Wife 05

1047 Words
Aku takut rasa itu perlahan masuk ke dalam hatiku Itulah ungkapan yang pantas ada di pikiran Bara saat ini, ternyata seorang Arni bisa menciptakan rasa takut yang jauh lebih besar dan Bara tidak pernah menyangka itu. Bara menatap punggung Arni yang tidur membelakanginya, Bara tidak yakin apa yang dia rasakan pada Arni, Bara tahu betul saat pertama kali wanita itu datang di kehidupannya Bara sudah menganggapnya sebagai ancaman, tapi entah kenapa setelah Arni benar benar  berada di dalam kehidupannya sebagai seorang istri perlahan rasa ancaman itu terkikis dan Bara takut Arni akan benar benar masuk ke dalam hatinya. Seperti kejadian di taman tempo hari, Bara tidak yakin apa yang sedang terjadi dengan dirinya, untuk sesaat Bara merasakan hidupnya tanpa beban hanya dengan memandangi wajah Arni yang terlelap dan tangannya yang membelai halus pipi Arni, hanya kejadian sederhana itu rasa marah dan sakit dihatinya bisa dia lupakan sejenak. Lamunan Bara Terhenti saat Arni mengubah posisi tidurnya menghadap ke arahnya, seperti saat di taman Arni tertidur dengan wajah yang damai, ingin rasanya Bara kembali membelai pipi Arni, tangan Bara sudah mulai terulur namun berhenti saat pandangannya tertuju lebih bawah lagi, Bara berdecak kesal saat melihat bagian d**a Arni yang sedikit terbuka, apakah dia tidak punya baju tidur selain kain tipis seperti ini pikir Bara. Meskipun Bara tidak bisa berjalan tapi kelumpuhannya itu hanya sebatas lutut ke bawah dan Bara masih bisa merasakan gejolak layaknya seorang lelaki normal. Bara tidak ingin terus terusan terfokus pada hal kotor dan mulai menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh Arni, dan itu membuat tidur Arni terganggu, Arni mengerjapkan matanya untuk memfokuskan pandangannya "apa yang kau lakukan.?" tanya Arni saat melihat Bara yang tengah memegang selimutnya. "aku hanya ingin membantumu, aku lihat kau kedinginan" jawab Bara berkilah dan itu membuat Arni tersenyum "perlahan kau mulai perhatian padaku" goda Arni "lupakan, aku hanya tidak ingin di buat repot olehmu jika kau masuk angin dan sakit" mendengar itu Arni sedikit menegakkan badannya dan menumpu wajahnya pada kedua siku ke hadapan Bara, dan posisi seperti itu membuat selimut yang menutupi Arni turun dan kembali memperlihatkan bagian dadanya yang terbuka, Bara segera memalingkan wajahnya. "benarkah hanya itu alasanmu.?"tanya Arni namun Bara tidak menjawab dan masih memalingkan wajahnya. "tidak apa, apapun alasanmu aku anggap kau tetap perhatian” lanjut Arni dengan posisi yang masih sama. Namun detik berikutnya Bara mendorong kepala Arni menggunakan telunjuknya agar Arni kembali dalam posisi tidur"lebih baik kau tidur kembali, sudah cukup kau menggangguku di siang hari aku tidak ingin di ganggu malam hari olehmu" kesal Bara mencoba membaringkan tubuhnya, melihat hal itu Arni segera bangun dan membantu Bara untuk menata bantal yang menyangga punggung nya untuk Bara tidur. "aku jadi tidak bisa tidur jika sudah terbangun" rengek Arni membuat Bara berdecih "itu urusanmu," "tapi kau yang membangunkanku" "tidak, aku hanya menyelimutimu" "ya karena itu aku terbangun jadi kau harus tanggung jawab membuat ku kembali tertidur” rengek Arni kembali dengan puppy eyes nya "terserah kau mau tidur atau tidak" ucap Bara kemudian mulai memejamkan matanya. "baiklah, aku akan mengganggumu jika kau tidak mau menidurkanku" ancam Arni namun Bara menulikan pendengarannya dan bersikap masa bodo, namun hal itu malah membuat senyum Arni terbit, perlahan Arni memajukan wajahnya mendekati wajah Bara dan detik berikutnya Arni benar benar membuat mata Bara kembali terbuka lebar saat dirinya merasakan lidah Arni yang menyapu seluruh bibirnya, Bara langsung mendorong Arni dan menatapnya tajam "apa yang kau inginkan" kesal Bara "aku hanya ingin kembali tidur" jawab Arni sambil mengedipkan matanya "lalu.?" "aku ingin tidur di pelukanmu, tidak sulit bukan " "tidak akan" "ayolah, selama ini kita tidur berjarak sekali, aku merasa begitu kedinginan” jawab Arni melebih lebihkan "tapi jika kau menolak tidak apa, aku akan dengan senang hati melakukan hal yang ingin kulakukan seperti tadi" jawab Arni membuat Bara mengusap wajahnya kasar. "kemarilah" namun detik berikutnya Arni tersenyum lebar saat Bara membuka lengannya dan menyuruh Arni mendekat. Tidak membuang waktu lagi Arni segera berhambur ke pelukan Bara, Arni meletakan kepalanya di lengan Bara dan mendekap pinggang Bara erat, "nyaman, dan hangat" gumam Arni sambil terus menyelusup lebih dalam ke pelukan Bara. "berhentilah bergerak atau aku akan mendorongmu" "ya ya baiklah, tapi bisakan kau mengelus rambutku" ucap Arni sambil mendongakkan wajahnya dan langsung mendapatkan tatapan tajam Bara "ck aku kan hanya___," celotehan Arni terpotong saat Bara menggerakkan tangannya di puncak kepala Arni dengan lembut "sepertinya aku akan bermimpi indah” gumam Arni semakin mendongakkan wajahnya, dari jarak sedekat ini Bara bisa melihat jelas wajah Arni dan entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat, Bara yakin Arni bisa mendengarkannya kali ini. "cepat lah tidur" ucap Bara sambil mengalihkan pandangannya dan lebih memilih menatap langit langit kamar, namun bukannya berhenti menggoda Arni malah makin membuat Bara kelimpungan Cup Arni mencium rahang tegas Bara "selamat tidur suamiku" bisik Arni kemudian mengeratkan pelukannya pada Bara. oOo "sepertinya kau sedang senang.?" tanya vena saat melihat Arni tengah menatap ponselnya sambil terus tersenyum. "ya tentu saja, hari ini aplikasi belanja Online ku sedang mengeluarkan voucer besar besaran." jawab asal Arni sambil terus mengutak ngatik ponselnya. Vena duduk tidak jauh dari Arni sambil meletakan dua buah jus untuknya dan Arni "bagaimana kabar Bara.?” tanya vena "dia masih betah di kursi rodanya dan masih bersikap kejam padaku" jawab Arni acuh membuat vena sedikit kesal. "itu karena kau keras kepala, sudah tante katakan dekati dia" "aku bahkan sudah menempel terus padanya tapi dia selalu mendorongku jauh" "itu karena kau kurang serius mendekatinya” ucap vena sambil mengambil gelas jusnya dan meminumnya sedangkan Arni melepaskan tatapannya pada ponsel dan beralih menatap vena. "apa dia memang bersikap seperti itu pada semua orang" tanya Arni penasaran karena sangat jarang bisa melihat senyum di wajah Bara padahal Arni yakin jika Bara tersenyum dia akan jauh terlihat lebih tampan, "tidak" jawab vena "benarkah, jadi pada siapa dia bisa tersenyum.?” tanya Arni antusias "pada Iren"jawab vena sambil menatap lurus jauh ke depan "Iren, siapa dia.?" "sahabat kecilnya Bara,” jawab vena membuat Arni hanya menganggukkan kepalanya. "lalu dimana dia sekarang.? Bukankah saat Bara seperti sekarang sahabat kecilnya itu muncul.?" tanya Arni penasaran membuat vena kembali menatap ke arahnya "mungkin dugaanmu benar, tante rasa tidak lama lagi dia akan datang menemui Bara dan pada saat itu kau harus berhati hati padanya.!" ucap vena memperingati dan itu membuat Arni mengerutkan keningnya. "apa dia berbahaya untukku.?" "ya untuk posisimu".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD