Kedua bola mata Jingga membesar. Melihat kondisi sang suami di bawah sana. Wajahnya memucat, dan air mata langsung mengalir dari matanya. Apa yang Jingga lihat, berbanding terbalik dengan apa yang ada dipikirannya. "Sudah kuduga kamu adalah Mentariku, Jingga. Karena semua yang ada padamu, adalah cerminan dari Mentari!" seru Senja. Dari bawah balkon kamar hotel mereka. Pria itu kini berdiri di atas atap lobby hotel. Yang berjarak beberapa meter saja dari balkon tempat tadi ia melompat. Kini pria itu sedang berusaha turun, untuk menemui sang istri, yang masih berada di lantai dua. Jingga mengusap wajahnya dengan kasar. Merutuki dirinya yang lupa jika kamar yang mereka tempati ada di lantai dua. Dan seharusnya dia juga bisa berpikir, tidak akan mungkin Senja mau bunuh diri hanya karena

