V. Pelarian

1035 Words
“Tidak mungkin bukan dari kue ini yang mulia.” Beatrice mulai berbicara kepada sang raja. “Kau dapat mencium aromanya yang sedikit aneh sekarang juga,” ujar Beatrice. “Berani-beraninya kau yang hanya seorang prajurit biasa menyuruh seorang raja! Di mana letak hormatmu sebagai seorang prajurit kerajaan?” Mendengar perkataan Beatrice hanya membuat raja tambah geram saja alih-alih menyelesaikan masalah yang ada. “Bukan maksudku seperti itu yang mulia, tetapi memang aroma dari kue itu cukup aneh.” “Hal yang harus kau tahu adalah kue pai itu adalah hidangan spesial untuk pesta jamuan hari ini. Menggunakan bahan-bahan khusus hingga kepada buah beri pilihan yang harganya sangat mahal. Kau pasti tidak pernah mencium bau isian buah beri mahal bukan? Lagi pula banyak orang yang melihatku memakannya secara langsung.” Sang raja berkata. “Apakah buah beri yang harganya sangat mahal itu beraroma seperti bahan peledak yang dicampur dengan makanan yang sudah busuk?” Kalimat Beatrice itu membuat semua yang berada di Lorong sebelum pintu masuk ruang makan tercengang. “Kalian berdua tidak perlu banyak bicara dan menghabiskan waktuku saja. Semuanya, aku minta bantuan dari kalian untuk membawa dua orang ini keluar dari ruang makan. Berikan hukuman yang setimpal padanya karena telah membunuh sang satu!” seru sang raja memerintah. “Maaf tuan, tapi bukankah lelaki itu adalah anak kandungmu sendiri?” tanya seorang tamu dari barisan tengah kerumunan. Sang raja pun menoleh. “Tidak peduli siapa pun itu, setinggi apa pun kastanya. Anak ini hanyalah anak s**l yang terkena kutukan oleh iblis dan tidak dapat melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak sudi ia menjadi darah dagingku. Jika ia melakukan kesalahan dan terbukti bersalah, maka ia harus dihukum sesuai dengan aturan,” seru sang raja yang mengepalkan tangannya dan diarahkan ke langit-langit. Hal itu menciptakan animo untuk para tamu lainnya untuk mengepalkan tangan mereka yang juga diarahkan ke langit-langit sambil berkata, “Hidup raja! Hidup raja! Hidup raja!” Melihat situasi yang semakin buruk dan memojokkan keduanya, Beatrice langsung menarik lengan Vulken. Setelahnya, ia meraih sesuatu dari tas kecil di belakang zirahnya yang ternyata itu adalah bom asap. “Lebih baik kalian mencari tahu kebenaran sebelum menuduh,” gumam Beatrice yang dalam sekejap sudah tak terlihat ditutupi asap. Saat semua orang terbatuk-batuk di sana, dengan sigap Beatrice memecahkan jendela ruang makan menggunakan sebuah batu yang entah dari mana ia dapatkan. Beatrice berhasil ke luar lebih dulu, diikuti Vulken yang sedikit kesulitan karena kepulan asap yang sudah memenuhi ruangan. Tidak ingin apa yang dilakukan hanya menjadi embusan angin semata, Beatrice mengeluarkan kembali bom asap miliknya. Satu kali lagi ia melemparkannya, semua ruangan tampaknya sudah penuh dengan asap dan semua yang ada di dalam kesulitan untuk bernapas. “Apa semua yang ada di dalam akan baik-baik saja?” tanya Vulken. “Berhentilah untuk memikirkan mereka untuk beberapa waktu ke depan. Ayo lari dari sini sebelum kita dikepung oleh prajurit yang lainnya,” ucap Beatrice yang setelahnya langsung berlari dengan cepat diikuti oleh Vulken dari belakang. “Tunggu apa lagi? Cepat kejar mereka sekarang juga!” teriak sang raja memerintahkan prajurit yang lainnya. Yang mana suaranya masih lantang walaupun dalam kepulan asap tebal. Satu persatu prajurit kerajaan bermunculan untuk menghadang larinya Vulken bersama Beatrice. Kebanyakan dari mereka langsung melepaskan anak panah dari