Pagi ini tanda-tanda kehidupan di sebuah desa mulai terlihat. Burung berkicau, suara ayam berkokok, dan sinar matahari mulai naik membuat masyarakat memulai aktivitasnya seperti biasa. Meskipun suhunya dingin tidak menyurutkan kegiatan yang sudah dilakukan. Seperti seorang wanita yang setelah bergegas bangun dari tempat tidurnya dan membersihkan diri, ia langsung membersihkan seisi rumah dengan cekatan. Hal rutin yang selalu ia lakukan setiap pagi. Dimulai dari menyapu dan mengepel lantai lalu mencuci piring dan pakaian yang kotor. Setelah semua selesai dia segera memasak, menyiapkan bekal untuk ayahnya pergi ke ladang. Seorang pria paruh baya keluar dari kamarnya lalu menuju dapur dan dia tersenyum melihat putri bungsunya tengah menyiapkan bekal untuknya.
"Nak..." panggil pria itu dengan logatnya yang berbeda dari warga asli.
Wanita itu menoleh dan tersenyum melihat ayahnya itu, "Ayah sudah bangun.”
"Sebenarnya sudah dari tadi, cuma dingin sekali hari ini. Makanya Ayah memakai selimut lagi.”
jawabnya sambil tersenyum lebar.
Wanita yang bernama Devina itu mengangguk mengerti lalu menjawab,
"Ayah kan tidak kuat dingin. Jadi, wajar saja,”
"Tapi Vina heran. Kenapa Ayah bisa betah tinggal di sini, ya?"
Sang Ayah tertawa mendengar perkataan putrinya itu.
"Kamu yang paling tahu, kenapa Ayah lebih suka berada di sini." jawabnya.
Devina tersenyum sendu. Dia tahu pasti alasan Ayahnya menetap di tempat asing daripada harus kembali ke kampung halamannya.
"Ya, sudah. Cepat rapikan bekalnya. Ayah sudah mau berangkat. Lagi pula, kamu juga mau
berangkat mengajar ‘kan?" ucap Ayahnya mengakhiri pembicaraan ini.
Devina tersadar, ia lalu kembali merapikan bekal yang sedang disusunnya. Selanjutnya dia menyodorkan sebuah rantang makanan pada Sang Ayah setelah beliau dari gudang mengambil peralatan pertanian.
“Selamat bekerja dan selamat menikmati pemandangan dari bukit, Ayah.”
Ia memberikan senyum lebar kepada Ayah dan dijawab dengan elusan halus di kepalanya.
“Ayah tidak akan berhenti meminta maaf kepadamu, Nak. Maaf membuat kamu jadi seperti ini.”
Devina tidak menjawab, ia hanya menatap mata lelaki yang telah membesarkannya dengan tatapan sendu. Ia diam karena semua situasi yang terjadi sekarang tidak bisa dipungkiri lagi. Ia hanya menerima dan bersyukur sebab ayahnya masih berdiri di sampingnya. Untuk alasan kecil apa pun, Devina tahu, ia tidak sendirian. kemudian keduanya berpisah, menuju tempat kerja masing-masing. Melalui hari-hari rutin dan berbeda dari apa yang mereka lakukan bertahun-tahun yang lalu.
***
Namanya Devina Pramudita. Sebenarnya tidak ada yang istimewa pada wanita ini, dia hanya seorang yang biasa seperti pada umumnya. Dia menyelesaikan pendidikan di sebuah universitas mengambil jurusan akuntansi. Lulus dalam waktu tiga setengah tahun dengan nilai memuaskan. Pernah bekerja di salah satu perusahaan besar di bagian marketing. Namun karena suatu alasan, ia memutuskan untuk resign dari perusahaan dan saat ini ia menjadi guru di sebuah sekolah dasar. Memang perbandingan pekerjaan itu sangat jauh. Tetapi mempunyai sisi tersendiri yang bisa dirasakannya. Dan hanya itu sebagian kecil yang diketahui orang-orang di sekitar tempat tinggalnya sekarang. Tidak ada yang tahu bagaimana hati wanita ini. Mereka hanya mengetahui bahwa sikap Devina ini tegas dan dingin, mungkin sedikit kaku sehingga banyak yang segan padanya. Karena menurut mereka, wanita ini seperti memiliki killing of sense yang entah bagaimana membuat siapa pun merasakan ngeri walau hanya sekedar ditatap. Mereka tidak tahu bahwa Devina memiliki masa kelam yang membuat goncang dunianya, menyayat hatinya hingga ia membentengi diri. Memakai topeng dan menipu banyak mata bahwa sebenarnya dibalik topeng itu ada duka yang mendalam. Yang dengan sempurna ditutupinya. Bahkan Ayahnya pun tidak menyadarinya. Devina memang tipe orang yang suka memendam sendiri perasaan ataupun masalahnya. Ia mempunyai prinsip selama masalah itu bisa diselesaikan sendiri, kenapa harus bermuram durja dan mengeluh?
Tidak ada yang salah dengan prinsip yang ia pegang teguh sedari dulu. Hanya saja beban di hatinya semakin berat. Menumpuk, membuatnya sejenak lupa bagaimana berdiri dengan tegak?
Dan itulah pilihannya, mau tak mau dia harus mengatasinya sendiri. Dia bagaikan baja. Kokoh dan sulit ditembus. Dia juga seperti gunung es. Beku hingga sulit untuk didekati. Ini hanya berlaku untuk orang yang baru mengenal ataupun tidak mengenalnya. Karena para sahabat, keluarga, dan orang terdekatnya bisa merasakan bahwa sebenarnya gadis ini rapuh. Meski tidak dikatakan, mereka tahu.
Mereka tidak akan mengusik sampai Devina sendiri yang akan membuka mulut dan mengatakan semuanya.
***
Devina keluar dari rumah untuk berangkat mengajar beriringan dengan Sang Ayah yang juga akan pergi ke ladang. Tidak ada yang membuka pembicaraan selama perjalanan. Mereka hanya menikmati suasana sekitar yang begitu sejuk pagi ini. Ditambah pemandangan alam yang indah, mendamaikan hati serta mengukir senyum bagi siapa pun yang melihat keindahan lukisan ciptaan Tuhan. Beberapa warga yang berpapasan, menyapa mereka ataupun hanya sekedar tersenyum ramah. Menambah suasana menjadi ceria dan hangat. Sampai di jalan dekat sekolah tempat mengajar Devina, mereka berhenti. Devina sudah akan berpamitan pada Ayahnya tetapi gerakannya berhenti terpotong oleh perkataannya,
"Jangan lupa, lusa kakak-kakakmu akan datang. Seperti biasa kumpul keluarga. Dan kalau mereka menanyakan lagi hal sensitif padamu. Tolong, kendalikan amarahmu. Jangan seperti waktu itu. Semua jadi runyam dan suasana menjadi canggung hanya karena amarah yang tak terkendali."
Devina mengerutkan kening. Ia teringat, dulu acara kumpul keluarga menjadi kacau hanya karena emosi sesaatnya. Membuat suasana tidak nyaman dan acara itu tidak berlangsung lancar seperti yang direncanakan. Ia ingat malam setelah kejadian itu. Dia menangis di dalam kamarnya dan menyesal, kenapa dia tidak bisa mengendalikan diri? Dan kali ini, acara ini akan diadakan lagi. Ia tidak bisa berjanji, tapi ia akan berusaha sesuai permintaan ayahnya.
"Vina?"
Tersadar, Devina hanya mengangguk sebagai jawaban. Sang Ayah tersenyum dan berkata,
"Baiklah, kamu persiapkan segala sesuatunya. Minta tolong temanmu juga, ya. Sepertinya kita akan kerepotan kalau hanya dilakukan berdua."
"Iya, nanti Vina akan minta bantuan beberapa teman." jawabnya.
"Ya, sudah Ayah berangkat dulu. Nanti kita bicara lagi."
"Baiklah hati-hati, Yah." katanya sambil tersenyum.
Tak lupa Devina menyalami tangan ayahnya. Sang ayah mengusap pelan kepala putrinya itu, lalu berbalik arah berlawanan menuju ladangnya. Devina masih berdiri mematung di sana. Memperhatikan Ayahnya yang telah hilang di ujung jalan. Ia teringat percakapan singkat barusan, lalu mendesah pelan,
"Sepertinya aku harus siap mental dan juga hati." Gumamnya.
Kemudian Ia berjalan menuju tempatnya mengajar dan melalui hari itu seperti biasa. Tidak ada yang terlalu istimewa bukan?
***
Rega memarkirkan mobilnya di basemen apartemen, lalu bersandar di punggung jok mobil dan menghela napas lelah. Satu kata buat hari ini adalah 'kacau'. Tentu saja, dimulai dari permintaan aneh Mamanya yang meminta dia untuk menemaninya arisan. Yang benar saja, masa seorang lelaki harus ikut nimbrung ibu-ibu bergosip. Sekalian aja dia memakai gamis dan kerudung yang rambutnya terlihat setengah bagian, seperti wanita-wanita di televisi yang tertangkap polisi karena skandal. Dan lagi Sang Mama menyeretnya kesana kemari. Memperkenalkan bahkan mempromosikan Rega pada teman-temannya, seolah pria ini produk baru yang siap dijual di pasaran. Satu lagi yang membuat pria itu kesal setengah mati adalah Mama sepakat menjodohkannya dengan putri dari keluarga Hardjoyo. Pengusaha licik k*****t itu. Rega tidak berbohong. Dia pernah mengajukan proposal kerja sama ke perusahaan Pak Hardjoyo. Dan perusahaan itu dengan mudahnya menerima proyek yang ia tawarkan ini. Padahal selama ini perusahaan itu dikenal sangat ketat dan fleksibel. Banyak tawaran yang ditolak meskipun tawaran itu akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya. Dulu Rega sempat heran kenapa dengan mudahnya mereka menerima tawaran kerja sama itu. Dan hasilnya, entah apa yang dilakukan Pak Hardjoyo sehingga Rega hampir saja kehilangan semua asetnya. Dan sejak saat itu, perusahaan itu resmi jadi pesaing dan musuh besar di dunia bisnis yang Rega geluti ini. Dan apakah Mamanya sudah lupa dengan perbuatan pria tua itu yang hampir membuat bankrut anaknya? Sekarang bahkan dia mencoba menjodohkannya dengan anak dari pesaing bisnis Rega. Sungguh tidak masuk akal. Lagi pula sekarang ini zaman modern. Masa dia harus melakukan seperti kakek buyutnya itu. No way!
Mungkin sebagai anak dia memang keterlaluan, menyalahkan Mama atas kelakuannya ini. Rega tahu niat Mama itu baik, mengingat usianya yang memang sudah matang untuk berkeluarga. Namun jika saat ini dia memulai suatu hubungan dan berkomitmen, dirinya masih belum sanggup melakukannya. Entahlah, dia merasa seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya setiap kali ia berhubungan dengan wanita. Mengingatkannya pada masa sulit yang membuat ia takut juga ragu sampai sekarang. Tidak heran sebagai seorang ibu, beliau mengkhawatirkan keadaan putranya. Dan sekarang mendapat desakan dari Mama membuat Rega curiga bila sebenarnya beliau ingin mempunyai cucu seperti teman-teman arisannya dan bukan karena kasihan terhadap hidupnya. Dan mengingat usia kedua adiknya yang masih bersekolah membuat Rega bertambah yakin bahwa apa yang dicurigainya pasti nyata adanya. Ternyata Mama tidak sesayang itu padanya, gumam lelaki itu dalam hati. Rega memutuskan untuk keluar dari mobil karena ia merasa kepalanya akan meledak bila mengingat masalah yang dia hadapi hari ini. Juga pikiran-pikiran kalut yang menghantuinya selama ini. Dengan langkah lunglai dia berjalan menuju apartemen. Di dalam benaknya ia memikirkan untuk berendam air hangat agar segala rasa pegal di tubuhnya menghilang. Sampai di depan pintu, dia menekan password apartemen lalu membukanya. Sambil berjalan masuk Rega menekan saklar lampu di beberapa ruangan. Keadaan ruangan yang semula gelap kini menjadi terang. Ketika dirinya berjalan menuju kamar, ia dikejutkan dengan pemandangan yang mungkin bagi orang normal itu menjijikkan. Bagaimana tidak? Ada sepasang pria dan wanita yang setengah telanjang sedang b******u mesra di ruang tamu apartemennya. Bila dalam keadaan normal, Rega akan dengan senang hati akan menyaksikan live show ini. Tapi hari ini kondisi hatinya tengah kacau sehingga melihat pemandangan itu membuat darahnya mendidih. Akhirnya dengan suara yang lantang Rega meneriaki pasangan itu,
"What the hell are you doing here?!"
Bentaknya membuat kedua insan itu terkejut dan langsung memisahkan diri. Sang pria melihat ke arah seorang yang menghentikan keasyikannya, sementara sang wanita yang tidak diketahui namanya ini dengan cepat membetulkan pakaiannya. Laki-laki yang bernama Dimas hanya nyengir tak bersalah, dia adalah salah satu sahabat dekat Rega.
"Well, You know. I just take my time." Ucap Dimas dengan seringai khas miliknya.
Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ekspresi Rega yang bersiap mencekiknya sampai kehabisan napas detik ini.
"Yahh, you take your time in my apartement?" Rega mendengus.
"Hehe. Calm down, babe. Lo tahu, sejak Marisa keponakan gue tinggal bersama gue. Gue sudah kehilangan my love live. Lagi pula, gue tidak suka memakai hotel hanya untuk kebutuhan sekunderku ini." jawabnya disertai cengiran lebar.
Rega tampak mengernyit mendengar kata babe dari mulut Dimas, seakan-akan keduanya pasangan kekasih saja.
"I don’t care. Tapi bisakah elo lebih beradab? Lakukan apa yang pengen lo lakukan di kamar saja. Banyak kamar di apartemen ini. Lo tinggal pilih sesukanya." Kali ini Rega tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"I’m sorry bro. Gue udah kepepet banget. Makanya begitu di sini gue langsung main terjang." Jawab Dimas dengan kepalan tangan yang ia tinju ke telapak tangannya sendiri seolah sedang menjelaskan arti dari apa yang ia katakan pada Rega. Tapi Rega tidak peduli, dia melirik sekilas pada wanita asing itu dan kembali berkata,
"So, can you bring her go away from here?"
"Lo nggak berminat?" tanyanya sambil melirik sekilas ke arah wanita yang sudah berpakaian rapi walaupun masih menunjukkan lekuk tubuhnya.
"No!" Rega menjawab dengan malas.
"Kita bisa melakukan threesome di sini, kayaknya seru tuh. Belum pernah nyobain ‘kan?"
Rega mendelik tanda dia tidak bisa menahan amarahya lagi lebih lama. Dimas menyerah dan akhirnya membawa pergi wanita tidak dikenal itu.
"Fine, i will bring her go away. Tapi, jangan ngusir gue. Gue akan nginep malam ini."
"Terserah." Rega berlalu meninggalkan Dimas.
"Mau kemana lo?" tanyanya.
"Take a bath."
"Oh, jangan kelamaan di sana. Soalnya stok sabun elo hampir abis."
Dimas tertawa dengan puas akibat candaan garing yang dibuatnya sendiri. Sementara Rega semakin menatap tajam pada sahabatnya itu. Dia benar-benar ingin mencekik lelaki itu.
"Gue pengen tuh cewek udah pergi dari sini setelah gue selesai. Paham!"
"Siap, Bos!" jawab Dimas sambil membuat gerakan hormat.
Rega memutar bola mata lalu masuk ke dalam kamar.
***