BAB 3

2526 Words
‘Rega’      Selesai berendam aku keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju lemari. Aku mengambil kaus berwarna putih dan celana hitam pendek lalu memakainya. Setelah itu aku keluar dari kamar dengan kondisi tubuh yang sudah segar. Rasanya seluruh pegal di badan terangkat sehingga aku merasa lebih nyaman. Ketika melewati ruang tamu aku tidak melihat batang hidung Dimas, mungkin masih diluar pikirku. Kemudian aku berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum dan mungkin beberapa camilan untuk menemaniku nonton malam ini. Sambil menuang air ke dalam gelas, aku mengingat tentang temanku, Dimas. Aku sudah mengenalnya sejak tahun pertama masuk SMA, dia partner in crime yang sangat loyal. Dia juga mengerti segala hal tentang diriku luar dalam. Kalau ada masalah, Dimas langsung tahu walaupun aku tidak cerita. Dia seperti cenayang, bisa tahu apa aja yang orang pikirkan. Namun hal itu hanya berlaku untukku saja. Bukan orang lain. Meskipun sifat Dimas yang semaunya sendiri, dia adalah orang terbaik yang pernah aku temui. Dari sifat sembrono temannya itu, aku sudah tidak heran kenapa Dimas bisa making out di apartemen tanpa izin sama sekali.       Aku mendengar pintu depan yang dibuka lalu ditutup kembali. Sepertinya itu Dimas. Aku membawa minuman dan beberapa camilan yang tadi diambil lalu berjalan ke ruang tamu. Aku melihat Dimas telah duduk santai sambil memegang remote, mengganti channel. Kemudian aku menempati tempat duduk di sebelah Dimas dan melihat ke arah layar kaca yang sedang menampilkan acara komedi. Dimas membuka bungkus keripik kentang dan memakannya. Ia menoleh sekilas padaku kemudian bertanya, "Are you okay?" Aku mengangkat bahu lalu menjawab, "Yahh, i'm fine." "Really? I think you're not okay." "Jangan sok tahu deh, gue baik-baik saja!" "Its write all over your face." "So, would you tell me?" Aku menghela nafas pelan. Aku tahu Dimas tidak bisa dibohongi, dia terlalu tahu diriku. Akhirnya mengalirlah ceritaku, mulai dari permintaan Mama, pengekangan, sampai perjodohan itu. Aku tumpahkan semua unek-unekku padanya. Dan Dimas hanya mendengar, sesekali kulihat dia seperti menahan tawa. Setelah ceritaku selesai. Barulah tawanya meledak, membahana. Menyemarakan apartemen yang sepi ini. "You know man, i'm proud with your mother." katanya lagi yang membuatku semakin kesal. "Yahh, terserah!" "Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" Dia bertanya setelah mengendalikan tawanya itu walaupun dia masih berusaha menahannya. Aku memutar bola dengan malas kemudian menjawab, "I dont know. Gue ingin memenuhinya, gue ingin melakukan apa pun untuk Mama. Tapi elo tahu sendiri seperti apa gue." "I know what you feel. Tapi sepertinya lo harus kesampingkan dulu ego dan mulai memikirkan nyokap. Bukan apa-apa. Gue tahu dia cuma pengen yang terbaik buat elo." "Apa gue harus daftarin diri ke blind date, biar Mama nggak ngintilin gue terus?" "Yaaa, you can try it." jawabnya sambil tertawa. "Well, jadi ini masalahnya lo nggak berminat buat ikutan andil sama gue tadi." Aku mengernyit, menatapnya dengan bingung. "Andil apa?" "Ikutan andil buat threesome." "Are you fuckin' kidding me?" Aku meninju perutnya, lalu meninggalkannya yang masih mengaduh kesakitan akibat tinju mautku. "Babe, you're hurt me." katanya dengan logat dibuat-buat. Aku melemparnya dengan sebuah buku tebal yang aku ambil didekat TV dan dia mengerang. Hahh. Rasakan! Hatiku sedang kacau dia malah menertawakanku. Sobat macam apa itu? Begitu aku memasuki kamar, aku bisa mendengar dia berteriak, "Rega, kali ini gue akan bantu nyokap elo. Dan nggak peduliin elo lagi!" "Terserah!"   ***   ‘Devina’ "Baik anak-anak sampai di sini materi kita hari ini. Dan jangan lupa tugasnya dikumpulkan minggu depan. Selamat siang."      Aku menutup pelajaran hari ini dan merapikan beberapa buku yang berserakan di meja. Para muridku yang sudah siap langsung bergegas untuk pulang. Tak lupa, mereka menyalamiku satu per satu. Aku tersenyum pada mereka, anak-anak yang manis batinku. Meskipun terkadang sikap mereka menyebalkan. Tapi aku juga harus berlatih sabar bukan? Setelah kelas kosong, aku bergegas kembali menuju kantor. Hari ini sungguh melelahkan. Tentu saja, karena aku harus meng-handle dua kelas sekaligus. Yaitu kelas lima dan kelas satu. Kebetulan guru wali kelas satu sedang cuti hamil. Jadi, aku harus bolak-balik dari ujung ke ujung untuk memberi materi pada kelas itu. Hal itu membuat kakiku lecet karena stiletto yang aku pakai ini. Tahu begini lebih baik aku pakai sandal jepit saja tadi. Huhh, menyebalkan. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan nasib kakiku ini. Yang aku permasalahkan adalah murid-muridku yang sulit diatur. Ada saja masalah yang mereka buat. Mulai dari menjahili temannya, bermain petak umpet, mengambil barang milik teman lain, bahkan ada yang bersepeda di dalam kelas! Apa-apaan itu! Memangnya kelas ini jalanan? Hingga akhirnya aku sendiri yang harus turun tangan membereskan kekacauan itu. Satu lagi yang membuatku tercengang adalah seorang murid laki-laki yang mencium pipi seorang murid perempuan. Dan hal itu sukses membuat sang murid menangis. Aku langsung bertindak, menjewer kuping anak laki-laki itu lalu bertanya, "Kenapa kamu melakukan ini? Lihat, dia menangis karena ulahmu." Sambil meringis dia menjawab, "Itu Bu. Aku’ kan cuma mau mencium pacarku. Emang nggak boleh?" "Apa? Pacar kamu? Tahu apa kamu tentang pacaran. Masih kecil aja sudah begini, mau jadi apa kamu kalau besar nanti?" kataku sambil memelototinya. "Aku ‘kan cuma pengen kayak di film-film aja, bu. Ibu tahu kan film yang ada motor gede itu. Nah, aku pengen kayak mereka, bu. Hehehe" katanya menyengir lebar. Aku melongo. Astaga, ini bocah benar-benar korban sinetron. Setelah itu dengan semangat '45 dia menjelaskan panjang lebar sinetron yang dimaksud. Bahkan, murid lain pun tak mau kalah. Mereka nyerocos panjang lebar tentang ini itu yang tidak aku mengerti. Sampai akhirnya suara penghapus yang aku lempar ke papan tulis menghentikan suara mereka. Mereka langsung diam bagai patung sambil menunduk. Kalau aku sudah mengeluarkan tatapan seperti ini, mereka sudah tidak ada yang berani bicara ataupun melirik. Aku pernah mendengar mereka mengataiku seperti banteng yang siap mengamuk. Aneh, masa postur tubuh aku yang kecil seperti ini dikatai mirip banteng ngamuk? Ada-ada saja sebutan anak-anak ini. Aku menggelengkan kepala, mengingat kejadian tadi membuatku geli sendiri. Untung saja murid kelas satu masih bisa diatur dengan mudah. Aku tidak bisa bayangin kalau kelas satu kelakuannya ‘nyeleneh’ seperti kakak kelasnya. Kalau seperti itu terjadi bolehkah aku jedotin kepala ke tembok?      Aku masih sibuk sama pikiran tadi ketika suara cempreng seorang mengejutkanku dari belakang. "Helloo honey, sayangku, cintaku, kekasihku, kelincikuu! Hihihi." Astaga tawanya mirip seperti kuntilanak. Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah memberiku kejutan siang ini. Ternyata Silvia, teman seperjuanganku. Salah satu staff di sekolah ini juga, tetapi dia hanya sebagai penjaga perpustakaan. Dan aku melihat di belakangnya ada Nuri salah satu temanku yang memiliki pikiran cukup aneh, menurutku. Nanti aku kasih tahu apa keanehan sobatku dari kecil ini. Aku mendelik pada Silvia dan mulai mengomelinya, "Kamu ini hobi banget buat aku jantungan. Untung aku tidak ada riwayat penyakit jantung. Kalau ada, aku tidak tahu gimana dengan nasibku. Kamu bisa tidak, sekali aja tidak usah menggertak seperti ini. Aku ‘kan..." Aku terus mengomeli Silvia yang hanya menunjukkan cengiran usil tidak merasa bersalah dan ekspresi takjub di wajahnya menggambarkan betapa dia sangat heran ketika mendengar kecepatan bicaraku yang bagai kereta api shinkasen di Jepang sana. "Stop!" Nuri menghentikan ocehanku dan mengatakan, "Astaga, Vin. Suaramu itu benar-benar nyaring. Aku heran sendiri bagaimana bisa kamu ngomong secepat itu?" katanya tersenyum geli melihatku. Aku hanya cemberut, "Habisnya dia ini mengangetkan aku saja setiap hari. Siapa yang tidak sebel?" "Iya, deh. Maap maap ya ibu guru cantik. Jangan cemberut gitu, dong. Mukanya tambah serem tahu." Silvia menimpali sambil cekikikan lagi. Astaga ternyata dia berbakat untuk main film horor. Aku menghela nafas, lalu bertanya, "Ada apa?" "Ada apa? Kamu bilang ada apa? Kamu lupa? Hari ini kita sudah sepakat ke kota buat menjemput kekasihku." Silvia menjawab dengan histeris. Kelakuannya ini seperti dibuat-buat dan sangat manja. Tapi dia adalah orang paling baik yang pernah aku kenal. Tapi terkadang dia seperti drama queen. Apa-apa saja selalu ditanggapi dengan heboh. Aku memegang belakang tengkuk, hal yang biasa ku lakukan setiap kali lupa ataupun gugup. "Emm... Sorry, i’m forget. You know, i’ve been busy. And many things that i’ve to tell you about something. I think you two know." Aku mengedikkan bahu tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Nuri dan Silva mengangguk mengerti. Mungkin mereka paham apa yang aku bicarakan, tapi itu bisa ditunda karena Silvia sudah merengek untuk berangkat sekarang. "Ya sudah kita bahas nanti saja. Sekarang kita langsung berangkat, nanti keburu sore lagi." Kata Silvia menarik kami berdua keluar dari lingkungan sekolah.   ***        Sampai di terminal bus, aku dan kedua temanku duduk di depan sebuah warung sambil menunggu bus yang datang dari Jakarta dan katanya akan tiba sekitar lima belas ment lagi. Setidaknya itulah yang dikatakan petugas terminal ini. Kalian pasti mengira kalau kekasih Silvia ini baru pulang merantau atau liburan dari luar kota. Sehingga dia harus menjemputnya di teriminal bus. Jawabannya tidak, sebab kekasih Silvia bukan orang lokal atau dengan kata lain bukan orang asli Indonesia. Kekasih Silvia ini sebenarnya berasal dari Jerman dan telah tinggal lama di Indonesia karena pekerjaan orangtuanya di kedutaan besar. Jangan mengira kalau Silvia pernah jadi TKI dan bertemu pria bule di sana. Tidak seperti itu. Sebab disamping pekerjaannya sebagai staff sekolah, dia juga bekerja sebagai seorang tour guide atau pemandu wisata. Pekerjaan ini bisa dilakukan mengingat wilayah tempat tinggal kami yang merupakan desa wisata. Yang tentu saja mempunyai beberapa tujuan tempat wisata yang dapat menarik perhatian pengunjung di dalam maupun luar negeri. Bukan hanya Silvia yang menjalani profesi sampingan ini, aku dan Nuri juga melakukannya. Tetapi kami hanya akan mendampingi apabila pengunjung wisata melebihi target. Dan dalam pekerjaan ini aku belum lama menggelutinya. Tidak seperti Silvia dan Nuri yang sudah lebih dari tujuh tahun menjadi pemandu wisata.      Aku melihat seorang pria bule yang turun dari bus dan Silvia berlari-lari kecil ke arahnya. Aku dan Nuri berpandangan sesaat lalu menggelengkan kepala dengan pelan. Tak habis pikir dengan kelakuan si centil satu ini. Mereka mendekat ke tempat kami menunggu setelah saling melepas rindu. Pria bule tersebut bernama Felix Richard. Dia sangat tinggi dan matanya berwarna hijau emerald. Ia tersenyum melihat aku dan Nuri kemudian bertanya, "How are you, gals? I wish you've a boyfriend now."  Katanya dengan kerlingan jail. "We are fine, Felix. But i don't have a boyfriend." Aku yang menjawab pertanyaan itu sementara Nuri diam. Dia hanya melirik sekilas dan sedikit tak peduli. Sepertinya dia cemburu. "Apakah kamu telah meninju cowo lagi sehingga tidak punya pacar?" tanyanya lagi disertai tawa kecil. Bahasa Indonesia yang diucapkan Felix cukup baik dan lancar, meskipun terkadang dia masih suka mencampur bicaranya dengan bahasa Inggris bahkan bahasa Jerman juga. Lalu ia menoleh ke arah Nuri yang sejak tadi diam tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan. Ia hanya mengangguk kepala sebagai sapaan kepada Nuri agar terlihat sopan. Taoi entah kenapa aku merasa ada aura berbeda saat Felix menatap Nuri. Entah Silvia menyadari atau tidak. Karena sekarang dia sibuk mengoceh tentang turis lokal yang menyebalkan sambil menariknya keluar dari terminal ini. Aku mengikuti di belakang mereka.      Aku tiba di rumah sekitar pukul tujuh malam. Setelah turun dari mobil dan berpamitan pada Silvia dan Felix, aku berjalan pelan menuju rumah diikuti Nuri yang juga turun di tempat yang sama. Nuri bukan tetangga di sebelah rumahku. Tempat tinggalnya jauh dari tempatku. Sekitar tiga gang yang harus dilewati untuk sampai di rumah Nuri. Walaupun di desa, rumah kami jaraknya memang terpaut cukup jauh. Nuri ikut turun bersamaku karena dia akan menginap untuk menemaniku di rumah. Ayah sedang pergi mengunjungi kakakku, jadi aku sendirian di rumah.  Aku dan Nuri langsung memasuki kamar kemudian aku memintanya untuk membersihkan diri dulu. Sebab ada beberapa hal yang harus aku bereskan dulu di dapur. Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti baju dengan piama, aku tiduran sambil membaca novel yang belum selesai k*****a. Tak lama aku merasakan sisi tempat tidur yang bergerak, mungkin itu Nuri. Aku mengangkat wajah dari novel lalu menatap Nuri yang sibuk mengotak-atik ponselnya. "Bagaimana dengan acara keluargamu?" dia membuka pembicaraan. "Ditunda sampai liburan panjang. Soalnya sebentar lagi ada ujian semester. Jadi persiapannya juga agak lebih santai." "Makanya sekarang ayahmu menginap di rumah kakakmu?" Aku hanya mengangguk sambil membalikkan lembar kertas novel ke halaman berikutnya. Kami diam beberapa saat. Menikmati keheningan sampai suara Nuri terdengar lagi "Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya. "Aku tidak memikirkan apa pun." Jawabku cepat. "Yakin?” Aku mengangguk. Aku melihat raut wajah Nuri yang tampak lesu kemudian berkata, "Sepertinya kamu yang sedang memikirkan sesuatu, Nur? Jangan coba membantah, aku tahu." Nuri menghela napasnya dengan panjang karena tidak bisa membantah ucapanku. Kemudian ia tersenyum dan menjawab pertanyaanku. "Baiklah. Aku memang tidak bisa bohong darimu. Sekarang aku memang sedang memikirkan sesuatu." Kepala Nuri tertunduk saat mengucapkan kalimat itu, aku langsung menutup novel dan tak lupa memberi tanda pada bagian yang baru k*****a. Lalu menghadap penuh perhatian pada Nuri. "Ceritakan!" kataku mulai mendesak. Ia mendesah pelan, sedetik kemudian ia mulai membuka suara. Menceritakan apa yang sedang di pikirannya. "Bukan apa-apa sebenarnya. Hanya saja aku sedang memikirkan tentang..." Dia terdiam lagi. "Tentang apa?" Aku semakin penasaran karena sepertinya Nuri menunda-nunda untuk menjawab. "Kamu pernah jatuh cinta?" Tanyanya balik tanpa menjawab tanya sebelumnya yang sempat terlontar. Aku mengerutkan kening, bingung dengan perubahan obrolan ini. "Aneh. Tentu saja siapa pun pernah jatuh cinta. Tak terkecuali aku. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" "Bukan. Maksudku itu jatuh cinta yang benar-benar... emm apa, ya? Nuri menggaruk pelipisnya tanda sedang berpikir lalu kulihat matanya berbinar ketika mendapat kalimat yang tepat untuk diucapkan. “Ahh, aku tahu. Maksudku jatuh cinta yang menjungkir balikkan duniamu. Yang membuatnya menjadi pusat hidupmu dan tak ada yang lain yang bisa menggantinya. Seperti itu. Kamu pernah merasakannya?" "Aku nggak mengerti." Responku akhirnya karena kebingungan dengan kalimat kiasan yang diucapkan Nuri. "Kamu belum merasakannya." ia tersenyum kecil. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti ini? Kamu lagi jatuh cinta?" Dia tak menjawab tapi juga tak mengelak, "Well, i have a crush with..." "Who?" "Akan aku kasih tahu nanti kalau aku sudah siap. Karena sekarang situasinya rumit." Jawabnya sambil mengedikan bahu dengan ringan. Ia tidak ingin membahas ini lebih jauh. Aku tidak akan memaksanya karena pasti Nuri akan memberitahuku bila dia sudah siap. Kemudian dia memegang bahuku dan berkata dengan keyakinan yang membuatku semakin tidak mengerti apa maksudnya, "One day you’ll feel it and when it comes, you’ll understand the feelings that i mean. And trust me, you will find you love someday. Dan dia nantinya akan memberi hal berbeda dalam hidupmu." "Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti ini?" Aku semakin tidak paham karena sekarang temanku ini mendadak bijak dan memberi wejangan yang menurutku bukan gaya Nuri sekali. Walaupun begitu aku akan tetap mendengarkannya. "No, i just want to say it.” Jawabnya sambil tersenyum kecil. Kemudian Nuri menarik selimut dan berbaring miring membelakangiku. Dia bersiap untuk tidur. Sementara diriku masih mencerna pembicaraan barusan. Sejujurnya ada banyak hal lain yang ingin aku ceritakan. Tapi karena aku mendapat pertanyaan seperti ini. Aku sudah kehilangan minat untuk bercerita tentang apa yang aku pikirkan belakangan ini. mendadak pikiranku berkelana. Jauh ke masa-masa dulu ketika aku merasakan bagaimana utuhnya rasa cinta. Rasanya hal itu telah lama hilang, hingga aku sendiri tidak yakin akankah aku masih bisa merasakan perasaan semacam itu. Aku selalu merasa tidak berhak untuk mendapatkannya. Jadi aku tidak pernah benar-benar berharap sesuatu yang berbeda akan membuatku pada perubahan. Karena saat ini aku berdamai dengan keadaan ini. Dan merasa sedikit bahagia karenanya.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD