Bab 4

1036 Words
Hari-hari Hiranya berada di rumah sakit. Setelah kepergian sang suami dia pun mengakhiri cutinya dan kembali bekerja. Sudah banyak pasien yang menanyakan Dokter Hiranya, karena memang dia adalah salah satu Dokter favorit di rumah sakit ini. Dia dan suaminya pun selalu menyempatkan waktu untuk saling bertukar kabar, bisa 5 kali sehari mereka melakukan video call atau bagaimana Hiranya sedang tidak ada pasien dan Varsha yang sedang tidak ada kelas. "Cerah banget, bisa gue tebak, pasti habis dapat suntik obat yang kuat dan gak ada di apotek serta rumah sakit mana pun" ledek Suri, sahabat Hiranya. Dia pun seorang dokter di rumah sakit ini. Hiranya pun tersenyum lebar dengan sorot mata yang berbinar. "Dih, dokter jatuh cinta kaya gini nih. Hmm, kenapa lo gak ikut aja sih sama Varsha jadi kalian gak usah LDMan kaya gini, kan gak enak baru nikah udah ditinggal, jauh banget lagi" lanjutnya. "Ya, gue juga maunya gitu. Tapi, gue punya tanggung jawab banyak di sini, gak bisa ditinggalin gitu aja" jawab Hiranya. "Kan masih ada dokter lainnya yang bisa back up selama lo di sana. Lagian rumah sakit punya mertua sendiri ko" Ya, rumah sakit ini milik Abra, dia sengaja membangun rumah sakit mewah dan besar ini karena saat Varsha dan Hiranya berada di bangku Menengah Pertama, mereka mengatakan ingin menjadi seorang dokter yang bermanfaat bagi semua orang dan bisa menyembuhkan mereka yang sakit. Dari situlah berdiri Garvita Rumah Sakit. Ya, nama rumah sakit ini diambil dari nama belakang sang istri, Indira. "Lo ya menyalahgunakan kekuasaan" jawabnya. "Ya, gak apa-apa dari pada jauhan sama suami. Ngeri tahu cewek-cewek zaman sekarang, ya gak ceweknya juga sih cowoknya juga sama. Tetapi ya gitulah, gue yang takut sih, mana di luar kan pergaulannya bebas, kalau ada pelakor gimana?" Ucap Suri spontan. "Ih, Suri amit-amit ya, jangan sampai dong, jauh-jauhin dari jenis pelakor macam apa pun itu" jawab Hiranya sedikit merasa cemas. Tetapi, hatinya yakin dan percaya jika suaminya tidak akan seperti itu, dia pasti akan menjaga kesucian rumah tangga dan cinta mereka. 6 Bulan berlalu... Selama setengah tahun ini komunikasi mereka semakin berkurang. Terkadang seharian dia tak menerima panggilan dari suaminya, tak mendapatkan kabar apa pun. Situasi ini membuat hatinya sedikit merasa resah. Seperti saat ini, dia sedang mencoba menelepon sang suami, tetapi tak kunjung mendapat jawaban, pesan pun sudah dikirimkannya, dan hasilnya tetap sama. Hiranya merasa seperti kekurangan vitamin. "Lemas banget ibu dokter ini" ucap Suri yang datang tiba-tiba dan menyodorkan satu cup es kopi yang menjadi minuman favorit sahabatnya ini. Hiranya meminum kopi pemberian Suri, setidaknya kafein bisa membuatnya sedikit tenang. "Masih belum ada kabar dari Varsha?" Tanyanya. Hiranya menganggukkan kepalanya lemas. "Sibuk banget kali ya, sampai gak ada waktu buat pegang handphone lama-lama" jawab Hiranya. Suri menarik nafanya lalu mengembuskannya perlahan. "Bisa jadi!" Jawabnya malas. Hiranya terlihat seperti sedang berpikir, keningnya berkerut. "Kayanya gue mau ajuin cuti deh" "Nah, itu, itu yang gue tunggu-tunggu. Kata itu yang gue tunggu dari kemarin biar keluar dari mulut lo, karena kalau gue yang nyuruh lo gak akan dengar. Ada aja alasannya inilah, itulah, positif thinking aja sih. Duh, pegel banget hati sama kuping gue, Nya!" Lanjutnya dengan menggebu-gebu. Hiranya sedikit terlonjak mendengarnya. Mungkin memang benar kata Suri, dia terlalu berpikir positif tentang hal sebesar ini. "Ya udah, sekarang lo balik siapin surat cuti lo. Eh tapi gak usah ribet, balik aja udah sana" "Tanpa lo usir pun gue bakal balik, Suri Palupi!" Jawabnya, "but, thank you ya, lo emang sahabat ter terbaik gue!" Lanjutnya. "Hmm, baru sadar lo!" Sahutnya, keduanya pun saling melemparkan senyuman. Hiranya bergegas pulang ke kediaman mertuanya. Selepas kepergian Varsha, Indira dan Abra meminta agar Hiranya tinggal bersama mereka. Bukan apa-apa, mereka khawatir jika Hiranya tinggal seoranng diri akan membuatnya semakin sedih. Setelah makan malam biasanya mereka akan berkumpul sebentar di ruang keluarga, dengan menonton acara di televisi, atau hanya sekedar berbincang sembari menikmati secangkir teh atau kopi. "Pa, sepertinya aku akan ajukan cuti untuk satu minggu ke depan" ucap Hiranya yang seketika membuat kedua mertuanya ini terdiam saling menatap satu sama lain lalu dengan bersamaan mereka menatap dirinya. "Kamu serius? Ini benar yang keluar dari bibir seorang Hiranya Falguni?" Kata Abra. Bagaimana tidak kaget, karena selama ini sulit bagi mereka untuk membuat wanita ini cuti dan terbang menyusul suaminya. Setelah Varsha yang jarang memberikan kabar dan membalas pesan serta mengangkat telepon dari istrinya, kedua mertuanya sudah berkali-kali meminta agar dia mengambil cuti. Bukan tanpa alasan Hiranya menolak untuk mengambil cuti, dia hanya tidak mau membuat hatinya kembali berat untuk berjauhan dengan sang suami, tetapi pada kenyataannya lebih berat menunggu dan menanti orang yang kita sayang tanpa kabar. Hati gundah, membuatnya semakin tidak bisa fokus pada suatu hal, apalagi pekerjaannya berhubungan dengan kemanusiaan, dia tidak boleh lengah sedikit karena bisa berakibat tidak baik pada hasilnya. Hiranya menganggukan kepalanya. "Aku serius, Pa. Aku sudah pesan tiket penerbangan untuk besok pagi!" Jawabnya. Jawaban Hiranya semakin membuat terkejut mertuanya, jika dia sudah bertekad maka semuanya akan terjadi. Sebelum makan malam dia sudah memesan tiket penerbangan untuk keberangkatan pagi. Setelah mendapatkan tiket dengan segera dia mempersiapkan beberapa baju untuk dibawa, persiapannya untuk keberangkatan besok sudah siap. Abra menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. "Baik, Papa akan langsung berikan cuti kamu selama semiggu ke depan. Biar Dokter Hendra yang handle pasien-pasien kamu nanti" ucap Abra yang membuat senyum Hiranya semakin melebar. Rasanya tidak sabar untuk segera esok hari, dan segera tiba disana, dimana dia bisa bertemu dengan orang yang sangat sangat dirinya rindukan. "Mama bantu packing ya" ajak Indira. Hiranya tersenyum malu. "Aku sudah packing, Ma" jawabnya. "Oh ya, ternyata ada yang sudah tidak sabar ingin bertemu sang pujaan hati ya, hm" ledek Indira. "Mama!" Ucapnya malu-malu. "Pesawat jam berapa besok?" Tanya Abra kali ini. "Pukul 08.00" "Waw, sepertinya kamu kehabisan penerbangan yang lebih pagi ya" goda Abra. "Papa!" "Haha, sudahlah Pa jangan digoda terus anaknya." Kata Indira yang melihat wajah putrinya sudah menahan malu, "ya sudah, sekarang kamu istirahat, besok harus bangun pagi kan" titah Indira dan langsung dipatuhi oleh Hiranya. "Oh ya, besok biar Papa dan Mama antar kamu" "Baik, Pa. Aku pamit ke atas duluan" Abra dan Indira pun menganggukan kepalanya dengan senyum manis mereka. "Semoga rumah tangga mereka selalu rukun, bahagia, dijauhkan dari orang-orang jahat yang tidak bertanggung jawab" harap Indira yang diangguki sang suami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD