"Ya, bagaimana?" Tanya Abra setelah panggilannya terhubung.
Betapa terkejutnya pria paruh baya ini kala mendengar informasi yang orangnya sampaikan. Sungguh dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya itu. Jika saja ada di hadapanya, maka dengan penuh kesadaran dia akan langsung memberi pelajaran pada putra semata wayangnya itu.
Dengan perasaan kesal, emosi, kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu dalam hatinya. Dia pun mematikan sambungan teleponnya setelah mendengar semua informasi yang sudah disampaikan.
Sementara Indira yang merasakan ada keganjalan dalam hatinya mengenai hubungan anak-anaknya, rumah tangga anak-anaknya. Dia ingin menceritakan kegundahan dalam hatinya kepada sang suami.
"Pa, Mama merasa tidak tenang. Apa yang terjadi antara Varsha dan Hiranya. Akhir-akhir ini Hiranya selalu menyibukan diri di Rumah Sakit, seperti tengah menghindari sesuatu" ucap Indira mengeluarkan keluh kesahnya kepada sang suami.
Untuk sesaat Abra terdiam, dia sedang menata kata-kata untuk menjelaskan semuanya kepada sang istri.
"Ma, putra kita sudah mengkhianati Hiranya. Kepulangan Hiranya dari London kemarin bukan karena kesibukan Varsha, tetapi karena perkataan anak itu kepada Hiranya yang sungguh amat menyakitkan!" Ucap Abra.
Indira mengkerutkan keningnya. "Pa, jelaskan apa maksudnya? Bu-bukankah Varsha begitu mencintai Hiranya?" Ucapnya yang merasa tidak percaya.
Abra menggelengkan kepalanya, dia merasa kepalanya sakit sekali, akibat ulah dari sang putra. "Mungkin kepala dia terbentur hingga berani melukai hati Hiranya!" Kesalnya, lalu Abra pun menjelaskan semuanya kepada sang istri seperti info yang dia dapatkan dari orang suruhannya.
Indira merasa kaget sekali mendengarnya. Bagaimana bisa Varsha berkhianat kepada Hiranya. Sungguh jika jarak untuk bertemu dengan putranya itu dekat, maka dia sudah menghampirinya.
"Bagaimana bisa putriku menyembunyikan hal sebesar ini seorang diri. Betapa hancurnya hati dia melihat orang yang dia cintai berkhianat" ucapnya sendu.
"Biar nanti Papa bicara dengan Hiranya" kata Abra.
Kedua orang tua ini pun termenung, memikirkan perasaan menantunya yang sudah mereka anggap sebagai putrinya ini.
"Lalu, bagaimana kita menjelaskan kepada Ryan dan Anggita, Pa. Mereka akan merasa kecewa sekali pada kita, terlebih lagi Hiranya adalah putri semata wayang yang begitu mereka cintai dan sayangi" ucap Indira tentang kekhawatirannya kepada besan.
"Biar nanti kita bicarakan perlahan. Semua ini karena ulah anak tidak tahu diri itu. Bukannya belajar dengan benar disana, dia malah terpincut dengan wanita yang tidak jelas. Buat malu saja!" Kesal Abra.
Malam hari di ruang keluarga, dua orang tua ini menunggu kepulangan Hiranya dengan perasaan cemas. Indira merasa ingin memeluk erat tubuh menantunya itu.
"Ma, ingat jangan menunjukan kita sudah mengetahui semuanya. Biar nanti Papa yang akan bertanya" ucap Abra mewanti-wanti.
Indira tidak menjawab, untuk saat ini dia hanya ingin memeluk tubuh yang hatinya sedang rapuh itu. Menyalurkan kasih sayang seorang ibu padanya. Mengelus punggugnya dengan penuh kasih sayang.
Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan wajah lelahnya.
"Assalamualaikum" ucapnya kala memasuki rumah.
"Waalaikumsalam" ucap Abra dan Indira.
"Loh, tumben Mama dan Papa di ruang keluarga, belum makan malam?" Tanya Hiranya seraya menyalimi tangan Abra lalu Indira.
Indira langsung memeluk tubuh Hiranya, dia pun merasa bingung dengan perlakuan mertuanya ini. "Mama kenapa?" Tanyanya.
"Mama hanya ingin memeluk kamu. Kamu pasti lelahkan setelah seharian bekerja" alibinya.
"Aku sudah biasa, Ma. Oia, kenapa Mama dan Papa masih disini, ini sudah waktunya jam makan malam loh" ucapnya seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Kami sedang menunggu kamu, kita makan malam bersama" jawab Abra.
Hiranya merasa tersentuh mendengarnya, dia pun menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Mari, kita makan malam sama-sama" jawan Hiranya lalu menggandeng lengan Indira. Karena dia berada tepat disampingnya.
Ketiganya pun berjalan menuju meja makan. Hiranya merasa hatinya menghangat karena perlakuan dari mertuanya ini. Inilah salah satu alasan dirinya tidak bisa pergi begitu saja dari rumah ini. Kebaikan dan ketulusan mertuanya membuat dia memiliki kekuatan dan ketenangan tersendiri.
Terlepas dari apa yang putra mereka lakukan padanya. Tetapi ketulusan dan kasih sayang yang diberikan Abra juga Indira padanya tidak bisa dia buang begitu saja.
Usai makan malam Hiranya pamit untuk naik ke atas dan beristirahat.
"Aku izin ke atas ya, Ma, Pa" pamitnya.
"Iya, silakan, Nak. Istirahatlah, kamu sudah melewati begitu banyak hari yang melelahkan. Istirahatlah" jawab Indira penub kelembutan.
"Mama dan Papa jangan tidur malam-malam juga" pesannya.
Indira tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. Hiranya pun melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga. Pergerakannya tak luput dari pandangan Abra dan Indira. Terlebih lagi Indira yang begitu melihat punggung sang menantu, membuat genangan pada kedua matanya terus bertambah hingga tak terasa air matanya pun mengalir membasahi kedua pipinya.
"Ma, sudah nanti Hiranya curiga kepada kita" ucap Abra seraya mengelus lembut punggung sang istri.
"Semua ini ulah anak itu. Dia tidak bisa menjaga kesucian rumah tangganya. Bemar-benar membuat Mama kecewa sekali!" Geramnya.
"Sudah malam, Mama istirahat sana" titah Abra.
"Lalu Papa sendiri tidak istirahat?"
"Nanti Papa menyusul, ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan"
Indira pun patuh dan naik ke atas lebih dulu. Sementara Abra dia menghubungi kembali orang suruhannya yang berada di London. Dia ingin tahu semua informasi mengenai wanita yang sudah membuat rumah tangga anaknya menjadi berantakan.
**
Pagi hari yang cerah, burung kerkicau di liar sana, embusan angin yang sejuk beradu dengan kehangatan mentari.
"Pagi, Ma, Pa!" Sapa Hiranya begitu tiba di ruang makan.
"Pagi, Nak. Hari ini kamu jadi mengisi seminar?" Tanya Indira.
"Jadi, Ma. Acaranya pagi, jadi aku ke Rumah Sakit siang setelah acara selesai"
"Kamu jangan kecapean. Mama perhatikan akhir-akhir ini kamu sibuk dengan pekerjaan di Rumah Sakit dan juga seminar" pesan Indira.
Hiranya tersenyum mendengarnya. "Aku senang dengan kesibukan ini, Ma. Mama tenang saja" jawabnya.
"Papa sudah rapih pagi-pagi, mau ke kantor?" Tanya Hiranya kala melihat Abra yang sudah rapih dipagi hari tidak seperti biasanya.
"Ada urusan sedikit di kantor. Jadi, hari ini Papa akan sibuk seperti kamu"
Hiranya pun menggelengkan kepalanya. "Baiklah, jangan lupa vitaminnya diminum dan jangan sampai lupa makan siang ya, Pa!" Pesan Hiranya.
"Baik tuan putri!" Jawab Abra seraya tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit ya Ma, Pa. Takut terjebak macet" pamitnya seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kamu hati-hati ya, Nak!" Pesan Indira.
Hiranya tersenyum laku menyalimi tangan Indira dan Abra bergantian.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab keduanya bersamaan.
"Wanita sesempurna ini masih saja dikhianati" gumam Indira kala melihat kepergian Hiranya.