Dua Tahun Silam -10

2107 Words
Geovan menguap berkali-kali. Karena terlalu asyik membicarakan mengenai Sandra Widya kemarin malam, tugas kelompoknya dengan Farhan tidak sepenuhnya selesai. Teman sekelasnya itu mengomel berkali-kali dan mengatakan bahwa ia telah membuang-buang waktu. Sebagai permainan maaf, Geovan nyaris semalaman membaca materi tugas kerja kelompok mereka dan berjanji bahwa tugas itu akan selesai hari ini di perpustakaan. Geovan juga berjanji tidak akan menanyakan apa-apa lagi mengenai Sandra Widya dan fokus kepada tugas kelompok mereka. Mereka membuat janji untuk meneruskan tugas kelompok hari ini sepulang sekolah di perpustakaan agar cepat selesai. Geovan tidak berangkat bersama Chima hari ini karena gadis itu ada keperluan dengan orang tuanya dan akan diantar ke sekolah bersama mereka. Geovan mengiyakan saja ketika Chima mengabarinya lewat telepon. Geovan tidak perlu khawatir selama Chima bersama seseorang yang menemaninya. Mereka tidak boleh berada di tempat sepi karena khawatir orang-orang yang mengejar itu akan datang lagi. Lagipula, Geovan tidak akan bisa pulang dengannya hari ini karena ia memiliki janji menyelesaikan tugas dengan Farhan. Geovan mengernyit bingung ketika membuka pintu kelas dan melihat teman-temannya bergerombol membicarakan sesuatu. Mayoritas dari mereka menunjukkan ekspresi kasihan yang amat ketara. Geovan sampai membeku sebentar hanya karena melihat teman-temannya. Geovan mendekati salah satu teman sekelasnya yang berdiri tidak jauh dari tempat Geovan berdiri dan menepuk bahunya pelan. "Ada apa?" Gadis dengan rambut dikepang itu mendongak menatap Geovan. "Kamu nggak tahu ya berita yang lagi ramai?" "Ada apa memangnya?" Tanya Geovan penasaran. "Farhan meninggal dunia tadi malam." Geovan melebarkan matanya. "HAH?" Serunya keras. Beberapa teman sekelasnya sampai menoleh ketika mendengar seruan Geovan. Geovan mencengkeram bahu gadis teman sekelasnya itu dengan panik, ia bahkan masih berusaha mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh teman sekelasnya itu. "Apa maksudnya meninggal?" "Farhan meninggal tadi malam. Menurut informasi yang sudah beredar, ia dijambret dan dibunuh di tempat." Jelas gadis itu. Wajahnya tampak ketakutan melihat reaksi Geovan. Geovan meneguk ludahnya dengan susah payah. Dijambret? Farhan dijambret? Apakah itu hanya kebetulan? Apakah ia benar-benar hanya dijambret dan dibunuh oleh orang tak dikenal? Mereka baru saja berbicara mengenai Sandra Widya malam tadi. Geovan berniat mengantarkan Farhan pulang dengan mobil Ibunya dan menitipkan motor pemuda itu di rumah Geovan, namun Farhan menolak dan tidak ingin menitipkan barangnya. Geovan mengiyakan saja. Lagipula Farhan itu laki-laki sama seperti dirinya, dengan perawakan tubuh yang tidak jauh berbeda pula. Apakah ini benar-benar hanya kebetulan? "G-Geo?" Gadis dengan rambut dikepang itu berusaha untuk memegangi tubuh Geovan yang tiba-tiba limbung dan nyaris jatuh. "Bantu Geovan duduk, aku dengar semalam Farhan sempat ke rumah Geovan untuk mengerjakan tugas kelompok. Kebetulan Farhan dan aku berada di ekskul jurnalistik yang sama sehingga dia mengatakan jadwalnya ketika aku hendak mengajak Farhan untuk menyunting beberapa berita yang hendak diterbitkan secara daring di platform jurnalistik sekolah." Thariq, yang merupakan ketua kelas mendekati Geovan. Ia duduk di depan Geovan dengan beberapa teman sekelas lain yang mengerubungi Geovan yang tampak terkejut dengan berita tiba-tiba itu. "Semalam, pukul berapa Farhan pulang dari rumahmu?" Tanya Thariq sembari mengusap pelan lengan Geovan. "Sekitar pukul sepuluh malam. Riq, Farhan beneran meninggal? Dia beneran meninggal karena jambret?" Thariq mengangguk. "Itu yang dikatakan oleh pihak kepolisian. Aku sendiri nggak tahu detail pastinya. Kita akan mengunjungi rumah Farhan sepulang sekolah nanti untuk berbelasungkawa sebagai teman sekelasnya. Meski sebentar, Farhan tetap teman sekelas kita." Geovan memendam wajahnya di balik lipatan tangan. Ketika Chima datang tidak lama kemudian dan mendengar apa yang terjadi kepada Farhan melalui Thariq, gadis mungil itu juga tidak kalah terkejut. Geovan mengabari Chima mengenai kunjungan Farhan kemarin, dan jelas gadis itu tahu sebab mengapa Geovan begitu shock ketika mengetahui apa yang terjadi kepada Farhan. Apa yang terjadi saat ini semakin jauh dari batas kemampuan mereka. O||O Chima dan Geovan kembali mengasingkan diri di halaman belakang sekolah. Area tak terawat yang biasanya dipakai oleh murid-murid bandel untuk merokok atau melakukan hal-hal yang melanggar peraturan. Sejak kasus pengurus OSIS itu ramai, halaman belakang tidak lagi banyak yang mengunjungi. Murid-murid tahun kedua dan ketiga diliputi kecemasan setelah àib para pengurus OSIS tiba-tiba terus muncul di forum jurnalistik sekolah tanpa bisa dihentikan. Meski hingga saat ini hanya pengurus OSIS saja yang dipermalukan, murid-murid non OSIS dari tahun kedua dan ketiga tetap merasa khawatir. Sebagian besar dari mereka memikirkan kemungkinan jika àib dalam hidup mereka akan muncul di halaman forum jurnalistik sekolah dan dilihat oleh seluruh murid satu sekolah. Sebenarnya kasus ini lebih parah, karena setelah àib para pengurus OSIS itu muncul, tidak hanya satu sekolah saja yang tahu melainkan menyebar ke media sosial dan menjadi topik panas di mana-mana. SMA Utama adalah sekolah yang cukup terkenal dalam berbagai hal, rasanya sangat wajar jika kehebohan apapun pasti diketahui oleh pihak luar. Saat ini, sekolah tengah mengalami krisis kepercayaan. Ada banyak orang tua murid yang mengancam hendak memindahkan anak-anaknya karena insiden yang terjadi. Sebagian besar murid-murid SMA Utama yang merupakan anak-anak orang berada jelas merasa dipermalukan. Bahkan beberapa murid tahun pertama sudah langsung dipindahkan oleh orang tua mereka setelah video perundungan yang terjadi ketika acara orientasi murid baru viral di media sosial. Saat ini, yang tidak bisa sembarangan pindah sekolah adalah murid-murid tahun ketiga. Mereka semua pasti akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru jika dipindah begitu saja. Apalagi, murid-murid tahun ketiga harus fokus dalam belajar karena dekat dengan ujian kelulusan. Sekolah terus memberikan klarifikasi dan janji bahwa mereka akan bertanggungjawab, namun nyatanya sampai Sandra Widya meninggal dengan status bunuh diri yang ditetapkan polisi, àib para pengurus OSIS itu masih terus muncul di forum jurnalistik sekolah meski ekskul tersebut tengah vakum sementara. Chima mengusap bahu Geovan pelan. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Geovan. Baru semalam mereka bertemu dan esok harinya harus mendengar kabar kematian. "Sudahlah Ge, mungkin timing-nya hanya kebetulan saja. Belum tentu Farhan meninggal karena orang yang mengejar kita. Bukankah Thariq sudah mengatakan jika Farhan dibunuh oleh jambret yang berusaha merebut barang-barangnya." Geovan mengusap wajahnya kasar. "Aneh banget kalau ini kebetulan. Kamu tahu nggak, perumahan kita itu bukan perumahan yang gampang dimasuki oleh berandalan seperti jambret." "Tapi 'kan bukan berarti mereka nggak bisa masuk. Lagipula, Farhan mengalami hal itu saat sudah keluar dari komplek perumahan kita. Dia hanya sedikit lagi sampai di jalan raya. Area itu sudah bukan bagian dari komplek perumahan kita. Tidak ada yang tahu takdir seseorang. Kita juga mana bisa nebak kalau malam itu Farhan akan bertemu orang jahat." "Farhan baru saja menceritakan pertemuannya dengan Kak Sandra sehari sebelum Kak Sandra ditemukan tewas karena melompat dari atap sekolah. Farhan mengetahui sesuatu, dan karena itulah dia dibunuh. Sama seperti kita yang sudah tahu bahwa Kak Sandra tidak bunuh diri, melainkan dibunuh." Chima menghela napas. Ia sendiri tidak yakin ketika menghibur Geovan. Jujur saja, ia juga berpikir bahwa kematian Farhan itu direncanakan oleh orang jahat yang mengejar-ngejar mereka selama beberapa hari ini, namun Chima benar-benar tidak tega melihat raut wajah Geovan yang lesu seperti itu. Kulit Geovan yang sejak awal sudah pucat tampak semakin pucat seperti mayat hidup. Intinya, kondisi Geovan benar-benar menyedihkan dan Chima merasa bersalah karena hal itu. "Farhan mengetahui sesuatu?" Geovan mengangguk. "Dia ngeliat kalau...." Geovan melebarkan matanya dan mencengkeram pergelangan tangan Chima. ".... Flashdisk! Farhan bilang, sehari sebelum Kak Sandra ditemukan meninggal dengan status bunuh diri, Farhan ketemu sama Kak Sandra dan mereka sama-sama hendak menuju ke ruang ekskul jurnalistik. Kak Sandra ribut sama ketua ekskul jurnalistik tentang mempublikasikan sesuatu di dalam flashdisk itu tapi ketua ekskul jurnalistik menolaknya. Mereka terlibat perdebatan yang cukup sengit, lalu esok harinya Kak Sandra tiba-tiba ditemukan meninggal bunuh diri." Wajah Chima tampak pucat. "Apa mungkin ketua ekskul jurnalistik ada sangkut pautnya sama hal ini?" Geovan mengangkat bahu dan menghela napas. "Entahlah, kalau pun dia bukan pelaku, bisa jadi dia tahu sesuatu." "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Untuk saat ini, lebih baik kita menghindari interaksi yang terlalu dekat dengan orang lain. Sepertinya, orang yang mengejar-ngejar kita itu tidak ingin kita dekat dengan orang lain karena mereka merasa terancam jika kita mengatakan sesuatu mengenai kematian Kak Sandra." "Tapi bagaimana jika kita ada tugas kelompok? Sekarang ini kita juga lagi ada tugas kelompok dan hanya berdua saja. Seharusnya dari awal kita sekelompok saja." Geovan menggaruk tengkuknya. "Aku mana tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Aku sendiri juga nggak tahu kalau Farhan sempat bicara sama Kak Sandra sehari sebelum kematiannya. Ini semua murni kebetulan. Farhan juga enggak berniat membicarakan hal tersebut ke siapa pun, dia hanya nggak sengaja bilang pas aku nanya soal kenalan kakak kelas." "Tapi apakah mungkin Farhan dibunuh oleh pelaku yang sama dengan yang mengejar-ngejar kita? Maksudku, bagaimana mungkin kepolisian bisa salah dalam mengambil kesimpulan. Jika pelakunya adalah orang yang sama dengan yang mengejar kita, lantas siapa yang diburu polisi sebagai jambret yang membunúh Farhan?" Geovan mendongak, menatap langit biru di atasnya. "Aku juga nggak paham. Kalau dia memang melakukan semua ini, berarti pembunúh itu benar-benar cerdas dalam bertindak. Polisi bisa sampai mengambil kesimpulan bahwa Kak Sandra bunuh diri, lalu polisi juga mengambil kesimpulan bahwa Farhan meninggal karena jambret. Jika yang melakukan ini adalah orang yang sama, bukankah kemampuannya dalam menyembunyikan jejak benar-benar hebat? Pembunúh yang bisa memanipulasi polisi seperti itu, bukankah sangat berbahaya? Bisa jadi kita dibunuh dan mayat kita nggak akan ditemukan sama sekali sampai kasusnya ditutup." Chima memukul lengan Geovan. "Jangan mengatakan hal yang menyeramkan seperti itu!" Serunya kesal. "Aku hanya berandai-andai. Lagipula, apa yang aku katakan tidak ada salahnya juga 'kan? Yang membunuh Kak Sandra dan Farhan adalah orang yang sama, dan mereka juga sama-sama diidentifikasi dengan penyebab kematian yang lain sementara orang itu bebas berkeliaran dan mengejar kita yang tahu sesuatu." "Soal Farhan itu ‘kan belum jelas, bisa jadi dia memang benar-benar dibunuh oleh jambret yang berusaha mengambil barang-barangnya. Farhan naik motor sendirian