Dua Tahun Silam -12

2605 Words
Julian yang sedang memegang ballpoint menjatuhkan benda itu secara refleks. Geovan mengambil ballpoint tersebut dan mengembalikannya kepada Julian yang langsung mengambilnya dengan kikuk. Seseorang yang terkenal dan memiliki banyak kemampuan terutama dalam berbicara seperti Julian tidak mungkin kikuk hanya karena berhadapan dengan adik kelas jika memang tidak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Ada hening yang cukup lama setelah Geovan mengajukan pertanyaan kepada Julian. Kakak kelasnya itu diam saja dengan bola mata bergerak-gerak gelisah. Geovan tahu ada yang disembunyikan oleh Julian setelah melihat reaksinya yang benar-benar mencurigakan. Entah apapun itu, bahkan jika yang diketahui Julian hanya sekadar hal kecil, kakak kelasnya itu jelas tahu sesuatu. "Kak Julian?" Panggil Geovan. Julian membenahi letak kacamatanya yang sama sekali tidak melorot. "Kalian menanyakan apa?" "Kak Julian memiliki sesuatu yang merupakan milik Kak Sandra 'kan?" Ulang Geovan. Julian menggeleng cepat mendengar hal itu. "Enggak, apa maksud pertanyaan itu, Kakak sama sekali nggak paham dengan apa yang kalian maksud." "Jangan bohong Kak Julian." Sahut Chima. "Kalian juga nggak bisa asal menuduh Kakak." Geovan membuang napas kasar. "Kak, ini menyangkut keselamatan kami dan juga orang-orang yang berinteraksi dengan kami. Jika Kak Julian benar-benar memiliki sesuatu yang merupakan milik Kak Sandra, kami mohon untuk menyerahkannya kepada kami." Julian mengernyit. "Kalau pun Kakak memiliki barang milik Sandra, Kakak nggak akan ngasih itu ke kalian. Memangnya kalian ini siapanya Sandra? Saudara juga bukan." Chima menggigit bibirnya. "Kami ada di kelompok yang dipimpin oleh Kak Sandra dan Kak Perry ketika orientasi murid baru." Julian melebarkan matanya. Ia kembali membenahi kacamatanya yang sama sekali tidak bergeser, membuat Geovan sadar bahwa gerakan tersebut secara reflek selalu dilakukan oleh Julian ketika kakak kelasnya itu merasa kikuk atau bingung. Seperti sebuah gerakan default yang dilakukan oleh Julian untuk meredam perasaannya. "Kakak nggak punya apapun yang kalian inginkan. Maaf, tapi Kakak harus mengurus beberapa hal, bisakah kalian keluar?" "Kakak yakin akan menyembunyikan semua ini?" Desak Geovan. Julian mendorong tubuh Geovan agar adik kelasnya itu keluar. "Maaf, Kakak nggak punya apapun yang kalian inginkan. Sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas karena jam pelajaran akan segera dimulai beberapa menit lagi." Julian menutup pintu kaca ruang ekskul jurnalistik dan menguncinya dari dalam. Julian sempat beradu tatap dengan Geovan sekilas, namun kemudian pemuda itu menarik gorden dan membuat kontak mata mereka terputus begitu saja. Chima menyisir rambutnya dengan jemari tangan. "Percuma, kayaknya Kak Julian benar-benar nggak bisa diajak kerja sama." Geovan menghela napas. "Sebenarnya, justru aku malah akan terkejut kalau Kak Julian langsung ngasih apapun itu yang dia miliki dari barang Kak Sandra. Aku sudah tahu kalau ini akan susah." "Lalu, apa yang harus kita lakukan? Nggak mungkin juga kita terus ngejar-ngejar Kak Julian untuk mendapatkan barang yang bahkan belum pasti ada padanya. Dia itu anak tahun ketiga lho. Bisa-bisa kita dianggap mengganggu senior, Geo." "Tapi kalau merujuk pada apa yang dikatakan Farhan, orang terakhir yang berinteraksi dengan Kak Sandra di sekolah itu Kak Julian. Kak Sandra nggak mungkin memberikan barang penting yang dia miliki itu kepada keluarganya. Kalau keluarganya tahu, nggak mungkin mereka setuju dan menerima begitu saja ketika polisi mengatakan bahwa Kak Sandra meninggal karena bunuh diri." Chima mengangguk. "Aku juga berpikir begitu. Lagipula aneh sekali, mengapa keluarganya