"Hans apa benar semua yang aku dengar itu .?" tanya Bara memastikan
Setelah tempo hari Arni mengadu tentang keadaan toko utama kue milik almarhum ibunya Bara segera mengkonfirmasi kepada Hans
"iya itu benar.?"
"lalu kenapa kau tidak memberitahuku.?"
"aku sudah melaporkannya padamu, dan kau menyetujuinya.?"
"kapan.?" tanya Bara dengan nada sedikit tinggi pasalnya dirinya tidak ingat Hans melaporkan tugas koki itu.
"aku sudah bilang yang menjadi koki dan mengatur toko adalah orang lama yang bisa kita percaya, bukankah kau memang tidak setuju aku menyerahkan sepenuhnya kepada seseorang untuk mengatur toko itu, kau bilang tidak percaya"
"tapi kau___"
"dan kau bilang lebih baik mempercayai orang lama itu saja, untuk itu aku mempercayakan semuanya pada satu koki itu karena hanya dia orang lama yang benar benar bisa dipercaya, lagi pula kemampuannya juga lumayan bagus" potong Hans saat Bara ingin menyela penjelasannya.
"lalu apa kita memberikan gajih yang setimpal untuknya.,?" tanya Bara
"tentu saja, kita menggajinya lebih tinggi dari koki biasanya, awalnya dia menolak tapi setelah beberapa bulan dia akhirnya setuju" jelas Hans sambil menatap ke arah Bara.
"Kenapa kau tiba tiba menanyakan Koki itu,? " Lanjut Hans kembali
"Tidak, aku hanya memastikan bahwa karyawanku semuanya menerima hak mereka dengan benar" Jawab Bara sambil memutar kursi rodanya menuju meja kerja yang sudah mulai penuh dengan tumpukan kertas yang Hans bawa dari kantor.
"Kenapa kau hobi sekali membawa tumpukkan kertas ini padaku, " Ucap Bara yang sudah menempatkan diri nya di depan meja dan mulai mengambil satu persatu berkas berkas yang akan membuat nya terkurung di ruangan kerjanya seharian.
"Itu karena kau sudah jarang pergi ke kantor semenjak___" Ucapan Hans terhenti saat Bara langsung menatapnya dengan Tajam.
"Aku hanya merasa kurang sehat, jangan kau sangkut pautkan ke tidak hadiran ku dengan kedatangannya" Sela Bara sambil kembali mengalihkan pandangannya pada laporan ditangannya
"Memangnya kau tahu apa yang akan aku katakan" Ucap Hans kembali dengan Nada mengejeknya yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Bara, Bara sangat tahu sekali Bahwa saat ini Hans pasti sedang mengolok-olok nya karena kehadiran Arny dalam hidupnya.
"Wajah menyebalkan mu itu sudah bisa aku baca Hans" Jawab Bara membuat Hans akhirnya mengeluarkan tawanya yang langsung memenuhi ruang kerja Bara.
"Jika urusanmu sudah selesai lebih baik kau kembali ke kantor, kau tidak mau bukan karyawan yang lain menganggapmu memakan gajih buta saat mereka menyadari kau jarang berada di kantor" Ucap Bara membuat Hans malah berdecak kesal.
"Lalu apa yang akan mereka pikirkan tentang dirimu yang malah tidak pernah terlihat kembali di kantor, bisa bisa mereka mulai berpikir usahamu akan bangkrut" Gerutu Hans sambil berjalan ke arah sofa dan mengambil tas kerjanya, sedangkan Bara tidak berniat untuk menanggapi semua ucapan Hans karena saat ini Bara memang belum bisa untuk pergi ke kantor karena dia merasakan akhir-akhir ini kondisi tubuhnya sedikit menurun, Bara sering merasakan kakinya yang teramat sakit entah efek samping dari Bara memberhentikan minum obat yang biasa dokter berikan padanya Bara sudah muak meminum obat-obatan tersebut selama beberapa tahun ini namun tidak bisa membuatnya bisa berjalan kembali. Bara kemudian kembali menatap ke arah Hans yang selangkah lagi hendak menarik hendle pintu dan mmenghentikanny.
"Hans"
"ya bos apalagi" Jawab Hans dengan Nada malasnya
"Jangan lupa suruh sopir kita untuk menjemput Arni satu jam lagi" Ucap Bara membuat senyum menyebalkan dari Hans kembali terbit, baru saja Hans membuka mulutnya untuk mengejek sahabatnya itu namun Bara langsung membuatnya kembali menelan bulat bulat semua ejekannya ketika Bara mengancamnya.
"Hentikan senyum sialan mu itu sebelum aku benar benar membakar semua dokumen laporan ini" Ancam Bara, yang berhasil membuat Hans harus menatapnya dengan tatapan tidak suka pasalnya jika saja Bara benar-benar membakar semua laporan tersebut yang akan dibuat menderita adalah dirinya sendiri karena dia harus kembali menyusun laporan dari awal sampai akhir hanya untuk meminta satu tanda tangan dari pemilik perusahaan dan itulah salah satu yang Hans benci dari pekerjaannya Meskipun Bara meng gajinya dengan sangat mahal namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa
"memang menjadi bos adalah hal yang paling menyenangkan" gumam Hans sambil menarik handle pintu dan berhasil keluar dari ruangan kerja Bara dengan perasaan kesal dan entah kenapa saat mengancam hal itu menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi Bara ketika melihat Hans merajuk seperti sekarang ini
Hans kemudian memilih untuk kembali langsung ke kantor namun langkahnya terhenti saat melihat Reno yang baru saja keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah membuat Hans langsung menghentikan langkahnya
" Ternyata kau di sini? "Tanya Reno dengan senyum hangat yang selalu dia tampilkan kepada siapa pun
"ya Pak saya mengantarkan beberapa Dokumen untuk Pak Bara " jawaban Hans sambil menundukkan kepalanya Hormat pada Reno yang merupakan paman angkat Bara, Reno adalah adik tiri dari ayahnya Bara yang mungkin menjadi satu sayunya keluarga Bara yang tersisa selain Vena, Entahlah apakah vena masih bisa di sebut sebagai ibu Bara di saat ayahnya sudah tiada Hans tidak tahu yang Jelas Hans kadang merasa kasihan pada sahabatnya itu dia memiliki segalanya dalam hal materi namun Untuk urusan keluarga Hans sedikit prihatin karena Bara mempunyai cerita yang tidak se bagus materinya yang berlimpah dan kedatangan Arni di hidup Bara membuat Hans sedikit bisa bernafas lega karena sahabatnya akhirnya Memiliki seseorang yang bisa memperhatikannya Entah kenapa meskipun Hans belum mengenal terlalu dekat dengan Arni namun Hans yakin Arni bisa menjadi seseorang yang bisa Bara andalkan, Entah kenapa Hans selalu bisa membaca karakter seseorang hanya dengan melihat penampilannya saja dan feeling nya itu selalu benar seperti saat ini saat Hans melihat kearah Reno membuat perasaannya sedikit tidak nyaman, Hans bisa menembak kedatangan Reno kali ini pasti ada sesuatu hal yang akan dirundingkan nya dengan Bara di awal pertemuan Hans dengan Reno saat mengawali karirnya menjadi bawahan Bara Hans selalu merasa bahwa Reno tidaklah sebaik seperti kelihatannya yang selalu bersikap ramah dan penuh wibawa pada bawahannya, namun Tentu saja itu hanya ada dalam pikiran nya, Hans tidak mungkin membeberkan semua penilaiannya tentang Reno kepada siapa pun termasuk Bara dan tidak ingin dicap sebagai seseorang yang sok tahu saat menilai seseorang
"apa Bara berada di ruang kerjanya?" Lamunan Hans terhenti ketika Reno kembali Bertanya kepadanya
" benar pak Bara Sedang berada di ruang kerjanya "jawab Hans
" kalau begitu aku akan menemuinya "ucap Reno sambil kembali tersenyum kepada Hans setelah itu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Bara Hans hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya untuk menanggapi jawaban dari Reno setelah itu melihat punggung Reno yang menjauh dan menghilang di balik pintu ruang kerja Bara
" semoga aku tidak mendapat kerja tambahan” gumam Hans saat memperkirakan masalah apa yang akan Reno bicarakan dengan Bara kemudian menghembuskan nafas panjangnya sebelum kembali melanjutkan langkahnya