Wife 08

1085 Words
Perlahan Arni turun dari dalam mobil dan langsung berhadapan dengan sebuah toko kue yang tidak besar juga tidak terlalu kecil yang sepi pengunjung Entah ini masih terlalu pagi atau__Tidak bahkan ini sudah siang dan biasanya toko kueoti selalu ramai di jam jam sekarang pikir Arni.Apa ini yang di katakan Hans tadi pagi, bahwa toko ini dalam ambang kebangkrutan   "Huff" Arni menghembuskan nafas panjangnya, entah setan apa yang ada di dalam dirinya sehingga mengajukan dirinya untuk mengelola toko ini. Bagaimana bisa dia mengelola toko ini sementara dirinya sendiri tidak tahu tentang masalah perkuehan seperti itu. "baiklah Arni sudah terlanjur, kau pasti bisa mengatasinya" ujar Arni pada dirinya sendiri sambil menepuk lengannya. Setelahnya Arni mulai melangkahkan kakinya mendekat ke area toko, Arni semakin melambatkan langkahnya saat berada di depan pintu kaca yang sudah terdapat tulisan open, Sekali lagi sebelum dirinya benar benar mendorong pintu kaca itu, Arni menghembuskan nafas dalamnya dan mulai mengulurkan tangannya untuk membuka pintu. "selamat siang, ada yang bisa kami bantu" ucap salah seorang pelayan toko saat Arni sudah benar benar masuk kedalam Arni memperhatikan sekilas ruang yang tidak terlalu luas itu. "oh saya Arni, saya istri__" "apa Anda istri tuan Bara.?" potong pelayan tersebut membuat Arni mengangguk dan membuat si pelayan gelagapan. "maafkan saya nyonya, saya tidak mengenali Anda" ucapnya menyesal dan langsung menunduk malu "tidak apa, aku memang jarang keluar rumah" jawab Arni merasa sedikit tidak nyaman. "maafkan saya sekali lagi, saya tahu Anda akan datang berkunjung, sekretaris Hans sudah menelepon kami kemarin" jelasnya membuat Arni menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan langkahnya memasuki lebih dalam area toko sambil di ikuti si pelayan dari belakang "siapa yang bertanggung jawab di toko ini.?" tanya Arni tanpa melepaskan pandangannya yang sedang meneliti setiap sudu toko. "oh itu koki kami sendiri, apa perlu saya panggilkan mbak Syafira sekarang.?" tanya si pelayan membuat Arni menghentikan langkahnya dan mengangguk "kalau begitu Anda bisa menunggu disini" jawabnya sambil menarik salah satu kursi untuk Arni dan setelahnya berlalu meninggalkan Arni. Setelah peninggalan si pelayan Arni menghembuskan nafas leganya sedari tadi bahkan jantungnya berdegup dengan kencang, tapi dia harus bersikap seperti layaknya nyonya besar yang sedang berkunjung dan itu membuatnya seakan sulit bernafas. Hanya butuh beberapa menit saja si pelayan kembali dengan di ikuti seseorang yang dia sebut sebagai koki di toko ini. Arni sempat terkejut sesaat saat menyadari kokinya masih muda, mungkin seumuran dengannya dan bisa di lihat dia seperti koki profesional yang berkelas "selamat siang nyonya, saya Syafira, saya yang bertanggung jawab mengelola toko ini" ucapnya saat setelah berhadapan dengan Arni, Arni pun langsung menyambut uluran tangan Syafira dan menyurahnya untuk duduk. "maaf saya sedikit sibuk dan melupakan kedatangan Anda, jadi saya tidak menyiapkan apapun yang istimewa" lanjutnya dengan senyum merekah di bibirnya "tidak apa, aku tidak perlu sambutan istimewa" jawab Arni menenangkan, Arni tidak ingin membuang waktu dan langsung pada inti permasalahan untuk apa dia datang ke tempat ini "Syafira, apa kau membuat semua kue dan roti di sini.?" "ya, maksudku aku di bantu beberapa asisten ku" "dan siapa yang mengelola pembukuan toko ini" "saya juga nyonya” jawab Syafira membuat Arni mengerutkan keningnya. "apa kau tidak kesulitan mengambil alih semuanya,? Apa kau tidak mengajukan keberatan pada sekretaris Hans untuk tugas ini” tanya Arni sedikit hhera "tidak, lagi pula saya senang melakukannya, lagi pula toko ini tidak terlalu sibuk” jawabnya masih dengan senyum merekah tapi senyumnya hilang saat Arni menyuarakan pendapatnha "mulai hari ini aku yang akan mengelola toko ini, dan kau bisa fokus menjadi koki di sini jadi kumohon bantuanmu dari sekarang" ucap Arni membuat Syafira berwajah datar untuk sesaat namun setelahnya senyum ramah kembali muncul dan dia mengangguk antusias "tentu saja, saya pasti akan membantu Anda” jawab Syafira oOo   Arni langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur queensize miliknya sambil memijat pangkal hidungnya. "apa kau akan menyerah di hari pertamamu" ucap tiba tiba Bara membuat Arni memekik "astaga sejak kapan kau berada disana" ucap Arni sambil menoleh ke arah Bara yang sedang duduk seperti biasa di belakang meja kerjanya. "ck kau saja yang selalu tidak fokus dan menyadari kehadiranku" jawab Bara sambil membalik balikan dokumen di tangannya. Kemudian Arni membalikkan tubuhnya dan tidur menyamping menghadap Bara, menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. "berapa kau menggaji koki di toko itu.?" tanya Arni penasaran membuat Bara mendongak dan menatap ke arah Arni "sama seperti gajih koki pada umunnya” jawab Bara enteng namun membuat kening Arni mengkerut "apa kau tidak memberikannya bonus.?" "terkadang saat akhir tahun" "apa kau tahu dia bukan hanya koki tapi juga yang memegang dan mengatur toko itu" jelas Arni akhirnya membuat Bara menyimpan dokumen di tangannya dengan tatapan penuh tanya seakan tidak mengerti maksud ucapan Arni "apa Hans tidak memberitahumu.?" lanjut Arni dan membuat Bara masih diam, ya pasalnya Hans tidak pernah menyinggung bahwa yang mengatur di toko pusat adalah sekaligus koki nya sendiri. "sudahlah kau tidak perlu pusing, lagian mulai besok aku yang akan mengatur toko dan dia bisa fokus pada kue dan roti yang dia buat, aku rasa karena tugas dobelnya jadi dia tidak mengeluarkan kemampuannya sebagai koki dengan maksimal” jelas Arni "ya terserah kau saja" jawab Bara acuh namun Arni masih bisa melihat raut rasa penasaran di wajah Bara "apa kau tidak akan berterima kasih pada istrimu ini" ucap Arni sambil mengedipkan sebelah matanya Sifat liarnya telah muncul Batin Bara sambil berdecih "untuk apa, lagi pula aku tidak menyuruhmu, kau sendiri yang menawarkan diri” ucap Bara tidak ambil pusing dan kembali mengambil dokumen lain dibatas mejanya "ck kau memang suami yang pelit pujian dan perhatian, padahal aku melakukan semua ini demi mu,.?"gerutu Arni dengan nada kecewa "demi aku, kurasa demi dirimu sendiri yang berniat perlahan menguasai aset ku" "terserah kau saja, padahal aku mengkhawatirkanmu" ucap sedih Arni dengan suara lemah dan Bara hanya berdecih Beberapa saat Bara membolak balikan dokumen di tangannya dengan suara hening tanpa gangguan seseorang. Seperti saat sebelum Arni masuk ke kamar mereka dan itu terasa aneh, untuk itu Bara menegakkan kepalanya dan melihat Arni yang masih tidur menyamping dan kali ini dengan nafas teratur, Ternyata dia tertidur, pantas saja ruangan menjadi sunyi dan sepi pikir Bara, Bara kemudian memutar kursi rodanya dan mendekat ke arah tempat tidur dimana Arni sekarang sedang tertidur pulas, Bara mengulurkan tangannya dan menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Arni, Bara rasa wanita didepanya benar benar kelelahan, "karena aku mengkhawatirkanmu" kata kata terakhir Arni melintas di benak Bara Bara membelai pipi Arni dengan lembut "kenapa kau mengkhawatirkanku, harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri karena harus terjebak bersamaku" ucap Bara sambil terus membelai pipi Arni dan menatap wajah tenang Arni
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD