VI. Hutan Belantara

1527 Words
Melihat sihir yang luar biasa dari Beatrice, Vulken dan Drue hanya bisa terdiam. Beatrice pun berbalik arah menatap bingung kepada Vulken dan Drue. “Ada apa dengan kalian? Ayo kita pergi dari sini sebelum prajurit lainnya datang dan situasi semakin memburuk,” ajak Beatrice. “Ah iya, kau benar. Sepertinya Zed juga sudah melakukan tugasnya, aku tidak merasakan ada yang mendorong gerbangnya lagi,” ujar Drue yang setelah itu mendorong balik gerbang kerajaan dan benar saja sudah tidak ada lagi prajurit di baliknya. Gerbang yang terbuka dimanfaatkan dengan baik oleh Vulken dan Beatrice. Mereka langsung pergi ke luar menghampiri Zed diikuti dengan diikuti Drue yang menutup kembali gerbang kerajaan rapat-rapat. Di depan gerbang, Zed sudah menunggu ketiganya dengan tangan yang sedikit berkeringat setelah mengalahkan beberapa prajurit kerajaan. “Akan pergi ke mana kita? Jika terus berdiam maka prajurit kerajaan akan menangkap kita semua,” tanya Drue. “Apakah paman tahu sebuah jalan memutar di arah selatan menuju ke timur Meideleenia?” Vulken balik bertanya pada Drue. Drue diam sesaat untuk berpikir. “Sepertinya aku tahu sebuah rute di arah selatan. Tapi nantinya kita akan memasuki hutan belantara. Hanya ingin memberi tahu kalian saja di sana banyak prajurit yang tersesat hingga berbulan-bulan.” Drue berkata. “Kita berempat seharusnya sudah lebih dari cukup. Aku yakin kita bisa keluar dari hutan belantara itu. Paman Drue … bisakah kau memimpin sekaligus menunjukkan jalannya? Sebelum prajurit kerajaan yang lain menangkap kita.” “Tentu, aku akan berada di depan menunjukkan jalan. Kalian tetaplah berada di belakang dan jangan sampai ada yang berpencar ataupun terpisah,” ujar Drue memperingatkan. “Sesuai perintah, Paman! Ayo kita bergegas,” ucap Vulken. Keempatnya pun beranjak meninggalkan area kerajaan. Sesuai dengan yang sudah dibicarakan sebelumnya, Drue memimpin perjalanan di depan dan yang lain hanya mengikutinya saja. Mereka berjalan cepat supaya tidak terkejar oleh para prajurit juga tidak langsung menguras tenaga di awal perjalanan. Tidak ada yang lain yang mereka temui selain pepohonan dan bebatuan bekas pelatihan prajurit. Mereka tidak melalui pemukiman penduduk desa yang kebetulan berada tepat di timur bangunan kerajaan. Mungkin hal itu dilakukan supaya para prajurit kerajaan lebih sulit untuk melacak mereka. “Apakah kau pernah melewati jalur ini sebelumnya?” tanya Beatrice kepada Drue selagi mereka berjalan melewati pepohonan serta bebatuan yang seolah tak ada habisnya. “Tentu saja aku pernah melewati tempat ini sebelumnya, bisa dibilang cukup sering aku melewati tempat ini. Tempat ini dulunya dipakai untuk latihan fisik para prajurit kerajaan. Jika kau melihat bebatuan yang sudah hampir tak berbentuk di sepanjang jalan, tadinya itu adalah alat-alat yang digunakan para prajurit kerajaan untuk melatih fisik mereka. Namun, sekarang kerajaan sudah memiliki tempat latihan sendiri untuk para prajuritnya.” Drue menjelaskan. “Kau bilang cukup sering melalui tempat ini … untuk apa kau ke sini jika di sudah tidak ada apa-apa? Bahkan di sepanjang sudah seperti hutan belantara saja.” Beatrice bertanya. “Tempat ini beberapa kali masih digunakan sebagai jalur patroli para prajurit saja. Dan ya … aku bertugas untuk memantau mereka selama melakukan patroli. Tanyakan saja pada Zed yang baru beberapa hari lalu ditugaskan patroli di tempat ini,” kata Drue. “Ayah sering sekali memberikan tugas patroli di daerah ini. Padahal seperti yang dikatakan Beatrice barusan, tidak ada pemandangan yang dapat dinikmati di sini,” sahut Zed. Vulken yang merasa kebingungan pun bertanya, “Tunggu, aku jadi bingung. Jika Zed saja sering ditugaskan untuk patroli melalui jalur ini, mengapa Beatrice seolah baru tahu jika jalur ini ada. Bukankah kalian berdua sama-sama prajurit kerajaan?” “Vulken, apakah kau bercanda tidak tahu tentang hal itu?” Beatrice balik bertanya dengan ekspresi keheranan terpampang jelas. Mendapat pertanyaan itu dari Beatrice malah membuat Vulken terdiam untuk sesaat. “Tapi aku benar-benar bingung saat ini masih dengan pertanyaan yang sama,” ucap Vulken. “Zed, jelaskan pada saudaramu itu,” kata Drue. Zed tertawa lalu ia menghela napas dan mulai menjelaskannya pada Vulken. “Begini, prajurit kerajaan itu dibagi menjadi banyak divisi sesuai dengan keahlian ataupun penempatan mereka masing-masing ketika diangkat sebagai prajurit kerajaan. Salah satu divisinya adalah prajurit khusus pertarungan yang hingga saat ini dipimpin oleh dua orang. Salah satunya adalah ayahku sendiri dan ya … aku ada di dalamnya. Berbeda dengan Beatrice yang ditugaskan sebagai prajurit penjaga kerajaan.” Zed menjelaskannya panjang lebar kepada Vulken sambil mereka terus berjalan mengikuti Drue entah hingga ke mana. “Hari-hariku hanya menjaga isi kerajaan saja. Keluar gerbang kerajaan pun sangat jarang, mungkin bila ada kesempatan itu ketika ada pengiriman barang penting,” tambah Beatrice. “Ah, jadi seperti itu. Aku sudah mengerti sekarang. Maafkan aku yang kurang tahu tentang hal seperti ini. Aku jarang sekali keluar dari kamar, lebih sering menghabiskan waktu sendirian di atas balkoni kamar,” kata Vulken. “Sebentar lagi kita akan memasuki belantara sungguhan.” Drue berkata secara tiba-tiba. Zed langsung melirik ayahnya. “Apa yang kau maksud? Bukankah di depan adalah jalan buntu, batas patroli prajurit kerajaan. Biasanya kau langsung meminta untuk memutar balik ketika sampai di sana,” ujar Zed. “Memang kita sedang menuju jalan buntu. Aku baru saja membuat jalurnya semalam untuk mengarah ke timur Meideleenia sesuai dengan tujuan kita. Para prajurit kerajaan yang mengejar aku pastikan tidak akan dapat menemukan jejak kita sedikit pun setelah kita memasukinya.” Drue berkata dengan amat percaya diri. “Percepatlah Langkah kalian, aku cemas tiba-tiba prajurit kerajaan sudah berada di belakang kita,” lanjut Drue. Mereka benar-benar mempercepat Langkah setelah itu. Bahkan Vulken sampai hampir tersandung untuk mengejar ketertinggalannya dari yang lain di depan karena Langkah mereka yang cukup panjang. Hingga sampailah mereka di ujung jalan yang benar-benar buntu. Hanya ada sebongkah batu dengan palang kayu bertuliskan `Pergi putar balik!” yang tulisannya saja sudah memudar. Melihat sekitar benar-benar tidak apa-apa padahal tadi Drue berkata bahwa ia sudah membuat jalurnya. Namun, ini juga sesuai dengan pernyataan Drue yang mana para prajurit kerajaan tidak akan bisa menemukan mereka. “Astaga kalian berjalan sangat cepat, bagaimana kalian bisa melakukan hal itu?” tanya Vulken yang baru berjalan cepat saja sudah kelelahan dan terengah-engah. “Dasar untuk menjadi prajurit kerajaan itu harus bisa bergerak dengan cepat tahu! Entah itu berlari, berjalan, ataupun merangkak harus bisa dilakukan secepat mungkin. Jadi, ketika ada pertarungan atau apa pun itu, tidak ada yang terlambat untuk ikut dalam pertarungannya. Kekuatan kita juga menjadi maksimal.” Zed berkata. “Sampingkan lebih dulu topik itu. Sekarang, kita akan pergi ke mana? Aku tidak melihat apa pun selain pepohonan yang rimbun,” ujar Beatrice. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Drue dengan seenaknya berjalan memasuki semak-semak lalu melangkahi semak-semak lainnya. Padahal tidak ada jalur apa pun di sana, tapi memang benar yang ia tuju adalah arah timur Meideleenia. “Hei, di mana jalur yang kau katakan itu? Mengapa tiba-tiba kau menerobos semak, aneh sekali.” Beatrice protes terhadap Drue yang seenaknya saja memilih jalan tanpa berkata apa pun. Dengan singkat Drue menjawab, “Ikuti saja aku, jangan sampai terpisah.” Yang lainnya di bagian belakang pun akhirnya mengikuti jalannya Drue. Melangkahi semak-semak tebal, memasuki hutan belantara yang tampak tak ada habisnya. Banyak sekali dahan dan ranting kering di jalanan yang sudah mengering, hal itu membuat Langkah mereka cukup berisik karena suara patahannya. Satu hal yang unik dalam perjalanan kali ini, Drue memungut satu persatu ranting yang terbakar hingga menghitam. “Untuk apa Ayah mengambil ranting-ranting itu dari tanah?” tanya Zed. “Ini yang menjadi petunjuk kita untuk mencapai jalur selanjutnya. Aku sengaja membuat petunjuknya dengan ranting yang terbakar seperti ini supaya tidak lagi meninggalkan jejak ketika sudah diambil.” Drue langsung menanggapi pertanyaan dari putranya. “Jadi, kita akan terus melalui jalan penuh ranting dan lembab seperti ini sampai menemukan jalur selanjutnya?” tanya Vulken. “Kau tidak bisa terus mengeluh seperti itu. terus ikuti saja jalannya, ini belum seberapa dibandingkan mencapai bagian timur Meideleenia,” ujar Beatrice. “Hmm, bukan maksudku untuk mengeluh. Namun, aku merasa sangat asing saat berada di luar kerajaan seperti ini. Tidak tahu harus berkata atau berbuat apa,” kata Vulken. “Ini pertama kalinya kau pergi ke luar kerajaan, ya? Nikmati saja suasananya, seharusnya kita masih aman sampai di sini karena tidak ada prajurit yang berhasil mengejar kita. Sepertinya kau harus mulai beradaptasi dengan lingkungan luar seperti ini, tidak melulu dengan kamar istana yang tertutup dari dunia luar.” Zed berkata. Setelah mendengar itu mendadak tatapan Vulken kepada Zed menajam. “Apa kau menyindirku?” lirih Vulken bertanya. Zed lantas tertawa kecil. “Tentu tidak. Memang benar, kan? Kau harus beradaptasi dengan lingkungan luar ini.” Zed kembali mengulang kalimatnya untuk Vulken. Vulken tidak menanggapinya, ia hanya membuang wajahnya saja dari Zed. Perjalanan terus berlanjut, tak terasa suasana sekitar dengan pepohonan mulai memudar. Jalanannya juga sudah berubah dipenuhi kerikil, tidak lagi dengan dahan dan ranting yang mengering. "Bersiaplah, sebentar lagi kita akan sampai di jalur utama ke arah timur Meideleenia." Drue berkata. "Tidak terasa kita sudah berada di jalur timur saja," ujar Vulken. "Aku membuat jalan pintas kali ini. Mungkin kalian tidak sadar, tetapi kita sudah menghabiskan waktu yang cukup lama dalam perjalanan tadi," ujar Drue. Vulken melihat ke arah langit di antara dedaunan. Silaunya sang fajar membuatnya mengangkat tangan melindungi mata dari cahaya nan begitu terang. "Astaga, kau benar. Ini sudah tengah hari."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD