Wife 10

1069 Words
"Ah harus nya aku memanggil Tukang pijat saja" Erang Arni sambil meregangkan kedua tangannya membuat Bara yang sedari tadi masih fokus pada laptop di pangkuannya akhirnya menatap kearahnya, namun itu hanya beberapa detik saja setelah itu Bara kembali memfokuskan dirinya pada istri keduanya yang selalu berada di  itu membuat Arni berdecak kesal. "Setidaknya tawarkan bantuan untukku atau sekedar bertanya keadaanku setelah seharian ini bekerja" Gerutu Arni yang dia tunjukkan untuk suami dinginnya itu, sedangkan Bara yang sebenarnya mendengar keluhan istrinya saja hanya diam dan tidak berniat menanggapinya, rasanya Bara sudah mulai terbiasa mendengar protesan Arni akan sikapnya yang terkesan tidak peduli dan jauh dari kata romantis. "Sudah aku katakan kalau aku tidak pernah memaksamu untuk bekerja bukan, aku masih bisa dan sanggup untuk menafkahimu, " Ucap Bara membuat Arni malah mencebik dan itu mengundang kelucuan bagi Bara terbukti dari sudut bibirnya yang selalu terangkat membuat lengkungan senyum saat dirinya berhasil untuk menggoda istrinya itu namun detik berikutnya keadaan terbalik saat Arni menampilkan senyum nakalnya sambil berjalan melangkah mendekat ke arah Bara membuat Bara langsung mengambil sikap Waspada, Bara tidak tahu hal gila apa yang akan Arni lakukan dan pemikirannya langsung terjawab ketika Arni kini merangkulnya  dari belakang. "Berhubung tadi kau membicarakan tentang nafkah, aku rasa kau belum memberikanku nafkah batin suamiku" Bisik Arni tepat di sebelah telinga Bara membuat Bara langsung menghentikan gerakan jari jemarinya di atas keyboard dengan tubuh menegang, "Apa yang kau lakukan" Ucap Bara dengan nada rendah dan dalamnya "Aku hanya ingin memelukmu" Jawab Arni membuat Bara langsung menarik pergelangan tangan Arni sehingga membuatnya menjauh, "Kenapa, apa ada yang salah,? " Tanya Arni. "Lebih baik kau istirahat saja di tempat tidur" Ucap Bara membuat Arni menepis tangannya "Tidak aku akan melakukan hal lain" Jawab Arni sambil hendak kembali berjalan ke belakang Bara namun Bara langsung menarik tangannya dengan sekali tarikan membuat Arni hilang kendali dan langsung terduduk di atas pangkuan Bara  dengan tidak sengaja dan itu malah membuat senyum Arni mengembang. "Apa kau sengaja menarikku,? " Goda Arni sambil menaik turunkan alisnya. "Singkirkan wajah menyebalkan itu dan menyingkirlah kau berat" Ucap Bara membuat Arni membulatkan matanya "Kau tega sekali menghina istrimu ini gendut" Ucap Arni dengan raut wajah sedihnya membuat Bara malah berdecak "Kapan aku mengatakan kau gendut" "Itu tadi kau mengatakan aku berat" "Aku hanya mengatakan berat bukan gendut" "Sama saja itu artinya kau mengatai ku gendut, padahal selama pindah kerumah ini berat badanku kembali turun beberapa kilo" Gerutu Arni dengan pipi mengembung dan bibir mengerucut yang malah membuatnya terlihat lucu dan Bara tidak habis pikir dengan kamus para wanita yang ternyata mereka mempunyai masalah tentang sinonim, padahal dengan jelas dia hanya mengatakan berat bukan gendut entah dari mana persamaan dari kedua kata tersebut Bara tidak bisa habis pikir. "Baiklah kau tidak berat dan tidak gendut jadi bisa kah kau menyingkir sekarang karena kau sudah mengganggu jam kerjaku" Ucap Bara membuat Arni langsung menoleh ke arah jam, "Mengganggu jam kerja, memangnya ini bisa di sebut jam kerja, ini waktunya tidur sayang" Ucap Arni sambil menahan tubuhnya saat Bara mencoba mendorong dari pangkuannya "Jika dikantor ini masih jam Lemburku" Jawab Bara membuat Arni berdecak kesal "Tapi ini bukan di kantor ini di rumah dan ini waktunya kau beristirahat" Jawab Arni cepat merasa tidak suka dengan