Wife 07

1077 Words
"morning.!!!" Sapaan seseorang di pagi hari membuat Bara langsung mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah sampingnya, Meskipun sudah lebih seminggu tapi keberadaan Arni di sampingnya saat pertama kali dia membuka mata membuat Bara masih belum terbiasa. Seperti sekarang, dengan manjanya Arni tidur di lengan Bara dan memeluknya erat, entah sejak kapan posisi mereka sedekat itu Bara tidak tahu, karena sepengetahuannya sebelum mereka tidur Bara akan membatasi jarak mereka dengan guling dan beberapa bantal agar Arni tidak mendekat meskipun Bara tidak yakin cara akan benar benar berhasil. Lamunan Bara terhenti saat Arni bangkit dati tidurnya dan memasang jubah tidurnya, Bara masih diam dan terus memperhatikan Arni yang tengah mengikat rambutnya, tanpa Bara sadari matanya memperhatikan Arni dari atas sampai bawah, Bara salah menilai Arni saat pertama kali melihatnya, Arni tidak manis tapi dia menarik, itu yang terlintas di pikiran Bara sekarang. "apa kau ingin mandi sekarang,? Aku akan menyiapkan air hangatnya" ucap  Arni membuat Bara langsung membuang pandangannya dan berdehem canggung. "ya" jawab Bara singkat dengan wajah memerah dan itu tidak lepas dari penglihatan Arni, Bara masih ingat dengan jelas pengakuan Arni bahwa cinta pertamanya adalah suaminya sendiri dan itu membuat sedikit rasa lega di hati Bara yang mungkin tidak Bara ketahui. Arni berjalan ke sisi tempat tidur dan mendudukkan dirinya di samping Bara, "kenapa.?” tanya Bara mencoba kembali bersikap biasa, namun Arni masih menatapnya dengan senyuman mengancam dan Bara harus mulai bersikap siaga. "bukankah kau akan menyiapkan air hangat" ucap Bara kembali "ya tapi aku sedikit lemas pagi ini.?” jawab Arni sambil memijat tengkuknya Apa dia sakit, tidak dilihat dari wajahnya dia baik baik saja pikir Bara "kalau begitu suruh saja pelayan menyiapkannya” jawab Bara "tidak, aku yang akan menyiapkannya, tapi aku rasa aku butuh bantuanmu" ucap Arni membuat Bara menaikkan alisnya "kalau saja aku bisa, aku bahkan tidak  perlu menyuruhmu" ucap sinis Bara dan malah membuat Arni terkekeh. Ah dia memang wanita yang sedikit tidak waras batin Bara "kau bisa memberikanku sedikit tenaga” jawab Arni membuat Bara semakin menyipitkan matanya mulai menebak nebak hal gila apa yang ada di pikiran wanita di depannya "berikan morningkiss ku" Binggo.... Sudah bisa Bara tebak "hei singkirkan pikiran kotormu itu, ini masih terlalu pagi" "ck kau jahat sekali, bukankah hal biasa jika seorang istri meminta hal tersebut" gerutu Arni dengan wajah cemberutnya "lupakanlah, dan cepat pergi atau aku akan menyuruh pelayan yang akan menyiapkannya" anca Bara membuat Arni berdiri seketika "baiklah baiklah, kau memang pelit, aku kan hanya meminta jatah pagiku, bagaimana kalau aku meminta setengah dari harta kekayaanmu pasti kau akan langsung mengusirku" ucap Arni dengan tangan terlipat kesal, namun Bara hanya acuh menanggapinya dan malah mengibas ngibaskan tangannya menyuruh Arni agar segera pergi dari hadapannya Dasar lelaki berhati es Namun sebelum Arni benar benar pergi, Arni merendahkan tubuhnya dan  dengan gerakan cepat menangkup wajah Bara yang terlihat terkejut dan menempelkan bibir mereka, Arni melumat bibir Bara  dengan cepat sebelum Dirinya sadar dan menghajar wajah Arni. Arni langsung menarik diri dan berlari memasuki kamar mandi meninggalkan Bara dengan wajah terdiam dan telinga memerah. Arni menutup pintu kamar mandi dan menyandarkan punggungnya pada daun pintu. "hah rasanya aku seperti wanita nakal yang merenggut kesucian seorang lelaki" gumam Arni sambil terkekeh geli membayangkan wajah terdiam Bara, pasti saat ini sudah banyak u*****n yang akan Bara teriakan padangnya dan Arni tidak peduli toh selama menjadi istrinya kata kata pedas Bara sudah menjadi makanan sehari hari bagi Arni oOo Arni berdiri dengan tangan terlipat kesal memperhatikan kedua orang di depannya. "sayang, aku bisa membantumu" ucap Arni membuat Bara langsung menaikkan tangannya memberi arti bahwa Arni tidak boleh berkata sedikit pun. "tapi aku ingin membantumu" ucap Arni sedikit merengek membuat orang yang tengah mengikatkan dasi pada Bara menghentikan gerakannya "lanjutkan Hans, abaikan saja wanita itu" ucap Bara acuh "tapi mengikatkan dasi tugas seorang istri bukan sekretaris" gerutu Arni yang di abaikan kedua lelaki di hadapannya. Setelah beres dengan tugasnya, Hans hendak mendorong kursi roda Bara namun Arni mencoba kembali menghentikannya. "biar aku saja" "tidak, apa kau tidak dengar jangan mendekat dalam radius dua meter" ucap Bara membuat Arni berdecih. "apa kau benar benar marah hanya karena aku mengambil jatahku pagi ini" kesal Arni membuat Bara membulatkan matanya dan langsung menatap ke arah Hans, jangan sampai sekretarisnya itu berpikir macam macam tentang dirinya gara gara ocehan wanita yang sekarang berstatus istrinya itu. "menjauhlah" ucap Bara "hah kau benar benar seperti anak kecil, baikblah aku minta maaf, mana ada seorang suami marah hanya karena istrinya mencium dirinya" gerutu Arni sambil berjalan mendahului Bara dan Hans. Bara berdecih melihat tingkah Arni kemudian menoleh pada Hans yang sedang tersenyum jahil padanya "singkirkan senyum bodohmu itu Hans" kesal Bara, membuat Hans malah ingin semakin mengejeknya. "apa jadwalku hari ini.?” tanya Bara di tengah tengah sarapannya "hari ini anda ada rapat dengan tim direksi dan beberapa klien, dan juga ada beberapa masalah dengan toko kue nyonya besar" ucapan Hans membuat Bara langsung menghentikan sarapannya "ada apa.?" "dalam satu tahun terakhir ini toko kue yang kita kelola tidak menunjukkan kenaikan bahkan beberapa cabang terpaksa harus di tutup. Yang bertahan sekarang hanya toko pusat saja karena masih ada beberapa pelanggan tetap nyonya besar saja yang bertahan, jika keadaan ini semakin berlanjut saya juga tidak yakin toko pusat akan bertahan" jelas Hans "aku tidak mau toko itu tutup, apapun yang terjadi pertahankan, bukankah mudah hanya menyelesaikan permasalahan toko kue saja Hans" "benar tapi tuan kita butuh" "lakukan apapun, aku ingin toko itu tepat ada" ucap Bara. Sedangkan Arni hanya diam menyimak perbincangan mereka. Arni yakin toko kue yang sedang mereka bahas pasti sangat penting untuk Bara, terlihat jelas dari reaksi Bara yang tidak ingin kehilangan toko itu. Tentu saja, itu adalah toko yang di bangun mendiang ibu nya, ibu Bara sangat mencintai berbagai macam kue, meskipun suaminya seorang pengusaha kaya tapi ibu Bara merintis toko itu dengan jerih payahnya sendiri tanpa meminta bantuan sedikit pun dari sang suami.Untuk itu Bara dengan yakin mempertahan kan toko kue kecil yang di cintai mendiang ibunya. Namun Hans sedikit kesulitan usaha Bara mempertahankan akan sia sia jika tidak ada orang yang benar benar ingin mengelolanya seperti mendiang ibu nya dulu. "kita butuh seseorang yang benar benar bisa mengelolanya langsung pak" ucap Hans membuat Bara menghembuskan nafas kasar "aku tidak bisa mempercayai toko peninggalan ibuku pada sembarang orang Hans" "tapi Pak itu satu satunya cara agar..." "aku akan melakukannya” potong Arni membuat Bara dan Hans menoleh ke arahnya. "aku yang akan mengelola toko kue itu” lanjut Arni dengan wajah seriusnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD