Setelah taksi Lila pergi dengan segera Varsha berlari menuju unitnya. Pintu lift terbuka, dia pun bergegas masuk. Sungguh terasa lama sekali pergerakan lift kali ini, perasaannya sudah tidak tenang. Begitu tiba di lantai tujuannya dengan segera dia berlari begitu pintu lift terbuka.
Bergegas membuka pintu unit apartemennya, menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari keberadaan Hiranya.
"Hiranya!" Panggilnya seraya menyusuri setiap ruangan di apartemen.
"Nya!" Panggilnya lagi, namun tetap saja tak ada jawaban dari wanita itu.
Dia mencoba melihat ke kamar kembali memastikan koper yang Hiranya bawa, dan benar saja tidak ada koper istrinya. Dia pun bergegas keluar kembali menuju lobi, menanyakan pada resepsionist apakah melihat orang yang sedang dia cari. Dan benar saja Hiranya pergi.
Varsha pun bergegas mengambil mobil yang sudah dia parkir, mencari keberadaan Hiranya.
Sementara Hiranya sudah berada di taksi. Dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia malam ini juga, dia tidak mau berada disini lebih lama lagi, sungguh sangat menyakitkan rasanya.
Terduduk masih dengan sorot mata yang kosong, sembab, terlihat seperti tak ada tujuan, air matanya terus menerus mengalir membasahi pipinya. Tidak bisa dia bendung, air itu terus saja keluar dari ujung matanya. Sakit, kecewa, marah, lelah menjadi satu.
Perkataan Varsha yang memperkenalkannya sebagai saudara terus menerus terngiang dalam telinganya. Suoir taksi yang menydari jika penumpangnya tidak baik-baik saja pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasa iba melihat penumpangnya yang terlihat sedih sekali.
Dagunya terus saja bergetar dengan air mata yang terus keluar. "Aku harus apa!" Gumamnya.
Tak lama taksi pun tiba di bandara, bergegas keluar dari mobil tak lupa dia membayar tarif terlebih dahulu pada supir taksi. Supir taksi pun membantu Hiranya mengeluarkan koper dalam bagasi.
Dia berjalan cepat masuk ke dalam bandara dengan sebelumnya dia menghampus air mata yang membasahi pipinya. Saat tengah berjalan lengannya pun ditarik oleh seseorang dan itu membuatnya terkejut.
"Varsha" ucapnya kala melihat ternyata suaminya mengejar dirinya, apakah dia akan menjelaskan semuanya.
"Maaf!" Satu kata yang keluar dari bibir Varsha yang tentu saja membuat Hiranya tidak mengerti.
"Kita akhiri semuanya" lanjutnya dan perkataan itu seperti sambaran petir untuk Hiranya. Kedua matanya membulat sempurna.
"Mungkin memang tidak seharusnya kita menikah dari awal karena ternyata perasaanku padamu hanyalah perasaan seorang kakak untuk adiknya, bukan perasaan seorang laki-laki terhadap wanita" sambungnya yang mendapatkan tamparan murni dari Hiranya.
Varsha menerimanya, dia tidak membela diri. "Suatu saat nanti kamu pun akan menyadari jika perasaan kita ini salah. Perasaan cintaku ternyata untuk Lila, bukan untukmu, Hiranya. Dan kamu pun akan menemukan cinta sejatimu nanti"
Jahat sekali perkataan Varsha, sungguh dia tidak sama sekali memikirkan Hiranya, yang ada dalam pikirannya kali ini hanyalah Lila. Ntah bagaimana mereka bisa bertemu.
Tanpa menjawab perkataan Varsha, Hiranya pun membalikan badannya, pergi meninggalkan pria itu tanpa kata.
Sakit, sakit yang amat dalam. Kecewa, marah, kesal menjadi satu, rasanya sesak sekali. Air matanya terus mengalir, dadanya terasa sulit untuk bernafas. Badannya terasa lemas, hingga kedua kakinya tak lagi sanggup untuk menopang tubuhnya dan itu membuatnya terjatuh ke atas lantai. Menangis, meluapkan kekesalan dalam hatinya. Menarik dan mengembuskan napasnya dengan kasar dan tidak teratur.
Petugas bandara yang melihat kondisi Hiranya pun mencoba membantunya untuk berdiri dan mengajaknya duduk di atas kursi yang tersedia. Petugas pun menanyakan apakah ada yang bisa dirinya bantu, karena melihat kondisi Hiranya yang begitu berantakan.
Akhirnya Hiranya menanyakan apakah ada penerbangan ke Indonesia malam ini, dia pun dibantu oleh petugas bandara untuk mendapatkan tiket dan kebetulan ada keberangkatan pukul 22.15 waktu setempat. Setelah selesai urusan pertiketan Hiranya pun bisa masuk ke dalam pesawat dan terbang ke Indonesia malam ini juga.
Mungkin London akan menjadi negara yang membuatnya trauma, dan sepertinya dia akan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa ke London lagi.
Tidak ada lagi kata yang bisa dia ungkapkan atas kejadian hari ini, jetlag yang dia rasakan karna dirinya baru saja tiba pun tidak dia rasakan, dan sekarang dirinya sudah harus kembali terbang dengan perjalanan yang cukup panjang kurang lebih 18 jam 35 menit, karena harus transit terlebih dahulu.
Selama dalam perjalanan Hiranya hanya memejamkan matanya, nampaknya dia tertidur cukup lelap karena fisik dan pikirannya yang lelah setelah kajadian tadi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini dia tiba di Bandara Soekarno Hatta tepat pukul 22.20 esok harinya.
Mencati taksi untuk mengantarkannya menuju rumah. Namun dia tidak pulang ke rumah Abra, melainkan ke rumah dirinya bersama Varsha dulu. Dia masih belum siap untuk mengatakan semuanya kepada mertuanya, ntah harus memulai dari mana jika pun dia harus bercerita.
"Kenapa jadi seperti ini" lemasnya.
Dia melihat jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 00.30. "Sudah selarut ini ternyata" lanjutnya.
Dia berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Ntah apa yang ada dalam pikirannya. Begitu tiba di kamar dia menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, agar lebih fresh. Cukup lama dia berada di kamar mandi, menghabiskan waktu di bawah guyuran shower.
Keluar dengan sudah mengenakan piyama dan handuk yang melilit rambutnya. Duduk di depan cermin riasnya dengan sorot mata yang masih kosong, menyisir rambutnya seraya mengeringkannya.
Tidak ada yang bisa menebak apa yang tengah dia pikirkan. Raganya ada, tetapi seperti tidak ada jiwanya. Hampa sekali melihat kondisi Hiranya saat ini. Dia beranjak dari duduknya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Untum saat ini dia ingin menenangkan dirinya sendiri, menghadapi hari esok yang akan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang indah dan menghangatkan. Hiranya sudah membuka kedua matanya sedari subuh tadi, dia bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Ya, dia memutuskan untuk segera bekerja dan mengakhiri masa cutinya yang masih panjang.
Berpenampilan dengan lebih fresh dan berbeda dari sebelumnya. Setelah sarapan dia segera menuju mobil dan bergegas melaju ke Rumah Sakit. Jika diingat-ingat jadwal hari ini akan sangat padat. Banyam pasien yang sudah membuat janji dengannya, setelah sebelumnya harus menunggu hingga dirinya selesai cuti, belum lagi jadwal visit ruangan.
Hiranya sudah mengkonfirmasi kepada kepala Rumah Sakit bahwa dia akan kembali hari ini dan langsung menghandle jadwal dia hari ini. Tak begitu banyak yang kepala Rumah Sakit tanyakan, karena dia tidak berani bertanya macam-macam kepada menantu pemilik RS ini. Begitu dia tiba di Rumah Sakit, tak ada kata istirahat untuknya, dia langsung bekerja menyibukan dirinya dengan para pasien yang sudah setia menunggunya.