Arni terus mengaduk ngaduk makanan di depannya sambil sesekali menolehkan kepalanya, sudah lebih dari sepuluh menit dirinya menunggu Bara tapi suaminya itu masih betah berlama lama di ruang kerjanya tentu saja bersama abdi setianya Hans.
"aahh perutku tidak berhenti berbunyi" kesal Arni
namun setelahnya Arni melihat Bara keluar bersama Hans yang mendorong kursi rodanya berjalan menuju meja makan tempat Arni berada.
Hans menempatkan Bara tepat di sebelah Arni dan itu membuat Bara menoleh dengan geram ke arah Hans, Hans yang menyadari kesalahannya hendak kembali menarik kursi roda Bara namun Arni lebih dulu menghentikannya.
"sudah lebih baik kau disini, jadi aku akan lebih mudah melayanimu. “ucap Arni sambil memegang sisi kursi roda Bara
"aku tidak perlu bantuanmu Hans yang akan___"
"sekretaris Hans kau pasti juga belum makan siang bukan, duduklah bersama kami" ucap Arni dengan sorot mata mengancam dan Hans tahu apa artinya itu, itu tandanya Arni sebenarnya mengusirnya dengan cara halus.
"ems tidak, terima kasih nyonya, saya lebih nyaman makan siang sendiri." jawab Hans dan Bara kembali memberikan tatapan membunuh padanya.
"lebih baik kau duduk Hans, aku tidak ingin mati mengenaskan seorang diri disini." ucap Bara membuat Arni mengerucutkan bibirnya, tahu apa maksud dari perkataannya itu.
Dan Hans tidak ingin berdebat lagi, Untuk itu memilih duduk bersama mereka ,
" ck aku tidak mungkin membunuhmu secepat ini." kesal Arni membuat Hans dan Bara menatap ke arahnya karena ucapan beraninya.
"jadi kau benar benar ingin membunuhku,.?" tanya Bara membuat Arni menaikkan bahunya acuh
"bukankah yang ada di pikiran mu seperti itu, lagi pula aku tidak akan membunuhmu sebelum mendapatkan hakku."
"hakmu.?" tanya Bara tidak mengerti
"ya hakku, bahkan sudah seminggu kita menikah, tapi kau belum sama sekali menyentuhku. “jawab Arni dengan ekspresi yang dibuat sedih dan itu membuat Hans yang mendengarnya hampir tersedak air liur nya sendiri.
Bara benar, ternyata Arni lebih liar dari dugaan awal mereka.
"jangan harap aku akan menyentuhmu" geram Bara membuat Arni merengut kesal.
"ya tidak apa, aku akan menunggu, aku orang yang cukup penyabar,"
Arni yang tadinya ingin makan berdua dengan suaminya sedikit kesal dengan keputusan Bara, namun sudahlah toh dirinya akan menganggap Hans seolah tidak ada.
Arni mulai menyendokkan nasi untuk Bara dan beberapa lauk pauk.
Namun setelahnya.
"Nasi ini tidak beracun bukan.?” tanya Bara kembali saat hendak menyendokkan makanan ke mulut nya dan itu membuat Arni menoleh ke arahnya dan meraih tangan Bara yang sedang mengangkat sendok dan mengarahkan ke mulutnya
"kau lihat aku memakannya sendiri jadi ini sudah pasti aman." ucap Arni dengan mulut yang penuh makanan membuatnya menggemaskan dan tanpa sadar Bara menarik sudut bibirnya sedikit, ya hanya sedikit tapi Hans bisa lihat perubahan ekspresi Bara.
"apa kau ingin aku mencoba minuman mu terlebih dahulu” tawar Arni kembali membuat Bara menggeserkan minumannya langsung menjauh dari Arni.
"tidak, aku tidak ingin minum dari bekas bibirmu"
"ck ayolah suamiku, bahkan aku pernah mencium bibir manismu, kau tidak___"
"cukup." potong Bara kemudian beralih menatap Hans dan Bara yakin sekretarisnya itu sedang menahan tawanya saat ini.
"Hans aku rasa kau bisa makan siang di kantor, banyak pekerjaan yang menantimu bukan" ucap Bara membuat Hans segera berdiri
"baiklah tuan saya permisi dahulu" ucap Hans sambil membungkuk kepada Bara dan Arni setelah itu melenggang pergi.
Hans tahu apa maksud dari Bara yang mengusirnya tiba tiba, Bara hanya tidak ingin wanita di sebelahnya terus mengatakan hal hal konyol di depan Hans dan membuatnya malu.
"Jadi apa kegiatan kita hari ini.?" tanya Arni saat mereka sudah menyelesaikan makan siang mereka.
"kau bisa melakukan apapun yang kau mau, tapi jangan menggangguku hari ini" jawab Bara sambil memutar kursi rodanya sendiri tapi Arni dengan sikap keras kepalanya menghentikan laju Bara.
"bagaimana kalau kau membaca buku di taman belakang.? Aku akan menemanimu"
"tidak"
"baiklah, kita ke sana" ucap Arni mengabaikan penolakan Bara
"ap kau tidak mengerti arti dari kata tidak"
"ya sama sama"
"hei wanita gila berhenti mendorongku"
"tidak akan"
"kau cari mati.?" kesal Bara karena Arni benar benar tidak mendengarkannya dan terus mendorong Bara dan membawanya ke taman belakang.
Dan tidak butuh waktu lama mereka tiba di taman belakang yang cukup luas dan sejuk meskipun langit sangat cerah, tapi beberapa pohon besar membuat suasana taman terasa sejuk.
Arni menempatkan Bara tepat di sebelah bangku taman di bawah pohon, kemudian dirinya duduk di kursi dekat Bara.
"berhentilah mengurung dirimu di ruang kerjamu yang membosankan itu, sekali kali hiruplah udara segar di sekitar rumah, itu baik untuk kesehatanmu” ucap Arni karena selama tinggal bersama Bara, Arni merasa jengah ketika Bara sudah memasuki ruang kerjanya dia akan berada di sana lebih dari 5 jam bahkan seharian, Arni kadang ingin menyeretnya dan sesekali membawanya berkeliling mall.
Ya tapi itu akan terlalu membuatnya kaget, Arni akan menyeretnya perlahan, seperti kali ini hanya membawanya ke taman belakang rumah.
"berhentilah mengaturku"
"sudah lah aku tidak mengaturmu, aku hanya ingin menemanimu saja karena bosan, jadi lanjutkan membacamu dan aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan tidur siang dengan nyaman disini” Ucap Arni kemudian benar benar merebahkan dirinya di atas kursi dan memejamkan matanya.
Bara bisa melihat dengan jelas wajah Arni yang terlelap di dekatnya.
Bara memperhati kan setiap inci wajah Arni yang dibalut makeup tipis, kadang Bara berpikir entah kenapa dirinya mau menerima Arni untuk menikah dengannya, padahal Bara tahu Arni adalah kaki tangan ibu tirinya vena, bukan tanpa alasan Bara membenci vena, semenjak kedatangan vena dalam keluarganya, perlahan keluarga bahagia yang Bara miliki sirna, dan Bara yakin semua itu pasti gara gara kedatangan vena.
Vena hadir di dalam keluarganya sebagai istri kedua papanya, setelah mengetahui itu sang mama jadi sering sakit sakitan dan akhirnya meninggal,
Bara yang kala itu masih duduk di bangku smp tidak terlalu mencurigai vena, terlebih vena tidak pernah berbuat hal macam macam secara terang terangan, bahkan vena mengurus Bara dan papanya dengan baik namun saat Bara memasuki bangku kuliah, tiba tiba kesehatan sang papa pun menurun dan akhirnya meninggal untuk itu Bara yakin semua ini campur tangan vena ibu tirinya, setelah sebulan kepergian sang papa Bara mengusir vena dari rumahnya Bara tidak ingin ibu tirinya itu mengatur dirinya dengan leluasa dan menjadikannya boneka hidup.
Tapi Bara tidak sejahat itu untuk menelantarkan vena...Bara masih terus mencukupi kebutuhan vena sampai saat ini, itu pun karena teringat sang papa yang sayang padai ibu tirinya itu. Bara tidak ingin kelak dirinya di salahkan karena sudah menelantarkan vena oleh papanya di akhirat.
Lamunan Bara terhenti saat angin yang sedikit kencang menerpa pohon di atasnya membuat daun daun kering berguguran dengan indah,
Bahkan beberapa jatuh di atas pangkuannya dan menempel pada helai rambut panjang Arni.
Bara mengulurkan tangannya untuk mengambil satu persatu daun. Namun tangannya berhenti tepat di sebelah pipi Arni, ada rasa yang begitu kuat di dalam dirinya untuk membelai lembut pipi Arni. Namun sebelum dirinya benar benar melakukannya Bara menarik tangannya kembali namun sebuah tangan Menghentikannya, ya tentu saja tangan Arni.
Dengan mata masih tertutup rapat Arni memegang telapak tangan Bara yang berada di sebelah pipinya.
"aku tahu kau ingin membelai pipiku, lakukan saja, aku akan pura pura tidur" ucap Arni kemudian menempelkan telapak tangan Bara di pipinya dan entah kenapa Arni bisa merasakan ibu jari Bara yang perlahan bergerak dan membelai pipinya lembut.