"Nya, Hiranyaaa!" Panggil Suri dari kejauhan seraya berlari.
Dia baru mengetahui jika sahabatnya ini sudah kembali dan tengah sibuk dengan pasiennya. Itu pun dia dapatkan info dari pasien Hiranya yang sedang berbincang tadi.
"Lo udah balik?" Tanyanya bingung dengan dahi yang berkerut.
"Kalau gue belum balik, ya gue gak akan ada disini dong" jawab Hiranya dengan santainya seraya mengisi form.
Bukan itu yang Suri maksud. "Nggak, bukan itu maksud gue"
Hiranya mengembuskan nafasnya. "Gue masih sibuk, nanti ngobrol lagi pas jam istirahat" jawabnya lalu pergi berlalu meninggalkan Suri yang masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi ini.
Suri tidak bisa menunggu lagi. Ketika dia sudah tidak ada pasien, dia pun bergegas mencari sahabatnya ini, bertanya kepada perawat yang bertugas bersama Hiranya tadi, namun tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan dokter muda satu itu.
Jika pikiran Suri benar, maka dia akan berada di tempat itu. Tempat dimana sahabatnya itu akan menenangkan diri karena suatu hal. Dengan langkah cepat Suru menaiki setiap anak tangga yang akan mengantarkannya menuju atap Rumah Sakit.
Ya, jika Hiranya sedang merasa bimbang, dilema maka dia akan menenangkan dirinya di atas atap, embusan angin yang menerpa membuat pikirannya sedikit tenang.
Begitu Suri membuka pintu atap dia pun langsung bisa menemukan sahabatnya ini. Perasaannya sudah tidak tenang, karena Hiranya seperti ini setelah dia bertemu dengan sang suami. Apa yang terjadi diantara mereka.
"Cuacanya memang indah sih buat ngelamun" ucap Suri begitu dia berdiri disamping Hiranya.
Hiranya hanya melirik sahabatnya ini, meneguk kopi yang dia genggam.
"Kalau gue cerai sama Varsha. Gimana menurut lo?" Tanya Hiranya dengan tenangnya tapi tidak bagi Suri yang mendengarnya.
Reflek Suri menolehkan kepalanya menatap sahabatnya dengan kedua mata yang membulat sempurna. "Kenapa?"
"Karena kita sudah tidak cocok lagi" sahutnya yang semakin membuat Suri tidak habis pikir.
"Hah! Gimana maksud lo?" Bingung Suri. Dia tidak tahu ada masalah apa saat mereka bertemu di London waktu itu, hingga Hiranya memutuskan untuk bercerai.
Suri menyipitkan kedua matanya seolah berpikir. "Ada makhluk goib yang mepet si Varsha?" Tebaknya.
Hiranya menggelengkan kepalanya. Dia pun mulai menceritakan semuanya kepada Suri. Tidak ada yang dia tutupi, tidak pula ditambah atau dikurangi. Hiranya menceritakan kejadian di London waktu itu.
"Apakah selama ini hubungan gue sama Varsha hanyalah seperti kakak beradik, bukan selayaknya hubungan antara wanita dan pria pada umumnya. Hingga dia mengatakan hal itu dan itu pun setelah kita menikah" tutur Hiranya.
Suri memejamkan kedua matanya, menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Mengatur emasinya yang akan memuncah. Jika saja jarak Indonesia-London bisa ditempu dengan mobil, maka dia sudah menancapkan gas menuju London.
"Nya, gue dukung lo buat cerai. Gue antar lo ke pengadilan agama sekarang juga!" Jawabnya. Namun kedua matanya tidak bisa membendung air mata yang sudah tergenang di pelupuk, "peluk!" Sambungnya lalu memeluk tubuh sahabatnya yang terlihat kuat dari luar, namun rapuh di dalam.
Hiranya kembali menumpahkan tangisnya dalam pelukan Suri. "Sehancur ini lo pendam sendiri, lo lewatin sendiri, kenapa si lo gak kabarin gue!"
Dengan derasnya air mata Hiranya kembali mengalir membasihi pipinya.
"Om dan Tante?" Tanya Suri. Hiranya menggelengkan kepalanya.