Ge, dan itu sudah cukup malam. Kita memang nggak pernah nemu ada kasus penjambretan di sekitar komplek perumahan kita sampai jalan raya depan, tetapi bukan berarti tidak ada 'kan? Mungkin jambret itu sudah menandai Farhan atau orang lain yang bukan dari daerah komplek perumahan kita melainkan pernah berkunjung ke komplek perumahan kita." Geovan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa di saat seperti ini kamu malah berpikir kalau apa yang terjadi pada Farhan itu kebetulan? Ingat nggak betapa ngeyelnya kamu sewaktu mengatakan bahwa Kak Sandra kemungkinan besar nggak bunuh diri melainkan dibunuh?" "Itu...." Chima kehilangan kata-kata. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Chima juga yakin bahwa apa yang dialami Farhan itu bukan kebetulan semata. Farhan tidak mungkin begitu saja diincar oleh jambret pembunuh padahal ia baru pertama kalinya datang ke rumah Geovan. Memang apa yang ia katakan kepada Geovan sebelumnya bisa menjadi kemungkinan, tetapi untuk saat ini rasanya kebetulan bukanlah opsi yang bagus untuk menyimpulkan apa yang terjadi kepada Farhan. "Sudahlah, ayo balik ke kelas. Untuk saat ini, kita harus menghindari tempat-tempat yang sepi atau berkeliaran sendirian di malam hari. Thariq mengatakan kalau kita akan mengunjungi rumah Farhan sepulang sekolah, aku harap kita bisa mendapatkan petunjuk, aku akan sangat bersyukur jika ternyata Farhan meninggal benar-benar karena jambret." Chima menggaruk tengkuknya. "Meski agak terdengar seram, tapi aku juga berharap demikian." O||O Kelas Geovan benar-benar mengunjungi rumah Farhan sepulang sekolah. Mereka membawa kendaraan masing-masing untuk menuju ke rumah Farhan. Jarak rumah Farhan cukup jauh dari sekolah. Pemuda itu tinggal pada komplek perumahan sederhana. Geovan dan Chima memutuskan untuk memakai kendaraan yang sama untuk menghemat tempat. Geovan membonceng Chima dengan motornya. Thariq sebagai ketua kelas memimpin kunjungan itu dan menyampaikan bela sungkawa kepada orang tua Farhan. Geovan, sebagai orang terakhir yang dikunjungi oleh Farhan juga meminta maaf kepada orang tua Farhan namun pasangan suami istri itu sama sekali tidak menyalahkan Geovan. Geovan semakin merasa bersalah ketika melihat wajah kedua orang tua Farhan. Pasangan suami istri itu sama sekali tidak tahu bahwa ada kemungkinan lain dari kematian puteranya, dan Geovan secara tidak sadar telah melibatkan Farhan dalam permasalahan dirinya yang kemudian menyebabkan pemuda itu mengalami tragedi yang menyedihkan. Sepanjang kunjungan, Geovan dan Chima hanya duduk di belakang memperhatikan teman-temannya. Tidak ada yang berbicara sama sekali di antara mereka berdua. Perasaan bersalah besar yang menusuk di dalam hati begitu menyakitkan. "Ge—" "Sebentar." Geovan merogoh saku jaketnya ketika merasakan getaran dari ponselnya. Geovan mengernyit bingung ketika melihat sebuah pesan media dikirim oleh nomor tak dikenal. Dengan rasa penasaran yang memuncak, Geovan membuka pesan media tersebut. Di dalamnya ada sebuah video pendek berdurasi sekitar tiga menit dan sebuah teks di atasnya. 'Selanjutnya giliran siapa?' Geovan benar-benar tidak paham apa maksudnya. Ia mengeklik tombol play pada video tersebut dan begitu terkejut ketika wajah Farhan tertampil di sana dengan kondisi babak belur tak sadarkan diri. Geovan secara reflek berdiri, menyebabkan kursi plastik yang didudukinya berderit keras dan menarik perhatian teman-temannya yang lain. "Ada apa Geo?" Thariq yang menyadari wajah pucat Geovan hendak mendekat dan memeriksa teman sekelasnya. Geovan mengangkat telapak tangannya. "Enggak, aku nggak apa-apa, maaf." Geovan kembali duduk dengan jemari yang bergetar dan jantung yang berdetak dengan sangat cepat. O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD