Wife 06

1023 Words
Sesekali Bara menatap Arni yang tengah membaca majalah di tangannya, Salah bukan membaca tapi Bara rasa Arni hanya memandanginya saja oke itu juga salah Dan lebih tepatnya Arni sedang melamun, Bara tahu itu. Bara menyipitkan matanya yang kini sudah benar benar memperhatikan istri yang berada tidak jauh di depannya, Ada apa dengannya.,? Jarang sekali Arni tidak mengganggunya saat sedang berduaan dalam satu ruangan ya setidaknya Arni kali ini tidak terus terusan berbicara hal yang tidak jelas. Mungkin sejak kepulangannya tadi sore, Bara tidak tahu seharian Arni pergi ke mana dan pulang dengan wajah kusut, dan Bara tidak peduli. Tapi kali ini sifat melamunnya sedikit mengganggu, Bara takut ayam tetangga mendadak mati karena Arni melamun. "apa dia salah makan.?" gumam Bara pelan sambil terus memperhatikan Arni. "tolong ambilkan buku yang di lemari sana" ucap Bara yang kembali memperhatikan buku di tangannya. membuat Arni menoleh dengan senyum mengembang namun tidak kunjung beranjak dari kursi tempat dia duduk, akhirnya Bara mengangkat kepalanya dan memperhatikan Arni yang tengah memasang wajah senangnya. "kenapa.?" tanya Bara "apa kau baru saja meminta tolong padaku.?" tanya nya dengan senyum mengembang dan Bara berdecak malas ternyata dia salah memilih kata kata. "lupakan saja, aku akan memanggil pelayan" ucap Bara hendak memutar kursi rodanya namun terhenti karena Arni berdiri dari duduk nyamannya dan berjalan ke rak di mana tempat buku buku Bara tersimpan, mengambil buku yang tadi Bara maksud dan berjalan menghampirinya. Arni meletakan buku tersebut di atas meja dan juga dirinya, maksudnya Arni turut menduduki meja besar yang menghalangi jarak mereka. "padahal aku senang karena kau mulai mau meminta bantuanku," ucap Arni dengan nada yang dibuatnya se sedih mungkin. Namun Bara mengabaikannya dan mengambil buku yang Arni letakan. Untuk sesaat suasana hening kembali menyelimuti mereka membuat Bara kembali mendongak menatap ke arah Arni yang juga tengah menatapnya sedari tadi. "apa kau tidak punya pekerjaan lain.?" "tidak, apa kau bisa memberiku pekerjaan?"tanya Arni "kau bisa menghubungi Hans dan minta pekerjaan padanya" jawab Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, sedangkan Arni memutar bola matanya malas. "aku tidak butuh pekerjaan dari sekretarismu itu, aku ingin pekerjaan dari mu, kau bahkan tidak pernah menyuruhku sama sekali sebagai seorang istri.” rengek manja Arni kemudian turun dari atas meja dan berjalan memutar ke belakang Bara, Bara yang melihat pergerakan Arni langsung bersiaga karena wanita di depannya ini terkadang bersikap liar ada jam jam tertentu. Dan benar Bara merasakan tangan Arni tengah meremas pundaknya lembut. "apa yang kau lakukan.?" tanya Bara sambil menepis tangan Arni "setidaknya aku bisa memijit mu," jawab Arni "aku tidak perlu pijatan darimu, jadi menyingkirlah dan kembali ke tempatmu semula” ucap Bara dingin "baiklah, aku tidak akan memaksa, aku yakin suatu saat kau yang akan merindukan sentuhanku" ucap Arni membuat Bara bernafas lega karena Arni tidak membantah dan berdebat terlebih dahulu. Namun tentu saja bukan Arni jika tidak memberikan serangan jantung mendadak pada Bara, Cup Arni mencium leher Bara dan memainkan lidahnya sebentar sebelum beranjak pergi menjauh. Dan Bara berhasil menegang dan berhenti bernafas sesaat sebelum kembali tersadar dan melihat wanita itu sudah duduk di kursinya semula. Bara mengusap wajahnya kasar dan menatap tajam ke arah Arni. Namun sesaat Bara bisa melihat ekspresi Arni yang kembali termenung, tidak seperti biasa dirinya sedikit, ya hanya sedikit lebih pendiam dan tidak terlalu membuatnya sakit kepala karena perdebatannya,Semua pertanyaan yang ada di pikiran Bara akhirnya terjawab saat suara Arni kembali terdengar. "apa aku boleh menanyakan sesuatu.?" tanya nya dengan nada serius, Bara melihat Arni sekilas sebelum kembali menatap buku. "tidak" jawab Bara   "siapa Iren.?"tanya Arni yang Bara yakin wanita di depannya itu memang tidak mengerti arti kata tidak, gerakan Bara terhenti saat hendak membalikkan lembaran buku saat mendengar nama Iren yang Arni sebut. Kenapa wanita liar di hadapannya bisa mengetahui mengenai Iren. Ck tentu saja berkat ibu tirinya tercinta, memangnya siapa lagi. "kenapa kau menanyakannya.?" "hanya ingin tahu saja" "kai tidak perlu tahu" "apa dia manta kekasihmu.?" "bukan" pertanyaan konyol apa itu fikir Bara "pacarmu.?" "bukan" apa lagi ini "cinta pertamamu.?" Hening Bara tidak menjawab dan hanya menatap buku kosong di hadapannya "ah ternyata perasaan mengganggu itu yang aku rasakan sejak tadi" gumam Arni sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan membuat Bara menatapnya seakan bertanya apa maksudmu.? "kapan terakhir kalian bertemu.?" tanya iren kembali namun Bara tetap diam, Bara malah mengingat berapa lama waktu saat dirinya tidak pernah mendengar kabar tentang Iren Setahun Dua tahun Atau lebih Bara tidak tahu dan tidak pernah menghitungnya, Bara takut jika dirinya menghitung Bara takut waktu akan semakin bertambah meskipun itu tidak bisa di bantahkan. "aku rasa kalian tidak bertemu sudah lama" lagi lagi Arni menjawab pertanyaannya sendiri "tapi jika nanti dia datang padamu, bisakah kau memperkenalkanku sebagai istrimu di depannya.!" permintaannya membuat Bara menyipitkan pandangannya pada Arni seakan ingin membaca apa maksud dari perkataannya. "kami tidak akan pernah bertemu" ucap Bara mencoba sedatar mungkin "aku hanya menebak, siapa tahu kalian mungkin bertemu di jalan" Apalagi alasan itu sangat tidak mungkin pikir Bara. Karena selama kakinya tidak bisa berjalan, Bara lebih sering menghabiskan waktu di rumah walau kadang sesekali dia bergi menghadiri acara penting di kantor. Tapi untuk bertemu Iren di jalan seperti berpapasan itu sangat tidak mungkin. "jadi, apa kau mau mengenalkanku sebagak istrimu" tanya Arni sekali lagi memastikan. "tentu saja," jawab Bara karena Bara yakin jika Iren mengetahui berita dirinya yang sudah menikah bahkan mungkin berita lainnya tentang dirinya, ya anggap saja kepercayaan diri Bara tinggi namun Bara yakin Iren masih peduli padanya. "ah tapi entah kenapa perasaan ku masih belum lega" gumam Arni sambil menyandarkan punggungnya seakan dirinya benar benar merasa cemas. Memang apa yang di cemaskan batin Bara, ah apa posisinya yang ternacam pikir Bara. "wanita seperti apa Iren.?" Ternyata rasa penasaran Arni masih belum habis, Bara meletakan bukunya dan mulai menatap serius kearah Arni "kenapa kau terlihat begitu penasaran pada orang yang bahkan belum pernah kau temui sama sekali.?" "karena dia cinta pertama suamiku.,? Mana mungkin aku tidak penasaran" jawab Arni membuat Bara tersenyum remeh "aku tidak pernah bilang Iren cinta pertamaku" "aku tahu tanpa perku kau jawab" "lalu memangnya kenapa kalau dia cinta pertamaku, aku juga tidak pernah mempermasalahkan atau penasaran dengan cinta pertamamu" "tentu saja kau tidak usah penasaran karena cinta pertamaku suamiku"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD