Bab 5

1077 Words
"Hati-hati ya, Nak. Kabarin Mama kalau sudah sampai sana" pesan Indira. Mereka sudah berada di bandara, karena penerbangan pagi, jadi pukul 07.30 mereka sudah berada di bandara. Hiranya menganggukan kepalanya sebagai jawaban untuk ibu mertuanya. "Aku masuk ya, Ma, Pa" Hiranya pun masuk ke dalam menuju ruang tunggu terlebih dahulu, karena masih ada waktu setengah jam sebelum penerbangan. Sugguh dia merasa sudah tidah sabar untuk segera berangkat dan tiba di sana. Ntah mengapa jantungnya berdegub tidak karuan, layaknya pasangan remaja yang akan menemui kekasihnya. Perutnya terasa menggelitik, setelah setengah tahun lamanya akhirnya kini dia bisa bertemu dengan sang suami. Awalnya dia ingin memberitahukan suaminya jika dia akan terbang ke London, tetapi niatnya dia urungkan, dirinya ingin memberikan surprise untuk pria yang sangat dirinya rindukan itu. Tibalah waktunya para penumpang dipanggil untuk segera memasuki pesawat, dengan perasaan senang dokter cantik itu pun berjalan menuju pesawatnya berada, memesan tiket bisnis class untuk perjalanannya kali ini. Karena jarak tempuh yang cukup memakan waktu kurang lebih 16 jam 10 menit penerbangan. Setelah perjalanan yang cukup lama ini, akhirnya Hiranya tiba di Bandar Udara Heathrow (LHR), London. Dia bergegas mencari taksi untuk mengantarkannya menuju apartemen sang suami. Tak lupa dia pun mengabari ibu mertuanya, bahwa dia sudah sampai di London. Setelah perjalan darat sekitar 30menit, Hiranya tiba di apartemen suaminya. Karena lalu lintas yang lancar membuatnya tiba tepat waktu. Dengan segera dia turun dari taksi dan bergegas manuju unit Varsha. Raut wajahnya begitu bahagia bercampur dengan jantungnya yang berdegub semakin kencang, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dalam perutnya. Begitu tiba di depan unit sang suami, dia mencoba memencet bel terlebih dahulu, namun sudah sekitar 5 menit tak kunjung pintu terbuka. Hingga dia memutuskan untuk membukanya sendiri, karena waktu itu Varsha pernah memberitahukan password untuk akses masuk ke dalam apartemennya. Suasana apartemen masih gelap gulita, terlihat tak ada kehidupan di dalam sini. Hiranya melihat jam yang menempel di dinding, ternyata masih pukul 14.00 waktu London. "Pantas saja, masih siang. Varsha masih di kampus sepertinya" gumam Hiranya. Dia pun menyimpan kopernya terlebih dahulu. Lalu berjalan menuju dapur, melihat apa ada stok bahan masakan. Dirinyantak kenal lelah, padahal dia masih mengalami Jatlag, karena perjalanan yang cukup jauh dan berbedaan waktu yang cukup lama. "Masih ada waktu, aku masak makanan kesukaan dia saja" lanjutnya. Dengan perasaan bahagia, tak terlihat sedikit pun rasa lelah di wajahnya. Wanita itu dengan cekatan mengambil beberapa bahan masakan dalam kulkas, lalu memotongnya hingga menciptakan sebuah makanan yang lezat. Sudah pukul 16.30 waktu setempat. Setelah dirinya sibuk di dapur, kini dia beralih menuju kamar mandi, badannya sudah ingin terkena dinginnya air, agar terasa segar kembali. Cukup lama Hiranya berada di kamar mandi, dia pun bergegas berganti pakaian untuk menyambut kepulangan sang suami. Karena tadi dia mengirimkan pesan pada Varsha jam berapakah pria itu pulang. Pria itu membalas pesannya dan mengatakan jika dia akan tiba di apartemen pukul 16.00, namun dirinya belum mengetahui jika sang istri berada di sini. Hiranya pun bersiap-siap, merapihkan dirinya untuk menyambut kepulangan sang suami. Terdengar pintu apartemen terbuka, dengan segera dia keluar kamar untuk memberikan surprise pada pria yang sudah dia tunggu-tunggu kepulangannya. Namun, bukan pria itu yang mendapatkan kejutan, dialah yang terkejut dengan kedatangan sang suami. Pria itu tiba dengan seorang wanita disampingnya, tersenyum lebar bak pasangan kekasih yang tengah berbahagia. "Sa.. Em, Hiranya!" Kata Varsha terkejut dan yang lebih anehnya lagi kenapa dia tidak melanjutkan panggilan sayangnya dan malah mengganti dengan nama saja. "Siapa dia, Var?" Tanya wanita yang berada disampingnya. Untuk sesaat Varsha terdiam akan pertanyaan yang dia terima, sorot matanya memancarakan kepanikan, hingga akhirnya dia membuka suaranya. "Em, kenalin dia Hiranya. Dia saudara perempuanku" Deg, jawaban Varsha seketika membuat perasaan Hiranya sakit, ntah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu memperkenalkan istrinya sebagi saudaranya. "Oh, dia saudaramu. Hai, Hiranya, aku Lila. Aku em, teman dekat Varsha disini" ucapnya memperkenalkan diri dengan begitu bangga. Disisi lain tubuh Hiranya diam terpaku, ntah apa yang harus dia lakukan saat ini, dunianya seperti terhenti. Bukan, bukan Varsha yang mendapatkan kejutan, tetapi dirinyalah yang merasa terkejut. Sorot matanya nampak terlihat sayu, redup, tak ada lagi kebahagiaan yang terpancar disana seperti pada saat awal dia tiba disini. Otaknya pun tidak bisa membantunya, semuanya mendadak terhenti. Lila Samarthya, dia adalah wanita yang tiba bersama Varsha. Wanita itu pun dokter sama seperti Varsha dan Hiranya, dia pun tengah melakukan studynya di sini. Lila melihat ke arah meja makan yang sudah terisi dengan sajian makanan di atasnya. "Wah, sepertinya kamu pintar memasak. Banyak sekali masakan, tidak seperti biasanya, meja makan kosong" ucap Lila yang membuat hati Hiranya semakin sakit mendengarnya. Nampaknya wanita ini sering kemari dan sepertinya mereka sering menghabiskan waktu berdua di sini. "Ayok, kita makan malam bersama. Kapan lagikan bisa begini!" Ajak Lila seraya menarik lengan Hiranya. Sungguh, tubuhnya tidak menghindari tarikan dari Lila. Semuanya terasa lemas, tidak bertenaga sama sekali rasanya. Varsha yang bingung pun ikut melangkahkan kakinya menuju meja makan. Pria itu merasakan kepanikan dalam hatinya. "Emm, aromanya buat perutku semakin keroncongan saja" Mereka terduduk di atas meja makan bersama, baru saja Lila akan mengambil makanan Varsha sudah lebih dulu mengajaknya untuk pulang. "Lila, ini sudah larut. Aku akan antar kamu pulang" kata Varsha. "Loh, ko pulang aku mau coba masakannya Hiranya dulu dong, lagian aku sudah kelaparan sedari tadi siang aku belum makan apa-apa lagi loh" jawabnya. Hiranya hanya diam terpaku dengan tatapan kosong ke atas meja makan. "Lain kali saja, lagi pula sepertinya Hiranya lelah, dia ingin beristirahat. Biarkan dia istirahat, besok atau lusa Hiranya akan memasak lagi untuk kita" katanya. Waw, ucapan Varsha semakin membuat Hiranya tidak habis pikir. "Baiklah kalau begitu" patuhnya, "aku pulang dulu ya, besok kita ketemu lagi, kita masak bersama-sama ya!" Lanjutnya. "Ayok, aku antar kamu!" Ajak Varsha seraya menarik pergelangan tangan Lila. Bola mata Hiranya mengikuti pergerakan tubuh Varsha dan Lila. Hatinya sakit melihat suami yang dia sayangi, cintai, dan dirinya begitu percaya pada pria itu, kini dia menggandeng wanita lain. Hati dan pikirannya berkecamuk, keduanya saling bertolak belakang satu sisi dia ingin meminta penjelasan kepada pria itu, tetapi disisi lain dia tidak bisa membiarkan harga dirinya dikhianati seperti ini. "Aku antar kamu sampai sini ya" kata Varsha pada Lila. Dia hanya mengantarkan sampai lobi saja, tak lupa memesankan taksi untuk mengantarkan wanita itu pulang. "Baiklah, lagi pula ada adik kamu jauh-jauh dari Indonesia, malah kamu tinggal. See you besok ya" ucap Lila lalu mengecup pipi Varsha tak lupa dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Varsha mengangguk. Setelah taksi yang ditumpangi Lila tak terlihat dengan segera dia berlari menuju unit apartemennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD