibu diiringi dengan pamitan melalui doa.
Tak lama, Vulken melirik Beatrice dan balik bertanya. “Kau sendiri dari mana saja? Bukankah seharusnya kita langsung bertemu pagi ini lalu pergi ke timur Meideleenia? Aku mencarimu ke mana-mana tapi seisi kerajaan seolah kosong. Seperti sengaja dikosongkan, bahkan tanpa penjagaan padahal sedang ada acara besar.” Vulken berkata.
“Pagi-pagi sekali semua prajurit kerajaan diminta untuk berkumpul untuk menyiapkan serta mengamankan acara hari ini. Aku yang merupakan prajurit bagian penjagaan diminta untuk mengantar para tamu terlebih dahulu ke ruangan tunggu khusus tamu. Jadi, itu cukup menyita waktuku untuk akhirnya bisa menemuimu,” jelas Beatrice.
“Bagaimana kau tahu aku berada di sini? Terlebih kau menggunakan pintu samping juga.” Vulken kembali bertanya dengan segala kecurigaannya.
Beatrice menggeleng. “Kau tidak bisa langsung menuduh orang seperti itu. Pertama, kamarmu dikunci dan sudah pasti kau tidak ada di dalamnya. Kedua, kau menjatuhkan kunci kamarmu sendiri tidak jauh dari kamar. Untung saja aku yang menemukannya dan bukan prajurit lain. Terakhir, yang semalam dibahas oleh ibumu hanyalah pelarian kita dan pesta jamuan pagi ini. Maka dari itu aku langsung menuju tempat ini.” Kembali Beatrice menjelaskan.
“Bagaimana dengan tugas pengiriman barang palsunya?”
Beatrice menghela napasnya. “Barangnya benar-benar banyak. Aku rasa ibumu melakukan apa yang ia katakan dengan baik. Gerbang kerajaan terbuka lebar karena ada tamu dari kerajaan lain untuk mendatangi pesta jamuan serta pengiriman barang palsu yang ternyata barangnya begitu banyak,” kata Beatrice. “Sekarang juga kita harus pergi ke luar kerajaan. Sebelum gerbang tertutup karena semua barangnya sudah dinaikkan. Bagaimana?”
“Bagaimana dengan ibu? Apakah kau tega meninggalkannya sendiri di sini dengan kondisi seperti ini? Aku tidak sanggup membiarkannya seperti ini,” ujar Vulken.
“Kalau begitu, perlukah aku memanggilkan para medis ke sini?” tanya Beatrice.
Vulken menganggukkan kepalanya perlahan. “Sepertinya perlu, aku harus tahu sebenarnya mengapa ibu bisa jadi seperti ini.”
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memanggilkan para medis ke sini,” ucap Beatrice. Baru saja beberapa langkah menuju pintu utama ruang makan, tiba-tiba saja pintu itu dibuka oleh sang raja. Ayah kandung dari Vulken.
Jelas saja hal itu membuat Beatrice terkejut bahkan sampai Vulken pun berdiri. Yang tambah membuat terkejut ialah ketika mengetahui sang raja tidak sendiri. Melainkan diikuti oleh begitu banyak prajurit serta para tamu yang hari ini seharusnya akan melakukan pesta jamuan. Tepat di samping sang raja pun ada penasihat kerajaan yang sudah seperti kaki tangan dari sang raja itu sendiri. Tidak hanya itu, di belakangnya terlihat Zed beserta ayahnya yang merupakan paman Vulken.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Seorang iblis berduaan dengan Wanita yang adalah prajurit kerajaan. Apa-apaan ini?” Sang raja membentak. Namun, beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa sang ratu sudah tergeletak lemas tak berdaya di samping singgasananya. Sang raja pun berlari menghampiri sang ratu untuk melihat keadaannya.
Setelah tahu keadaan yang sebenarnya sang raja pun melirih, “Sang ratu sudah tidak ada. Penasihat kerajaan, tolong panggilkan para medis. Lalu siapkan pemakamannya esok hari. Jamuan harus tetap dilakukan!”
Mendengar langsung hal itu dari sang raja, semua yang berada di Lorong besar sebelum masuk ke ruang makna terkejut dan bertanya-tanya. Sementara itu, penasihat kerajaan langsung pergi meninggalkan tempat untuk melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh sang raja.
Sang raja berdiri dengan tegak, tubuhnya besar dan dapat menghalangi sebagian cahaya yang masuk dari luar melalui jendela. Ia mulai menatap anak semata wayangnya dengan tatapan tajam seperti seorang pemburu. “Apa yang kau lakukan pada ibumu? Aku tidak pernah mengajarimu tentang bagaimana menjadi seorang penjahat,” ujar sang raja.
“Sungguh aku tidak melakukan apa pun. Yang aku tahu hanya ibu sudah tergeletak di sini. Sepertinya ini terjadi setelah ibu memakan kue pai itu. Oh ya, satu lagi. Kau memang ayahku dan memang kau tidak pernah mengajariku bagaimana menjadi seorang penjahat. Namun, aku dapat melihat sosok penjahat itu tepat di hadapanku. Bisa-bisanya kau tetap menjalankan jamuan dengan keadaan ibu yang sudah tiada.”
Mendengar kata-kata dari Vulken itu, Beatrice hanya bisa terdiam. Sementara itu Zed dan ayahnya terlihat langsung meninggalkan tempat pergi entah ke mana.
Sang raja pun melirik kue pai yang dimaksud anak semata wayangnya itu. Tak lama ia kembali menatap anaknya, kini dengan tatapan yang lebih mengintimidasi. “Apakah kau yang meracuni ibumu sendiri? Jawablah jujur kepadaku!” seru sang raja berteriak membentak.
“Sungguh aku tidak mengetahuinya. Sedari aku datang kuenya sudah berada di sana dengan kondisi seperti itu. Sama halnya seperti ibu di sini,” ujar Vulken.
“Sekali lagi aku bertanya. Apakah kau meracuni ibumu sendiri?” Kembali sang raja bertanya dengan lebih lantang. “Yang jadi permasalahan adalah mengapa kau bisa berada di sini berdua-duaan dengan prajurit kerajaan ini. Tidak hanya itu, masalah utamanya adalah aku baru saja memakan kue ini di ruang tunggu para tamu sebelum akhirnya pergi ke sini.” Jelas sang raja.