Suri mengelus punggung Hiranya yang masih bergetar. Dia merasa bersalah jika mengingat Hiranya merasakan sakit, sedih, kecewa dan marah seorang diri itu pun jauh di Negara orang.
**
Sementara Abra dan Indira sedang berjalan menuju rumah Varsha dan Hiranya. Indira meminta Abra untuk menemaninya mengecek rumah anak mantu mereka.
Pintu terbuka terlihat koper di ruang tamu, nampaknya Hiranya lupa merapihkannya semalam.
"Loh, ini bukan kopernya Hiranya, Pa" heran Indira.
Abra pun menghampiri sang istri dan melihat koper milik menantunya yang dibawa ke London kemarin.
Tak lama ponsel Abra berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. Dia pun segera mengangkat panggilan dari kepala Rumah Sakit.
Indira yang merasa penasaran melihat ke ruang makan, lalu ke dapur, apakah ada tanda kehidupan disini. Sepertinya memang ada seseorang disini. Melihat adanya bekas piring dan gelas yang baru dicuci, karena masih menungkup di atas rak piring dekat wastaffel.
Abra kembali menghampiri Indira. "Pa" baru Indira akan mengatakan hal yang menganggu pikirannya, pria itu sudah mengangguk seolah mengerti apa yang akan dikatakan oleh istrinya.
"Sepertinya semalam dia langsung pulang kesini. Papa baru mendapat laporan dari kepala Rumah Sakit, bahwa Hiranya meminta jadwal dia untuk aktif perhari ini"
Indira merasakan perasaannya mulai tidak karuan. "Kenapa dengan mereka"
Abra menggelengkan kepalanya. "Sudah, nanti kita tanyakan setelah dia pulang dari Rumah Sakit"
Malam hari, sebelum makan malam Hiranya sudah tiba di rumah. Kali ini dia pulang ke kediaman mertuanya.
"Assalamualaikum" ucapnya begitu pintu terbuka.
"Waalaikumsalam" jawab Indira, "kamu sudah kembali dari London?" Tanya Indira. Dia dan suaminya sepakat untuk berpura-pura tidak mengetahui kepulangan Hiranya semalam.
Hiranya tersenyum lebar. "Aku terbang kembali semalam dan langsung pulang ke rumah. Karena terlaru larut jadi aku memutuskan pulang ke rumah, takut menganggu Papa sama Mama" alibinya.
"Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu. Mama tunggu di ruang makan" kata Indira.
Hiranya pun patuh, dia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Tepatnya kamar dia dan Varsha. Sebenarnya berat memasuki kamar ini, karena ini adalah kamar Varsha sejak awal, dia merasa terlalu banyak bayangan pria itu di ruangan ini.
Selesai membersihkan tubuhnya, dia bergegas menuju ruang makan, disana Abra dan Indira sudah menunggu.
Mertuanya tersenyum melihat kedatangan Hiranya. Mereka makan malam dengan hening, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Selesai makan malam keluarga kecil ini menuju ruang keluarga. Tentu saja ini adalah ajakan Abra.
Mereka terduduk di atas sofa, dengan televisi besar yang menyala di depan.
"Jam berapa kamu tiba semalam?" Tanya Abra.
"Mendarat jam 10 malam, Pa" jawabnya.
"Kenapa kamu cepat sekali kembali dari London. Bukankah kamu sudah mengajukan cuti untuk 2 minggu ke depan?" Kali ini Indira yang bertanya.
"Varsha sedang banyak tugas ternyata, Ma. Kemarin pun dia menghabiskan waktu di depan laptop dan buku-bukunya. Aku tidak mau menganggu kesibukan Varsha, makannya aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia" alibinya begitu lancar. Bagaimana tidak lancar dia memang sudah menyiapkan kalimat ini sebagai jawaban.
"Besok aku ada operasi pagi. Aku naik ke atas duluan ya, Ma, Pa!" Pamitnya. Sebenarnya dia menghindari dari adanya pertanyaan-pertanyaan lain dari kedua mertuanya.
Setelah kepergian Hiranya, Abra pun mencoba menghubungi orang kepercayaannya.
"Terbang ke London sekarang dan cari tahu apa yang terjadi antara Varsha dan Hiranya waktu itu!" Titahnya. Pria itu pun mengakhiri panggilannya.