sikap. Gila kerja yang Bara miliki, "Aku akan berhenti jika tubuhmu sudah merasa lelah" Jawaban Bara "Kalau begitu aku akan menemanimu" Jawab Arni sambil mengelus leher Bara dengan lembut namun baru beberapa saat Bara langsung mencekal lengan Arni dengan kuat. "Jangan pernah menyentuh leherku" Desis Bara membuat Arni malah menaikkan alisnya. "Memangnya kenapa,? " Tanya Arni kembali sambil mengulurkan tangannya hendak menyentuh kembali leher Bara namun Bara yang menyadari niat Arni langsung kembali mencekalnya "Sudah aku peringatkan bukan, jangan sentuh" Desis Bara "Memangnya kenapa,?" Tanya Arni masih dengan nyaman duduk di atas pangkuan Bara. "Aku tidak bisa berjanji akan menahan diri kalau kau terus menyentuh leherku" Ucap Bara dan entah kenapa malah membuat Arni semakin ingin menggodanya "Jika seperti itu jangan di tahan" Jawab Arni sambil Menampilkan wajah serius nya, kali ini bukan tangannya yang Arni ulurkan Arni malah mendekatkan wajahnya kemudian memberikan ciuman hangat tepat di belakang telinga Bara membuat Bara langsung mengepalkan tangannya. "Aku sudah memperingatimu Arni" "Dan aku sudah mendengarnya" Jawab Arni yang malah terus menciumi leher Bara dengan ciuman menggoda dan memberikan tanda merah tepat di leher Bara membuat Bara langsung menarik bahu Arni, mereka saat ini saling menatap satu sama lain dan Arni bisa melihat kabut yang sudah memenuhi mata Bara Dan didetik berikutnya Bara langsung meraih tengkuk Arni kemudian menempelkan bibir mereka, Arni benar benar sudah mengundang hasratnya meskipun kakinya lumpuh tapi miliknya masih bisa berfungsi dengan baik Bara terus memberikan lumatan demi lumatan pada bibir Arni dan Arni menyambutnya dengan baik, Arni memberikan celah agar Bara dengan leluasa  bisa menjelajahi setiap inci dari bibirnya, ini ciuman pertama yang membuatnya berhasrat setelah kejadian kecelakaan itu menimpanya dan Bara melakukannya dengan Arni, wanita yang  sekarang menjadi istrinya yang selalu dia curigai Satu desahan lolos dari bibir Arni saat Bara menghisap lidahnya dengan kuat sekaligus menyadarkan Bara  dari hasrat yang membelenggunya, Bara melepaskan ciumannya dan hal tersebut membuat Arni menatapnya dengan  tatapan tidak suka "Lebih baik kau istirahat" Ucap Bara sambil membuang pandangannya ke sembarang arah asal tidak menatap wajah Arni. "Kenapa,? " Tanya Arni sambil meraih sisi wajah Bara dan membuatnya kembali menatap ke arah Arni " Apa kau tidak suka berciuman denganku,? " Tanya Arni Ya aku tidak suka karena aku takut tidak bisa menahan diriku lagi batin Bara " Apa kau menahannya,? " Tanya Arni membuat Bara akhirmya mau menatap. Kearahnya "Aku hanya tidak ingin bertindak lebih jauh" " Memangnya kenapa jika bertindak lebih jauh bukankah kita sudah sah untuk melakukannya" Ucap Arni seakan yakin dengan setiap ucapannya berbeda dengan Bara yang memikirkan kemungkinan setelahnya, Bara tidak bisa melakukannya jika tidak ada rasa di antara mereka Bara tidak mau melakukannya hanya karena nafsu belaka dan nantinya akan menyakiti mereka. "Aku masih belum siap" Ucap Bara membuat Arni berdecak dan akhirnya bangkit dari pangkuan Bara. "Rasanya disini seperti aku yang akan mencuri keperawananmu" Ucap Arni sambil menatap tidak suka ke arah Bara yang terlihat sedang menahan senyum, sedangkan Arni memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan setelah pintu kamar mandi tertutup Arni langsung bersandar dan mengusap wajahnya dengan kasar "Astaga apa yang terjadi padaku, aku seperti sebuah jalang yang haus belaian" Gerutu Arni pada dirinya yang serasa dirinyalah yang menggoda Bara untuk melakukan dengannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD