Bab 10

1038 Words
Seminar berjalan dengan lancar. Seperti biasa, banyak sekali fans Hiranya disini. Materi yang dia sampaikan selalu sempurna dan mudah dipahami oleh para pendengarnya. Cara penyampaiannya pun selalu membuat semangat semakin bertambah. Kali ini sesi tanya jawab seputar kehidupan pribadi, banyak yang penasaran dengan kisah asmara Dokter muda nan cantik ini. "Dokter Hiranya, banyak sekali yang bertanya-tanya, mungkin mereka belum mengetahui mengenai kehidupan asmara anda. Apakah anda sudah memiliki seorang kekasih, suami, atau mungkin anda masih single?" Tanya MC. Hiranya terdiam, dia cukup bingung untuk menjawabnya. Senyuman terbit di wajah cantiknya. "Untuk saat ini saya akan fokus pada pekerjaan" jawabnya yang membuat para audiens mengartikan lain dari jawaban Hiranya. "Dokter muda, cantik, berbakat. Seharusnya dia jadi menantu Mama" ucap Sani Paramita. Dia menjadi salah satu audiens dalam seminar ini. "Mama ini, setiap ada wanita cantik, berbakat selalu berkata seperti itu" sahut Tirtha Laksamana, suami Sani. "Loh tidak apa-apa dong, Pa. Mama ingin yang terbaik untuk anak Mama. Jangan sampai dia salah memilih pasangan kembali" sahutnya. "Tidak ada yang salah, Ma. Semua sudah jadi takdir dari ya Maha Kuasa. Sudahlah, cukup doakan saja anaknya agar segera dipertemukan dengan jodohnya" ucap Tirtha. Karena masa lalu sang putra yang tidak beruntung dalam percintaan, membuat pria itu masih belum menemukan cintanya kembali. "Papa selalu berkata seperti itu" elaknya. "Hm, sudahlah Ma, kita kesini untuk mendengarkan seminar bukan berdebat" Perdebatan sengit ini pun berakhir, dan mereka kembali fokus pada acara. Acara seminar pun selesai tepat waktu. Hiranya bergegas menuju Rumah Sakit. Melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, karena memang tidak ada keadaan darurat. Dia melihat jam yang melingkar di lengannya, sudah waktunya makan siang dia pun membelokan mobilnya menuju sebuah tempat makan. Dia pun duduk disebuah kursi yang memang mejanya kosong. Pelayan pun menyajikan beberapa menu di atas meja dengan masih tertutup oleh plastik. Jika ingin memakannya maka Hiranya tinggal mengambil menu yang dia inginkan dan membuka plastiknya. Ponsel Hiranya berbunyi, menandakan ada notif masuk dan ternyata itu pesan dari sahabatnya Suri. "Masih ditempat seminar?" Ternyata dia menanyakan keberadaan dirinya. Hiranya pun membalas pesan Suri dengan memotret menu di atas meja tak lupa menyelipkan emoji muka dengan lidah yang menjulur. "Bungkusin ya, gue belum makan siang, malas ke kantin" Begitulah kira-kira pesan balasan dari Suri. Hiranya pun kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Wanita ini menikmati makanannya dengan begitu nikmat dan tenang. Setengah jam Hiranya menikmati makan siangnya, tak lupa dia pun membelikan pesanan sahabatnya. Dia sudah berada di dalam mobil, saat akan melajukan mobilnya sebuah panggilan masuk pada ponselnya. Dengan segera Hiranya mengambil ponselnya di dalam tas, dia takut itu panggilan darurat dari Rumah Sakit, tetapi ternyata nama papa mertuanyalah yang tertera dilayar ponsel. "Papa, tumben sekali" gumamnya seraya mengangkat panggilan. "Iya, Pa. Ada apa?" Tanyanya. "Kamu masih ditempat seminar atau sudah di Rumah Sakit?" Tanya Abra. "Aku baru selesai makan siang, sekarang mau jalan ke Rumah Sakit" "Nanti malam kita makan malam di restoran favorit kamu, bagaimana?" "Boleh, Pa. Nanti aku langsung ke restoran sepulang dari Rumah Sakit" "Iya, ya sudah kalau begitu kamu hati-hati dijalan ya, Nak!" Pesan sang Papa mertua. "Siap komandan" jawabnya dengan candaan. Hiranya kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Cukup memakan waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit, karena jalanan yang super sangat padat jika di jam istirahat seperti ini. Setibanya di Rumah Sakit dia segera turun dan berjalan menuju meja perawat lalu memberikan bungkusan yang berisi makanan untuk para perawat. "Untuk camilan" kata Hiranya seraya memberikan bungkusannya kepada salah satu perawat. Saat diperjalanan tadi, dia mampir ke sebuah toko kue dan membeli beberapa untuk para rekan kerjanya. "Wah, terimakasih banyak Dokter Hiranya" ucapnya. "Sama-sama" jawabnya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Suri, karena dia akan memberikan pesanan wanita itu. Ketukan pada pintu tak lupa dia lakukan, setelah mendengar suara Suri mempersilakan masuk barulah dia masuk ke ruangan sahabatnya ini. "Pesanan lo!" Ucapnya seraya menyimpan bungkusan plastik di atas meja. "Wah, makan siang ternikmat sih ini" kata Suri, lalu matanya beralih pada sebuah bungkusan lainnya. "Apa ni?" Gumamnya seraya membuka bungkusan, "waw, dissertnya. Baik banget sih sahabat gue ini!" Pujinya kala melibat kue dibungkusan ini. "Tagihannya menyusul, bisa cash atau transfer" sahut Hiranya. "Tenang!" Jawabnya. "gimana seminar tadi?" Tanya Suri seraya membuka bungkusan makan siangnya ini. "Seperti biasa, ramai dan penuh dengan orang-orang yang memiliki semangat tinggi untuk hidup sehat" "Bagus. Aman kalau begitu" Hiranya membuka satu cake dan memakannya, jika diam seperti ini pikirannya selalu berkelana kemana-mana. Suri yang menyadari keterdiaman sahabatnya ini pun segera menyadarakannya dengam gebrakan di atas meja. "Ngelamun lo!" Ucapnya dan membuat Hiranya tersentak, "gak usah lo pikirin, Nya" "Memang seharusnya gue banyak kerja, biar otak gue ini sehat" cicitnya. Suri menarik nafasnya dalam-dalam. "Terlalu banyak bekerja pun tidak baik untuk tubuh dan otak lo" "Tapi banyak diem malah semakin gak baik buat gue, Ri" sahutnya. "Kapan lo bakal ceritain semuanya sama om dan tante?" Hiranya terdiam mendengar pertanyaan Suri. Ntahlah, dia sendiri masih bingung kapan akan bercerita pada mertuanya. "Jangan terlalu lama lo nunda buat cerita, Nya. Om sama tante harus tahu" lanjutnya. "Secepatnya gue bakal cerita sama Mama Indira dan Papa Abra" "Mau bagaimana pun, mereka harus tahu dan berhak tahu gimana perbuatan putranya sama lo" "Gue bingung harus mulai cerita darimana, Ri. Karena semuanya begitu cepat dan tiba-tiba. Otak gue gak bisa berpikir dengan jernih jika mengingat hari itu" "Semua akan mengalir begitu saja, apapun yang lo katakan nanti itu akan mengalir sesuai dengan alur yang ada. Tanpa harus lo pikirin bagaimana untuk memulainya. Ya, gue memang tidak merasakan apa yang lo rasa pada saat itu, tapi satu hal yang harus lo tahu. Jika lo sakit, gue pun merasakan sakit yang lo rasain" ucapnya. "Emm, romatis sekali Suri Palupi" sahutnya dengan candaan. Hiranya tahu bagaimana sahabatnya ini jika dia terluka, begitu pun sebaliknya. Jika dia timpali dengan keseriusan maka akan ada tangisan di ruangan ini. "Lo mah, gue lagi serius ya Hiranya Falguni!" "Haha, iya iya gue tahu. Geli banget gue dengernya!" "Bodo amat, Hiranya. Udahlah, gue mau makan lagi, lo menganggu kenikmatan makan siang gue tahu gak. Menunya udah enak dan mendukung. Udah, lo makan aja tuh cake dan diam ya, diam bukan melamun lo liatin gue makan deh jangan ngelamun" "Dih, ogah liatin lo makan, mending liatin pacar halu gue!" Sahutnya seraya meraih ponselnya lalu membuka sosial medianya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD