Tujuh tahun yang lalu.
Stella berjalan melewati pintu perpustakaan yang setengah terbuka. Mendorong pintu tersebut menjadi terbuka sepenuhnya. Ia memandang ke segala arah. Melihat kondisi perpustakaan yang tidak terlalu ramai. Di meja depan, tepatnya meja penjaga perpustakaan, kosong. Mungkin penjaga perpustakaan yang bertugas sedang beristirahat untuk makan siang. Ada beberapa siswa yang sedang berdiri maupun duduk.
Stella mendekati salah satu meja yang diisi oleh dua orang teman satu angkatannya. Ia bertanya, "Kalian ada yang ngeliat Banyu, gak?" Tanpa berbasa-basi.
Salah satu dari mereka menunjuk bagian lorong perpustakaan. "Tadi gue lihat di lorong ketiga kalau gak salah," sahutnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Stella menjauh dan menuju tempat yang ditunjukkan oleh siswa tadi. Dan benar, ada Banyu yang tengah membaca buku di lorong tersebut. Langsung saja Stella mendekati cowok itu dan bersandar di rak buku.
"Banyu!" panggil Stella.
Banyu hanya berdeham pelan. Ia terus membaca buku yang dipegangnya tanpa mempedulikan kehadiran Stella.
"Kamu nyuekin aku?" tanya Stella.
Tidak ada jawaban.
Stella mendengkus sebal. Ia sangat heran. Saking herannya ia ingin sekali merasakan jadi orang yang begitu menyukai buku. Merasakan bagaimana dan apa senangnya berada di perpustakaan, menghabiskan waktu makan siang hanya untuk bermesraan dengan lorong perpustakaan yang sepi dan hanya dipenuhi buku. Banyu adalah salah satu orang itu. Sebenarnya Banyu bukannya seseorang yang kutu buku, hanya aja cowok itu menyukai tempat yang sepi seperti perpustakaan, dan bisa dibilang cukup menyukai buku.
Sudah sering terjadi Banyu lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, hanya memakan satu bungkus roti untuk mengganjal perut dan fokus bersama satu buah buku di tangannya.
Tentu saja Stella sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Bagian yang menyebalkannya hanya satu. Kalau sudah membaca buku, Banyu seakan tidak peduli dengan sekitarnya. Cowok itu akan tenang dan terlihat fokus. Bahkan ia yakin kalaupun ada gempa bumi, Banyu tidak akan terganggu. Ya, cowok itu tidak akan merasa terganggu, karena dirinyalah yang justru tidak menyukai hal itu.
"Banyu, ayo udahan baca bukunya! Mendingan kamu temenin aku makan aja di kantin. Nanti aku traktir, deh. Kamu boleh makan sepuas kamu." Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Berharap Banyu akan tergoda dengan tawarannya. "Kapan lagi coba makan sama cewek secantik aku terus ditraktir pula. Cuma kamu doang tahu yang dapat kesempatan ini secara terus-menerus. Udah gitu akunya gak pernah bosan lagi."
Namun, lagi-lagi Stella diabaikan.
Satu sekolah tahu bahwa di mana ada Stella, maka di situ akan ada Banyu. Mereka itu ibarat couple goals-nya sekolah mereka, meskipun pada dasarnya tidak ada hubungan apa pun di antara mereka kecuali pertemanan. Tidak bisa dilebihkan dan tidak kurang. Sebutan aku-kamu, perhatian yang sering mereka tunjukkan, juga fakta bahwa keduanya selalu bersama, hanya sebatas kekompakan di antara mereka. Stella tidak suka sendirian dan Banyu tidak suka membiarkan Stella sendirian.
"Padahal cuma aku tinggal ke toilet, tapi kamu setega itu sampai ninggalin aku ke perpustakaan. Nanti predikat couple goals yang udah disandang kita bakal dicabut tahu, Banyu."
Mungkin Banyu tuli, mungkin juga karena terlalu fokus membaca buku sehingga suara orang yang ada di sekitarnya hanya dianggap angin lalu. Dan ia tidak perlu mempedulikan hal itu.
Kali ini Stella dibuat sampai menghentakkan kakinya karena kesal. Ia tidak menyukai buku, karena benda berupa lembaran kertas itu sudah sering sekali merebut Banyu darinya.
"Males banget gue sama lo. Terserah kalau lo gak mau makan. Biar gue makan sendirian di kantin. Dan lo mesra-mesraan aja terus sama buku-buku yang ada di sini. Kalau perlu nginep sekalian biar chemistry di antara kalian makin erat."
Barulah Banyu mengalihkan pandangannya. Ia menatap Stella yang seketika langsung menegakkan tubuh melihatnya yang menutup buku.
"Apa?" tanya Banyu. "Kamu ngomong apa barusan?" tanyanya tenang.
Dulu sekali, saat Banyu dan Stella masih duduk di bangku SMP. Banyu pernah bertanya pada Stella panggilan apa yang diinginkan gadis itu. Aku-kamu yang membuat pertemanan terasa lebih hangat? Atau lo-gue yang membuat hubungan lebih terbuka dan blak-blakan? Tapi dengan tenangnya Stella mengatakan bahwa ia lebih menyukai sebutan aku-kamu. Katanya, Banyu terasa seperti memprioritaskan dirinya ketika memakai sebutan itu. Karena ia dibedakan dengan teman-temannya yang lain.
Pada akhirnya kesepakatan itu disetujui oleh Banyu dan Stella. Dan jika ada saatnya mereka mengganti sebutkan aku-kamu dengan sebutan lo-gue, itu artinya ada di antara mereka yang sedang marah.
"Gak tau!" sungut Stella melipat kedua tangannya di depan d**a.
Dari situ saja Banyu tahu bahwa Stella sedang marah padanya. Langsung saja ia meletakkan kembali buku yang sempat diambilnya ke tempat semula. Memfokuskan dirinya hanya pada Stella seorang.
"Lagian kalau kamu mau makan, ya, makan aja. Gak perlu sama aku, 'kan?"
"Perlu, dong!" sergah Stella cepat.
"Gak perlu. Kamu tahu pasti letak kantin ada di mana. Kamu juga punya banyak teman selain aku. Jadi kalau ke mana-mana itu gak harus sama aku, 'kan?"
"Banyu!" Stella berkacak pinggang. Menggeleng tidak habis pikir. "Aku itu gak mau makan kalau gak sama kamu. Lagian teman-teman kita juga tahu kalau aku cuma makan di kantin, ya, kalau ada kamu. Jadi kamu juga pasti tahu kalau mereka gak akan ajak aku makan karena aku pasti gak mau."
Banyu menghela napas panjang. Mungkin karena terbiasa menghabiskan waktu dengannya, Stella jadi lebih bergantung hanya padanya saja. Stella bukan gadis pendiam. Di kelas, ia justru banyak berbicara dengan temannya yang lain selain Banyu. Tapi jika sudah di luar kelas, hanya Banyu yang diinginkan Stella.
Gadis itu tidak manja sebenarnya, hanya saja sifatnya yang mudah kesal dan selalu mau dituruti membuat Banyu terkadang ingin melihat Stella bergabung dengan teman-temannya yang lain.
"Kalau emang cuma mau makan sama aku, kenapa kamu gak beli roti di kantin terus bawa ke perpustakaan? 'Kan bisa makan sama aku jadinya."
Stella mendengkus. Apa enaknya makan di kantin sekalipun itu bersama Banyu? Yang ada di hanya akan melihat Banyu terus sibuk bersama bukunya sementara dirinya makan sendiri.
"Tapi 'kan aku gak mau makan roti. Aku mau makan mie ayam, bakso, sama batagor. Dan kalau makan itu semua udah pasti gak bisa dibawa ke perpus, dong."
"Banyak amat," komentar Banyu mendengar beberapa makanan yang disebutkan oleh Stella, "emangnya gak takut gendut?"
"Enggak!" Stella menjawab percaya diri, "takut kok sama gendut. Takut itu seharusnya sama buku yang sering banget ngambil waktu kamu sama aku."
Banyu langsung tergelak mendengar kalimat Stella. Terlebih karena gadis itu berbicara dengan wajah serius seolah sedang berhadapan dengan wanita cantik bertubuh semampai yang akan merebutnya.
***
Lima menit kemudian, Banyu dan Stella sudah ada di pintu kantin. Pada akhirnya Banyu memang selalu kalah dan tidak bisa melawan Stella. Selalu dirinya yang berakhir duduk di meja kantin, sedangkan Stella tidak pernah menemaninya makan di perpustakaan.
"Makan di kantin itu berasa kayak lagi makan di tengah pasar gak, sih? Selalu aja seramai ini."
Banyu geleng-geleng kepala melihat suasana kantin yang padat sekali. Bukan karena semua siswa berjubel di setiap sudut kantin sehingga tidak menyisakan celah untuk orang berjalan, tapi karena setiap meja yang ada di kantin terlihat penuh semua.
"Kalau kamu gak mau ramai, ke sininya hari Sabtu atau Minggu pas sekolah libur. Jangankan ramai, malahan gak bakal ada orang di sini."
"Ngapain juga makan di kantin pas hari Sabtu atau Minggu. Udah tahu itu hari libur. Cuma orang bego yang mau datang ke sekolah cuma buat makan di kantin."
Stella menatap Banyu dongkol. Selalu saja berhasil mengatakan setiap hal dengan nada tenang nan menjengkelkan. Membuatnya gemas dan ingin mengantongi Banyu agar cowok itu tidak perlu banyak berkomentar dan ikut saja dengannya.
Daripada Banyu berbicara lebih banyak lagi, dan jam istirahat berakhir begitu saja tanpa sempat makan, Stella memilih menggandeng tangan Banyu kemudian menarik paska cowok itu karena gandengannya. Makanya berlari ke kanan dan kiri untuk mencari tempat duduk kosong. Begitu melihat empat orang siswa berdiri dari kursi yang berada di dekat jendela, langsung saja Stella menarik tangan Banyu menuju kursi tersebut.
Sesampainya di kursi, Stella langsung mendudukkan Banyu. Menumpuk mangkuk yang berada di dekatnya menjadi satu. Memudahkan siapa pun penjual yang nanti akan mengambilnya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku pesenin. Bakso? Batagor? Mie ayam? Mie instan rebus? Mie instan goreng? Atau apa?" Stella bertanya sambil mengabsen beberapa makanan.
"Mie instan rebus rasa soto," sahut Banyu.
Waktu istirahat masih ada kurang lebih lima belas menit lagi. Jika memakan bakso atau mie ayam, Banyu tidak yakin bahwa waktu lima belas menit akan cukup. Terlebih karena bakso dan mie ayam adalah dua makanan yang harus dinikmati tanpa terburu-buru. atau nanti akan terancam kehilangan kenikmatan dari dua makanan tersebut.
Kalau batagor? Tentu saja bisa dihabiskan dalam waktu kurang dari lima belas menit, tapi Banyu tidak akan memesan makanan yang satu itu. Alasannya hanya satu, karena batagor adalah makanan favorit Stella. Gadis itu tidak akan cukup jika makan satu piring saja. Dan sudah pasti pada akhirnya waktu yang tersisa dari jam istirahat tidak akan cukup.
Jadi, Banyu memilih mie instan saja. Makanan yang disukai sejuta umat. Hemat, praktis, dan bisa dinikmati di mana saja. Pokoknya mie instan adalah satu-satunya makanan yang menurut Banyu tetap bisa dinikmati di waktu yang sempit sekalipun. Terlebih lagi jika mie di dalam cup.
"Ah, kamu mah gak seru." Stella mengeluh sambil cemberut, "aku 'kan mau makan bakso, masa kamu maunya makan mie instan rebus?"
"Ya, masa aku harus ngikutin makanan yang mau kamu makan? Gak mau lah. Sekarang aku lagi mau makan mie instan."
"Tapi kalau mie instan aku traktir kamunya gak sampai sepuluh ribu, dong."
Banyu menggeleng pelan. "Gak perlu ditraktir. Aku bisa bayar sendiri."
"Tapi nanti kita gak dipanggil couple goals lagi karena selera makan kita beda."
"Stella!" panggil Banyu mulai kesal.
Stella tergelak lihat reaksi Banyu. Karena jam istirahat yang semakin sempit, ia langsung berdiri dan segera berlari untuk memesan makanan. Memilih ikut memesan mie instan seperti Banyu agar cepat habis dan bisa beristirahat sejenak di kantin. Setidaknya tidak langsung berlari jika bel masuk berbunyi.