Sudah satu minggu Dina mengurung diri di dalam kamar nya, semua kebutuhab makan minum pun sampai di antar oleh para asisten rumah tangga mereka.
Begitulah sikap wanita cantik dengan tatapan mata memabukkan itu, dia bisa saja begitu ekstrovert dan begitu birahi selama berhari hari namun nanti nya akan berakhir seperti ini, diam mendekam di dalam kamar nya tanpa melakukan apapun, hanya diam menatap langit langit kamar nya yang mewah.
Dina hanya bergerak di saat dia merasa lapar dan akan mandi saja, selebih nya dia hanya melamun menatap langit langit kamar nya.
Pergumulan panas nya dengan Jovan benar benar membuat nya puas dan merasa selesai, dokter tampan itu benar benar menepati perkataan nya bahwa dia akan menyetubuhi Dina sampai subuh hari malah sudah menjelang praktek nya buka kembali. Dina terkekeh membayang kan aktivitas panas mereka kemarin, setelah aktivitas nya bersama dokter tampan itu serta aktivitas aktivitas panas nya yang lain membuat Dina kehabisan energi sosialisasi nya dan harus mendekam di kamar nya agak sedikit lama lagi.
drrtt.... ddrttt... drrtt....
Bunyi handphone nya memutus sejenak lamunan Dina, dengan malas wanita cantik itu menatap handphone yang tergeletak di nakas samping tempat tidur nya.
Nomor yang tertera di handphone nya pun membuat Dina makin malas dan memutar bola mata nya.
"Halo ma" dengan malas Dina mengangkat telepon dari mama nya yang sekarang entah sedang berada di dunia bagian mana
"Hai sayaaangg, bagaimana kabar mu nak? mama dengar dari bi ijah kamu belum juga keluar dari kamar sudah satu minggu ini. are u okay darling?" mama nya menyapa dengan latar suara yang ramai
"aku oke ma" Dina menjawab singkat dengan malas menjawab pertanyaan dari mama nya yang tak pernah peduli dengan anak perempuan yang sudah lama tidak dia tanya kabar, apakah anak nya baik baik saja apakah anak nya sedang sedih mama nya tak pernah peduli.
"syukurlah kalau kamu baik baik saja nak, bergegas la keluar dari kamar mu dan pergi lah ke perusahaan"
Dina memutar bola mata nya lagi, hanya itu yang dipedulikan kedua orang tua nya. Perusahaan sialan itu yang selalu menyita perhatian kedua orang tua nya sampai Dina selalu kesepian dan melampiaskan rasa sepi nya itu dengan seks.
"oke" lagi lagi jawaban singkat yang di berikan Dina membuat mama nya mulai sedikit kesal dengan perlakuan anak nya yang selalu acuh tak acuh.
" selalu saja jawaban singkat yang kau berikan pada mama mu ini, kau tidak mau menanyakan kabar mama mu? kau tidak rindu pada mama dan papa mu?" omel mama nya di telepon tak sadar dengan kelakuan nya sendiri yang memang jarang sekali bertanya tentang kabar anak semata wayang nya.
"apakah mama dan papa akan pulang kalau aku bilang rindu?" tanya Dina dengan sinis dan kata kata yang sedikit panjang membuat mama nya sedikit merasa bersalah.
"maaf kan mama dan papa sayang, mama janji nanti setelah pekerjaan papa mu selesai kami akan pulang dan menghabiskan waktu bersama mu" lagi lagi mama nya memberikan janji palsu yang pasti tak akan dia dan suami nya tepati membuat Dina jengah mendengar nya.
"tak usah repot, aku akan pergi kerja" Dina sudah berniat menyudahi percakapan membosankan ini
"terima kasih sayang, maafkan mama dan papa nak. oh iya jangan lupa nanti malam kau ada janji temu dengan Noah Black untuk membahas kerja sama perusahaan kita, jangan lewatkan dan kau harus bisa mendapatkan kerja sama itu dengan keluarga Black sayang"
"baik" Dina sungguh lelah mendengar mama nya yang selalu mementingkan perusahaan sialan itu, seperti nya perusahaan lebih penting dibanding kan dengan anak semata wayang nya sendiri.
"aku tutup dulu" Dina langsung memutuskan sepihak telepon mereka tanpa sempat mama nya mengucap kan kata kata lain.
Dengan malas nya wanita cantik itu bangkit dari tempat tidur nya yang sangat empuk dan berjalan ke arah kamar mandi untuk berendam.
'berendam air hangat mungkin akan mengembalikan mood ku' batin nya karena pagi pagi sudah dibuat kesal oleh sang mama yang entah berada dimana.
***