Bab 11

1003 Words
Hiranya sudah berada di restoran bersama dengan Papa mertuanya. Seperti janji mereka siang tadi. "Loh, Mama mana, Pa?" Tanya Hiranya karena tidak melihat sang Mama mertua. "Mama tidak ikut. Nunggu saja di rumah katanya" alibi Abra. Padahal memang sengaja mereka merencanakan ini. Jika Indira ikut serta, maka sudah bisa dipastikan wanita paruh baya itu tidak akan terkontrol emosinya. Hatinya akan lebih bermain dibanding pikirannya Abra ingin Hiranya mengatakan semuanya yang telah terjadi antara dirinya dan Varsha. "Papa sudah pesankan menu untuk kita malam ini. Menu spesial yang pasti akan kamu sukai dan tentunya kamu habiskan" ucap Abra. Pelayan tiba dengan menu makanan yang menjadi favorit Hiranya. Sungguh kedua matanya berbinar kala melihat makanan itu, namun detik selanjutnya terbesit bayangan sang suami yang dulu saat mereka masih berpacaran sering sekali makan di restoran ini dan tentunya menu ini menjadi menu andalannya. Sorot matanya memudar, hatinya kembali terasa sakit. Banyak sekali kenangan dirinya dengan sang suami. "Akhir-akhir ini kamu sibuk di Rumah Sakit, belum lagi acara-acara diluar. Mama dan Papa khawatir kamu tidak memperhatikan pola makanmu. Badanmu terlihat lebih kurus sekarang. Bagaimana jika nanti Papa Ryan dan Mama Anggita melihat ini, bisa habis Papa diomelin mereka" tutur Abra seraya menyendokan nasi dan beberapa lauk pauk di atas piring Hiranya. "Sekarang kamu makanlah dulu, habiskan semuanya" lanjutnya. Hiranya tersadar akan apa yang Abra katakan. Tidak boleh, dia tidak boleh menunjukan kesedihan dihadapan sang mertua. Dia mencoba tersenyum dan mulai menyantap makanannya. "Terimakasih banyak, Pa" ucapnya. Abra menganggukan kepalanya seraya menatap menantunya ini penuh iba. "Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari kami. Sorot matamu mengatakan sakit yang kamu alami saat ini begitu dalam, Nak." Batinnya. Dengan lahap Hiranya menikmati makan malam kal ini. Rasanya memang selalu lezat, tidak pernah kurang apapun, tetapi ada yang berbeda dari semua ini. Oh sungguh rasanya seperti ada yang hilang. Selesai makan, Abra meminta pelayan untuk merapihkan meja dan menyajikan dessert yang sudah Abra pesan. Sengaja dia menunggu Hiranya selesai makan dan menghabiskan apa yang ingin menantunya itu habiskan. Karena selama ini yang dia lihat wanita itu tidak makan dengan benar seperti sebelumnya. "Papa dengar dari Kepala Rumah Sakit, kamu selalu sibuk, apakah pasienmu sekarang bertambah?" Tanya Abra mengawali pembicaraan. "Tidak, Pa. Hanya saja aku ingin lebih benyak menyibukkan diri di Rumah Sakit, dan sekalian memberikan praktek kepada Dokter baru" alibinya. "Dan seminar, apakah masih ada jadwal selanjutnya?" "Em, sepertinya untuk beberapa minggu ke depan aku tidak menghadiri seminar dulu, karna aku menjadi salah satu bagian dari relawan untuk acara yang diadakan oleh Laksamana Grup" "Bagus, jadilah Dokter yang bermanfaat bagi orang-orang" jawab Abra dan mulai mencari topik untuk bertanya mengenai hubungan menantunya ini dengan sang putra. "Oh iya, kapan kamu akan ke London lagi?" Tanya Abra yang membuat Hiranya diam mematung. Dia menelan salivanya gugup. Ntah mengapa rasanya seperti ada duri yang menancap ketika mendengar kata London. "Nak, kenapa kamu diam?" Sambung Abra kala melihat menantunya terdiam. "Em, sepertinya aku tidak akan ke London, Pa. Mungkin," Hiranya menekan kata mungkin, karena dia pun tidak tahu bagaimana bertemu dengan Varsha "aku akan menunggu Varsha kembali saja ke Indonesia" jawabnya. "Kapan dia pulang? Bukankah sebentar lagi libur semester?" Tanyanya kembali. "Em, aku belum tahu, Pa. Varsha belum bilang apa-apa" jawab Hiranya dengan perasaan Khawatir. "Apakah itu benar?" Kata Abra tiba-tiba dengan sorot mata yang dalam menatap bola mata Hiranya. Hiranya merasa pertahanannya tidak bisa lagi dia tahan. Tiba-tiba saja air mata keluar dari matanya dan membasahi pipinya. Sungguh rasanya dia melemah, tak ada kekuatan yang bisa dia genggam. "Pa...." lirihnya. Tentu saja karena respon yang Hiranya tunjukan begitu dalam, membuat Abra bangkit dari duduknya lalu memeluk tubuh rapuh putrinya ini. "Katakan, luapkan semua yang ingin kamu keluarkan, Nak. Jangan kamu tahan lagi, keluarkan semuanya" tutur Abra yang membuat tangis Hiranya semakin mengalir deras, rasa sakitnya semakin dalam dia rasa. "Pa, a-aku salah apa, Pa" ucapnya yang membuat Abra merasa sakit mendengarnya. Pria paruh baya itu pun sudah meneteskan air matanya seraya memeluk sang putri. "Aku tidak mengerti dengan semua ini, a-aku merasa aku menjadi wanita gagal, Pa!" Lirihnya yang semakin membuat Abra sedih dan emosi terhadap Varsha. Bagaimana bisa dia menyakiti hati wanita setulus Hiranya. "Tidak, tidak ada yang salah denganmu, kamu tidak salah, Nak" ucap Abra menenangkan Hiranya. Cukup lama Hiranya memeluk Abra dengan air mata yang terus mengalir, dagunya bergetar karena rasa sedih, rasa sakit yang dia rasakan amat sangat dalam. Mereka melerai pelukannya, kini Abra terduduk dikursi samping Hiranya. Hiranya menceritakan semuanya kepada Abra, tak ada yang dia tutup-tutupi. Dari cerita Hiranya dan orang suruhannya memanglah sama. Inilah yang ingin dirinya dengar, kejujuran dari putrinya. Dia hanya ingin Hiranya meluapkan segalanya, menceritakan segalanya, melampiaskan amarahnya yang dia tahan selama ini. "Maafkan, Papa dan Mama yang sudah gagal mendidik Varsha. Maafkan, Papa karena terlalu memanjakannya. Papa tidak habis pikir dengan kelakuan anak itu, bagaimana bisa dengan sadarnya dia menyakiti kamu" Hiranya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus menerus mengalir. "Menangislah, Nak. Keluarkan semua luka yang kamu pendam selama ini" ucap Abra seraya mengusap kepala Hiranya. Setelah kondisi Hiranya lebih tenang. Abra pun mengajaknya untuk pulang. Mobil Hiranya dibawa oleh supir Abra dan Hiranya berada di mobil papa mertuanya. Sesampainya di rumah tanpa pikir panjang Indira langsung menghampiri menantu kesayangannya itu dan berhambur memeluknya. "Sayang, kenapa, kenapa kamu tidak menceritakan masalah sebesar ini kepada Mama dan Papa, Nak, kenapa?" Ucap Indira seraya memeluk sang menantu lalu mengelus lembut punggungnya. "Jangam pernah lagi menyembunyikan hal sebesar ini pada kami, Nak. Kami adalah orangtuamu, jangan buat kami khawatir seperti ini" sambungnya dengan lirih. Sungguh, meskipun Hiranya adalah menantunya dan Varsha putra mereka, tetapi dimata mereka Hiranya adalah putri mereka bukanlah menantu. Dan Varsha, Abra serta Indira tidak akan pernah membela atau memaafkan anak itu. Dia sudah membuat hati putri kesayangan mereka terluka. "Kamu adalah putri kami, kamu adalah kebanggaan kami, Nak!" Lanjutnya yang membuat hati Hiranya tersentuh dia merasa kasih sayang yang mertuanya berikan seperti orang tua kandung. Sungguh Hiranya sangat menyayangi dan menghormati kedua mertuanya seperti pada kedua orang tuanya. Hiranya pun memejamkan kedua matanya seraya membalas erat pelukan Indira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD