Dua Tahun Silam -13

2008 Words
Geovan menggedor-gedor pintu seng yang menghubungkan tangga dengan atap. Suara nyaring lembaran seng yang digunakan sebagai lapisan pintu memekakkan telinga. "Kak Julian! Buka Kak!" Seru Geovan keras. Beberapa guru dan petugas kebersihan datang dengan membawa kunci cadangan. Mereka semua meminta Geovan untuk langsung menarik Julian begitu pintu seng tersebut dibuka. Geovan menyetujui hal tersebut. Beberapa guru sempat menanyakan padanya apakah ia kenal dekat dengan Julian karena Geovan memakai seragam dengan bedge tahun pertama sementara Julian menggunakan seragam dengan bedge tahun ketiga. Memang tidak ada yang aneh dengan saling mengenal antara adik kelas dan kakak kelas, namun posisi Geovan masih murid yang baru saja selesai orientasi belum lama ini sehingga mungkin beberapa guru penasaran bagaimana Geovan bisa begitu nekat naik ke atap untuk menyelematkan Julian. "Geovan, kamu siap 'kan?" Geovan mengangguk. Salah satu petugas kebersihan telah membuka kunci pintu tersebut. Dalam hitungan ketiga, Geovan harus langsung lari dengan cepat dan mencapai tubuh Julian. Beberapa guru di bawah sudah memanggil pemadam kebakaran untuk menyediakan bantalan agar ketika yang di atas terlambat menarik Julian, maka tubuh Julian tidak akan langsung jatuh ke halaman paving. Sayang sekali, memanggil petugas seperti itu tidak selalu berjalan lancar sehingga para guru juga tidak bisa mengharapkan dengan sepenuhnya. Begitu pintu dibuka, Geovan langsung melesat berlari menuju Julian yang berdiri di undakan paling atas di luar pagar pembatas. Geovan langsung menarik lengan Julian yang tiba-tiba berusaha untuk melompat karena melihat Geovan datang. Geovan berhasil menangkap pergelangan tangannya. Ia nyaris ikut tertarik jatuh karena kakinya terpeleset ketika hendak meraih tangan Julian. Geovan menggertakkan giginya dan berusaha untuk menarik pergelangan tangan Julian. Beberapa guru yang datang berusaha untuk ikut meraih lengan Julian namun pemuda kelas dua belas itu malah berusaha menarik dirinya. Perut Geovan tertekan pada besi pembatas karena berusaha menahan beban tubuh Julian. Belum lagi, kakak kelasnya itu terus menggerakkan tangannya sendiri sehingga tubuh Geovan berkali-kali ikut tertarik. "Kak Julian!" Seru Geovan keras. Julian tersenyum tipis. "Bye, bye, Geovan." Bisiknya pelan sebelum pemuda itu mencakar telapak tangan Geovan yang berusaha menariknya. Geovan secara reflek melepaskan pegangannya. Beberapa guru dan petugas kebersihan yang sejak tadi berusaha menahan tubuh Geovan agar tidak ikut jatuh termasuk beberapa lainnya menyiapkan tali pengaman untuk bergelantungan meraih tubuh Julian juga tidak berhasil. Geovan nyaris ikut jatuh karena tarikan Julian. Beruntung tubuhnya ditahan oleh beberapa orang dan ditarik ke belakang. Geovan jatuh terduduk bersama dengan beberapa guru yang menahannya. Pikirannya terasa sangat kosong. Ia melihat dengan jelas tubuh Julian yang jatuh membentur paving halaman. Suara berdebum keras dan teriakan murid-murid lainnya begitu memekakkan telinga. Geovan menggigit bibirnya. Ia ingin sekali berteriak melampiaskan seluruh rasa frustrasinya. Beberapa guru yang ada di sana langsung bergegas menghubungi ambulans dan kepolisian untuk mengurus tubuh Julian yang jatuh. Geovan mendapatkan beberapa tepukan di bahunya dari orang-orang di sana sebelum mereka semua berlalu pergi untuk mengurus Julian. Geovan benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar lagi. Mengapa? Julian Purnomo tidak memiliki alasan untuk melakukan bunuh diri bukan? Apa yang terjadi kepada kakak kelasnya itu? Apakah Julian memilih mati karena Geovan mendesaknya untuk bicara? Geovan berlari turun dari atap. Ia bertemu Chima di bawah tangga. Wajah gadis itu tampak sangat pucat. Geovan bisa menebak apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Mereka berdua jelas-jelas terkejut dengan apa yang terjadi. Julian tiba-tiba memutuskan untuk mengakhiri hidupnya begitu saja, dan hal itu bertepatan setelah Geovan dan Chima menanyakan mengenai barang milik Sandra Widya yang dimiliki olehnya. Geovan dan Chima tidak bisa menghindar dari rasa bersalah. Keduanya jelas-jelas merasa menjadi penyebab mengapa Julian mengakhiri hidupnya. Apakah Julian benar-benar membawa flashdisk milik Sandra Widya? Jika benar, lantas mengapa ia harus mengakhiri hidupnya sendiri? "Apa Kak Julian bunuh diri karena kita?" Tanya Geovan lemas. Chima menggeleng pelan. "Entahlah, aku juga nggak paham. Apakah kita terlalu menekankan Kak Julian sampai-sampai dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri." "Tapi kita nggak pernah mengancam Kak Julian sama sekali. Apakah ini wajar?" "Aku nggak tahu Ge. Ambulans dan kepolisian sudah datang sejak tadi. Kuharap nyawa Kak Julian selamat." Geovan mengangguk. Mereka sama sekali tidak tahu jika Julian berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Sungguh, jika ini benar-benar karena permainan Geovan dan Chima tentang barang yang merupakan milik Sandra Widya, maka Geovan dan Chima tidak akan pernah lepas dari rasa bersalah. Geovan mengacak-acak surai kelamnya. "Aku merasa seperti seorang pembunuh secara tidak langsung karena semua ini." Chima menghela napas. "Kita berdua." Geovan dan Chima pergi dari area tersebut. Jam pelajaran menjadi terganggu karena keributan yang terjadi. Insiden bunuh diri Julian langsung ramai dibicarakan. Kebanyakan mengatakan bahwa Julian stress karena tekanan pihak sekolah pada forum jurnalistik yang tak terkendali. Setiap hari selalu ada àib pengurus OSIS yang disebarkan, dan Julian sebagai ketua sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berusaha menghentikannya. Rumor terus merebak ke berbagai hal tanpa bisa dicegah. Sekali lagi, atap sekolah menjadi tempat terkutuk karena usaha bunuh diri murid SMA Utama. Memang belum ada kepastian dari rumah sakit apakah Julian Purnomo selamat atau tidak, namun melihat bagaimana kondisi mengenaskan tubuh pemuda kelas dua belas itu, berharap terlalu tinggi rasanya juga sama saja seperti membawa diri kepada patah hati. Apa yang terjadi pada forum jurnalistik sekolah sebenarnya bukan kesalahan Julian. Julian Purnomo tidak tercatat sebagai pengurus OSIS. Dia juga sama sekali tidak tahu secara sebenarnya mengenai kegiatan OSIS yang berujung dengan perundungan kepada adik kelas. Hanya kemudian, pembalasan kepada pengurus OSIS itu muncul di forum jurnalistik di mana Julian Purnomo adalah ketuanya. Julian Purnomo juga berteman dengan anak-anak OSIS. Sejak keributan itu viral sampai keluar sekolah, ekskul jurnalistik yang sudah benar-benar vakum tetap tidak bisa meredam semuanya. Julian Purnomo menjadi satu-satunya orang yang setiap hari masih memeriksa forumnya. Dia juga bukannya tanpa usaha. Sudah banyak ia membayar orang-orang yang lebih pintar dalam mengurus hal-hal seperti itu namun semuanya nihil. Dia jelas sangat tertekan dengan tanggung jawabnya sebagai ketua dan beban belajarnya sebagai murid kelas dua belas. Dipikirkan seperti apapun, Julian Purnomo jelas memiliki alasan untuk melakukan bunuh diri. O||O Geovan dan Chima duduk di halaman belakang sekolah. Rasanya, setiap kali mereka berdua menemui masalah dan kebingungan bagaimana menyelesaikannya, halaman belakang sekolah selalu menjadi destinasi untuk mengeluh dan menghela napas tanpa melakukan apapun. Area itu sangat tenang meski jelas tidak layak untuk dikunjungi. Untuk orang-orang kaya seperti murid-murid lain di sekolahnya, halaman belakang hanya seperti tempat mengumpulkan sampah sebelum diangkut oleh truk sampah tiap sore. Geovan dan Chima sebenarnya juga bukannya senang dengan pemandangan atau apapun di sana. Semua itu sekadar untuk menenangkan diri karena memang sejauh ini hanya mereka yang duduk-duduk di sana. "Bagaimana ini Geo?" Tanya Chima tiba-tiba. Geovan terkekeh. "Kayaknya kamu nanya ke orang yang salah. Kita sama-sama buntu Chima." "Belum selesai masalah Kak Sandra, dan sekarang Kak Julian juga melakukan hal yang sama." "Tapi Kak Julian jelas-jelas bunuh diri, bukan dibunuh lalu dibuat seakan-akan bunuh diri." Chima mengangguk. "Tapi bisa jadi Kak Julian terpaksa melakukannya karena ia menerima ancaman." "Hah?" "Aku nggak tahu, ini hanya kemungkinan saja meski terdengar agak mengada-ada. Kak Julian itu anak dari pebisnis sukses, aku rasa jika seseorang mengancam dirinya dengan mengungkit tentang reputasi keluarganya, Kak Julian akan mudah dipengaruhi." Geovan menggeleng keras. "Kamu gilà ya? Kalau ada yang mengancam Kak Julian, aku yakin keluarga Kak Julian akan langsung membereskan orang-orang itu." "Itu jika Kak Julian mengatakan yang sebenarnya kepada keluarganya. Selain itu, kita juga nggak tahu kan hubungan Kak Julian dengan keluarganya sedekat apa. Orang-orang kaya tidak selalu dekat dengan anak-anak mereka tahu! Kalau melihat bagaimana karakter Kak Julian selama ini, perilakunya, dan penampilannya, dia itu tampak seperti seseorang yang selalu memiliki determinasi mengenai kehidupannya. Dia membatasi segala hal, dan tidak ingin membuat dirinya melewati batas yang telah ada. Seolah, seluruh hidupnya berada di lingkaran yang menjadi batas aman untuk dirinya bertindak. Sekali saja Kak Julian mencoba keluar, maka seperti inilah jadinya." Geovan mendesah keras. "Aku sama sekali nggak paham sama anak-anak kaya." "Kesampingkan soal itu, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk kelanjutan flashdisk Kak Sandra?" "Mana aku tahu. Otakku benar-benar buntu. Farhan hanya mengatakan bahwa Kak Sandra ribut dengan Kak Julian. Tidak ada orang lain lagi di ruang ekskul jurnalistik hari itu. Apa mungkin Kak Julian sengaja menjatuhkan dirinya sendiri agar semua fakta itu tersimpan dan dibawa olehnya sampai mati? Jika Kak Julian mati, maka tidak akan ada lagi orang-orang yang berusaha mengungkap kejadian yang sebenarnya karena tidak ada saksi lain." "Tapi mengapa? Jika Kak Julian bukan pelaku, mengapa ia harus mengorbankan dirinya sendiri sampai mati?" Chima menghela napas. "Itu yang aku enggak tahu." Geovan dan Chima kembali larut dalam pikiran masing-masing. Sampai kapan pun, rasanya semua ini tidak ada akhinya. Geovan dan Chima lelah setiap hari harus berdiskusi tanpa melakukan sesuatu yang pasti. Setiap kali mereka mendapatkan petunjuk, selalu ada hal lain yang menghalangi. Seperti, dunia sama sekali tidak merestui mereka untuk mengungkap segalanya. Seandainya nyawa mereka tidak terancam, Geovan dan Chima tidak akan bersusah-payah melakukan hal merepotkan ini. Maaf saja, baik Geovan atau pun Chima sama-sama tidak berminat untuk mati, dan jalan satu-satunya adalah dengan mengungkap semuanya. Geovan menjentikkan jemarinya. "Bagaimana kalau kita—Chima? Kenapa?" Geovan mengernyit bingung ketika Chima menatap Geovan—atau bukan? Dengan melebarkan matanya. "G-Geo.... Di belakangmu!" Seru Chima keras. Geovan menoleh, dan melebarkan matanya ketika melihat sebilah pisau diarahkan kepadanya dengan sangat cepat. Geovan sekali lagi bersyukur dengan reflek tubuhnya yang sudah terlatih sejak kecil. Ia menghindari pisau tersebut meski agak sedikit terlambat. Pipi kirinya tergores dan meneteskan darah. "Chima, lari!" Seru Geovan keras. Tidak hanya ada satu orang yang datang. Kali ini benar-benar dua orang yang mengincar mereka. Mereka berdua memakai pakaian yang sama. Geovan yang tidak fokus dan sedang berusaha untuk menyelamatkan Chima diterjang oleh pria tersebut. Tubuh Geovan ambruk terlentang sembari menahan serangàn laki-laki itu. Geovan memegangi pergelangan tangan laki-laki itu yang berusaha untuk menusukkan pisau ke wajah Geovan. Ujung tajam pisau tersebut hanya berjarak beberapa senti dari mata Geovan. Sinar matahari yang panas membuat bilah pisau tajam itu tampak berkilau di dekat mata Geovan. "Seharusnya kau menjauh." Deg. Jantung Geovan berdetak dengan kencang. Ini adalah pertama kalinya Geovan mendengar laki-laki itu berbicara. Sejak pertama kali ia mengejar-ngejar Geovan dan Chima, sama sekali tidak ada suara yang keluar dari bibir laki-laki itu seolah ia memang sengaja melakukannya untuk menutupi identitas agar lebih aman. Lalu entah mengapa, Geovan merasa familiar dengan suara laki-laki yang menyerangnya. "Lepasin aku brengsék!" Seru Geovan keras. Ia mengerang dan mendorong pergelangan tangan laki-laki itu dengan kuat. Geovan bukan amatir dalam berkelahi, namun ia cukup kikuk jika melakukannya dengan senjata. Menjadi berandalan di masa lalu tidak membuatnya profesional menggunakan senjata karena lingkaran keributannya di masa lalu bersama Chima hanya seputar adu kekuatan atau harga diri di mana senjatà sangat dilarang untuk digunakan karena dianggap curang. "Sudah kuperingatkan untuk menjauh." Geovan mendecih benci. "Kamu tidak memiliki hak untuk melarangku, sialan!" Geovan berusaha menggerakkan kakinya yang diduduki oleh laki-laki itu. Berada di posisi bawah selalu sulit untuk membalikkan keadaan dan Geovan benar-benar kesal akan hal tersebut. Geovan tidak bisa fokus untuk membalikkan keadaan dan beralih menahan tubuh laki-laki itu karena ia sendiri juga beberapa kali masih harus memeriksa kondisi Chima yang tidak jauh berbeda. Untuk sesaat, ia sedikit tenang karena Chima satu komplotan dengannya sebagai anak bandel di masa lalu. Selama lawan mereka tidak terlalu jomplang dalam kekuatan, Geovan yakin Chima bisa bertahan, namun sekali lagi senjatà tajam selalu menjadi hal yang sangat mengganggu untuk mereka. "Chima! Jangan sampai dia berhasil ngalahin kamu!" Teriak Geovan keras. "Diam Geo! Aku juga nggak mau kalah." Orang-orang ini benar-benar licik. Memanfaatkan keadaan ketika keributan sedang terjadi kemudian menyeràng Geovan dan Chima. Murid-murid lain yang sejak awal memang tidak pernah datang ke halaman belakang juga tidak akan mendengar teriakan mereka karena keributan di depan. Dewan guru apalagi. Mereka terlalu sibuk mengurusi Julian Purnomo yang harus dibawa ke rumah sakit karena melompat dari atap. Praktis, Geovan dan Chima sama-sama tidak akan ada yang menolong. Mereka harus berjuang dengan kekuatan sendiri atau mereka akan mati sia-sia di sana. Sebersit pertanyaan kembali bercokol di kepala Geovan. Dua orang ini selalu berada di sekolah pada saat-saat yang tepat. Seolah mereka memang benar-benar warga sekolah ini. Apakah kemungkinan itu benar-benar sungguhan? Dua orang yang mengincar Geovan dan Chima, juga orang yang membuat kematian Sandra Widya seolah-olah bunuh diri ada di sekitar mereka? O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD