Wife 03

1078 Words
"Hei bangun putri tidur" Arni bisa mendengar seseorang tengah membangunkannya namun rasa kantuk seakan menyuruh matanya untuk tetap tertutup dan mengabaikan suara suara yang dia dengar. "dalam hitungan ke tiga kau tidak bangun, akan ku pastikan kau berakhir dengan basah kuyup" Namun lagi lagi suara itu arni abaikan Dan dalam beberapa detik Byuurrrrr "aaaaaaa..!!!" pekikan arni menggema di seluruh ruangan, arni segera mendudukan dirinya dan mengusap wajahnya yang benar benar basah " apa yang kau lakukan.?" "membangunkanmu, memangnya apalagi" jawab santai Bara membuat arni mengalihkan pandangannya pada jam di atas nakas kemudian kembali menatap ke arah bara "kau menyiramku dan membangunkanku tengah malam.?" pekik arni sama sekali tidak percaya, dirinya kira ini sudah pagi hari "memangnya kalau iya kenapa.?" "jika kau membutuhkan sesuatu setidaknya bangunkan aku dengan cara lembut, seperti memberikan kecupan pada keningku atau membelai rambutku" "apa kau masih bermimpi, bicaramu ngawur, cepat bangun dan menyingkir dari tempat tidurku" ucapan bara membuat arni menatapnya dengan tanda tanya "memangnya kenapa.?" "aku sudah cukup tersiksa tidur satu ranjang dengan mu selama seminggu ini, dan malam ini sampai seterusnya aku ingin tidur nyenyak, jadi cepat menyingkirlah." jelas bara membuat arni berdecih tidak terima "memangnya kenapa dengan keberadaanku., kau terlalu berlebihan., setiap aku bangun pagi aku lihat tidurmu sangat nyenyak, bahkan jika ada gempa bumi saja aku yakin kau tidak akan terbangun" "tentu saja karena aku baru bisa tidur setelah lewat tengah malam akibat gaya tidurmu, jadi cepat menyingkir.!" "kenapa kau bermasalah sekali dengan gaya tidurku.?" arni terus bertanya tidak mau kalah "kau selalu memeluk pinggangku erat dan kakimu tidak pernah mau diam, apa kau fikir aku bantal gulingmu" kesal bara yang akhirnya menjelaskan alasannya meskipun tidak semuanya, karena bukan hanya itu yang menjadi alasan bara tidak bisa tidur, bara hanya tidak ingin terus terusan ingin menatap wajh arni di saat dia terlelap, bara tidak ingin hatinya memeberi celah sedikitpun untuk arni, karena bagi bara arni dan ibu tirinya sama saja, hanya ingin cepat cepat dia mati dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di warisinya dari sang papa. "wajar saja, aku yakin setiap istri didunia ini memeluk suaminya seperti itu saat tidur," "ya tapi mereka akan tidur cantik di sebelah suaminya tidak seperti dirimu yang mendengkur keras" jawab cepat bara membut arni tersentak dan seketika tertawa membuat bara heran "hahaha kau bilang apa, aku mendengkur, itu sangat mustahil, aku tidak mungkin seperti itu" "bagaimana kau tau kau sendiri tengah tertidur saat mendengkur" "pokoknya aku tidak mau pindah, aku akan tetap tidur di sebelahmu" jawab arni kemudian berbalik membelakangi bara dan kembali tidur, sedangkan bara mengacak rambutnya frustasi, ternyata wanita yang sudah seminggu ini resmi menjadi istrinya bukan hanya liar dia juga sangat keras kepala, bara sedikit menyesal telah menerima pernikahann ini. Akhirnya mau tidak mau bara mengalah dan dengan susah payah memindahkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur. Arni segera berbalik saat merasakan pergerakan di sebelahnya. Arni sudah melihat bara di sampingnya dengan keringat membasahi pelipisnya, arni tahu bara pasti dengan susah payah memindahkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur. "kenapa kau tidak meminta bantuanku" "aku bisa sendiri" "setidaknya aku bisa membantu memegang tanganmu" lirih arni karena selama ini bara tidak pernah sama sekali meminta bantuannya kecuali arni memaksa terus. "lihatlah kau sampai berkeringat" ucapa arni sambil menghapus jejak keringat di pelipis bara membuat bara segera menepis tangan arni "jangan sembarangan menyentuhku" "aku hanya me ngelap bekas keringatmu, apa salahnya kau tidak akan mati hanya karena sentuhanku" "ya aku tahu karena ini masih awal, aku sudah tau rencana busukmu bersama nenek sihir itu, setelah pernikahan kita menginjak beberapa bulan aku yakin kalian akan mulai merencanakan pembunuhan untukku." tuduh bara membuat arni menghembuskan nafas kasarnya "terserah kau saja, apa kau sek Lama ini suka menonton film trhiller, aku sarankan mulai sekrang kurangi menotnton hal seperti itu, itu mempengaruhi otakmu" "apa kau baru saja menceramahiku" "tidak lupakanlah, aku masih sangat mengantuk, jadi mari kita akhiri perdebatan untuk malam ini" ucap arni menyerah karena kali ini matanya benar benar sudah sangat berat "terse..." "ya baiklah selamat malam suamiku" Cup Potong arni kemudian mencium pipi bara dan kembali tidur dengan memunggungi suaminya itu, sedangan bara lagi lagi harus kecolongan oleh arni entah sudah berapa kali arni dengan mudahnya menghentikan detak jantung bara, bara yakin arni tidak perlu racun atau benda tajam untuk membunuhnya perlahan, dengan sikap se enaknya saja bara sudah beberapa kali merasakan jantungnya seakan mau berhenti. oOo "apa kau baik baik saja.?" tanya hans sambil menatap atasannya itu dengan lekat. "memangnya kenapa denganku.?" jawab bara masih dengan tatapan yang fokus pada laptop di depannya " apa insomniamu kambuh lagi.?" tanya hans. Saat sedang berdua hans dan bara memang suka berbicara santai layaknya seorang sahabat tapi hans akan berubah menjadi bawahan yang patuh saat berada di depan orang lain. "tidak, tapi seseorng membuatku benar benar tidak bisa tidur" "apa yang kau maksud istrimu itu" "ya memangnya siapa lagi, aku ingin malam ini dia benar benar jauh dariku, aku ingin tidur nyenyak hans"ucap bara dengan sorot mata lelah. "apa permainan ranjangnya begitu hebat sehingga kau tidak bisa mengimbanginya" tebak hans dan langsung mendapatkan lemparan bolpoin dari bara "jaga bicaramu, aku bahakan tidak sudi untuk menyentuhnya, jadi aku tidak mau tau bereskan barang barangnya dari kamarku hari ini juga.!"perintah tegas bara "bukankah cara itu sudah kita coba beberapa kali namun tetap gagal. dia akan kembali tidur di kamarmu" "kalau begitu jangan sampai dia mendapatkan kunci duplikat kamarku, aku akan mengunci diri di kamar setelah pulang dari kantor" "ah cara itupun sudah pernah kita coba" jawab hans mencoba mengingat cara cara yang mereka lakukan untuk menjauhkana arni dari bara namun hasilnya sekalu sama, dan itu membuat bara geram "ck kau bahkan bisa menaklukkan lawan perusahaan kita tapi kau kalah dengan seorang wanita seperti arni,aku benar benar mempertanyakan ke efektifan kinerjamu kali ini hans" ucap bara dengan nada mengejek membuat hans berdecih "istrimu saja yang terlalu licin untuk di pegang jadi jangan salahkan kinerjaku, lagi pula selama seminggu ini aku memeperhatikannya dia sama sekali belum memeperlihatkan tanda tanda bahaya, dia benar benar belajar cara menjadi istri yang baik untukkmu. Bahkan dari laporan beberapa juru masak dia rela berlama lama di dapur hanya untuk membuatkan makanan kesukaanmu" "ck ck ck sekarang sekertaris hans yang tidak pernah terkecoh kali ini suda mulai tertipu oleh sikap wanita ular itu, dan aku tidak akan membiarkan diriku tertipu oleh nya seperti dirimu hans. Aku akan pastikan kedoknya dan nenek sihir itu terbongkar, lihat saja" ucap bara meyakinkan dirinya sendiri "ya terselah, aku hanya akan mengawasinya jika ada yang mencurigakan aku akan melaporkannya padamu" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD