Bab 2

1104 Words
Setelah kesibukan acara resepsi beberapa hari lalu, kini Abra mengajak Varsha dan Hiranya menuju sebuah rumah yang memang sudah pria paruh baya itu siapkan. Jarak rumahnya memang tak terlalu jauh, hanya berselang 4 rumah dari kediaman Abra. Mereka turun dari mobil dan melihat sebuah rumah modern yang begitu mewah, taman depan yang luas dan sudah tertanam beberapa bunga cantik, rumput hijau yang tertata rapih di sana. Mereka berjalan menyusuri halaman untuk menuju pintu utama. "Ini hadiah dari Papa dan Mama untuk kalian berdua. Desain rumah dan semua furniture yang ada di dalam adalah pilihan Mama sesuai dengan apa yang Hiranya inginkan" ucap Abra. Hiranya sedikit mengernyitkan dahinya mengingat sesuatu. "Oh, jadi Mama selama ini menanyakan perihal rumah dan segala bentuk juga furniturenya untuk ini?" Kata Hiranya. Indira pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Ya, Mama dan Papa ingin yang terbaik untuk kalian, terutama untuk kamu. Bagaimana agar kamu merasa nyama berada di rumah baru ini" jawabnya. Hiranya merasa terharu dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca, dia pun segera memeluk ibu mertuanya. "Terimakasih banyak, Ma!" Ucapnya. "Ini sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi kalian putra, putri kami, hm" ucapnya. Suasana menjadi sedih, Varsha berniat untuk membuat suasana kembali ceria. "Ya, memang aku bukan anak kandung Mama dan Papa, Hiranyalah anak kandung kalian" rajuknya mencairkan suasana. "Ya, memang Hiranyalah yang sebenarnya anak kandung kami berdua. Maka dari itu kamu jangan pernah menyakitinya!" Ucap Indira. "Ok, baik, ya, ya... " sahut Varsha. Mereka semua tersenyum dengan candaan seperti ini. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka sedari dulu. "Ayok, kita masuk" ajak Abra. Mereka pun masuk ke dalam dengan Abra yang menjadi pemandu hari ini, beliau menunjukan seluruh ruangan yang ada di rumah mewah dan megah ini. "Kalian berdua sudah bisa langsung menempati rumah kalian ini. Mama dan Papa tidak mau menganggu waktu yang sangat berharga bagi pengantin baru ini" ucap Indira. Nampaknya wanita paruh baya ini ingin segera menimang cucu. "Apakah ini cara mengusir kami secara halus?" Goda Varsha. "Kalau kamu berpikir seperti itu, maka silakan!" Jawabnya. Mulai hari ini pun Varsha dan Hiranya resmi menempati rumah baru mereka. Keduanya hanya perlu membawa baju, dan perlengkapan pribadi lainnya, karena furniture rumah sudah lengkap disediakan oleh Abra dan Indira. Varsha melihat sang istri yang sedang sibuk di dapur, nampaknya dia tengah menyiapkan untuk makan malam. Tanpa ada niat untuk menganggu, pria itu berdiri seraya memperhatikan gerak gerik wanitanya dengan senyum yang terukir di wajahnya. Cukup lama Varsha memperhatikan Hiranya, hingga wanita itu menyadari jika sang suami tengah berdiri dan memperhatikan dirinya. "Kenapa kamu berdiri disitu?" Tanyanya lembut. Varsha menarik nafanya lalu mengembuskannya perlahan seraya melangkahkan kakinya mendekati sang istri. "Aku sedang menikmati pemandangan indah" jawabnya yang membuat Hiranya seketika salah tingkah. Hiranya memicingkan kedua matanya. "Kamu jadi semakin jago menggombal ya" ucapnya. "Loh, ini bukam gombalan, ini adalah ungakapan hati seorang suami" jawabnya kembali seraya memeluk tubuh sang istri. "Jangan mulai ya, Sayang!" Tegur Hiranya karena Varsha mulai mencium lehernya. "Aku selalu merasa tidak bisa mengabaikanmu" jawabnya. "Kalau seperti ini, masakanku tidak akan bisa matang" katanya. "Baiklah, kali ini aku lepaskan, tapi nanti jangan harap kamu bisa kabur dariku, hm!" Jawabnya kembali. "Baiklah, baiklah" sahut Hiranya. Mereka pun saling melemparkan senyuman satu sama lain. Varsha pun membanti Hiranya menyelesaikan masakannya. Tak lama masakan pun sudah selesai, mereka membawanya menuju meja makan. "Emm, wangi sekali, sungguh menggugah selera" puji Varsha, "memang sedari dulu masakan kamu menjadi masakan terenak di dunia ini" lanjutnya. "Aku ini chef ternama, dan hanya mereka yang terpilih yang bisa menikmati masakanku" sombongnya. Varsha selalu tersenyum ketika mendengar kata-kata itu, ntah mengapa itu membuatnya terhibur. Hiranya mulai menyendokan makanan pada piring sang suami, begitu pun sebaliknya, Varsha menyajikan makanan ke atas piring istrinya. Selesai makan malam mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sekitar komplek. Pas sekali ini adalah malam minggu, dimana para muda mudi keluar untuk menikmati malam ini. "Aduh, pengantin baru. Senang sekali Ibu lihat kalian ini. Langgeng ya kalian, smeoga dijauhkan dari para manusia jahat" ucap salah satu tetangga mereka yang mengetahui jalan cerita keduanya sedari mereka masih berteman. "Aamiin. Terimakasih Ibu Indah untuk doanya" jawab Hiranya. "Malam-malam Ibu mau kemana?" Tanya Varsha. "Biasalah, cari udara segar. Bosan saya di dalam rumah terus" jawabnya. Varsha dan Hiranya pun tersenyum. "Kalau begitu Ibu lanjut ya, silakan kalian nikmati masa-masa hangat ini" pamitnya. Setelah kepergian Bu Indah, keduanya pun kembali melanjutkan langkah mereka menyusuri jalanan komplek yang malam ini cukup ramai. Setelah cukup lama mereka berjalan-jalan, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah. "Segar sekali udara di luar. Sepertinya setiap malam minggu kita harus jadwalkan untuk berjalan-jalan di sekitar komplek?" Kata Hiranya. "Apapun yang kamu iginkan akan aku kabulkan, Sayang" jawab Varsha. Hiranya tersenyum manis. "Kamu mau teh, kopi, atau coklat hangat?" Kata Hiranya menawarkan minuman hangat. "Coklat hangat sepertinya enak" "Baiklah, aku buatkan dahulu" Sementara Hiranya membuatkan coklat hangat untuk Varsha, laki-laki itu membuka email masuk pada ponselnya, dia membaca setiap baris dalam email tersebut. Keningnya berkert antara senang dan bingung, harus bagaimana dia membalas pesan ini. Tak lama Hiranya pun kembali dengan dua cangkir coklat hangat dan juga satu toples berisi biskuit. Dia menyajikannya di atas meja. "Taraa, coklat hangatnya sudah jadi" ucapnya. Varsha tersenyum. "Terimakasih sayang!" "Sama-sama, sayang!" Hiranya memperhatikan raut wajah suaminya yang seperti tengah memikirkan sesuatu, seperti ada yang mengganggu pikirannya. "Sayang, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanyanya. Varsha sedikit bingung bagaimana dia menjelaskan pada Hiranya. "Hey!" Panggil Hiranya kembali seraya memegang pergelangan tangan sang suami. Varsha pun menyerahkan ponselnya pada Hiranya, dia ingin istrinya membaca sendiri. "Waw, ini kabar gembira dong. Kenapa kamu murung begini?" Respon Hiranya positif sekali. Varsha mengkerutkan keningnya, dia merasa heran. Awalnya dia mengira jika istrinya akan memberikan respon yang tidak baik. tetapi ternyata dia memberikan respon yang begitu positif. "Kamu tidak merasa sedih?" Tanya Varsha. "Kenapa aku harus sedih. Bukankah ini yang selalu kamu tunggu-tunggu dan kamu impikan selama ini. Aku tahu bagaimana excitednya kamu saat itu, saat kamu mengajukan permohonan ini. Aku tidak akan melarang kamu, aku tidak mau menjadi penghalang bagi mimpi kamu, sebagai seorang istri aku akan mendukung apapun itu demi kebaikan kamu dan juga masa depan keluarga kecil kita" ucap Hiranya penuh kelembutan. Varsha segera memeluk tubuh sang istri, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Tetapi kota baru saja menikah, aku belum menyiapkan bulan madu untuk kita" kata Varsha. "Aku bisa menyusulmu kesana nanti untuk kita honeymoon di sana, hm" jawabnya. Varsha semakin merasa lega mendengar jawaban Hiranya. Ternyata istrinya ini begitu perhatian dan tidak membuatnya bingung harus bagaimana. "Besok aku antar kamu ke rumah Mama dan Papa. Aku akan bantu menjelaskan kepada mereka" kata Hiranya kembali. Varsha menganggukkan kepalanya. "Terimakasih sayang" seraya mencium puncuk kepala sang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD