Bab 8

1070 Words
London.... Varsha dan Lila menghabiskan hari-hari mereka dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Sungguh keduanya terlihat seperti pasangan remaja yang baru jatuh cinta. Seperti saat ini, mereka sedang menghabiskan waktu di taman kampus bersama dengan teman-teman asal Indonesia yang juga sedang melanjutkan study di universitas di London. "Kalian berdua bucin banget sih kaya anak baru gede yang lagi jatuh cinta" ejek salah satu teman Varsha. Lila selalu bergelayut manja di lengan kekasihnya itu. "Varsha gak akan ada yang nyulik, gelayutan mulu lo" timpal teman Lila. "Awas ada orang ketiga lo, hati-hati!" Sambung teman lainnya. "Lo ya kalau ngomong!" Sahut Lila. Tak lama ponsel Lila berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. "Bentar ya aku angkat telpon dulu" izin Lila pada Varsha. Dia pun berjalan sedikit menjauh dari Varsha dan teman-temannya berada. "Halo, Pa, ada apa?" Tanya Lila. "Sudah sampai mana?" Tanya balik sang papa. "Sepertinya mereka akan bercerai. Kita lihat saja nanti!" Jawabnya, "papa tunggu saja, selanjutnya biar jadi urusan aku" sambungnya. Panggilan dia putuskan secara sepihak. Menarik nafasnya dalam lalu mengembuskannya perlahan, melihat ke depan sana seolah tengah berfikir. Dia pun kembali menghampiri Varsha dan teman-temannya. "Siapa?" Tanya Varsha kala Lila sudah terduduk kembali disampingnya. Lila tersenyum sebelum menjawab. "Papa, biasalah" ucapnya. Mereka pun kembali berbincang-bincang dengan begitu bahagianya, seolah tidak ada beban di atas pundak. "Malem jadi kan?" Tanya teman Varsha berbisik. "Jadi, udah lo siapin kan?" Tanya Varsha kembali. "Beres!" Sahutnya. Malam hari di sebuah club malam mereka tengah menikmati party yang sudah Varsha siapkan. Menari di atas dance floor dengan begitu lenturnya, mereka benar-benar menikmati malam ini dengan begitu bebas. Hingga acara inti dari party ini pun dimulai. Mereka kini berada di ruangan VIP yang memang sudah Varsha siapkan. "Will you marry me?" Tanya Varsha seraya berlutut di hadapan Lila dengan sebuah kotak cincin di tangannya. Lila sedikit terkejut mendengarnya. "What!!" Shocknya. Teman-temannya tidak hanya diam, mereka bertepuk tangan seraya berkata terima, terima, terima. "Yes, I will!" Jawab Lila seraya menyodorkan jemari tangannya. Varsha tersenyum lebar, lalu memasangkan cincin di jari manis sang kekasih. "Uuww, kita tunggu undangannya nanti" ucap salah satu teman mereka. Keduanya tersenyum dengan kepala yang mereka anggukan. ** Sementara itu Hiranya tengah berada di ruang operasi, dingin ruangan operasi dan bau antiseptik menjadi obat kegundahan hatinya. Selain itu menjadi pembicaraan di acara seminar-seminar pun sudah sering dia lakukan. Ntah mengapa semakin dirinya sibuk dengan pekerjaannya dia semakin melupakan masalahnya dengan Varsha. Pikirannya hanya tertuju pada kesembuhan pasiennya saja. Padahal hatinya pun sedang terluka. Selesai dengan ruangan operasi dia pun keluar dan melepaskan semua baju serta perlengkapan operasinya. Dia berjalan menuju meja perawat dan mencatat data di form. "Bu Dokter!" Panggil Suri. "Hmm!" Jawabnya dengan deheman seraya tangannya masih menari di atas kertas. "Sibuk banget" "Lo nganggur?" Tunjuk Hiranya pada sahabatnya ini. "Enak aja. Ya, gue mah dokter pada umumnya aja gak sibuk-sibuk banget, tapi ya sibuk, ya gitulah" sahutnya. "Makasih, Sus!" Ucao Hiranya pada perawat yang bertugas lalu melangkahkan kakinya kembali diikuti oleh Suri tentunya. "Temenin makan yuk, kaya anak hilang gue makan sendiri" ajak Suri seraya menarik lengan Hiranya. Bukan ajakan lebih kepada paksaan, karena tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, dia sudah menariknya lebih dulu. Mereka pun tiba di kantin rumah sakit. Suri memesankan makanan yang sudah pasti menjadi favorit bagi sahabatnya. "Lo udah seharian di ruangan operasi, gak jenuh apa. Dokter baru jadi pada nganggur, karena kerjaannya udah lo ambil semua" kata Suri. Hiranya hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya ini. "Gue ngerasa ruang operasi jadi obat penenang buat gue" ucapnya begitu saja. Makanan dan minuman mereka pun tiba, keduanya mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang sudah mengantarkan pesanan keduanya. "Aroma antiseptik, betadine bikin gue jadi tenang. Mereka udah kaya aromaterapi buat gue, Ri" ucapnya. Suri merasa sahabatnya ini menyedihkan sekali, dia tidak bisa diam saja seperti ini, dirinya harus melakukan sesuatu. "Terserah lo deh. Asal pikiran dan hati lo tenang, jangan macam-macam aja sama pisau bedah!" Sahut Suri. "Acara seminar besok, lo jadi?" Lanjutnya bertanya. "Jadi, besok bisa jadi waktu buat para Dokter baru kerja" sahutnya. Senyuman kembali terbit di wajah Hiranya. Ditengah kegundahan hatinya dia masih memiliki seorang sahabat seperti Suri, yang selalu memperhatikannya. Disaat dirinya belum bisa menceritakan semuanya kepada mertua dan orang tuanya, dia memiliki Suri, tempat dirinya menumpahkan segala keluh kesah dan kegundahan di hatinya. Notif pada ponsel keduanya menyala, dua wanita itu pun dengan segera membuka ponselnya. Ternyata notif dari kepala rumah sakit yang menyatakan sore ini setelah usai dengan pekerjaan, para dokter yang mendapatkan notif ditunggu di ruang meeting, ada hal yang akan dirinya sampaikan. "Tumben rapat sore dan mendadak" ucap Hiranya. Suri mengangkat kedua bahunya bersamanya. Jika Hiranya saja tidak tahu, apalagi dirinya. Selesai makan kedua dokter ini kembali fokus pada pekerjaan mereka. Mereka akan bersikap profesional, jika sedang bekerja maka pikirannya hanya akan tertuju pada kesembuhan pasien. Sore hari seperti yang sudah mereka dapatkan infonya, jika akan ada rapat para dokter. Baik Suri dan Hiranya, keduanya sudah berada di ruang rapat tengah menunggu kedatangan kepala rumah sakit. Meskipun Hiranya dikenal sebagai menantu dari pemilik Rumah Sakit ini, tetapi dia tidak menyalahgunakan posisinya dengan datang terlambat atau semena-mena. Wanita itu tetap profesional dan selalu menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Meskipun rekan kerja dan kepala Rumah Sakit sekali pun merasa sungkan padanya, tetapi dia tetap bersikap sebagaimana bawahan kepada atasannya. "Selamat sore semuanya!" Ucap kepala Rumah Sakit membuka rapat kali ini. "Sore" jawab para dokter bersamaan. "Maaf, menganggu waktu para Bapak dan Ibu sekalian. Saya ingin menyampaikan bahwasannya Rumah Sakit kita diminta untuk mengikuti acara amal yang diadakan oleh Laksamana Grup. Ini merupakan suatu kehormatan bagi Rumah Sakit kita, karena menjadi bagian dari salah satu acara terbesar yang sering mereka lakukan. Dan untuk itu, saya sudah memutuskan untuk mengirim beberapa Dokter dan perawat untuk ikut serta langsung dalam acara ini" ucap kepala Rumah Sakit. Beliau pun menyebutkan beberapa nama dokter yang akan terlibat langsung dalam acara ini. "Itulah nama-nama Dokter dan Perawat yang akan ikut langsung dalama acara nanti. Untuk Dokter Hiranya, anda menjadi ketua tim relawan dalam acara ini. Saya mohon kerjasamanya agar acara ini berjalan dengan lancar dan sebagaimana mestinya" sambungnya. Hiranya pun tidak bisa menolaknya, justru inilah yang dia inginkan untuk saat ini. Selain menghabiskan waktu di ruang operasi dan menjadi pembicara dalam acara-acara seminar. Acara ini pun membantunya menyibukam diri dan melupakan masalah yang sedang dia alami. "Baik, Pak!" Jawabnya tegas. "Baiklah, kalau begitu saya akhiri rapat sore ini, dan saya ucapkan terimakasih banyak kepada rekan-rekan sekalian" ucapnya, lalu berjalan meninggalkan ruang rapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD