Dina duduk diam mendengarkan pembahasan rapat di ruang rapat kantor nya dengan setumpuk dokumen di depan mata, meskipun dihadapan nya duduk seorang lelaki tampan bermata hazel dengan tatapan tajam, alis tebal, hidung bangir dan bibir tipis yang menggoda tak membuat Dina semangat sama sekali.
Lelaki di hadapan nya ini adalah Noah Alexander Black putra dari Benjamin Black yang juga salah satu pengusaha sukses sama seperti papa nya, pengusaha yang kekayaan nya tidak jauh beda dengan keluarga nya malah lebih kaya lagi.
Noah Black putra tunggal Benjamin Black adalah sosok lelaki yang amat sangat tampan, visual nya yang menyerupai dewa yunani ini sangat mudah menarik perhatian para wanita bagaimana tidak dengan tubuh nya yang gagah sempurna dan wajah yang sangat tampan banyak sekali wanita yang bertekuk lutut rela menyerahkan diri nya secara cuma cuma pada lelaki penerus kerajaan bisnis keluarga Black.
Tak jauh beda dengan Dina, Noah Black pun terkenal sebagai lelaki 'nakal' yang suka sekali bermain main dengan perempuan.
'seperti nya semua anak konglomerat hobby nya sama' fikiran dalam otak Dina membuat wanita itu menyungging kan senyuman sembari mata cantik nya bertemu tatap dengan Noah Black yang ternyata juga sedang menatap nya dengan mata hazel yang indah itu.
Dina sama sekali tak tertarik pada lelaki dihadapan nya ini karena Dina adalah sosok wanita yang tidak mau tunduk pada siapa pun terutama pada lelaki, Dina ingin para lelaki yang tunduk pada nya dan memuaskan nya. Wanita itu sama sekali tidak tertarik menjadi pemuas nafsu lelaki mana pun.
'mereka yang harus nya membuat ku puas, bukan sebalik nya' batin Dina sombong.
"saya rasa sudah cukup rapat kita hari ini dan seperti nya Nona Wiratama pun sudah bosan" suara Noah Black yang terdengar seksi itu memecah lamunan Dina membuat nya kembali menatap mata lelaki itu sembari menyungging kan sebuah senyuman manis.
"semoga kita bisa bekerja sama dengan baik Tuan Black" jawab Dina sambil berdiri mengikuti gerakan lelaki tampan itu dan mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Noah.
Lelaki tampan itu menerima uluran tangan nya dan menggenggam erat tangan halus itu.
"tentu saja, sampai salam ku pada Tuan Wiratama" Noah segera berbalik menuju pintu keluar di iringi asisten nya.
Dina menatap punggung Noah dengan tatapan yang bosan membuat asisten nya yang dari tadi hanya diam menggeleng, bagaimana bisa Nona nya ini mengabaikan seorang Noah Black? jika dia di posisi nona Dina pasti sudah melakukan segala cara agar bisa membuat Tuan Black tertarik dan mau meniduri nya, dengan sukarela dia akan membuka celana nya di hadapan tuan Black. Fikiran nakal nya membuat nya diam diam tersenyum.
"Kinan kenapa kau diam saja?" suara jengkel Dina membuat asisten yang bernama Kinan sedikit tergagap.
"ah maaf kan saya nona" dengan cepat Kinan bergerak membereskan semua dokumen di atas meja rapat mereka
"jangan bilang kau sedang membayangkan diri mengangkang dihadapan tuan Black itu" celetukan vulgar Dina membuat Kinan sedikit malu dan pipi nya memerah
" oh my god Kinan, aku akan mencarikan mu pria yang lebih dari pada si Black itu" omel Dina melihat raut wajah Kinan yang memerah dan segera keluar dari ruang rapat meninggalkan asisten nya yang ternyata sama saja dengan wanita wanita lain saat melihat Noah Black.
Dina segera masuk ke ruang an nya, duduk diam di kursi kerja nya selama beberapa saat.
Hari ini dia sangat malas untuk mengerjakan apapun, hibernasi nya belum selesai tapi gara gara mama nya dia harus ke kantor dan menghabis kan waktu nya yang membosan kan.
Setelah beberapa saat duduk diam tak mengerjakan apa pun, fikiran nakal Dina lagi lagi mulai bereaksi.
'saat ini siapa yang sebaik nya aku nikmati?' batin nya nakal memikir kan para lelaki koleksi nya yang pasti nya akan dengan sangat cepat datang menghampiri nya jika di minta untuk datang.
Dina sangat suka dengan perlakuan para lelaki yang seolah olah bisa menjadi b***k seks nya, yang dengan sukarela datang dan meninggal kan semua kesibukan yang sedang mereka kerjakan di saat Dina memanggil.
Wanita yang haus perhatian dan kasih sayang ini membuat ego nya sangat besar.
Dina mengambil handphone nya dan mengscroll satu persatu kontak telepon nya.
Terfikir Jovan si dokter tampan yang kemarin amat sangat memuaskan nya tapi dia tak punya banyak waktu karena jika dia sudah bermain dengan Jovan akan sangat lama sedangkan Kinan sudah menjadwal kan rapat selanjut nya setelah makan siang nanti.
Akhirnya Dina mendial nomor kontak seorang staff nya yang bekerja di perusahaan cabang, seorang lelaki tampan yang dia tempatkan di bagian HRD.
"selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu" sapa seseorang dengan semangat di seberang telepon karena sudah menyangka nona nya pasti membutuh kan kepuasan dari nya hari ini, sungguh beruntung nya dia.
"kemari lah" perintah Dina singkat
***