Hari demi hari, minggu demi minggu sudah Hiranya lewati dengan perlahan menutup luka yang sangat sulit untuk disembuhkan. Tetapi, karena banyaknya dukungan yang dia dapatkan, membuat dirinya menjadi lebih kuat dan bisa menutup setiap luka.
Kedua orang tua Hiranya dan Varsha pun sudah bertemu, tentu ini semua adalah permintaan Indira yang tidak bisa begitu saja diam ketika putranya melukai putri orang lain. Putri seseorang yang sudah mereka pinang tetapi malah dibuat terluka oleh sang putra.
Awalnya Ryan dan Anggita begitu marah, kecewa, sedih, sakit hati kala mendmegar Varsha dengan beraninya melukai, menyakiti hati putri mereka. Tetapi, perlahan mereka bisa memaafkan Abra dan Indira, namun tidak dengan Varsha. Keduanya tidak akan pernah memaafkan laki-laki itu.
Dulu dengan gagah beraninya dia meminang putri mereka, berjanji untuk membuatnya bahagia, menjadikan ratu satu-satunya dalam hidup Varsha. Tetapi, apa yang putrinya dapatkan saat ini, justru rasa sakit yang sangat amat dalam.
Hiranya masih tinggal bersama dengan Abra dan Indira, karena dia masih resmi menyandang status istri dari Varsha dan menantu satu-satunya rumah ini.
Sudah beberapa minggu ini Hiranya dan timnya menjadi sukrelawan pada acara Laksamana Grup. Acara ini pun membuat semakin lupa dengan masalahnya, serta menyembuhkan perasaan sakit yang dia rasakan. Bertemu dengan banyak orang membuat hatinya semakin tenang dan damai tentu bahagia karena bisa membantu sesama.
"Acaranya luar biasa sekali, setiap hari kita menemukan sesuatu yang baru dan menarik, ntah kenapa rasanya berbeda sekali dengan suasana di Rumah Sakit" ucap salah satu perawat yang menjadi salah satu tim relawan.
"Iya, aku pun merasa semangatku semakin meningkat setiap hari" sahut perawat lainnya.
"Permisi, Dokter Hiranya" ucap seseorang ditengah obrolan para tim medis yang sedang beristirahat.
Hiranya mendongak menatap seseorang yang memanggilnya.
"Iya, Pak Andi" jawabnya seraya bangkit dari duduknya.
Andi adalah asisten pribadi CEO Laksamana Grup.
"Maaf, menganggu waktu istirahatnya. Saya ingin menyampaikan pesan dari Pak Askara, beliau ingin bertemu dengan anda selepas istirahat, beliau pun menyampaikan maafnya karena ketika hari pertama diselenggarakannya acara ini beliau belum sempat menemui anda" ucapnya.
Hiranya tersenyum sopan dengan kepala yang dia anggukkan. "Tidak apa-apa, Pak, saya mengerti beliau pasti sibuk dan banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan" jawabnya.
"Baik, saya permisi dahulu" pamit Andi.
Hiranya dan rekan-rekannya menundukkan kepala mereka kala Andi berpamitan.
"Nya, Nya.... Aaaahh gue aja yang gantiin lo boleh gak sih!" Heboh Suri begitu dengan para perawat wanita lainnya.
"Aku pun mau gantiin Dokter Hiranya" sahut perawat lain.
Hiranya terdiam menatap bergantian rekan-rekannya ini.
"Jangan bilang Dokter Hiranya gak tau tentang Pak Askara?" Tebak seorang perawat.
Hiranya tersenyum bingung. "Saya tahu, dia CEO baru di Laksamana Grup kan. Anak tunggal dari pemilik Grup terbesar nomor 1 di negara kita, bahkan mereka pun memiliki nama di dunia internasional" jawab Hiranya yang dia ketahui mengenai Laksamana Grup.
"Hm, ya itu mah anak SMP juga pada tahu. Lebih spesifiknya, Nya!" Sahut Suri gemas.
Ya, Hiranya memang mengikuti berita terkini namun dia tidak terlalu mendalami hal lainnya. Dia lebih fokus pada pekerjaannya.
"Askara Purnacandra, CEO muda, tampan, pewaris satu-satunya perusahaan terbesar, dan yang paling penting dia itu masih lajang, masih single, orang sesempurna itu masih single padahal banyak wanita di luaran sana yang mendambakan untuk menjadi pasangannya" jelas Suri, lalu dia mengembuskan nafasnya. "tapi, gue denger-denger dia ada trauma dalam hal percintaan, ntah apa itu. Dan itu menjadi alasan dia masih melajang sampai saat ini. Nyonya besar Laksamana sudah sering mengenalkan dia dengan anak-anak dari para konglomerat, tapi tidak ada satu pun yang berhasil membuat hati pria itu meluluh" lanjutnya.
Hiranya dan para perawat lainnya mendengarkan cerita Suri dengan serius. Hingga Hiranya mengebrak meja dan membuat mereka semua terkejut.
"Astaga, Dok, kaget loh" ucap rekan Hiranya.
"Jam istirahat sudah selesai, ayok kembali kerja" katanya seraya beranjak dan berjalan meninggalkan rekan-rekannya.
Suri dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala mereka.
Mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Hiranya belum tahu harus menemui Askara dimana, jadi dia memutuskan untuk bekerja lebih dahulu. Hingga Askara sendiri yang menghampiri Hiranya.
"Selamat siang Dokter Hiranya" sapa Askara yang membuat Hiranya terkejut, kala melihat ada Andi di belakang tubuh kekar ini barulah dia sadar jika ini adalah CEO mudah yang dibicarakan rekannya tadi.
"Siang, Pak" jawabnya.
Askara menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Hiranya, mereka saling berjabat tangan dan mengenalkan diri.
"Saya Askara" ucap pria tampan di hadapannya.
Hiranya tersenyum dengan kepala yang dia anggukkan.
"Maaf, saya baru bisa menemui anda dan disaat anda sedang bekerja seperti ini" katanya.
Suri yang melihat itu seketika membuka kedua bola matanya, dia benar-benar terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh Askara. Begitu pula dengan para Dokter dan perawat wanita lainnya.
"Tidak masalah, Pak"
"Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari acara ini. Anda adalah dokter ternama di negeri ini, saya sangat senang karena anda mau menjadi bagian dari acara perusahaan kami" ucap Askara.
"Sama-sama, Pak. Justru saya yang sangat berterimakasih karena sudah melibatkan Rumah Sakit kami dalam agenda tahunan perusahaan anda. Kami sangat menikmati acara ini" jawab Hiranya.
Askara menganggukkan kepalanya. "Jika ada yang diperlukan bisa hubungi asisten saya langsung" kata Aksara seraya menunjuk Andi di sampingnya.
"Baik" jawabnya dengan senyuman manis yang dia berikan.
"Pak Askara mau melihat-lihat dahulu, keadaan disini?" Tanya Hiranya.
Tanpa berfikir panjang Askara pun mengiyakan ajakan Hiranya. "Boleh"
Dokter muda dan CEO muda ini berjalan mengelilingi camp sukarelawan, melihat keadaan dan kondisi disini secara langsung. Pergerakan mereka menjadi sorotan para Dokter dan perawat disini, juga tak lupa menjadi sorotan para karyawan Laksamana Grup yang ikut turun langsung dalam acara ini.
"Serasi banget mereka" celetuk Suri kala melihat sahabatnya berjalan bersampingan dengan pria tampan.
"Yang satu Dokter muda, pintar, dan tentu cantik. Satunya pria tampan, CEO, anak tunggal, kaya raya" sahut Dokter pria lain yang mendengar celetukan Suri.
"Dokter Suri, gak ada niatan buat jodohin mereka" bisik perawat yang mendampingi Suri.
Suri menatap perawat tersebut dengan senyuman lebar, "ide cemerlang, tapi bukan perkara mudah menjodohkan keduanya" sahutnya.
Terlintas dalam pikiran Suri untuk menjodohkan sahabatnya itu, tetapi ini bukanlah perkara mudah, karena status Hiranya yang belum jelas dan juga Askara bukanlah orang biasa.
Disisi lain, Andi memotret aktifitas Askara dan melaporkannya kepada Nyonya besar yang tak lain adalah Ibunda Askara, Sani Paramita.