PROLOG DAN BAB 1
PROLOG
Dia menatap dalam kedua bola mata itu. Sepasang mata yang telah mengisi hari-harinya, mengubah dunianya dan yang membuat jantungnya berdebar keras hingga dia takut kalau jantungnya akan melompat keluar dari rongganya. Dalam hati dia berkata,
"Oh ... God. She has beautiful brown eyes and nice smile in her thin lips. The best thing ever i see."
Dia memejamkan matanya sejenak dan menarik napas lalu mengembuskannya perlahan, memantapkan hatinya untuk mengatakan hal yang selama ini dirasakannya. Lalu dengan yakin dia berkata,
"Would you be my lady?"
He saw a smile tugged along her lips, her response made his heart leaped in joy. 'God, i like her. No, not just like. But, i love her. I love all about this girl.'
***
BAGIAN 1
Seorang wanita paruh baya melangkah dengan gusar memasuki apartemen mewah di daerah Jakarta Selatan. Dia menaiki lift menuju lantai 27 di mana unit apartemen yang ditujunya berada. Setelah sampai di depan pintu, dia menekan password apartemen lalu membukanya. Dengan langkah begitu cepat dia menuju kamar di mana anak sulungnya berada. Braakkk!!
Pintu dibuka dengan keras membuat penghuni kamar terlonjak kaget.
“REGA!!!” teriak wanita itu yang merupakan ibu dari pemilik kamar ini.
"Duh, Mam. Tidak bisakah Mama mengetuk pintu dulu. Mama membuatku jantungan." ucap pria itu sambil mengelus dadanya.
"Apa yang kamu lakukan semalam? Di mana wanita yang bersamamu itu?"
“Wanita mana? Tidak ada siapapun di sini selain aku. Kecuali Mama yang tiba-tiba mendobrak pintu kamarku.” jawabnya sambil menggerutu.
"Sudah, tidak usah bohong sama Mama. Semalam Mama lihat kamu bersama seorang wanita. Dia berpakaian sangat seksi. Pasti semalam kamu berbuat sesuatu yang aneh lagi ‘kan?”
Lelaki itu tersenyum sumir, lalu mengatakan,
"Mam, it's normal oke. Aku laki-laki dan mempunyai kebutuhan biologis. Jadi, apa salahnya kalau aku sedikit bermain-main dengan perempuan di ranjang."
Wanita yang bernama Miranda itu memijat pelipisnya mendengar ucapan sang anak yang sangat sembarangan itu.
"Memangnya kamu mau terkena penyakit impoten? Hahh!!” teriak Miranda gemas.
"Ahh, Mam. Just calm down, OK. Rega tipe orang yang bertanggung jawab, kok. Tinggal kasih apa yang mereka mau, beres. Lagi pula para wanita itu hanya partner one night stand aku. Mama nggak perlu khawatir. Oke. Rega sudah menyuruh mereka minum pil kb sebelumnya. Jadi aman." jelas pria itu panjang lebar.
Miranda ternganga,
"Aman kepalamu! Kenapa hidup kamu berantakan begini, sih. Sudah berapa kali Mama bilang, kamu itu harus berhenti bermain-main. Demi Tuhan, tahun depan kamu akan berumur 35 dan kamu masih seperti ini. Sudah saatnya kamu mencari pendamping, biar hidupmu jelas nggak luntang-lantung tanpa arah gitu." ucap Mama sambil memelototi anaknya.
“What did you say, Mom? Aku bukannya hidup tidak jelas. I just enjoy what I have in my life and my hard work so far. I like this life dan Rega merasa tidak kurang apa pun. Memangnya Mama mau aku ngapain lagi?”
“Satu hal yang belum kamu lakukan buat Mama.”
Rega mengangkat alis menunjukkan ekspresi bertanya. Ia tertawa dalam hati melihat raut wajah Sang Mama yang nampak lelah, namun kecantikannya tidak hilang sama sekali.
“What I haven’t done for you, Mom?” tanya pria itu.
“You introduce a women your love and married her.”
“Ckckck... Mom, I don’t feel like thinking about it. Kalau sudah waktunya dan Rega udah menemukan yang cocok, pasti aku akan kenalin ke Mama.” Kata Rega akhirnya menjawab pernyataan ibunya.
"Iya, tapi sampai kapan? Kamu itu sekalinya ngenalin wanita malah tidak bener. Kamu mau nunggu Mama jatuh sakit, nggak bisa jalan, nggak bisa ngapa-ngapain, terus mati. Baru kamu mau nyari istri. Begitu, ya?"
Ucapan ibunya ini membuat Rega protes tidak menerimanya.
"Mama kok ngomongnya gitu, sih? Well, Aku akan secepatnya mencari istri. But not now. Nanti kalau sudah ketemu yang cocok dan pasti aku cintai, aku janji pasti akan langsung kenalin ke mama." Rega berusaha meyakinkan lewat perkataannya.
"Fine, Mama pegang kata-katamu. Tapi kamu harus ingat, you must stop and quit from playful activities. Paham!"
"Tapi...” belum selesai Rega protes, ibunya kembali berkata,
"No buts. Untuk kali ini hukumnya mutlak tidak ada bantahan. Kalau kamu masih seperti itu, siap-siap hengkang dari keluarga Sutomo."
Ancaman tersebut sukses membuat lelaki itu diam, namun ia tidak menyerah dan mencoba mengutarakan keberatannya.
"Ma, nggak bisa gitu, dong. Itu namanya merampas hak aku dalam memenuhi kebutuhan biologis. Memangnya Mama nggak ingat, dulu Papa waktu masih muda juga sama seperti aku ‘kan? Jadi, jangan heran kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." katanya disertai tersenyum miring.
"Kamu..." Miranda siap memarahi anaknya lagi, lalu dia menghela napasnya panjang.
"Sudahlah, Mama tidak mau berdebat lagi sama kamu. Kepala Mama hampir pecah gara-gara kamu." ucap Miranda menyerah, lalu ia melanjutkan perkataannya,
"Well, Go and take a bath. Mama akan siapkan sarapan buat kamu."
Lalu wanita itu keluar dari kamar anaknya yang masih terlihat kuyu di tempat tidur.
"Ma..." panggil lelaki itu saat dilihatnya Sang Mama memegang gagang pintu.
"Ya?" jawab Miranda berbalik menatap anaknya.
"Jadi... aku masih boleh main-main ‘kan?" tanyanya sambil nyengir.
Miranda melotot, "Coba saja kalau berani!"
"Agghhh... Mama!!" teriak Rega kesal sambil mengacak rambutnya.
***
Namanya Rega Sebastian. Pemilik restoran Eropa yang terkenal di negara ini. Karena restoran ini hanya ada satu saja di ibukota. Dia tidak membukanya di tempat lain. Padahal pengunjung setiap harinya banyak dan setiap meja selalu penuh. Ada juga yang reservasi seminggu atau sebulan sebelumnya. Tetapi hal itu tidak membuat Rega ingin membuka cabang baru. Dia hanya ingin ada satu restoran dan eksklusif. Selain itu, dia dikenal khalayak karena Rega adalah putra dari seorang pengusaha besar di Indonesia yang bernama Indra Sutomo. Dia cerdas sudah pasti, karena prestasi akademik dan kerja yang diraihnya. Sejak masa sekolah menengah Sang Ayah sudah melatih Rega untuk mempelajari berbagai ilmu tentang bisnis. Hal itu dilakukan sebab beliau ingin putra sulungnya yang mengelola dan memimpin perusahaan miliknya. Tapi Rega sepertinya tidak berniat melakukan hal itu, sehingga dia bekerja di tempat lain untuk mencari modal sendiri agar bisa membuka usahanya. Dia melakukan itu bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin apa yang diperjuangkannya berada di bawah bayang-bayang nama besar Ayahnya. Karena itu dia tidak akur dengan Ayah dan seringkali berdebat. Sifat keras kepala Rega itu akhirnya membuat Sang Ayah menyerah dan membiarkan putranya melakukan apa yang dia mau. Dan berkat kegigihan juga kerja kerasnya itulah, Rega bisa mendirikan sebuah restoran berskala internasional dan berkembang dengan cepat. Hidangan yang disajikan juga bervariasi dan pasti dijamin dapat menggugah selera para pelanggan. Omset per bulannya cukup tinggi meskipun hanya ada satu tempat. Banyak pelanggan yang datang dari luar negeri atau para turis yang berkunjung ke restorannya. Kalangan elit di kota juga tidak mau kalah, mereka ikut mengantre untuk mendapatkan meja di restorannya. Rega sepertinya tahu cara memanjakan pelanggan dengan baik. Dia memperkerjakan karyawan yang akan menerima training dengan ketat. Dan lihatlah pelayanan mereka, sering mendapat bintang lima dari pelanggan. Itu berarti servis yang diberikan cukup memuaskan bukan. Dan karena itulah, Ayah Rega ingin menyuntikkan modal ke restorannya namun Rega dengan tegas menolak ide itu. Dia tidak atau lebih tepatnya belum ingin siapa pun untuk berinvestasi di usaha miliknya.
Usaha Rega yang berkembang ini membuat karirnya melejit naik. Banyaknya tawaran kerjasama yang diterimanya membuat namanya berada di atas angin. Namun di atas semua yang telah diraihnya, hidup Rega sebenarnya sepi. Kesibukan dalam keluarganya membuat Rega merasa dia selalu sendiri, meski dia memiliki dua adik. Bahkan dalam urusan asmaranya, tidak ada yang berjalan mulus. Semua berakhir dengan tragedi atau hanya sekadar menghantui. Terakhir dia berhubungan serius dengan wanita adalah beberapa tahun lalu, ketika dia masih merintis restorannya. Akhir dari kisah itu membuat lelaki itu membisu dan memilih bermain-main dengan perempuan lain diluar sana. Melakukan percintaan satu malam dan label playboy juga disandangnya. Meskipun begitu, tingkat pesonanya tidak menurun. Malah semakin banyak kaum hawa yang mendekatinya, apalagi kalau bukan karena uang. Fisik yang dimiliki pria itu menjadi nilai tambah tersendiri. Dia memiliki warna mata hitam yang tajam, bulu mata yang lentik untuk ukuran pria, bibir tipis, serta jawline yang membingkai wajahnya. Bisa dibilang dia lebih dari tampan. Kulitnya kecokelatan hasil dari kegemarannya melakukan traveling. Tubuhnya tegap dan berotot hasil dari olahraga rutin setiap minggu. Tinggi dan proporsional. Dengan semua yang dimilikinya, ia bisa memilih sesuka hati siapa wanita yang diinginkannya. Apalagi dia orangnya sangat sadar dengan pesona sehingga sudah puluhan wanita yang jatuh ke dalam pelukannya dan tak jarang berakhir di ranjangnya. Tapi setelah melakukan 'pemanasan' Rega akan meninggalkan wanita itu tanpa alasan dan mencari mangsa baru. Selalu seperti itu, gonta ganti pasangan seperti berganti pakaian. Hal ini yang membuat Mamanya geram, sehingga dia sering merecoki kehidupan putra sulungnya hanya untuk memastikan dia tak bermain-main lagi. Bahkan Miranda pernah menjodohkan Rega dengan anak teman arisannya. Namun berakhir dengan amukan teman Miranda karena tidak terima anaknya menangis karena ulah Rega. Sejak saat itu, Miranda benar-benar melakukan pengawasan ketat terhadap Rega hingga dia tidak bisa lagi bebas melakukan apa pun yang disukainya. Rega seperti anak lima tahun yang sedang diawasi kalau sedang bermain. Dan ini membuat Rega kesal. Sebenarnya ada alasan kuat yang membuat Rega menjadi b******k seperti ini. Alasan yang membuatnya mengeraskan hatinya dan itu membuat ibunya khawatir.
***
Rega keluar dari kamar setelah melakukan ritual paginya, lalu dia menuju dapur di mana wanita yang sangat dicintainya tengah menyiapkan sarapan. Rega duduk di sudut meja makan dan tersenyum melihat menu sarapan pagi ini, nasi goreng seafood kesukaannya.
"Mama tahu aja kesukaan Ega." ucapnya sambil menyantap nasi goreng tersebut.
Di keluarganya, Rega memang kerap disapa Ega. Itu adalah panggilan dari neneknya waktu ia masih kecil.
"By the way, tumben Mama datang sendirian ke sini. Kayla nggak ikut?" tanya Rega pada Mamanya yang sudah duduk di depannya.
Kedua adik Rega bernama Kayla dan Galang. Usia mereka terpaut cukup jauh dari Rega sekitar sepuluh tahun, maka tak heran kedua adik Rega masih sekolah.
"Selain mau memarahi kamu tadi, Mama ingin minta tolong sama kamu." jawab Miranda.
Rega mengernyitkan dahinya "What can i do for you, Mom?”
"Sunday today. I’m getting bored. Kamu mau ‘kan nemenin Mama belanja dan ke salon? Please, setelah itu kamu ikut Mama arisan."
Rega tersedak mendengar penuturan Mamanya.
"Aduh, Rega hati-hati dong." ucap Mama sambil menyodorkan air minum pada Rega.
Rega menenggak air minum itu sampai tandas kemudian ia berkata,
"Mom, that Kayla’s task. Kenapa jadi aku yang harus nemenin Mama. Lagi pula..."
"Kayla sedang istirahat di rumah." ucap Mama memotong kalimat anaknya.
"Kemarin Kayla baru pulang study tour, dia masih kecapekan. Kasihan kalau harus minta dia ikut Mama sekarang. Mama bisa saja minta tolong sama Galang tapi nggak bisa. Dia dari subuh sudah keluar rumah. Mama melihat batang hidungnya. Papamu belum pulang dari Amsterdam, makanya tidak ada pilihan lain selain mengajak kamu." jelas Mama panjang lebar.
Kalau sudah mendengar penjelasan begini Rega tahu, Mamanya tidak ingin dibantah. Akhirnya ia memilih mengalah dan menyetujui permintaan ibunya. Ya, Rega memang sangat manja terhadap Mamanya. Dia tipe anak penurut, meski kadang kelakuannya bikin kepala sang ibu hampir pecah. Sambil menghela napas, dia menjawab,
"Well, i’ll do whatever my Mom says and will go wherever she goes."
Miranda tersenyum lebar mendengar jawaban tersebut.
"Ayo cepat habiskan sarapanmu dan kita berangkat." ucap Miranda semangat.
Dan Rega hanya tertawa kecil melihat tingkah Mamanya.