Vulken kembali menutup tas yang dititipkan ibunya. “Sepertinya barang-barang yang dititipkan ibu akan berguna dalam kondisi khusus dalam perjalanan kita nantinya,” ujar Vulken.
Beatrice mengulurkan tangannya. “Berikan padaku, aku akan membawanya. Aku berjanji tidak akan terjatuh untuk kedua kalinya. Aku akan berhati-hati,” kata Beatrice.
“Terima kasih banyak sudah ingin menjaganya,” kata Vulken seraya memberikan tasnya.
Tak lama setelah Vulken memberikan tasnya pada Beatrice, langit yang tadinya cukup cerah dikelilingi awan kini mulai gelap dengan lebih banyak awan lainnya yang datang. Saking tebal awannya, sampai-sampai cahaya matahari tak lagi dapat menyentuh daratan bahkan menembusnya pun ia tak sanggup. Tidak hanya itu, dedaunan khususnya yang kering mulai beterbangan ke mana-mana karena angin yang berembus kencang.
“Bagaimana ini? Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Namun, kita bahkan belum melihat gerbang desanya sama sekali.” Zed bertanya sambil melihat-lihat awan gelap.
“Lebih baik kita pergi ke ujung jalan ini terlebih dahulu. Lihat, puncaknya sudah tidak jauh.” Drue menunjuk bagian puncak dari jalan menanjak yang tengah mereka pijak. “Semuanya, ayo ikuti aku sampai di puncak. Anginnya kencang, berhati-hatilah saat kalian sedang berjalan,” ujar Drue.
Setelahnya perjalanan kembali dipimpin oleh Drue. Hingga akhirnya mereka sampai di puncak jalan menanjak. Drue menambahkan beberapa langkah ke depan, langsung saja terlihat jalan yang cukup panjang untuk turun hingga ke kaki bukit. Namun, mereka seperti ragu untuk melanjutkan perjalanan melalui jalan tersebut dikarenakan angin yang bertiup semakin kencang serta rintik gerimis satu persatu mulai jatuh ke permukaan tanah.
“Bagaimana ini? Apakah kita memang harus turun melalui jalan ini untuk sampai ke kaki bukit lalu baru sampai di desanya?” tanya Beatrice.
“Lagi pula kita tidak mungkin melaluinya. Cuaca di sini sedang tidak bersahabat untuk berjalan di atas jalan menurun seperti itu. Bahaya juga jika kita memaksakan,” ucap Vulken.
Dalam keadaan seperti itu, Zed tidak berdiam diri. Ia mulai mengecek sekitarnya, ia pun menemui tanah yang menjorok ke dalam. “Semuanya, lihatlah kemari, bukankah ini bekas tapak kaki seseorang? Jika benar, maka seharusnya ada yang belum lama berbelok ke arah ini.”
Yang lainnya pun datang menghampiri. Beatrice langsung membenarkan dugaan Zed tentang tapak kaki manusia. “Kau benar, itu adalah tapak kaki manusia. Di depannya ada bentuk serupa walaupun semakin samar. Bagaimana jika kita mencoba melalui jalan ini? Ketimbang kita diam kehujanan karena hanya berdiam diri.” Beatrice mengusulkan untuk pergi.
“Tidak ada salahnya bukan jika kita mencoba? Mana tahu orang ini bisa membantu kita untuk sampai ke desa yang sedang dituju.” Vulken tampak setuju dengan Beatrice.
“Baiklah jika mau kalian seperti itu. Aku pun tidak dapat menolaknya karena tidak baik juga kita terus berdiam diri di sini.” Drue berkata.
Setelahnya mereka pun berjalan bersama menelusuri jalan tersebut. Yang seharusnya mereka lurus menuruni bukit kecil, sekarang teralih berbelok untuk mencari bantuan dari seseorang sambil berharap ada sedikit tempat untuk berteduh. Mereka terus menyusuri jalan itu selagi rintik gerimis semakin banyak membasahi pakaian mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan sebuah gua batu yang sedikit samar karena tertutup oleh tumbuhan merambat dan lumut-lumut di sekitarnya. Zed terlihat sedikit curiga, ia melihat dengan seksama sekitarnya. Khawatir ada hal yang tidak terduga seperti jebakan. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain pepohonan.
Zed menghela napasnya. “Tidak ada yang aneh di sini.”
“Apakah serius kita akan masuk ke dalam? Aku merasakan sesuatu yang tidak enak ketika memikirkan untuk masuk ke dalam gua itu.” Beatrice berkata.
Karena melihat cuaca yang semakin tidak bersahabat, Drue pun berkata, “Biarkan aku masuk ke dalam lebih dulu. Kalian ikuti aku saja dari belakang,” ujarnya.
Drue yang masih memimpin memberanikan diri untuk masuk terlebih dahulu ke dalam gua tersebut. Ia menyingkirkan beberapa tanaman merambat untuk lewat, ia pun kebingungan setelah melihat apa yang ada di dalam gua tersebut. Ada barang-barang seperti peralatan juga sebuah kotak kayu yang masih terikat di pojok gua yang ternyata tidak luas itu. Ada pula kayu bakar yang disusun untuk menjadi api unggun tapi belum dinyalakan.
“Apakah ini milik orang yang datang ke sini sebelum kita?” tanya Beatrice.
“Sepertinya begitu, tapi ia sudah tidak ada di sini. Karena ada kayu bakar di sini, bagaimana jika kita langsung menyalakannya saja menggunakan korek api yang dibawakan ibuku?” Vulken berkata seraya ia meminta korek itu dari tas yang dibawa Beatrice.
“Coba nyalakan saja api unggun itu. Namun, aku cukup curiga melihat susunan api unggunnya. Sudah rapi dan ada rerumputan kering di bagian bawahnya yang tersusun untuk merambatkan api ke kayu bakar. Untuk apa orang ini meninggalkannya? Bahkan masih ada barang-barangnya di sini tertinggal.” Zed yang kebingungan bertanya-tanya.
“Bukan tidak mungkin orang itu sedang keluar sebentar dan nanti akan kembali lagi,” ujar Drue sambil memperhatikan Vulken yang tengah mencoba menyalakan api unggunnya.
“Ya … setidaknya kita memiliki tempat untuk berteduh sekarang,” kata Beatrice.
Mungkin baru hitungan detik setelah Beatrice berkata, tiba-tiba saja terdengar gemuruh petir dan hujan langsung terjun bebas dari langit dengan butiran yang tak terhingga jumlahnya. Untung saja angin tidak berhembus terlalu kencang seperti sebelum mereka masuk ke dalam gua tadi sehingga tidak menghambat Vulken yang tengah membuat api unggun.
“Ya, aku berhasil!” seru Vulken yang tampak begitu senang setelah akhirnya ia bisa menyalakan api unggun. Kini mereka duduk melingkari api unggun tersebut untuk menghangatkan tubuh mereka masing-masing.
“Apakah kita berkemungkinan untuk bermalam di sini?” tanya Beatrice.
“Sepertinya begitu, melihat hujannya dan hari yang mulai petang seperti ini. Rasanya tidak mungkin jika kita memaksakan untuk melanjutkan perjalanan malam ini,” ujar Drue.
"Kalau begitu, siapa yang mau berjaga malam ini sampai hampir tengah malam? Aku dapat menggantikan untuk berjaga dari tengah malam hingga dini hari," ucap Beatrice.
"Aku saja yang berjaga. Kau memang tidak diragukan lagi untuk berjaga di tengah malam sebagai prajurit penjaga." Zed menanggapi Beatrice.
"Kira-kira api unggun ini bertahan berapa lama ya?" tanya Vulken tiba-tiba.
"Kau tenang saja, api unggun yang sudah disusun rapi seperti ini bisa bertahan hingga esok pagi. Jadi kita semua tidak takut untuk kedinginan saat tidur nanti," kata Drue.
"Omong-omong, aku hampir lupa menanyakan ini. Bagaimana kalian bisa tahu rencanaku dan Beatrice yang ingin pergi ke timur Meideleenia?" tanya Vulken.