"Jadi, alasan lo balik lagi ke Indonesia itu karena suruhan nyokap lo?"
Malika mengangguk, namun tak sedikit pun ia menunjukkan sirat bahagia di wajahnya ketika mengingat bahwa dirinya harus kembali tinggal di tanah air hanya demi permintaan sang ibu tercinta.
"Terus, gimana hubungan lo sama bokap? Apa kalian masih-"
"Jangan bahas itu, Del. Gue lagi gak selera," potong Malika mengibaskan sebelah tangan.
Delta terdiam seketika, disusul dengan anggukan mengerti ia pun memilih untuk mencari topik lain yang bisa dibicarakan dengan perempuan di hadapannya ketimbang membuat mood mantan partnernya itu semakin rusak.
Ya, setelah pertemuan tak sengaja di tengah jalan karena mobilnya hampir bertabrakan satu sama lain. Mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah tempat nongkrong. Delta pun rela mengabaikan seluruh pekerjaannya demi memenuhi permintaan Malika yang baru ketemu lagi setelah sekian lama.
"Oh iya," Malika kembali bersua setelah sempat menyesap caramel latte di dalam cangkirnya, "gue denger kabar, katanya lo udah balikan lagi ya sama cewek yang sempat bikin lo se-frustrasi dulu?" lanjut Malika menatap serius.
Mengernyit sejenak, Delta lantas mengangguk. Senyumannya seketika terbit tatkala mengingat betapa sekarang ia sudah bahagia karena bisa bersama lagi dengan gadisnya.
"Jadi kabar yang gue denger itu bukan hoaks," gumam Malika menatap kosong.
Sejenak, Delta menatap wanita di hadapannya. Guratan sedih bercampur hampa kini tercetak jelas di wajah blasteran Amerika-Indonesia itu.
"Are you okay?" tegur Delta sedikit menatap ragu.
Menghela napas, Malika pun mengangguk kecil diikuti dengan senyuman samar di bibir.
***
Sore telah tiba, tapi Lovely belum juga mendapat respon dari sang kekasih yang tampaknya masih betah dengan kekesalannya karena semalam. Buktinya, seluruh pesan yang Lovely kirimkan melalui chat w******p Delta sejak pagi buta belum dibaca sama sekali meski tanda centang sudah berubah dua.
Lagi-lagi Lovely membuang napas, "Kamu kemana sih, Yo? Gak biasanya marah sampe hampir seharian gini...." keluhnya sedih.
Memang sedikit aneh jika Delta tiba-tiba mendiamkannya hingga lebih dari lima jam. Padahal, biasanya lelaki itu tidak akan tahan mencuekkan gadisnya lebih dari itu. Lima jam adalah waktu terlama yang Lovely perhitungkan ketika sang kekasih tengah kesal kepadanya.
Untuk ke sekian kalinya, Lovely kembali memeriksa ponsel. Siapa tahu Delta sudah membaca semua pesannya. Akan tetapi nihil, hanya desahan napas penuh kekecewaan saja yang pada akhirnya kembali Lovely keluarkan melalui mulutnya.
Merasa jenuh berdiam diri terus di dalam ruangan, Lovely pun memutuskan untuk beranjak keluar untuk beberapa waktu. Dengan sengaja, ia juga meninggalkan ponselnya di atas meja. Lovely berharap, ketika ia kembali nanti mungkin kekasihnya sudah membalas semua pesan yang ia kirimkan sejak pagi tadi.
Dengan lesu, Lovely melangkah keluar menyisakan kekosongan di ruangan pribadinya.
Kafe tak terlalu ramai, mungkin dikarenakan para pengunjung masih sibuk berkutat dengan sejumlah aktifitasnya. Maka, tidak heran jika Lovely melihat sebagian karyawannya tengah asyik bercanda tawa di meja kasir.
"Tara!" seru Lovely pada salah satu pegawai.
Seorang pemuda berambut cepak pun lantas menoleh tatkala namanya dipanggil sang Owner.
"Bentar, gue dipanggil." ujar pemuda itu pada dua partner yang mulanya tengah berbincang dengannya. Sementara Tara sudah berjalan menghampiri Lovely, kedua temannya pun turut kembali bekerja saat kebetulan sepasang muda mudi memasuki kafe.
"Tolong buatkan saya tiramisu, panggil Bunga juga sekalian!" titah Lovely tak berbasa basi. Pikirannya sedang kalut, jadi dia sedang tidak selera untuk beramah tamah dengan karyawannya.
"Baik, Mbak. Segera saya laksanakan," angguk Tara yang lekas bergegas.
Lovely mengurut kening yang mendadak pusing. Dia pun menempati satu meja kosong di paling pojok. Gadis itu sedang ingin membuang penat, makanya ia meminta dibuatkan tiramisu pada Tara.
Baru saja Lovely menyandarkan punggung di kursi yang didudukinya, tahu-tahu seseorang datang menghampiri.
"Lovely?" suara itu sontak membuat sang pemilik nama mendongak dan mendapati wajah seorang lelaki yang tadi malam tak sengaja bertemu di pesta klien Delta.
"Loh, Gamma?" balas Lovely terkejut. Kebetulan, dia juga tidak lupa dengan nama lelaki itu.
"Wah, kebetulan sekali ya kita ketemu di sini." ucap Gamma tak menyangka, "Ngomong-ngomong, kamu sendirian?" tanya lelaki bermata sipit itu to the point, sejenak melihat kiri kanan seperti mencari sesuatu.
Melihat Gamma yang celingukan, Lovely pun malah ikut-ikutan. Sampai akhirnya dia tersadar sendiri dan menggeleng pelan tanpa Gamma sadari.
"Ah, iya. Gue cuman sendiri, kok. By the way, silahkan duduk. Gue bisa panggilin salah satu karyawan gue buat catat pesanan lo," tukas Lovely menyilakan.
Mendengar ucapan gadis di hadapannya barusan, Gamma sedikit tercenung. Refleks dia menggaruk kepala, mungkin ia terkejut karena ternyata gadis mungil yang beberapa kali bertemu tanpa sengaja dengannya itu ternyata adalah seorang atasan di kafe yang dikunjunginya sekarang.
"Lov, kamu panggil aku?" Bunga pun datang menyela percakapan antara Lovely dan teman lelaki yang baru saja Bunga lihat.
Menengok, Lovely pun mengangguk, "Iya, tadinya mau minta ditemenin. Tapi malah ada temen yang nyamperin, jadi aku cuman minta kamu catatin aja pesanan dia...." ujar Lovely nyengir.
Bunga nyaris menjitak kepala Lovely seandainya tidak sedang di tempat umum. Bagaimanapun juga, Bunga masih di tempat kerja. Jadi, dia tidak mungkin menunjukkan sikap tidak sopan terhadap sang sahabat yang notabene adalah atasannya sendiri.
Mengabaikan Lovely, Bunga pun lantas mengeluarkan sebuah nota kecil dari saku depan celemeknya. "Mau pesan apa, Mas?" tanya gadis itu, mengalihkan fokus pada lelaki di hadapan Lovely.
"Emh, saya pesan matcha latte aja satu...." jawab Gamma ramah.
Setelah mencatat pesanan teman sang Owner, Bunga pun undur diri untuk menyiapkan jenis minuman yang Gamma inginkan.
Lalu selepas Bunga kembali ke dapur, kini Lovely juga Gamma serempak mendudukkan diri di kursi masing-masing yang saling berhadapan.
***
Tepat ketika senja berlalu, dua anak manusia berbeda gender baru saja meninggalkan sebuah kedai minum yang berlokasi di jalan yang tak jauh dari kantor tempat Delta memimpin. Setelah puas bercengkerama, akhirnya Delta dan Malika pun harus berpisah di halaman kedai. Walau sebenarnya Malika terlihat masih ingin menghabiskan waktu bersama Delta, tapi dia sadar kalau sekarang lelaki itu sudah tak sebebas dulu sebelum kembali lagi dengan gadisnya. Deltanya kini sudah menjadi milik perempuan lain. Bukan lagi lelaki lajang yang bisa Malika ajak masuk kamar untuk menggerayanginya.
"Jangan melamun, nanti kesambet makhluk astral!" cetus Delta meraup muka Malika.
Untuk sesaat, Malika mendecak kesal. Namun selanjutnya, dia turut terkekeh ketika melihat Delta nyengir kuda sembari mengacungkan dua jari sejajar dengan mukanya sendiri.
"Ya udah, daripada nanti lo diomelin lagi sama bokap. Mending lo langsung pulang, gue suka ngeri kalo udah denger keluhan lo tentang kemarahan bokap lo yang kelihatannya jengkel banget sama kelakuan lo." cerocos Delta sedikit bergidik.
Alih-alih mengiyakan ucapan Delta, Malika justru malah memutar bola mata seolah tak peduli dengan apa yang lelaki itu takutkan.
"Gue udah biasa diomelin bokap, gak usah sok khawatir gitu deh lo sama gue. Lebih baik, lo khawatirin aja cewek lo. Tahu-tahu digebet cowok lain, yang ada lo nangis darah datang ke gue. Hahahaha," ejek Malika setelah selama di dalam kedai banyak mendengarkan curahan hati si lelaki tentang kegundahannya.
Merasa tersinggung, Delta mendengus. Dalam hati, dia merapalkan doa yang menjurus pada hal-hal yang semoga saja celetukan Malika tidak kejadian atau dia akan benar-benar mengeluarkan air mata darah jika saja Lovely berani menduakannya.
"Udah sana, lo pulang! Gue juga harus balik kantor, masih ada kerjaan yang menanti." usir Delta pada akhirnya.
Malika terkekeh, "Iya deh, kalo gitu gue pulang duluan ya. Next time, kita harus ketemu lagi buat ngobrol-ngobrol kayak tadi...." aturnya mantap.
"Bisa diatur!" sahut Delta mengacungkan jempol. Kemudian, Malika pun mulai melangkah pergi meninggalkan Delta yang masih tetap berdiri di tempat menunggu Malika memasuki mobil hingga Audy hitam tersebut melaju menjauhi kedai.
Lalu, ketika Delta sudah bersiap untuk berjalan menuju mobilnya sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk tertera di layar, nama asistennyalah yang terpampang di sana.
"Fasal?" gumamnya singkat sambil mengernyit, lantas ia segera menjawab panggilan tersebut sembari berjalan santai menuju mobil. "Ya, Sal? Ada apa?" sahutnya sedetik setelah Fasal berkata 'halo'.
"Maaf saya mengganggu, Pak. Tapi saya menelpon Bapak karena disuruh sama Bu Lovely, katanya beliau--"
"Apa? Maksud kamu Lovely ada di sana?" secepat kilat Delta menyambar.
"Iya, Pak. Bu Lovely--"
"Ya udah, suruh dia tunggu di sana. Saya on the way balik ke kantor sekarang," suruh Delta tak mau banyak bicara. Kemudian, ia segera memasuki mobil dan melajukannya menuju kantor demi menemui sang kekasih yang tak diduga mendatangi tempat kerjanya.