busur. Untungnya hal itu masih bisa dihindari oleh Vulken dan Beatrice walaupun beberapa hampir mengenai mereka. Mereka terus berlari hingga akhirnya terlihat pintu gerbang kerajaan. Terlihat sudah banyak penjaga di sana yang siap untuk menyerbu Vulken dan Beatrice. Beatrice sampai melambatkan langkahnya karena ia sudah pesimis lebih dulu bahwa mereka berdua tidak akan bisa melewati semua prajurit di sana. Namun begitu, Vulken tiba-tiba saja melemparkan sihir bola api dari tangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Semua prajurit penjagaan di sana terkejut dan tidak dapat menghindari serangan sihir dari Vulken. Tidak hanya sampai di situ, Vulken kembali melemparkan sihir bola apinya ke arah belakang yang ternyata banyak pula prajurit kerajaan yang mengejar keduanya dari arah belakang. “Di mana tas yang berisikan peralatan yang dititipkan ibu?” tanya Vulken tiba-tiba. “Masih ada padaku,” jawab Beatrice sambil menunjukkan tas kecil yang sejak tadi sudah ia bawa. Vulken saja yang tidak menyadarinya. “Mereka semakin banyak, lebih baik kita mengurus para prajurit yang menghalangi gerbang untuk kita keluar,” kata Beatrice. Mereka kembali melihat gerbang kerajaan yang masih dipenuhi oleh para prajurit. Vulken sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang. Namun, hal tidak terduga pun terjadi. Tiba-tiba saja Zed dan ayahnya menyerang prajurit yang menjaga gerbang kerajaan. Hal yang membuat Vulken dan Beatrice takjub ialah penggunaan sihir api biru yang dimiliki ayah dan anak itu. Hanya dalam hitungan jari mereka sudah menjatuhkan semua prajurit yang ada. “Kalian, cepatlah kemari, sebelum prajurit yang lainnya sampai dan menangkap kita semua!” panggil Zed seraya ia mengambil sebuah tas dari dalam gerobak pengangkut barang. Vulken dan Beatrice langsung bergegas menghampiri Zed. Setelah berkumpul mereka langsung pergi melalui gerbang kerajaan. Belum sempat keluar, tiba-tiba saja gerbang kerajaan tertutup. Ternyata ada beberapa prajurit yang lolos dari serangan dan berhasil untuk mendorong gerbang bersama. Drue, paman Vulken yang sekaligus ayah Zed dengan tubuh kekarnya menahan gerbang kerajaan. Energi sihirnya terkumpul di masing-masing telapak tangan yang menahan pintu gerbang. "Cepatlah kalian keluar dari sini. Aku tidak dapat menahan terlalu lama, ada banyak prajurit di belakang gerbang ini yang terus mendorong," ucap Drue kepada yang lainnya. "Zed, bisakah kau mengurus para prajurit yang ada di depan gerbang? Aku akan mengurus yang ada di sini," ujar Beatrice. "Baiklah, aku akan mengurusnya. Serahkan padaku dan semoga kau berhasil," kata Zed yang langsung pergi ke depan gerbang. "Jangan pernah kau meragukanku lagi. Walaupun hanya prajurit penjaga, sihirku lumayan dalam pertarungan." Beatrice berkata sambil menyeringai. "Eh? Aku baru tahu prajurit penjaga memiliki sihir untuk bertarung juga," kata Vulken dengan wajah terkejutnya. Beatrice tidak menanggapinya sama sekali, ia hanya tersenyum. Tak lama kemudian, sekelompok prajurit penuh dengan s*****a sudah siap menghadang. Beatrice mengumpulkan energi sihirnya, tanpa berlama-lama ia langsung menciptakan lingkaran sihir besar di atas langit. Jelas hal itu membuat semua orang yang berada di sana terkejut termasuk Vulken dan Drue. "Sihir listrik: Thunderstruck!" Lingkaran sihir di langit itu langsung menyala dan dengan cepat petir besar menyambar menyambar. Cahayanya begitu menyilaukan mata, dengan sekejap semua prajurit yang menghadang langsung terjatuh tak berdaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD