Prolog
16 September 2019
Malam itu hujan turun cukup lebat. Seorang laki-laki menghela nafas berat saat matanya tak bisa melihat dengan jelas suasana jalan raya. Banyu namanya. Laki-laki yang sedang menyetir mobil tersebut melepaskan kancing teratas kemejanya. Lagi-lagi hanya mampu menghela napas karena nampaknya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Tubuh Banyu sudah sangat lelah. Semua tulangnya terasa akan lepas dan memisahkan diri. Itu karena proyek yang tengah dikerjakannya memaksanya untuk lembur dalam beberapa hari belakangan. Tadi, sebenarnya ia sudah pulang sekitar jam sepuluh malam, tapi ia memilih istirahat sebentar di lobi kantornya. Siapa sangka ia justru tertidur sampai lewat tengah malam. Untunglah kekasihnya menemaninya dan mau membangunkan saat dirasa sudah terlalu larut.
Sebuah warung yang berdiri di pinggir jalan berhasil menarik perhatian Banyu. Tenggorokannya yang kering meminta untuk dibasahi. Langsung saja Banyu menepikan mobilnya di samping trotoar jalan untuk membeli minum. Begitu mesin mobil dimatikan, Banyu menoleh ke kanan dan kiri, menyadari bahwa dirinya tidak memiliki payung. Tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain menerobos hujan, Banyu membuka pintu mobil. Membiarkan dirinya basah untuk sejenak dan berlari menjauh dari mobile menuju warung yang berada beberapa meter di depannya.
Di warung tersebut, Banyu menyempatkan untuk mengacak bagian rambutnya yang sedikit basah. Nampaknya warung tersebut memang buka dua puluh empat jam. Karena biasanya ia pulang tidak terlalu larut, warung itu memang selalu terlihat buka, tapi tentu sekarang sudah terlalu dini untuk mencari pelanggan.
Mendekati muka warung tersebut, Banyu melihat seorang pria paruh baya yang sedang merokok di dalam warung. Melihatnya, pria tersebut segera bangkit dan menghampirinya.
Banyu mengambil air mineral yang sudah ditata rapi di atas meja. Ia mengangkat air mineral tersebut. "Berapa, Pak?" tanya Banyu.
"Sepuluh ribu, Mas." Pria paruh baya itu menyahut sopan.
Banyu segera merogoh dompet di bagian saku belakang celananya. Mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. "Bapak jam segini warungnya masih buka. Emang buka dua puluh empat jam, ya, Pak?" tanya Banyu berbasa-basi sambil mengeluarkan uang di tangannya.
Dan ternyata dugaan Banyu salah. Pemilik warung menggeleng lantas tersenyum. Ia mengambil kembalian untuk Banyu. Ketika ingin menyerahkan kepada Banyu, Banyu menolaknya dan mengatakan bahwa kembaliannya bisa disimpan oleh pemilik warung tersebut.
Hal itu membuat pemilik warung berterima kasih berulang kali pada Banyu. Dan itu membuat Banyu memberikan kesimpulan bahwa mungkin saja hari ini pelanggannya sedang sepi. Maklum saja, Jakarta dengan segala macam hal yang ada di dalamnya mampu membuat siapa pun perlu dorongan untuk menolong orang lain. Di zaman sekarang minimarket sudah berjajar di sepanjang jalan. Menepikan warung-warung kecil yang biasanya hanya mencari pelanggan dari kalangan bawah.
"Tadi sih jam dua belas malam masih ada yang ngopi-ngopi, Mas. Jadi belum saya tutup. Tapi sebentar lagi palingan bakal saya tutup warungnya." Pemilik warung menanggapi pertanyaan Banyu yang sebelumnya.
Banyu mengangguk dua kali. Ia berpamitan untuk kembali ke mobilnya. Awalnya pemilik warung menawarkan payung untuknya, tapi Banyu menolak karena jarak antara warung dan mobilnya terbilang sangat dekat.
Langsung saja Banyu kembali menembus hujan. Menutup cepat pintu mobilnya begitu dirinya sudah duduk. Ia membuka tutup botol dan segera meneguk isinya sampai tersisa setengah. Setelahnya Banyu meletakkan botol air mineralnya di jok belakang. Baru akan kembali menyalakan mesin mobil saat Ponselnya yang berada di dalam tas berdering. Karena berada di jok belakang, Banyu kembali memutar tubuhnya dan mengambil tas kerjanya. Mengeluarkan ponselnya dari sana.
Nama 'Mia' tertera jelas di layar ponselnya. Sosok yang tidak lain adalah kekasihnya sendiri. Gadis itu pastilah khawatir karena cuacanya sedang tidak bagus. Terlebih karena ia berkendara lewat dari jam dua belas malam.
"Iya, Sayang." Banyu lebih dulu berbicara saat ponsel sudah menempel di telinga.
"Kamu lagi di mana? Udah sampai rumah apa belum?" Di seberang sana, Mia menyahut dengan nada hawatir.
"Belum. Baru aja berhenti sebentar di pinggir jalan buat beli minum. Eh, kamu tiba-tiba nelpon."
"Ngapain pakai berhenti segala? Kenapa gak langsung pulang aja? Kamu 'kan bisa minum kalau udah sampai di rumah. Zaman sekarang itu harus hati-hati, Banyu. Banyak begal dan para kriminal lainnya dari luar sana."
Banyu hanya bisa terkekeh pelan menanggapi kekhawatiran Mia. Berbeda dengannya yang selalu mengusahakan agar tetap tenang di segala situasi, Mia cenderung mudah khawatir dan mudah terbawa suasana. Salah satu sifatnya yang menjadi sisi menggemaskan dari seorang Mia Audina.
"Tenang aja, aku gak pa-pa, kok. Ngomong-ngomong makasih karena tadi kamu udah nemenin aku di kantor. Seharusnya kamu bangunin aku lebih awal supaya aku bisa nganter kamu lebih awal juga."
"Abisnya kamu keliatan capek banget. Aku gak tega mau bangunin kamu. Jadi aku biarin kamu istirahat aja sebentar."
"Tapi sebentarnya sampe dua jam," tukas Banyu cepat.
Gantian Mia yang terkekeh di seberang sana. Banyu sudah akan membuka mulut, ingin meminta Mia untuk segera tidur karena sudah dini hari sehingga ia pun bisa segera melanjutkan perjalanan. Tapi sebuah ketukan pelan dari luar jendela mobilnya membuat Banyu menoleh.
Tidak terlalu jelas. Hujan membuat bagian kacanya menjadi kabur sehingga wajah seseorang yang ada di luar sana tidak terlihat dengan jelas.
"Sayang, ada yang ngetuk kaca jendela mobil aku. Kayaknya kamu harus tutup teleponnya supaya aku bisa buka kaca jendela."
Di seberang sana, Mia menyahut cepat. "Jangan!" Dengan nada setengah berteriak.
"Kenapa?" Banyak memandang lagi orang di luar jendela mobilnya. Orang itu masih mendengar dengan tempo yang pelan.
"Mungkin aja itu begal atau orang yang pura-pura mau minta tolong, padahal nanti bakal ngerampok kamu. Pokoknya jangan dibuka."
Tidak tahan, Banyu tergelak. Bukankah sudah ia bilang kalau kekasihnya itu tipikal orang yang mudah khawatir?
"Gak usah ketawa. Pokoknya kamu harus ikutin aku. jangan dibuka kaca mobilnya atau kamu bakal terancam bahaya."
Bisa Banyu dengar Mia memerintahnya dengan sedikit selipan kalimat menakutkan. Mungkin Mia mengira bahwa itu satu-satunya cara yang bisa membuatnya mengikuti kemauan gadis itu.
Karena ketukan terus terdengar dari luar, pada akhirnya Banyu jengah juga. Ia membuka jendela mobilnya dengan kondisi ponsel yang masih menempel di telinga. Dan tindakannya berhasil membuat bola matanya membulat sempurna begitu jendela terbuka. Memperlihatkan siapa sebenarnya yang berdiri di luar sana.
Untuk sesaat, Banyu hanya bisa tertegun menatap gadis yang berdiri di luar mobilnya. Bukan karena orang tersebut terlihat jahat seperti perkataan Mia, tapi karena begitu familier di matanya. Tanpa sadar Banyu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Membiarkan seperempat bagian ponsel tersebut menyembul keluar. Lupa bahwa telepon dari Mia masih tersambung.
Tanpa pikir panjang Banyu langsung keluar dari mobil. Turut merasakan derasnya hujan yang membasahi setiap jengkal tubuhnya. Membiarkan ponsel di sakunya ikut basah dan ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Yang ia pedulikan hanyalah sosok gadis yang berdiri tepat di depan matanya.
Tubuh Banyu bergetar hebat. Bukan karena setiap rintik hujan yang merembes masuk ke kulitnya terasa begitu dingin, tapi karena ia masih belum percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Wajah itu memang terlihat berbeda sejak terakhir kali Banyu melihatnya. Mungkin cenderung lebih dewasa dan lebih cantik tentunya. Tapi meskipun begitu, Banyu masih bisa mengenalinya hanya dengan sekali lihat saja. Itu adalah Stella. Gadis yang hampir tujuh tahun belakangan pergi dari kehidupannya, Tapi anehnya tidak berhasil membuatnya melupakan sosok gadis itu sepenuhnya.
"Tolong anterin saya pulang!" Gadis itu berbicara untuk pertama kalinya dengan suara parau.
Tatap keduanya bertemu. Semakin menambah keyakinan Banyu bahwa yang ada di hadapannya kini memanglah benar Stella. Dan ia tidak mungkin salah.
Satu-satunya yang membuat Banyu sangat penasaran adalah alasan tentang kenapa Stella bisa berada di pinggir jalan di jam yang terbilang sangat larut. Tubuh gadis itu dilapisi dress ketat yang menampilkan setiap lekukan tubuhnya. Semakin sempurna karena tetesan hujan membasahi tubuh Stella sepenuhnya. Bahkan di tengah derasnya hujan yang mengaburkan pandangan dan juga membuat tubuh mati rasa karena suhu dingin, Banyu bisa mencium dengan jelas aroma alkohol yang menguar langsung dari mulut Stella. Entah karena Stella memang minum terlalu banyak atau karena jarak antara dirinya dan Stella terbilang sangat tipis.
"Kamu Stella, 'kan?" tanya Banyu ingin memastikan. Mengusap wajahnya untuk melihat Stella dengan lebih jelas lagi.
"Tolong anterin saya pulang!" Lagi-lagi hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Stella.
Banyu masih setia memandangi Stella yang berdiri menggigil di hadapannya. Tujuh tahun lebih tidak bertemu, Banyu kira perasaannya sudah hilang sepenuhnya, tapi tindakannya yang sesaat melupakan Mia hanya untuk membuka pintu mobilnya membuatnya sadar bahwa perasaan itu masih ada. Tersimpan rapi di lubuk hati terdalamnya. Dan perasaan itu kini kembali muncul ke permukaan. Menjadi lebih membara sejak terakhir kali ia melihat Stella.
Kehadiran Stella setelah tujuh tahun lamanya membuat hati Banyu menghangat secepat kilat di tengah bagian tubuh lainnya yang justru menggigil karena hujan.
"Stella, ini aku." Perkataan Banyu berhasil membuat Stella menatapnya. Kelopak mata berbulu lentik itu menyipit.
"Ini aku." Ulang Banyu, "Banyu. Temen lama kamu."
Gadis di depannya mengerjap polos lantas bertanya, "Dari mana kamu tau nama saya?" Dengan wajah lelah, tapi terlihat penasaran.
Banyu mengulas senyum tipis. Pertanyaan itu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa yang ada di depannya memanglah Stella yang ia kenal. Setidaknya nama itu masih sama. Dan suara itu masih terdengar begitu merdu di telinganya.
"Biar aku anterin kamu pulang."
Banyu mempersilahkan Stella untuk memasuki mobilnya. Gadis itu langsung berjalan melewati bagian depan mobilnya. Banyu mengikuti di belakang. Membukakan pintu untuk Stella dan membiarkan gadis itu duduk di kursi samping kemudi. Kursi yang selama ini hanya diduduki oleh Mia.
Tidak cukup membukakan pintu untuk Stella seolah gadis itu adalah seorang ratu, Banyu juga memasangkan seat belt saat dirinya sudah duduk di samping kemudi. Menyaksikan dengan lebih saksama wajah Stella yang setengah tertidur di kursinya. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Dan karena pelukan itu, Banyu harus menghela napasnya karena melihat bagian atas tubuh Stella yang begitu terbuka. Seakan bagian itu akan menyembul keluar jika tidak ia tutupi dengan sesuatu.
Namun, sayang sekali saat itu Banyu sedang tidak memakai jas. Sehingga ia lebih memilih untuk menjauhkan diri dari Stella. Membiarkan bagian d**a Stella terekspos.
Demi Tuhan, Banyu masih belum percaya jika yang dilihatnya adalah Stella. Gadis yang ia sukai sejak lama. Perasaan itu tidak sempat tersampaikan hingga Stella pindah ke luar kota. Dan kini, saat dirinya tidak lagi berstatus lajang, saat dirinya sudah berkomitmen untuk saling menjaga perasaan, Stella hadir di waktu tidak terduga. Membuat Banyu goyah.
Banyu tahu, mungkin saja Stella sudah memiliki kekasih, atau mungkin juga sudah menikah. Tapi sayangnya Banyu hanyalah manusia yang pandai berharap, meski sedikit, terbersit di hatinya satu harapan. Ia hanya ingin dugaannya tentang status Stella salah.