Kediaman Abra..
Hari ini Varsha dan Hiranya berkunjung me rumah Abra dan Indira, tentu kedua memiliki alasan untuk menemui orang tua Varsha ini.
"Jadi, apa yang mau kalian bicarakan ini. Apakah soal honeymoon kalian?" Tanya Abra seraya menatap Varsha dan Hiranya bergantian.
"Varsha mendapatkan surat panggilan untuk melanjutkan studynya di London, Pa, Ma" kata Hiranya mencoba membuka pembicaraan.
Indira mengernyitkan dahinya. "Maksudnya, kalian akan pindah ke London?" Tanya Indira.
Hiranya dan Varsha saling menatap satu sama lain.
"Tidak, Ma. Hanya Varsha saja. Hiranya masih tetap tinggal di sini" jawab Varsha.
"Bagaimana bisa, kalian baru saja menikah dan kalian akan tinggal berpisah beda negara pula" kata Indira.
"Ma, Ma, sudah" ucap Abra menenangkan.
Pria paruh baya itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Papa yakin kalian sudah membicarakan ini dengan hati-hati. Papa dan Mama" ucap Abra seraya melirik Indira lalu mengelus punggung tangannya, "akan mengikuti bagaimana baiknya menurut kalian" lanjutnya.
Senyum lega terlukis di wajah Varsha dan Hiranya.
"Pa!" Protes Indira. Rasanya dia tidak bisa membiarkan mereka berjauhan, apalagi ini dipisahkan oleh negara, jarak tempunya pun cukup memakan waktu yang lama.
"Sudah, Ma. Mereka sudah dewasa, mereka bisa memutuskan semuanya dengan bijak. Lagi pula Varsha pergi ke London untuk melanjutkan study dia, bukan untuk hal lain" ucap Abra menjelaskan kepada istrinya.
Indira pun hanya bisa pasrah dengan mengembuskan nafasnya.
"Ma, jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam di sana. Aku sudah punya istri cantik, pintar seperti Hiranya. Mama percaya kan sama aku?" Ucap Varsha meyakinkan sang ibu.
"Baiklah, Mama percaya sama kamu. Jangan sampai kamu menghilangkan keyakinan Mama kepadamu, Varsha. Apalagi sampai menyakiti hati Hiranya. Kamu tahu apa akibatnya jika sampai membuat putri Mama sedih kan?" Kata Indira. Perasaan seorang ibu akan selalu khawatir jika anak-anaknya berjauhan, itukah yang sedang Indira rasakan, dia merasa khawatir akan sesuatu hal, tetapi dia sendiri tidak tahu apa itu.
"Kapan kamu berangkat?" Tanya Abra.
"Lusa, Pa" jawabnya dan seketika kedua bola mata Indira membulat sempurna, dia merasa terkejut dengan berita yang dibawakan oleh putranya ini.
"Lusa? Kamu mau buat Mama jantungankah, Varsha!" Protes Indira.
"Ma, Mama, tenang dulu" ucap Hiranya seraya berpindah tempat dan duduk di samping Indira.
"Ma, Varsha baru menerima emailnya tadi malam. Aku pun awalnya merasa kaget dengan berita yang Varsha sampaikan. Tetapi, ini demi kebaikan Varsha, demi masa depan aku juga dan kelak untuk anak-anak kami berdua, cucu Mama dan Papa" lanjut Hiranya. Bagaimana Indira tidak sayang pada Hiranya, wanita ini begitu mudah sekali menenangkan dan mengambil hati orang lain.
Indira memejamkan matanya sesaat. "Baiklah, Mama akan bantu kamu packing!" Ucapnya.
Akhirnya Indira mau menerima kepergian putranya ini. Dia sendiri yang akan membantu mempersiapkan segalanya, agar putranya tetap merasa nyama di sana.
Hari dimana Varsha harus terbang ke London pun tiba. Mereka pergi mengantarkannya sampai bandara, berat sekali bagi Hiranya sebenarnya untuk melepaskan kepergian sang suami, tetapi dirinya tidak boleh egois ini adalah mimpi Varsha dari dulu sebelum mereka menikah.
Hiranya tidak menunjukkan rasa sedihnya dihadapan sang suami, dia menahan rasa sedih yang sudah beberapa hari ini ditahan. Menggenggam jemari Varsha selama diperjalanan menuju bandara, begitu pun dengan Varsha, dia tidak melepaskan tautan jemari sang istri.
Pemandangan ini tak luput dari perhatian Indira, wanita paruh baya itu memperhatikan interaksi putra dan menantunya. Meskipun sudah disembunyikan, tetapi perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. Dia tahu bahwa menantunya itu tengah memendam rasa sedih.
Mereka pun tiba di bandara, menurunkan semua barang bawaan Varsha. Pria itu hanya membawa 2 koper saja yang berisikan baju-baju dan keperluan pribadi lainnya, selebihnya Abra sudah mengurus semua keperluan sang putra di sana, termasuk apartemen.
Hiranya menatap wajah sang suami dengan begitu dalam, kini air matanta tak bisa lagi dia bendung, pertahanannya runtuh hanya karena bertatapan dengan lelaki yang dia sayangi ini.
Varsha pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan oleh istrinya, dia segera memeluk erat tubuh Hiranya, mengelus lembut punggungnya, searaya berbisik. "Aku akan pulang saat libur nanti"
Air mata Hiranya semakin deras keluar, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, sungguh bibirnya terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.
Abra dan Indira yang melihat pemandangan ini pun merasakan kesedihan yang sama. Kesedihan yang seperti tersalurkan secara alami, melihat anak-anaknya akan terpisahkan oleh jarak dan waktu yang berbeda.
Varsha melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Hiranya dan mencium keningnya cukup lama. Kini dia berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Jangan macam-macam di sana, ingat istri kamu menunggu di sini, belajar yang benar!" Pesan Indira dan diangguki oleh Varsha.
Indira pun tak bisa menahan tangisnya lagi, dia memeluk tubuh sang putra dan melepaskannya pergi.
Varsha berjalan masuk menuju ruang tunggu, sesekali dia menoleh ke belakang lalu melambaikan tangannya. Hingga tubuh pria itu tak terlihat lagi.
Hiranya merasa hampa sekali, bagaimana tidak, dia baru saja menikah dan sudah harus ditinggalkan dengan waktu yang cukup lama dan jarak yang jauh.
Indira mendekati menantunya, mengelus puggungnya lembut seraya menganggukkan kepalanya memberi isyarat pada Hiranya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan wanita cantik itu hanya terdiam memperhatikan jalanan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu yang paling semangat dan meyakinkan Papa, Mama untuk melepaskan Varsha. Tetapi kamulah yang paling sedih" ucap Indira.
"Aku tidak mau membuat Varsha merasa berat untuk pergi, tetapi pada kenyataannya akulah yang berat melepas kepergiannya, Ma" jawabnya.
"Kamu istrinya, kalian baru saja membina biduk rumah tangga dan sudah harus dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, wajar saja kamu berat melepas kepergian Varsha, Nak" kata Indira, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya agar hati menantunya ini menjadi lebih tenang.
"Malam ini kamu tidur di rumah Mama, ya" ajak Indira.
Hiranya menatap wajah mertuanya itu dengan wajah yang sendu. "Aku mau di rumah dulu untuk malam ini, Ma. Besok saja aku akan ke rumah Mama dan Papa" jawab Hiranya. Nampaknya dia ingin menyendiri untuk malam ini.
Indira pun menganggukkan kepalanya seraya mengelus lembut rambut Hiranya.
Sesampainya di rumah Hiranya tak henti-hentinya melihat ponsel yang dia simpan di atas meja tepat di hadapannya, dia sedang menunggu panggilan dari suaminya, seharusnya pria itu sudah sampai di London dan sudah berada di apartemen.
Benar saja, tak lama layar ponselnya menyala dan menampilkan nama 'My Husband' betapa senangnya dia, dengan segera dia mengangkat panggilannya dan tersenyum lebar kala melihat wajah sang suami meskipun dilayar ponsel.
Pasangan suami istri baru ini pun saling melepaskan rindu, padahal baru beberapa jam mereka berjauhan, tetapi rasanya sepertu sudah satu bulan lamanya.