semudah itu menerima kalau Kak Sandra bunuh diri? Memangnya, selama ini Kak Sandra menunjukkan tanda-tanda kecenderungan bunuh diri?" Geovan mengangkat bahu. "Aku nggak tahu, lagipula kita memang enggak kenal sama Kak Sandra secara mendetail 'kan. Ingat ya, kita hanya kebetulan berada di kelompok Kak Sandra saat masa orientasi murid baru." "Haaaaaaah...... Ini benar-benar sulit." "Chima, kita nggak boleh terlalu berinteraksi dengan Kak Julian." "Hah? Kenapa?" Geovan menggigit bibirnya pelan. "Aku hanya nggak mau Kak Julian bernasib sama seperti Farhan." Chima mendekati Geovan dan mengusap bahunya. Ia sendiri merasa sangat bersalah karena semua permasalahan ini berawal dari rasa penasaran dan tidak terima Chima atas kematian Sandra Widya yang tiba-tiba. Seandainya, Chima tidak mencampuri urusan yang bukan ranahnya, ia dan Geovan tidak mungkin dikejar-kejar oleh pembunuh berbahaya, Farhan juga mungkin masih hidup. Saat ini, semua sudah terjadi dan merasa menyesal juga tidak akan mengubah apapun. Satu-satunya cara hanya menyelesaikan semuanya sembari berharap mereka masih hidup sampai segalanya selesai. Jika mereka bisa mengungkap semuanya, setidaknya kematian Sandra Widya dan Farhan akan menemui kejelasan, lalu pembunuh mereka akan diadili sebagaimana mestinya. O||O Geovan dan Chima benar-benar tidak berniat terlalu sering mendekati Julian. Selain karena keduanya tidak ingin terlalu mengganggu pemuda yang sudah tahun ketiga itu, Geovan dan Chima juga waspada kalau-kalau Julian ditandai oleh pembunuh yang mengincar mereka. Apa yang terjadi kepada Farhan membuktikan segalanya, bahwa mereka tidak boleh berdekatan dengan siapa pun apalagi orang-orang yang secara pasti mengenal Sandra Widya. Farhan yang sebenarnya tidak benar-benar mengenal Sandra Widya dan hanya kebetulan berbicara dengannya saja berakhir tragis, apalagi Julian yang jelas-jelas mengenal Sandra Widya. Geovan dan Chima memang tidak bisa memastikan apakah Julian mengenal dekat Sandra Widya atau hanya sekadar kenalan biasa, namun intinya kedua orang itu saling mengenal dan jelas Julian akan dalam bahaya jika pembunuh itu tahu. Hingga saat ini, Geovan dan Chima masih sering memata-matai Julian di sekolah. Keduanya berusaha bertindak tidak mencolok. Setidaknya, Geovan dan Chima bisa melihat apa saja yang dilakukan Julian sembari melihat apakah ada hal mencurigakan yang mungkin berkaitan dengan Sandra Widya. Geovan benar-benar penasaran dengan isi flashdisk yang dikatakan oleh Farhan sebelumnya. Apa sebenarnya yang ada di dalam benda itu sampai-sampai Sandra Widya ingin sekali mempublikasikannya hingga berdebat sengit dengan Julian selaku ketua ekskul jurnalistik. Geovan menghela napas. "Kita nggak bisa gini terus." Chima menatap Geovan yang tampak kesal. "Lalu bagaimana? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita nggak bisa terlalu dekat sama Kak Julian juga untuk keselamatannya?" "Aku tahu, tapi...." "Kita nggak punya pilihan." "Sudah hampir seminggu kita kayak pengúntit gini. Rasanya nggak enak banget. Kita juga nggak bisa memastikan dengan jelas Kak Julian punya flashdisk itu atau enggak kalau kita nggak berinteraksi dengannya." "Mau bertanya padanya lagi?" Geovan melirik meja kantin yang tidak jauh dari tempatnya dan Chima duduk. Julian sedang duduk bersama teman-temannya. Geovan bisa melihat bahwa Julian cukup pendiam di antara teman-temannya yang lain. Beberapa kakak kelasnya itu tampak membahas sesuatu dengan seru, namun pandangan Julian benar-benar tidak fokus. Seolah, dirinya tidak benar-benar ada di sana saat ini. Rasanya aneh sekali melihat tidak ada seorang pun di antara kumpulan itu yang menyadari bahwa Julian diam saja. Apakah mereka benar-benar teman dekat? Murid berprestasi dan terkenal seperti Julian pasti memiliki banyak kenalan bukan? Apakah murid-murid tahun ketiga yang sedang mengobrol di meja yang sama dengannya itu bukan benar-benar teman dekat Julian? Semakin Geovan memperhatikan pemuda itu, semakin banyak pertanyaan tidak penting mengenai kehidupan Julian yang tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya. "Memangnya kamu berani menginterupsi obrolan senior?" Chima menggeleng sembari menggaruk tengkuknya. "Enggak juga sih." "Kita tunggu saja sampai mereka selesai, lalu kita culik Kak Julian dan bawa dia ke halaman belakang sekolah." "Bukannya sama aja dengan menginterupsi kakak kelas? Lihat, Kak Julian dikelilingi oleh banyak orang tahu." Geovan mendecak. "Lihat juga, mereka cuma sekadar mengelilingi Kak Julian, bukan benar-benar berinteraksi dengannya. Aku yakin sekali Kak Julian akan berada di belakang mereka saat berjalan nanti." Chima menghela napas mendengar apa yang dikatakan oleh Geovan. "Oke, oke, mari kita tunggu." Geovan dan Chima benar-benar harus jeli dalam memperhatikan. Mereka bahkan sampai tidak fokus pada makanan yang sudah dibeli dan hanya mencuri-curi pandang ke arah meja di mana Julian dan teman-temannya sedang makan. Menit-menit berlalu dengan sangat lama. Geovan menggerak-gerakkan kakinya di bawah meja sebagai pelampiasan frutrasinya. Menunggu sesuatu benar-benar melelahkan. "Mereka berdiri! Mereka berdiri!" Seru Chima tertahan sembari memukul-mukul lengan Geovan. Geovan langsung menegakkan tubuhnya. Ia dan Chima bersiap-siap untuk menarik Julian dari teman-temannya. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Geovan, Julian berjalan lambat di belakang teman-temannya. Geovan dan Chima langsung melesat dan menarik lengan Julian sebelum kakak kelasnya itu bahkan sadar bahwa ia ditarik oleh seseorang. Geovan dan Chima agak bersyukur dengan kebiasaan lama mereka sebagai anak berandalan. Hal-hal semacam ini menjadi cukup mudah karena keduanya sudah terbiasa sejak lama. "Kalian mau bawa Kakak kemana?" Geovan yang menggenggam pergelangan tangan Julian diam saja. Ia dan Chima berlari di depan dengan Julian yang ditarik. Tidak ada protes yang berarti dari pemuda kelas dua belas itu. Ia bahkan secara pasrah membiarkan kedua juniornya menarik-narik dirinya dan membawa dia ke tempat yang diinginkan oleh kedua murid kelas sepuluh itu. Geovan dan Chima membuang napas lega ketika sampai di halaman belakang sekolah. Geovan masih tidak melepaskan genggaman tangannya pada Julian, khawatir kalau-kalau seniornya itu melarikan diri. "Jadi, ada apa kalian membawa Kakak kemari? Kakak harap kalian memiliki urusan yang cukup penting sampai harus menguntit Kakak setiap hari." Chima melebarkan matanya. "Kak Julian tahu?" Julian tersenyum tipis. "Kalian pikir tindakan kalian ini tidak mudah diketahui?" "Tapi—" "Sudah Chima, kita kemari bukan untuk membahas itu." Potong Geovan cepat. "Oke, oke, mari kita kembali ke topik." Julian duduk pada satu-satunya kursi yang ada di sana. Geovan dan Chima berdiri di hadapan seniornya. Geovan sempat ingin terus memegangi pergelangan tangan Julian, namun murid kelas dua belas itu mengatakan tidak perlu dan ia tidak akan kabur. "Masih tentang Sandra?" Tanya Julian langsung. Geovan mengangguk. "Kami tahu Kak Julian memiliki sesuatu yang merupakan milik Kak Sandra." Julian menghela napas dan membenarkan letak kacamatanya. "Sudah Kakak bilang, tidak ada apapun yang Kakak bawa. Lagipula, Sandra itu bukan teman dekat Kakak." "Tapi kami yakin sekali Kak Julian menyembunyikan sesuatu." Seru Chima. "Oke, sekarang katakan, darimana kalian mendapatkan informasi bahwa Kakak membawa barang milik Sandra?" Chima dan Geovan saling berpandangan kemudian kompak menggeleng. "Itu rahasia." Seru keduanya bersamaan. "Sumber kalian bahkan tidak jelas. Kakak mengerti jika kalian sedih dengan kematian Sandra, tetapi kalian tidak bisa menuduh begitu saja. Lagipula, seperti yang Kakak katakan, Kakak tidak mengenal Sandra secara dekat, tidak mungkin Kakak menyimpan barang milik Sandra." Geovan frustrasi dengan jawaban Julian. Pemuda tahun ketiga itu terus mengatakan hal yang sama dengan wajah datarnya. Seakan, jawaban itu adalah versi default ketika pertanyaan mengenai Sandra datang kepadanya. Mengapa? Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Julian dan mengapa ia tidak ingin mengatakannya? Tidak mungkin Farhan berdusta. Geovan bersumpah dia melihat ekspresi terkejut Julian yang benar-benar berbeda ketika pertama kali menanyakan tentang barang milik Sandra Widya. Orang yang tidak memiliki urusan apapun dengan Sandra Widya pasti tidak akan secara refleks memasang ekspresi tersebut melainkan langsung bingung. Tapi Julian tidak sengaja menunjukkan ekspresi itu dan Geovan semakin curiga padanya. Geovan maju dan mencengkeram bahu Julian. Perawakan keduanya memang tidak jauh berbeda, namun Geovan tetap lebih tinggi dan lebih besar. Geovan bisa merasakan bahwa bahu Julian menegang ketika tersentuh olehnya. "Sampai kapan Kak Julian mau menyembunyikan semuanya?" Desak Geovan. Chima berusaha menarik lengan Geovan. "Kamu nggak boleh kurang ajar sama kakak kelas, Geo." "Kenapa? Aku nggak mukul Kak Julian atau apapun yang sifatnya kekerasàn." Julian berusaha untuk melepaskan cengkeraman Geovan di bahunya. "Hentikan Geovan!" Serunya tegas. "Kak Julian harus mengatakan padaku apa yang diberikan Kak Sandra." "Sudah Kakak bilang, Sandra tidak memberikan apapun." Geovan semakin menekan cengkeramannya, membuat Julian sedikit mengeluh sakit. Chima terus berusaha untuk menyadarkan Geovan bahwa apa yang dilakukan olehnya itu salah. Ketika Julian tampak benar-benar kesakitan, barulah Geovan melepaskannya. Julian mundur selangkah, bernapas cepat dan memegangi bahunya. "Maaf Kak Julian, aku nggak Bermaksud untuk—" "Sudah cukup!" Seru Julian keras. Pemuda berkacamata itu melangkah melewati Geovan dan Chima tanpa mengatakan apapun. Geovan dan Chima terdiam menatap punggung Julian yang semakin menjauh. Keduanya juga tidak berinisiatif sama sekali untuk mengejar. Jujur saja, Geovan dan Chima terkejut melihat sorot mata tajam dari balik kacamata Julian ketika seniornya itu berseru cukup keras. Sejak pertama kali Geovan dan Chima berbicara dengannya, Julian selalu berbicara dengan nada yang pelan dan lembut. Bahkan ketika Geovan dan Chima terus mendesaknya sekali pun, Julian tetap bertahan dengan nada pelan dan lembut seperti seorang kakak yang perhatian. Setidaknya, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Julian seperti itu. Geovan dan Chima juga merasa bersalah karena terus-menerus memaksa Julian untuk bicara. Mungkinkah ada alasan lain yang begitu sulit hingga membuat Julian enggan mengatakan segalanya? Geovan mengacak-acak surai gelapnya dengan kesal. "Percuma saja, Kak Julian nggak akan bilang apapun sama kita." Keluhnya. "Aku rasa, kita yang terlalu memaksa Kak Julian. Siapa tahu dia memiliki alasan yang membuatnya tidak bisa berkata jujur. Aku melihat matanya, Kak Julian benar-benar seperti sedang merasakan dilema berat." "Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? Kak Julian tampaknya juga nggak bakal ngasih flashdisk itu." "Awasin aja kayak biasanya. Pasti ada saat-saat di mana Kak Julian merasa bahwa barang Kak Sandra itu membebaninya." "Tapi sampai kapan Chima? Nggak mungkin kita nunggu terus sampai Kak Julian lulus. Mungkin kita udah keburu almarhum kali." Chima menggeleng lemah. "Entahlah, aku juga nggak tahu." "Besok kita ajak lagi Kak Julian untuk bicara dengan lebih baik. Sekalian aja kita kasih tahu kalau Farhan melihat perdebatan Kak Julian dengan Kak Sandra sehari sebelum kematiannya. Aku rasa, Kak Julian akan mengaku jika kita mengatakan itu." Chima menggeleng. "Apa kita nggak terkesan mengada-ada? Farhan baru saja meninggal, rasanya nggak etis sekali melibatkannya dalam hal ini." "Kita nggak punya cara lain Chima. Kak Julian tetap kukuh dengan pendiriannya bahwa ia dan Kak Sandra enggak kenal dekat dan nggak punya barang Kak Sandra. Mungkin dengan mengatakan bahwa ada saksi mata yang melihat interaksi Kak Julian dan Kak Sandra, dia mau mengatakan yang sejujurnya." Chima membuang napas pasrah. "Baiklah jika memang nggak ada pilihan lain lagi." O||O "Hari ini, pokoknya kita harus ngomong baik-baik sama Kak Julian." Ucap Chima ketika ia dan Geovan baru sampai di parkiran sekolah. Mereka sudah memutuskan akan berbicara dengan sopan dan tanpa pemaksaan kepada Julian kemarin. Mereka juga memutuskan untuk mengatakan segalanya tentang Farhan. Tidak ada pilihan lain. Mereka tidak bisa terus-menerus mengawasi Julian tanpa kepastian. Geovan memutar bola matanya. "Memangnya aku nggak bersikap baik apa?" "Mungkin kamu lupa kalau kemarin kamu berani mencengkeram bahu Kak Julian. Itu nggak sopan Geo!" "Hm, iya iya. Ayo ke kelas." Geovan dan Chima berjalan beriringan menuju kelas mereka. Setidaknya, beberapa hari ini setelah keduanya memutuskan untuk berangkat dan pulang sekolah bersama serta tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, pembunuh itu tidak muncul. Geovan dan Chima tidak bisa menurunkan kewaspadaan mereka, namun ini cukup melegakan karena setidaknya mereka berdua bisa tidur dengan sedikit lebih tenang. "Hm? Kenapa ramai sekali?" Celetuk Chima tiba-tiba. Geovan yang berjalan sembari memainkan ponselnya mendongak. "Hah?" Chima menunjuk gerombolan murid-murid SMA Utama yang bergerombol sembari mendongak ke atas. Geovan dan Chima ikut mendongak sembari menutupi dahi mereka dengan telapak tangan karena silau. "G-Geo.... Bukankah yang di atas itu Kak Julian?" Ucap Chima terbata. Geovan melebarkan matanya. Jantungnya berdetak kencang. Ia segera melepaskan tasnya dan melemparkan benda itu kepada Chima. "Teriakin Kak Julian supaya dia nggak lompat, aku akan ke atas!" "H-Hah? Geo!" Chima menatap Geovan yang sudah melesat pergi. Chima mendekati gerombolan. Ia berkali-kali melihat sekitar. Para guru baru saja berlarian datang dan meneriaki Julian untuk turun. Julian benar-benar hendak melompat jika dilihat dari posisi berdirinya. Sebersit pemikiran muncul di kepala Chima. Apakah Julian benar-benar ingin mati? Atau seniornya itu hanya tidak kuat menahan sebuah beban yang tidak bisa ia katakan? Tetapi mengapa? Julian bukan murid bermasalah. Chima dan Geovan sempat mencari identitas Julian dan seniornya itu termasuk dalam daftar murid dengan ranking paralel terbaik. Julian Purnomo, masuk dalam daftar peringkat sepuluh besar angkatan tiap semester. Keluarganya adalah pebisnis sukses, dia juga terkenal karena menjadi ketua ekskul jurnalistik. Mengapa? Pemuda dengan otak cemerlang dan keuangan stabil memutuskan untuk mengakhiri hidupnya? Chima mengamati sekitar. Murid-murid lain tampak berteriak dan berusaha meyakinkan Julian untuk tidak melompat. Chima juga mendengar beberapa guru berlari menuju atap namun pintu seng itu ditahan dari dalam oleh Julian. Bagaimana dengan Geovan? Jika pintu itu ditahan dengan sesuatu oleh Julian dari atap, maka sama saja Geovan tidak akan bisa masuk. Chima merasa ketakutan. Bayangkan kondisi Sandra Widya yang jatuh dari atap tiba-tiba muncul begitu saja. Julian tidak boleh meninggal. Julian harus tetap hidup. O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD