Dua Tahun Silam -11

2107 Words
Geovan tidak mengatakan apa-apa lagi setelah menerima pesan media tersebut. Ia terus-terusan diam sembari menggenggam ponselnya. Telapak tangannya berkeringat, dan wajah Geovan memucat. Beberapa teman sekelasnya menyadari perubahan ekspresi Geovan, namun pemuda itu selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja ketika ditanyai. Thariq bahkan sampai menyentuh dahi Geovan demi memastikan bahwa teman sekelasnya tidak demam atau memiliki penyakit yang kambuh atau bagaimana. Chima berusaha untuk mendukung Geovan ketika mengatakan bahwa ia tidak apa-apa dan hanya kelelahan saja. Lagipula, mereka langsung menuju ke rumah Farhan setelah pulang sekolah. Saat ini, Geovan benar-benar ingin segera keluar dari rumah orang tua Farhan dan memastikan seluruh isi video yang baru saja ia terima dari nomor tak dikenal tersebut. Geovan meneguk ludahnya. "A-Apa yang harus aku lakukan Chima?" Bisik Geovan pelan. Chima menggenggam tangan Geovan, berusaha untuk menghiburnya. "Tenanglah, jangan bersikap mencurigakan. Video itu tidak boleh sampai diketahui oleh orang tua Farhan sampai kita memastikan isinya dan pengirimnya." Geovan mengangguk. Ia berkali-kali menarik dan membuang napas sebagai usaha untuk menetralkan detak jantungnya. Namun organ dalamnya itu sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama. Setiap kali ada seseorang yang memanggilnya, Geovan akan terkejut dan detak jantungnya semakin cepat. Menit-menit berlalu seperti waktu yang sangat lama. Geovan seperti kembali merasakan pengalaman yang sama ketika ia dan Chima bersembunyi di atap sekolah. Ketika Thariq akhirnya berpamitan dengan orang tua Farhan, Geovan akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Ia langsung berdiri dan keluar dengan cepat mengabaikan teman-temannya yang masih berada di dalam dan menyampaikan bela sungkawa kepada orang tua Farhan. Saat ini, Geovan hanya ingin segera pergi ke tempat di mana ia bisa menghindar dari semua orang terutama teman-teman sekelas dan orang tua Farhan. Video yang ada di ponselnya itu belum ia saksikan secara penuh, namun Geovan sudah melihat bahwa orang yang terekam di dalamnya adalah Farhan. "Ayo kita pergi." Bisik Geovan sebelum ia memasang helmnya. Chima mengangguk. Beberapa teman-temannya hendak pergi ke rumah Thariq karena ketua kelasnya itu mengundang mereka untuk berkunjung ke rumahnya sebagai cara menghibur diri atas kehilangan teman sekelas yang tiba-tiba. Bagaimana pun, kematian Farhan benar-benar mendadak. Mereka bahkan belum benar-benar kenal dengan dekat namun salah satu dari teman sekelas sudah meninggalkan mereka selamanya. Chima sudah meminta izin kepada Thariq bahwa ia dan Geovan harus pulang duluan karena mereka sudah memiliki janji dengan keluarga. Thariq mengiyakan saja tanpa pertanyaan dan Geovan bersyukur akan hal itu. Sepanjang perjalanan, Chima berkali-kali menepuk bahu Geovan agar yang bersangkutan fokus menyetir. Mereka tidak pulang ke rumah, melainkan pergi ke sebuah kafe yang ramai. Seperti yang sudah menjadi perjanjian mereka berdua, bahwa posisi mereka harus selalu berada di keramaian untuk menghindari serangàn apapun yang mungkin terjadi jika mereka berada di tempat sepi. Sepulang sekolah, ada banyak kafe yang ramai didatangi oleh murid-murid sekolah menengah seperti mereka. Geovan dan Chima masuk ke salah satu kafe secara random asalkan ada banyak pengunjung di sana kemudian memilih meja paling sudut yang sekiranya aman untuk pembicaraan rahasia mereka. Telapak tangan Geovan bergetar hebat ketika ia kembali menarik ponselnya dari saku jaketnya. Geovan meletakkan benda persegi panjang itu di atas meja kafe dan menarik napas panjang. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dan makanan ringan pesanan mereka. Chima tersenyum tipis, sementara Geovan sama sekali tidak konsentrasi dan hanya fokus memandangi ponselnya sendiri. Chima menyedot minuman yang ia pesan dengan rakus kemudian membuang napas keras. "Siap?" Geovan mengangguk lemas. "Yeah." Chima meraih ponsel Geovan dan menekan tombol play pada video pendek yang baru saja Geovan dapatkan dari nomor tidak dikenal. Awal video itu menampilkan seorang pemuda yang wajahnya ditutup oleh kantung dari bahan kain hitam. Ada seorang laki-laki yang sangat familiar muncul di video tersebut dengan mengenakan masker hitam dan jaket. Ia melambaikan tangan di depan kamera tanpa suara kemudian mendekati pemuda yang wajahnya ditutup kain. Laki-laki itu menendang pemuda yang ditutup kain. Tampaknya, pemuda itu sudah tidak sadarkan diri sejak awal. Tendangan itu berulang berkali-kali hingga kursi yang digunakan untuk menahan tubuh pemuda yang diikat dan wajahnya ditutup kain. Kain hitam penutup kepala itu ditarik dengan paksa, menampilkan wajah Farhan yang memar di mana-mana dan sebuah plester hitam yang menutup mulutnya. Farhan sama sekali tidak berkutik. Ia memejamkan matanya seolah ia memang sudah tidak bisa lagi merasakan setiap pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh laki-laki bermasker itu. Rambut Farhan ditarik dengan keras. Kamera menyorot sangat dekat wajah babak belur Farhan. Geovan memejamkan matanya berkali-kali karena tidak tega melihat apa yang terjadi. Geovan menyadari ada luka tusuk di tubuh Farhan ketika laki-laki bermasker yang memukulinya kembali mendorong kepala Farhan hingga tubuh pemuda itu jatuh menghantam lantai. Suara berdebum keras membuat jantung Geovan seperti diremas kuat. Laki-laki bermasker itu menarik meraih cutter di saku jaketnya. Ia bahkan masih sempat menunjukkan benda tajam itu di depan kamera seolah menegaskan kepada penonton bahwa cutter itu akan ia gunakan untuk melukai Farhan. Laki-laki bermasker itu menarik rambut Farhan dan membuat tubuhnya lebih dekat dengan kamera. Cutter yang sudah didorong dengan bagian tajam yang cukup panjang tampak mengkilap di dalam video. Geovan dan Chima sama-sama memejamkan matanya ketika laki-laki itu dengan tanpa ragu mengayunkan cutter tersebut dan menusuk bagian dadá Farhan. Darah muncrat dari tusukan tersebut, m*****i wajah laki-laki yang menusuknya. Geovan tidak lagi sanggup menonton setelah tusukan ketiga yang menghujam tubuh Farhan serta darah yang muncrat dan sebagian tampak m*****i lensa kamera ketika merekam. Chima membalik ponsel Geovan begitu mereka selesai dengan video tiga menit tersebut. Tidak ada yang bersuara di antara mereka hingga beberapa detik. Bahkan minuman dan makanan ringan yang mereka pesan tampak tidak lagi menarik padahal keduanya sama-sama lapar karena belum makan siang. "Bukankah ini benar-benar berbahaya?" Cicit Chima pelan. "Ya, benar-benar berbahaya." Sahut Geovan. "Bukankah lebih baik kita lapor polisi? Kejadian ini sudah menyangkut nyawa orang lain." Geovan terkekeh datar. "Polisi? Orang-orang yang bahkan mengidentifikasi kematian Farhan karena jambret? Mereka bahkan belum menemukan pembunúh yang disebut jambret itu tetapi dengan percaya dirinya langsung mengambil kesimpulan. Bukankah polisi juga yang mengatakan bahwa Kak Sandra mati bunuh diri padahal kenyataannya ada seseorang yang membunuhnya? Lalu sekarang kamu ingin lapor polisi?" "Tapi kita bisa memakai video ini untuk bukti kalau seseorang yang berbahaya sedang mengejar kita." "Mungkin kamu lupa kalau kamu yang mulai semua ini. Apa kamu pikir kita ini nggak bersalah?" Chima terdiam. Hingga saat ini, ia sendiri masih terus merasa bersalah karena melibatkan Geovan dalam kenekatannya. Terlebih, apa yang sudah terjadi ternyata tidak berhenti begitu saja. Mereka sudah ketahuan, dan pembunúh tersebut tidak hanya mengincar mereka melainkan juga orang-orang yang bersama mereka. Farhan mengetahui beberapa hal tentang Sandra Widya, dan apakah itu alasan mengapa Farhan langsung dibunuh begitu saja? Chima benar-benar pusing memikirkannya. O||O "Hari ini pokoknya kita temui ketua ekskul jurnalistik itu." Ucap Geovan kepada Chima ketika mereka baru saja turun dari motor Geovan di parkiran. Sejak keduanya memutuskan untuk tetap bersama agar aman satu sama lain, Chima yang biasanya berangkat sekolah dengan diantar oleh supirnya beralih berangkat sekolah bersama dengan Geovan dengan naik motor pemuda itu. Geovan awalnya juga tidak setiap hari berangkat sekolah naik motor. Ia di hari-hari tertentu berangkat bersama Ibunya. Geovan mengantarkan Ibunya ke kantor dengan mobil lalu lanjut berangkat ke sekolah. Ibunya sempat bertanya mengapa Geovan tiba-tiba memutuskan setiap hari berangkat sekolah menggunakan motor, dan Geovan hanya beralibi bahwa sebagai murid baru ada banyak kegiatan yang harus ia kerjakan kadang sebelum jam pelajaran mulai dan terkadang setelah jam pelajaran usai sehingga jam masuk dan pulangnya tidak menentu. Beruntung Ibunya percaya begitu saja. Geovan bisa repot jika wanita itu berinisiatif menanyakan kegiatan Geovan kepada wali kelasnya. Chima mengangguk. "Tapi kita nggak kenal sama ketua ekskul jurnalistik." "Dia murid tahun ketiga juga 'kan?" Chima mengangguk. "Nanti kita cari namanya. Dia itu ketua ekskul jurnalistik, ekskul yang sebelum semua tragedi ini terjadi merupakan ekskul yang beken di sekolah ini. Kalau kita tanya kepada anak-anak sekelas, atau mungkin Kakak kelas, kita pasti bisa menemuinya." Chima mengangguk. Keduanya segera menuju ke kelas sebelum pelajaran dimulai. Sepanjang pelajaran tidak ada dari mereka yang konsentrasi dalam menyimak. Geovan mencoret-coret buku tulisnya sembari sesekali menghela napas. Chima tidak jauh beda, gadis itu tampak seperti menatap papan tulis, namun sebenarnya pandangannya sama sekali tidak fokus. Beruntung, tidak ada pertanyaan tiba-tiba yang diserukan oleh sang guru selama mengajar. Pria berisi dengan rambut botak itu hanya fokus menjelaskan materi dan berinteraksi dengan murid-murid yang duduk di barisan depan. Chima dan Geovan duduk nyaris di bangku belakang, dan tidak selalu diperhatikan oleh beberapa guru. Tentu saja ada beberapa guru yang dengan iseng menunjuk murid di barisan belakang karena mengira murid-murid yang duduk di barisan belakang tidak memperhatikan, namun Geovan dan Chima cukup memiliki keberuntungan untuk lolos selama ini. Menit-menit jam pelajaran terasa membosankan selama Chima dan Geovan menunggu waktu istirahat. Keduanya benar-benar sudah tidak tahan lagi dan ingin segera menemui ketua ekskul jurnalistik untuk mengonfirmasi apa yang dikatakan Farhan. Apabila mereka beruntung, mungkin flashdisk yang dikatakan oleh Farhan itu juga bisa didapatkan meski belum pasti apakah benda itu berada di tangan ketua ekskul jurnalistik atau tidak. Ketika bel istirahat berdering, Chima dan Geovan secepat kilat keluar dari kelas setelah sang guru memberikan penutup sebelum kelas benar-benar selesai. Beberapa teman sekelas mereka bahkan sampai bingung karena hal itu. Thariq memanggil-manggil Geovan namun yang bersangkutan sama sekali tidak merespon. "Kita langsung ke ruang ekskul jurnalistik?" Tanya Chima memastikan. Geovan mengangguk. Keduanya berjalan dengan cepat. Ekskul jurnalistik memiliki ruangan yang sangat mewah dengan berbagai fasilitas. Murid-murid yang menjadi anggotanya pun dianggap keren di sekolah. Karena itulah, ekskul jurnalistik menjadi ekskul bukan olahraga yang sangat terkenal dan selalu diminati oleh murid-murid baru ketika dipromosikan pada kegiatan orientasi. Sejak penyebaran àib pengurus OSIS terjadi terus-menerus, ekskul jurnalistik mengalami kemunduran keras dalam hal popularitas. Anggota mereka juga tidak bisa menjalani kegiatan sekolah dengan tenang karena mendapatkan banyak pertanyaan dan tekanan dari berbagai pihak. Mereka sama sekali tidak bisa mengendalikan laman web jurnalistik yang terus-menerus mempublikasikan hal-hal yang tidak seharusnya. Beberapa anggota bahkan memutuskan keluar karena tidak kuat dalam menghadapi hal tersebut. Pihak sekolah selalu menyalahkan mereka di awal insiden tersebut ramai. Saat ini, ekskul jurnalistik vakum sementara namun beberapa pengurus inti masih riwa-riwi ke ruang ekskul jurnalistik untuk mengurusi banyak hal. Penyebaran àib itu sama sekali tidak berhenti meski salah satu murid meninggal dengan kesimpulan bunuh diri karena stress sebab àib yang tersebar. Kepolisian juga tidak bisa mengurus dengan benar. Intinya, ekskul jurnalistik benar-benar kacau. Geovan melongok melalui jendela ruang ekskul jurnalistik yang gordennya terbuka sedikit. Ruangan yang biasanya selalu ramai itu kini cukup sepi. Chima memeriksa sisi lainnya, namun tidak menemukan tanda-tanda ada orang di dalam ruangan tersebut. "Kita ketuk nggak?" Tanya Chima. Geovan mengangguk. "Iya." Chima langsung mengetuk pintu kaca di hadapannya. "Permisi, kakak! Apakah ada orang di dalam?" Seru Chima keras. Geovan menunduk malu dengan suara Chima yang terdengar seperti sedang memanggil teman dekatnya untuk diajak bermain. Geovan membiarkan saja gadis mungil itu terus memanggil-manggil ketua ekskul jurnalistik meski mereka belum kenal sama sekali. Chima berhenti dan menghela napas setelah berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam. "Kayaknya nggak ada. Apa kita ke kelasnya aja ya?" "Tapi kita belum nanya dia kelas apa." Chima menjentikkan jemarinya. "Gampang, nanti kita nanya ke kakak kelas. Dia itu ketua ekskul jurnalistik lho, mana mungkin dia nggak terkenal." Geovan mengangguk. "Oke, ayo kita—" "Apa yang kalian lakukan di sini?" Geovan dan Chima terlonjak kaget. Seorang pemuda dengan bedge warna merah yang menandakan bahwa ia tahun ketiga berdiri dengan membawa tumpukan kertas yang dibendel rapi. Dia memiliki tinggi yang nyaris sama dengan Geovan hanya lebih tinggi Geovan sedikit. Pakaiannya sangat rapi dan tampak halus, kulitnya sangat putih cenderung pucat. Seandainya ia tidak memakai kacamata, Chima pasti salah mengira bahwa dia adalah Geovan. Sekilas, pemuda itu memang mirip dengan Geovan. "Kak Julian?" Pemuda berkacamata itu mengernyit. "Iya, kalian siapa, dan ada keperluan apa berada di sini?" Chima langsung memasang senyum. "Saya Chima dan ini Geovan. Kami ingin menanyakan beberapa hal kepada Kak Julian." "Silahkan." "Bisakah kita masuk ke ruang ekskul? Kayaknya nggak enak banget bicara di depan pintu gini." Sahut Geovan. Julian tampak sedikit terganggu dengan cara bicara Geovan, namun pemuda itu kemudian mengangguk dan membuka pintu ruang ekskul jurnalistik dengan kunci yang ia bawa. Chima dan Geovan tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangi isi ruang ekskul jurnalistik. Pantas saja banyak murid baru yang tertarik untuk bergabung. Semua yang ada di dalam ruang ekskul jurnalistik seperti telah dipersiapkan dengan istimewa. Julian mempersilahkan Geovan dan Chima untuk duduk sementara ia masuk ke dalam untuk meletakkan bundelan kertas yang dibawanya. Julian segera kembali setelah beres dengan barang bawaannya. "Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan padaku?" Geovan membuang napas panjang. "Oke, aku nggak akan basa-basi. Kak Julian, apakah kakak menyimpan sesuatu yang merupakan barang milik Kak Sandra?" Geovan bersumpah ia melihat ekspresi terkejut samar di wajah Julian. Seolah, nama Sandra Widya merupakan hal yang tidak pernah ia sangka akan ditanyakan oleh seseorang. O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD