Sekumpulan semak tebal sudah ada di hadapan mereka, Drue yang tangannya masih penuh dengan ranting kayu yang dipungutnya di sepanjang jalan berjalan dengan posisi menyamping. Perlahan tapi pasti iya menerobos semak itu. Vulken dan yang lain sempat terdiam sesaat, tapi akhirnya pun mereka mengikuti Langkah Drue juga.
Setelah mereka melewati semak tersebut, tibalah mereka pada sebuah jalan yang cukup besar, kali ini dengan pemandangan yang cukup luas. Tidak terlalu banyak pepohonan tinggi yang menutupi sekitar hingga cahaya matahari tak dapat menyentuh tanah. Jalanan berpasir yang mana jika dilewati angin kencang pasir-pasirnya akan beterbangan mengganggu perjalanan. Dari tempat Vulken dan yang lainnya berdiri, terlihat bukit yang amat banyak di kejauhan. Perbukitan hijau yang disinari cahaya sang fajar di tengah hari.
Zed menghempaskan napasnya dengan mata berbinar memandang perbukitan. “Pemandangan yang luar biasa! Baru pertama kali aku melihat dataran perbukitan luas seperti ini.” Zed mengungkapkan kekagumannya sejak saat pertama melihat pemandangannya.
“Aku sering melihat perbukitan dari atas balkon kamarku. Namun, untuk jarak yang begitu dekat seperti ini aku juga baru pertama kali melihatnya,” ujar Vulken.
Drue meletakkan semua ranting yang memenuhi genggamannya di tanah. “Vulken, bisakah kau membakar semua ini hingga hangus menjadi abu?” tanya Drue.
“Tentu saja aku bisa jika hanya seperti itu. Memangnya kenapa, bukankah Paman sendiri bisa melakukannya tanpa harus memintaku?” Vulken malah bertanya balik.
“Aku hanya ingin melihat kemampuanmu saja, tidak lebih,” jawab Drue singkat.
Vulken pun membungkukkan setengah badannya untuk meraih ranting-ranting tersebut. Vulken mulai mengumpulkan energi sihirnya dan dengan begitu saja api membakar semua rantingnya. Untuk beberapa saat ranting-ranting itu terbakar, dan tak lama setelahnya semua berubah menjadi abu yang menyatu dengan pasir di jalan yang tengah mereka injak.
“Sudah, semuanya sudah menjadi abu sesuai dengan yang Paman minta,” ucap Vulken.
“Aku rasa kemampuanmu sudah cukup baik untuk seseorang yang tidak pernah mengikuti pelatihan sihir sama sekali,” kata Drue.
“Aku hanya sesekali berlatih menggunakan sihirku. Itu pun dilakukan di kamar dan secara diam-diam, jadi … hasilnya tidak terlalu maksimal.
“Nanti kau bisa berlatih bersama Zed selama kita melakukan perjalanan ini. Aku yakin kau bisa berkembang dengan cepat dalam hal penggunaan kekuatan sihirmu,” ucap Drue.
Zed langsung tersenyum setelah Namanya tersebut. Dengan begitu percaya dirinya ia berkata, “Serahkan saja padaku, aku akan melatihmu hingga sekuat diriku.”
Setelah menghela napas panjang Beatrice tiba-tiba bertanya, “Hei, setelah ini tujuan kita ke mana? Tidak ada angin berembus, bisa-bisa kulit kita terbakar jika terus berdiam di sini.”
Drue memandangi perbukitan di ujung jalan. “Kita akan menuju pedesaan di kaki bukit. Aku belum pernah pergi ke sana, tetapi kerajaan pernah dimintai sumbangan bahan makanan ke sana. Jadi, seharusnya desa itu masih berdiri di sana.” Drue menanggapi pertanyaan Beatrice.
“Apakah itu sebuah desa kecil yang memiliki suatu kepercayaan sendiri? Jika aku tidak salah ingat, ibu pernah menceritakannya. Desa mereka amat tertutup hingga pihak kerajaan ragu untuk mengirimkan bantuan kepada mereka.” Vulken berkata.
“Ya, kau benar. Entahlah, kurir kerajaan kita yang mengantarkan bahan makanan itu pun berkata bahwa hanya ada dua orang yang mengambil barang tersebut dan hanya mengucapkan terima kasih saja. Aku juga dengar bahwa desa itu amat sepi jika dilihat dari luar. Oh ya, kereta kuda pengangkut barangnya juga tidak diperbolehkan memasuki bagian paling luar desa. Ia diberhentikan beberapa meter di depan desa.” Drue mengiyakan tebakan Vulken.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju desa. Dalam beberapa kesempatan di tengah perjalanan angin berembus kencang. Semua pasir bercampur debu di jalan langsung beterbangan sampai-sampai mengganggu penglihatan mereka. Drue dengan tubuh besarnya tetap memimpin di bagian paling depan, sedikit menghalangi debu-debu yang beterbangan dari depan.
Waktu terus berjalan, kening sudah dipenuhi keringat dan langkah mereka pun mulai melambat. Di tengah itu, Beatrice tidak sengaja tersandung. Tanpa sengaja pula tas yang dititipkan oleh ibu Vulken padanya terjatuh. Sangat tidak beruntung karena mereka tengah berada pada jalanan yang menanjak, terlebih tasnya jatuh ke dalam semak-semak belukar.
Melihat tas yang dititipkan ibunya itu terjatuh, Vulken dengan spontan berusaha untuk meraihnya. Mungkin sedang mendapat s**l, ia ikut tergelincir ke dalam semak belukar itu pula.
"Astaga, Vulken!" teriak Beatrice.
Langsung saja Beatrice bersama Drue dan juga Zed mengejar Vulken. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Vulken.
Vulken tersungkur di antara tebal dan tingginya semak belukar. Tangannya terkena goresan bebatuan kecil selama tergelincir. Terdapat satu goresan yang cukup tebal mengeluarkan sedikit darah di atas lengan kirinya. Sekali ia mencoba untuk bangun, tetapi tidak berhasil. Kedua kalinya mencoba ia berhasil untuk bangun. Vulken langsung memberikan isyarat dengan lambaian tangan kepada Beatrice, Drue dan Zed yang tengah menghampirinya.
"Astaga, di mana aku bisa menemukan tas yang dititipkan ibu?" gumam Vulken bertanya-tanya.
Lantas ia mencarinya dengan menyusuri semak belukar. Mengira-ngira di manakah tempat jatuhnya tas tersebut. Ia terus mencari dengan membuka satu persatu semak-semak. Memastikan tidak ada yang terlewat, berharap ia langsung menemukannya.
Beberapa waktu kemudian, Vulken mulai putus asa karena tak kunjung menemukan tas yang dititipkan sang ibu. Ia berdiri menatap Beatrice, Drue, dan juga Zed. Tanpa mengatakan hal apa pun, Zed mengulurkan tangannya pada Vulken. Lantas Vulken menyeringai lalu meraih tangan Zed. Ia naik, keluar dari penuhnya semak belukar.
“Kau dan Beatrice diam di sini saja, biar aku dan Zed yang mencari tasnya,” ujar Drue.
Zed mengangguk. “Benar, serahkan saja hal ini pada kami berdua,” ucapnya.
“Apakah tidak apa-apa jika kalian berdua yang mencarinya?” tanya Vulken melirik Zed.
“Mana mungkin menjadi masalah, menolong saudara sendiri itu perbuatan baik. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk terus membantu orang-orang yang berada di sekitarmu. Terlepas dari tanda iblis di mata kirimu, kau adalah anak yang baik.” Zed berkata.
Vulken tersenyum lebar karenanya. Setelah itu Zed bersama Drue melanjutkan pencarian di manakah jatuhnya tas yang dibawa Beatrice. Di bawah teriknya matahari yang dikelilingi awan, mereka terus mencari hanya untuk membantu saudara mereka.
“Omong-omong Vulken, aku harus jujur dan mengatakan bahwa tanda kutukan dari mata hingga pelipis kirimu itu tidaklah menyeramkan. Menurutku, itu sesuatu yang keren,” ujar Beatrice sambil menatap Vulken cukup lama.
“Apakah kau bercanda? Atau hanya memujiku supaya aku merasa lebih baik saja?” tanya Vulken yang tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja dikatakan Beatrice.
Beatrice malah tertawa kecil setelah mendengar Vulken. “Tentu saja aku sedang tidak bercanda, aku serius. Bagiku, penampilanmu itu keren. Itu juga karena kau yang berbeda dari yang lainnya. Aku juga ingin mengatakan ini padamu ….”
“Apa yang kau ingin katakan?” sela Velken.
“… semua orang memiliki pendapatnya sendiri terhadap penampilan seseorang. Jadi, kau tidak perlu terlalu memikirkan perkataan orang lain tentang dirimu karena itu tidak penting. Di mana semua orang bisa melihat kita itu baik, bisa juga melihat kita buruk,” sambung Beatrice.
Vulken hanya memejamkan matanya lalu menunduk. Menghela napas panjang, lalu menghempaskannya seraya membuka mata dan melihat langit. Melihat langit untuk beberapa saat, setelah itu ia berbicara di dalam hatinya. “Ibu … aku akan menepati janji untuk melindungi kerajaan dan seisinya. Doakanlah aku dari atas sana, Bu.”
“Vulken!” Teriakan yang begitu nyaring dari seorang Zed yang sedang mengangkat tangannya melambai-lambai. Wajahnya semringah bak seorang pangeran yang telah menemukan ratunya setelah sekian lama. Teriakan Zed itu juga langsung mencuri perhatian dari yang lainnya.
“Ada apa Zed?” tanya Vulken yang ikut berteriak supaya dapat didengar oleh Zed.
Zed mengangkat bagian tangan lainnya. Ternyata ia sudah menemukan tas yang tengah dicari-cari sejak tadi. Zed langsung kembali menghampiri Vulken diikuti Drue di belakangnya. Sampai berhadapan dengan Vulken, Zed langsung memberikan tasnya kepada Vulken.
“Oh ya, memangnya ada apa di dalam tas itu? Tampaknya kau begitu mengkhawatirkan jika tas ini sampai hilang.” Zed bertanya.
“Tas ini adalah pemberian dari ibuku yang dititipkan Beatrice. Sejujurnya aku pun belum pernah membuka dan melihat ada apa di dalamnya. Yang aku tahu hanyalah tas ini titipan dari ibu untuk perjalanan ke timur Meideleenia.” Vulken langsung menanggapi pertanyaan Zed.
Penuh dengan rasa penasaran yang tak tertahan, Vulken pun membuka tas itu. Setelah terbuka, ternyata isi dari tasnya memang barang-barang yang mungkin bisa berguna dalam perjalanan seperti korek api, seikat tali, palu, serta beberapa barang lainnya yang tampak seperti perkakas. Semua menjadi satu di dalam tas itu.