"Banyu, mampir dulu sini ke rumah aku!"
Stella menarik tangan Banyu agar cowok itu segera turun dari motor. Keduanya baru sampai di depan rumah Stella tidak sampai satu menit yang lalu. Stella langsung melompat begitu saja dan memaksa Banyu agar mampir ke rumahnya.
Lalu, Banyu hanya menanggapi hal tersebut dengan gelengan kepala. Ia membuka kaca helmnya kemudian memandang rumah Stella yang berada di belakang tubuh Stella, kemudian bergantian memandang rumahnya yang berada di samping kanan rumah Stella. Artinya, kalaupun ia mau mampir, tidak perlu disuruh maka ia akan datang sendiri.
"Gak usah, deh. Aku gerah banget, jadi mau langsung mandi aja."
"Kamu 'kan bisa mandi di rumah aku. Kalau perlu bisa juga mandi bareng sama aku." Stella nyengir lebar. Membuat Banyu memutar mata. Selalu saja candaan yang sama. Hal itu Stella lakukan agar Banyu mau turun dari motornya dan mampir ke rumahnya.
"Di rumah kamu 'kan gak ada siapa-siapa. Papa kamu pasti masih di kantor, terus Mama kamu juga masih di butik."
Stella menyebutkan kesibukan kedua orang tua Banyu yang tidak pernah ada di rumah jika siang hari. Hal itu membuat Banyu lebih sering menghabiskan waktu di rumah Stella, daripada di rumahnya sendiri. Dan itu sudah Banyu lakukan sejak dirinya pindah ke samping rumah Stella saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Sekitar enam tahun lalu.
"Tapi kalau aku di rumah, seenggaknya aku bisa mandi terus ngerjain tugas sebelum Maghrib. Soalnya bakal lain ceritanya kalau aku udah mampir ke rumah kamu. Yang ada aku bakal berjam-jam di sana terus lupa kalau hari ini ada tugas sekolah yang harus dikerjain."
"Kenapa sih setiap kali diajak mampir kamu selalu banyak ngomong? Padahal tinggal ikut aja, enggak usah kebanyakan komentar. Lagian kalau ada tugas sekolah itu gak perlu dikerjain langsung, kok. Kalau tugasnya dikasih hari ini, kamu bisa ngerjainnya nanti sebelum dikumpulin atau malah pas udah di sekolah. Simpel, 'kan?"
Tahu bahwa berbicara dengan Stella hanya akan berakhir dengan kemenangan di tangan gadis itu, Banyu memilih menyalakan mesin motornya yang tadi sempat dimatikan. Ia melepaskan tangan Stella yang masih memegang tangannya.
"Ih, Banyu! Kok motornya malah dinyalain lagi? Jangan pulang! Mendingan main di rumah aku aja. Please..."
Banyu memasukkan gigi, dan motornya kembali berjalan. Meninggalkan Stella yang cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Di depan gerbang, Banyu kembali mematikan mesin motor. Berjalan untuk membuka gerbang rumahnya, dan memilih mendorong motornya ke halaman tanpa dinaiki lagi.
Kunci motor yang masih menggantung Banyu cabut. Ia melepas helm dan meletakkannya di atas tangki motor. Melihat Stella yang masih berdiri dengan helm yang dikempit di tangan kanan, Banyu hanya terkekeh. Nampaknya helm tersebut dilepas saat dirinya pergi dari hadapan gadis itu. Langsung saja ia berjalan keluar dari gerbang rumahnya dan menghampiri Stella.
Wajah Stella yang awalnya merengut, berubah dengan cepat. Gadis itu memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Langsung menggandeng tangan Banyu yang berdiri di depannya.
"Kira-kira hari ini enaknya kita ngapain, ya?" Stella bertanya layaknya anak kecil yang sedang mengajak teman sepermainannya.
Banyu menoleh ke samping. Melihat bagian samping wajah Stella. "Emangnya kita pernah ngelakuin kegiatan lain selain ngobrol-ngobrol gak jelas sampai malam di kamar kamu atau streaming film?" tanyanya.
"Enggak, sih." Stella menggeleng sambil nyengir.
Keduanya melewati gerbang rumah Stella yang sudah terbuka. Berjalan di halaman rumahnya yang luas, menaiki anak tangga sebelum akhirnya sampai di pintu utama. Stella menarik tangannya. Mendorong pintu kemudian berteriak keras.
"Mama! Mama!"
Banyu yakin suara teriakan Stella bahkan bisa didengar sampai satu kompleks. Selang beberapa detik setelah teriakan itu, terdengar suara derap langkah terburu-buru. Sudah pasti itu adalah ibu Stella. Anggun namanya. Dan dengan namanya, wanita dengan tubuh semampai muncul tak lama kemudian. Rambut hitam panjangnya bergoyang-goyang saat berlari menghampiri putrinya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Anggun.
Banyu heran. Heran sekali. Padahal hampir setiap hari Stella selalu berteriak jika baru sampai rumah. Seharusnya itu sudah biasa bagi ibu Stella, tapi wanita itu selalu memberikan reaksi yang sama setiap harinya. Panik sambil berlari-lari mencari sumber suara. Membuatnya selalu menggeleng tidak habis pikir setiap kali melihatnya. Seperti sekarang.
"Gak ada apa-apa kok, Ma. Aku cuma manggil Mama aja." Stella mengedikkan bahunya acuh. Tidak merasa berdosa atas apa yang ia lakukan.
"Kalau cuma manggil kenapa harus teriak-teriak? Lagian kalau baru pulang sekolah itu harusnya kamu ngasih salam bukannya malah teriak-teriak kayak Tarzan. Kamu ini selalu aja bikin Mama spot jantung. Mama panik tahu kalau dengar kamu teriak-teriak. Lagian emang kamu gak malu sama Banyu?" Anggun yang tadinya sedang menatap Stella, kini beralih menatap Banyu. "Banyu pasti risih banget punya temen yang cerewet kayak kamu. Gak tahu malu, suka teriak-teriak gak jelas, udah gitu selalu aja mau menang sendiri."
"Mama!" Stella melotot, "tega banget jelek-jelekin anaknya sendiri di depan orang lain. Gak kasian sama aku? Nanti kalau Banyu beneran ilfeel terus aku gak punya sopir pribadi lagi gimana?"
Hal itu justru membuat Banyu kesal. Ia menjitak kepala Stella begitu saja. Tidak peduli bahwa dirinya sedang berada di depan ibu Stella sendiri. "Jadi selama ini kamu cuma nganggep aku sopir pribadi?" sungutnya tidak percaya.
"Enggak, kok." Stella menggeleng, "enggak salah maksudnya. Soalnya selain jadi sopir pribadi, kamu juga jadi pengasuh aku."
Emosi, Banyu memilih memutar tubuhnya. Hendak kembali ke rumahnya, tapi tentu saja itu tidak terjadi. Karena lagi-lagi Stella menarik tangannya. Menggandengnya dengan erat.
"Jadi manusia kok baperan banget? Aku 'kan cuma bercanda. Maaf, Banyu." Stella bersandar di bahu Banyu.
Anggun hanya mampu terkekeh geli melihat interaksi antara putrinya dan Banyu. Orang pertama yang begitu dekat dengan putrinya.
"Udah-udah, gak usah berantem. Kalian ini selalu aja kayak anak kecil kalau udah ketemu."
Anggun memilih kembali memutar tubuh dan membiarkan keduanya. Sementara itu Stella langsung menarik tangan Banyu menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Membiarkan Banyu bebas duduk di mana saja begitu ada di dalam kamarnya.
Ruangan luas bernuansa biru muda itu selalu nyaman untuk Banyu. Mungkin karena terlalu banyak hari yang ia habiskan di kamar Stella.
Selain itu, Stella juga selalu memiliki seribu cara untuk menyeret Banyu agar mau menghabiskan waktu sore di kamarnya sepulang sekolah. Selain karena dirinya orang yang mudah bosan jika sendirian, ia juga tidak suka melihat Banyu hanya sendirian di rumahnya. Kesepian dan hanya bisa planga-plongo karena tidak tahu harus melakukan apa. Bukankah itu artinya ia sangat baik karena selalu menemani Banyu sebelum orang tua Banyu pulang?
Jadi, bisa dibilang kedekatan keduanya sama-sama saling menguntungkan. Kehadiran Banyu tidak pernah membuat Stella bosan, sementara Banyu menjadi tidak kesepian karena selalu direcoki oleh Stella.
"Oh, iya. Buat tugas hari ini, kalau nanti kamu udah selesaiin tugasnya, tolong bagi-bagi sama aku. Berbagi rezeki itu sama artinya dengan mencari pahala."
Ah, ya. Banyu lupa. Biar ia sebutkan bagaimana sebenarnya sifat Stella yang tadi tidak sempat disebutkan oleh ibu Stella. Selain tidak tahu malu, suka teriak-teriak tidak jelas, dan selalu mau menang sendiri, Stella juga sangat malas. Gadis itu tidak bodoh, tapi hampir tidak pernah mengerjakan tugasnya sendiri. Biasanya Stella akan menyalin tugas Banyu, dan sebagai imbalannya, Stella mau mentraktir Banyu apa saja yang diinginkan Banyu. Meskipun pada akhirnya Banyu selalu memberikan tugasnya cuma-cuma.
"Bukannya aku udah sering banget bilangin kamu, kalau mau buka baju itu seharusnya di kamar mandi kalau gak di saat kamarmu itu sepi." Banyu hampir saja melemparkan sepatunya ke arah Stella yang sedang membuka kancing baju.
Bukannya menjawab atau melaksanakan apa yang Banyu katakan, Stella justru dengan tenangnya meneruskan membuka kancing baju. Begitu terbuka semuanya, ia melepaskan tas punggung yang memang belum dilepaskan. Melempar tasnya tersebut ke atas ranjang lantas menanggalkan pakaiannya. Kini yang tersisa di tubuh Stella hanyalah rok pendek dan tanktop berwarna abu-abu yang menutupi bagian atas tubuhnya.
Dengan lempengnya Stella justru berkata, "Gak usah malu-malu. Padahal kalau kamu mau raba juga boleh. Aku 'kan teman kamu. Jadi udah pasti aku kasih kalau buat kamu."
"Siapa juga yang tertarik sama cewek malas kayak kamu. Jangankan ngeraba, aku bahkan gak minat sama sekali."
Stella tertawa terbahak-bahak. Memang benar, entah Banyu itu penyuka sesama jenis atau tidak pernah tertarik padanya. Setiap kali ia memakai pakaian seksi, Banyu tidak pernah tergugah sama sekali.
Setelah melepaskan sepatu dan kaos kakinya, Stella berjalan ke arah ranjang dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Menarik laptopnya yang berada di atas nakas kemudian membuka laptop tersebut dengan posisi tengkurap.
Banyu hanya bisa menghela napas. Ia melihat sepatu Stella yang tergeletak sembarangan di dekat kursi bersama dengan kaus kaki berwarna putih yang juga berada di lantai. Kemeja gadis itu tersampir di sandaran kursi. Dan kini, Stella dengan enaknya justru lesehan di atas ranjang. Benar-benar perawan jadi-jadian.
"Stella, jangan mentang-mentang anak tunggal, kamu pikir jadi bisa bersikap seenaknya, ya. Anak perempuan itu harus rapi."
Banyu berjalan ke tempat di mana sepatu Stella berada. Ia menggantikan tugas gadis itu. Mengambil sepasang sepatu Stella bersamaan dengan kaus kaki yang dimasukkan ke dalam sepatu. Sepatu itu Banyu letakkan di rak sepatu yang berada tak jauh dari posisi pintu masuk. Banyu bahkan mengambil kemeja Stella untuk digantung dan diletakkan di belakang pintu.
"Kalau nanti punya pacar, kamu pasti langsung diputusin pas pacar kamu tahu seberapa malasnya kamu." Banyu melirik Stella. Gadis itu masih anteng sambil menggerakkan kakinya naik turun.
"Banyu, sekarang mau nonton kartun apa?" tanya Stella di depan laptop menyala.
"Aku mau pulang aja," sahut Banyu memutar tubuhnya hendak keluar dari kamar Stella.
Hal itu sontak saja membuat Stella beringsut turun dari ranjang. Membiarkan laptopnya yang terbuka kemudian berlari cepat menghadang langkah Banyu.
"Ngapain pulang?" Stella bertanya dengan kedua tangan terentang. Menghalangi Banyu.
Dengkusan halus lolos dari mulut Banyu. "Kalau kamu gak mau aku pulang, mendingan rapiin dulu semua barang kamu yang dipakai ke sekolah." Ia menatap Stella bosan.
"Tadi 'kan udah." Stella tersenyum. Memasang wajah sok manisnya, "kamu yang rapiin," sambungnya mengingat kelakuan Banyu yang merapikan kemeja dan juga sepatunya.
"Aku lakuin itu karena kamu gak pernah ngelakuin hal itu. Tapi kalau kayak gini terus, lama-lama kamu gak akan pernah bisa hidup mandiri. Bisamu cuma ngandelin orang lain dan pasang muka sok polosmu itu."
"Banyu!" panggil Stella. "Aku itu 'kan emang polos dan gemesin."
"Terserah!"
Banyu kembali melangkah, tapi lagi-lagi Stella bergerak lebih cepat untuk menghadang.
"Oke-oke!" Stella mengalah. Ia menuruti permintaan Banyu untuk merapikan semua barang-barangnya.
Banyu hanya memperhatikan saat Stella berjalan ke arah ranjang kemudian mengambil tasnya. Gadis itu menggantungkan tasnya di tempat gantungan tas yang berada di dekat meja belajar. Dan karena masih mengenakan seragam sekolah, Stella meloloskan rok yang melekat di pinggangnya. Turut menggantungkan roknya dan menaruhnya di gantungan yang sama saat Banyu menaruhnya di belakang pintu.
Sekarang, yang tersisa di tubuh Stella hanyalah tank top berwarna abu dan celana pendek ketat dengan warna serupa. Menambah tingkat kegeraman Banyu.
"Udah, 'kan? Yuk kita nonton kartun! Kamu mau nonton film apa?" tanya Stella polos.
"Apa gak bisa pakai baju dulu?" tanya Banyu datar.
Stella menggeleng sambil mendengkus. "Banyak banget komentar, deh. Kita 'kan baru pulang sekolah. Gerah tau!" sungutnya kesal.
Namun, sayangnya Banyu tidak sebodoh itu. Jelas-jelas kamar Stella adalah kamar dengan air conditioner. Tidak akan ada istilah gerah atau panas yang bisa digunakan sebagai alasan.
"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus pakai baju, Stella!"
Stella yang awalnya terlihat malas justru berubah menjadi semangat. Bukan karena ingin memakai baju sesuai perintah Banyu, tapi karena perkataan Banyu.
"Jangan-jangan kamu takut khilaf, ya?" goda Stella menaik-turunkan alisnya.
Sumpah demi apa pun Banyu bukannya takut khilaf, ia hanya gerah dengan tingkah Stella yang sebegitu mudahnya memamerkan tubuhnya di depan laki-laki.
"Gak usah aneh-aneh. Buruan pakai baju kamu atau aku balik sekarang juga?" Banyu memberikan pilihan.
Tentu Stella memilih yang pertama. Ia segera berlari ke arah lemari. Membuka lemari tersebut dan menarik kaus secara asal. Bukannya memilih kaus yang berada di bagian teratas tumpukan, Stella justru mengambil kaus di tengah tumpukan. Karena tarikannya, tumpukan kaus yang tadinya rapi langsung berantakan begitu saja.
Lalu Stella? Gadis itu tidak mempedulikannya sama sekali. Stella justru langsung memakai kausnya dan kembali ke ranjang. Meminta Banyu untuk ikut naik.
Ya, begitulah Stella.