BAB 4

2127 Words
‘Rega’      Pagi ini aku terlambat datang ke restoran. Meskipun aku pemilik restoran ini dan bisa datang kapan saja aku mau, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Karena aku ingin memastikan sendiri pelayanan yang telah dibuat sesuai dengan peraturanku. Selain itu terkadang ada beberapa pelanggan yang ingin bertemu secara pribadi denganku sehingga aku harus selalu berada di dalam restoran. Dan setidaknya dengan kehadiranku bisaa membuat karyawan bekerja dengan baik. Aku percaya mereka akan melakukan yang terbaik secara maksimal meski aku tidak ada. Hidupku bukan hanya berputar di sekitar restoran saja, terkadang Papa menyuruhku untuk membantunya di kantornya jika beliau mulai overwhelmed. Dan karena permintaan itu pula, aku sering tertahan di kantor Papa seharian. Aku curiga Papa melakukan hal ini karena dia tidak terima dengan pilihanku yang tidak ingin meneruskan perusahaan yang didirikannya. Dan sebagai balas dendam, beliau selalu memintaku meng-handle pekerjaannya. Dan seringnya secara mendadak. Sebagai anak yang berbakti, aku hanya menurutinya. Berharap dengan begitu, hubungan kami tidak akan terasa jauh lagi.      Sebenarnya aku terlambat bukan karena disuruh Papa untuk datang ke kantornya, tetapi karena ada beberapa monyet liar yang mengacaukan hidupku di dalam apartemen. Jangan mengira kalau di apartemenku ada hewan monyet beneran. Itu hanya ejekan. Karena sungguh tingkah mereka mirip seperti monyet dan tidak pernah makan bangku sekolah saja. Emangnya rayap. Baiklah abaikan. Tapi yang pasti mereka membuat tensi darahku naik. Bagaimana tidak? Sudah seminggu ini Dimas menginap di apartemenku. Selama itu dia memang tidak membawa perempuan manapun ke tempatku. Tapi yang bikin aku kesal karena bukan hanya Dimas yang menginap. Dia mengajak kedua teman kami yang lain untuk ikutan menginap, yaitu Raka dan Valerio. Mereka berdua sama anehnya seperti Dimas. Seenaknya sendiri. Diantara kami berempat hanya Valerio yang sifatnya cukup tenang. Maka tak heran bila kami sedang gundah gulana, Valerio akan memberi semangat juga wejangan layaknya ibu kandung kita. Aku ingat saat Dimas membawa mereka ke apartemen, dengan santainya mereka bergelayut manja padaku untuk diizinkan tinggal bersamaku. Memangnya mereka pikir apartemenku tempat pengungsian apa. Aku yang sudah jengah akhirnya mengiyakan permintaan mereka. Dengan bersorak gembira mereka memasuki apartemenku dan mengacak-acak isinya. Dan kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana kehidupan empat orang laki-laki lajang yang tinggal bersama. Itu sebabnya selama seminggu ini aku kekurangan tidur. Tentu saja. Setiap malam kami begadang hanya sekadar untuk menonton tanding sepak bola, bermain kartu, ataupun menonton film. Pernah di malam ketiga mereka menginap, Valerio dan yang lain menyelinap masuk kamarku untuk nonton film menggunakan DVD player canggih milikku yang memang hanya ada dalam kamar. Aku tidak masalah selama acara itu tak menggangguku. Yang menjadi masalah adalah mereka menonton video yang... Kalian pasti tahu maksudku. Dan hal itu sukses membuat tingkat libidoku naik, mengingat sudah hampir sebulan ini aku tidak menjamah wanita. Mereka sepertinya sengaja menyiksaku. Akhirnya aku mandi air dingin malam itu untuk meredam gairahku. Dan mereka? Mereka hanya tertawa puas melihat penderitaanku. Awas saja nanti, tunggu pembalasanku.      Dan sepertinya penderitaan tidak berakhir disitu. Besoknya, saat aku akan berangkat ke restoran. Aku dikejutkan dengan kehadiran kedua adikku ketika membuka pintu depan. Dengan cengiran khasnya, adik perempuanku memeluk tubuhku dengan manja. "Morning my brother and very handsome." katanya dengan senyum usil di wajahnya. "Kayla, pagi sekali kamu datang ke sini? Ada apa?" Aku melepas pelukan adikku lalu menoleh ke belakang Kayla, di sana ada Galang yang berdiri dengan tatapan datarnya dan menjawab pertanyaanku barusan, "Kami disuruh Mama untuk menginap beberapa hari di sini. Mama dan Papa mau pergi." "Memang mereka mau kemana?" Mereka belum menjawab pertanyaanku ketika ponselku berdering. Aku mengeluarkan benda itu dari saku celana dan melihat si penelepon. Ada telepon masuk dari Mama. Aku menggeser layar untuk mengangkatnya. Belum sempat aku mengucapkan kata sapaan seperti biasa, Mama langsung mengoceh panjang lebar. Membuatku sedikit menjauhkan ponsel karena sungguh suara Mama begitu nyaring. "Rega, Mama minta tolong padamu untuk menjaga kedua adikmu itu. Mama dan Papa mau pergi ke Jerman karena ada urusan penting. Di rumah tidak ada orang, walaupun ada asisten rumah tangga, sih. Tapi Mama lebih memercayaimu untuk menjaga adik-adikmu itu. Pagi ini mereka sudah berangkat ke apartemenmu dan sudah membawa barang mereka. Sekalian diantar ke sekolah, ya. Oh, apakah mereka sudah sampai?" Astaga, bagaimana mungkin Mama bisa berbicara seperti itu dengan satu tarikan nafas. "Yes Mam, mereka baru aja mereka sampai." kataku menjawab. "Oh, syukurlah. Mama takut kalau mereka tersesat. Hehehe." Aku memutar bola mataku malas. Bagaimana mungkin anak sebesar mereka bisa tersesat. Kecuali kalau mereka di hutan. Aneh saja pikiran Mamaku ini. "Tidak, Ma. Mereka sampai dengan selamat." Aku melihat ekspresi muka Kayla yang seperti ingin muntah. Aku rasa dia sudah bisa menebak apa yang dibicarakan Mama. "Okay, then. Kalau begitu Mama titip mereka, ya. Dan jangan lupa kalau mereka meminta uang saku, kamu beri dulu. Nanti Mama ganti. Mama tadi hanya memberinya ongkos taksi saja. Ya sudah sayang, Mama cuma mau mengatakan itu saja. Dan kamu mau oleh-oleh apa dari Jerman?" "No, thanks. Lebih baik Mama cepet kembali saja." "Baiklah. See you sayang." Walaupun aku tidak melihat, aku yakin Mama sedang tersenyum lebar barusan. Aku menghela napas dan geli sendiri, aneh punya Mama bisa nyentrik begitu. Setelah menutup telepon, aku menatap kedua adikku dan berkata, "Kalian masuk dan letakan barang yang kalian bawa ke kamar tamu. Setelah itu kita berangkat karena gue nggak ingin terlambat."   ***        Aku menghentikan mobilku tepat di depan gerbang sekolah Kayla dan Galang. Mereka berdua masih duduk di bangku SMA. Dan jangan mengira mereka berdua kembar. Umur mereka berbeda dua tahun dan Kayla sebagai kakak. Aku rasa kalian bisa menebak sendiri mereka kelas berapa sekarang. "Cepat turun sudah sampai. Nanti pulangnya supir aku yang menjemput." Kataku sambil melihat mereka melalui kaca spion. "Siap, Pak bos." jawab Kayla diserti gerakan hormat. Sementara Galang langsung turun dari mobil. Adikku yang paling kecil itu terkadang mirip seperti Papa yang tidak punya ekspresi selain datar dan polos. Kalau aku? Tentu saja aku seperti Mama. Maksudku wataknya. Kalau dari Papa yang turun ke aku adalah muka tampannya. Iya, aku memang narsis. Sebelum turun Kayla bertanya padaku, "Kak, di apartemen ada siapa memang? Tadi pas aku masuk, ruangannya berantakan banget." "Ada Dimas, dkk. Mereka menginap semalam." "Apa? Kak Dimas yang m***m itu? Oh, my God!!" teriaknya histeris. "Kenapa?" aku mengerling jail padanya. "Nggak... nggak papa. Ya udah Kayla masuk dulu, ya. Udah mau bel." "Tenang, nanti kakak siapkan private room buat kamu sama dia." "Ahhh... Kakak tega banget, sih? Masa ngumpanin adek sendiri! Jahat. Jahat." Teriaknya semakin histeris sambil menjambak rambutku. "Aduuhh... Oke, oke. Sorry. Nggak lagi deh, ya." Kataku mencoba menenangkannya. Sumpah, jambakan Kayla bikin kulit kepalaku mau lepas. Dia melepaskan rambutku dan langsung turun masih dengan menggerutu tidak jelas. Aku sempat mendengar gerutuannya sebelum pintu tertutup. "Ughh... nyebelin. Harus ketemu orang itu lagi. Tahu begini, gue nggak usah nginep di tempatnya Kak Rega." Aku terkekeh kecil mendengarnya. Aku memang suka menggoda adikku itu, mukanya begitu menggemaskan. Kalian pasti berpikir kemana perginya ketiga monyet itu waktu aku akan berangkat kerja. Mereka sudah keluar apartemen pagi sekali. Dimas dan Raka harus ke kantor cepat untuk mengerjakan laporan deadline dari atasannya. Sementara Valerio harus cepat ke rumah sakit. Dia bilang ada pasien yang harus ditangani. Ya, dia memang dokter. Sepertinya dia ke rumah sakit bukan hanya sekadar memeriksa pasien. Tapi untuk mengganggu salah satu pasien di sana. Valerio memang pernah bercerita, dia sedang naksir pasiennya yang cantik banget tetapi mengidap penyakit kanker. Dibalik sikap Valerio yang aneh, ternyata dia memiliki hati yang tulus. Tidak peduli dengan keadaannya, dia tetap mengejar gadis itu. Meski sampai detik ini cintanya ditolak. Melihat itu kadang membuatku berpikir, apakah aku akan seperti Valerio saat bertemu cintaku nanti? Mengejarnya, mempertahankannya. Entahlah. Aku tak memikirkannya lagi sejak aku memutuskan untuk menutup hatiku. Aku melajukan mobilku menuju restoran dan berusaha menghilangkan pikiran yang berkelebat baru saja. ***        Malamnya sepulang dari restoran aku tidak lagi terkejut dengan keributan di dalam apartemen. Apalagi bertambah dua penghuni lain yang siap menyemarakan suasana apartemen seperti pasar malam. Puncaknya adalah waktu aku sedang mengecek beberapa berkas, terdengar suara teriakan diluar kamarku. Karena panik, aku langsung melompat keluar untuk melihat apa yang terjadi. Sampai di tempat sumber teriakan itu, aku ternganga melihat aksi kedua orang yang sekarang dalam posisi mengejar dan dikejar. Berdiri di belakang sofa, Kayla berkata dengan geram pada seseorang di depannya, "Mau lo apa, sih?" "Aku cuma mau kamu, sayang." kata pria yang tak lain adalah Dimas. Well, Dimas memang naksir adikku ini sejak dulu. Tak heran jika tadi pagi Kayla begitu histeris mendengar namanya. Kayla memang sering diganggu sama sobatku satu ini. Aku geli sendiri melihat itu. Aku menyandarkan salah satu lenganku pada tembok di samping kananku sambil bersedekap d**a, menyaksikan perdebatan mereka. "Idih... Denger ya, Om. GUE GAK MAU SAMA ELO!" ucap Kayla dipenuhi penekanan. "Nggak papa, kalau sekarang nggak mau. Nanti juga mau, kok. Aku hanya harus bersabar." Dimas berjalan mendekat ke arahnya. Kayla melotot lalu berkata, "Jangan dekat-dekat atau gue sunat elo untuk kedua kalinya!" "Ouugh, Babe. Jangan dong. Ini ‘kan aset masa depan kita," Dimas berlagak meringis. “Lagi pula kamu juga pasti menyukainya." "Dasar om-om m***m!" teriak Kayla lagi sambil melempar bantal sofa ke arah Dimas. Aku dan yang lain terpingkal melihat adegan itu. Aku memang sangat suka menggoda adikku ini termasuk teman-temanku. Kadang aku juga merasa kasihan sama Dimas dan Valerio, mereka ditolak terus sama gadis yang disukainya. Sekarang mereka kembali berkejaran seperti tikus dan kucing, ditambah dengan suara sorak sorai dari yang lain membuat suasana tambah ramai. Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dan pecah. Seketika membuat suasana menjadi hening. Aku melihat benda yang jatuh itu karena posisinya begitu dekat denganku. Membuatku dengan refleks berlari ke arah benda tersebut. Aku menahan geram melihat sebuah guci pemberian dari orang yang berharga untukku kini hancur. Tak berbentuk. Aku mendongak menatap Kayla yang memucat dan Dimas yang memberi tatapan maaf. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku masuk ke kamarku dan membanting pintu dengan keras. Jangan heran dengan sikapku ini. Mereka tahu pasti, seberapa pentingnya guci kecil ini. Aku marah, kecewa. Karena itu satu-satunya benda yang masih bisa kulihat. Sejak kepergian seseorang yang sangat berarti untukku.      Suasana menjadi tidak nyaman malam itu. Valerio yang pertama kali menemuiku di kamar. Anggap saja aku kekanakan, tapi mau bagaimana lagi? "Gue kira lo udah mulai lupa sama kejadian itu. Ternyata... belum." Ia tersenyum miris sangat mengetahui perasaanku. Aku diam tidak menanggapi ucapannya. Valerio menghela napas lalu berkata sebelum pergi, "Jangan salahin adek lo ataupun Dimas. Salahin diri lo sendiri. Kenapa masih seperti ini?" Aku menatap punggung Valerio yang beranjak keluar. Mungkin dia benar, karena sudah banyak waktu yang aku sia-siakan untuk satu nama itu. Selanjutnya Raka yang masuk. Seperti Valerio, tidak banyak yang dia ucapkan. Tapi  perkataan anehnya membuatku bingung, "Dia bernasib sama sepertimu. Maka tetap berdiri semampumu. Karena dia juga butuh sandaran." Astaga, sepertinya benar temanku yang satu ini seperti Alice Cullen. Bisa melihat masa depan. Aku jadi bergidik ngeri membayangkannya. Saat aku memikirkan hal itu, Raka lalu tertawa terbahak sampai keluar air mata. Sambil mengusap air matanya dia berucap, "Elo tahu? Sebenarnya barusan gue lagi latihan akting. Gue mau ikutan casting film soalnya. Gimana? Bagus nggak? Apa sudah menghayati?" Sebagai jawaban ata tanya itu, aku melemparnya dengan bantal dan mengusir dia keluar. Aku benar-benar tidak menyangka punya teman segila itu. Sebagai pelaku utama, Dimas dan Kayla datang bersama untuk meminta maaf padaku. Bahkan Kayla sampai menangis. Aku jadi merasa bersalah padanya. Akhirnya aku memeluk adikku yang paling cantik itu untuk menenangkannya. Saat aku menoleh ke arah Dimas dia sudah memasang tampang garangnya. Dengan santai aku berucap, "Apa? Kalau lo nggak suka gue meluk adek gue. Nggak akan gue restuin lo buat deketin adek gue." "Weizz... Bro, jangan gitu dong. Susah tau nyari cewe model kaya adek elo." Aku tersenyum geli melihat ekspresinya yang sumpah bikin aku pengen nabok dia. Terakhir Galang yang masuk, walaupun dia tidak ikut andil dalam kekacauan. Sepertinya dia tahu perasaanku. Dengan wajah datarnya seperti biasa dia memulai kata-katanya yang sangat singkat padat dan jelas. "Elo butuh liburan, Kak." Ucapannya ini sukses buatku melongo. Tidak menyangka dari ribuan kata yang ada, Galang akan memilih kalimat singkat tidak bermutu semacam ini. Semua yang ada di sini memberiku simpati dan semangat. Tapi adikku ini? Aku tidak heran kalau dia memang anak Papa, lihatlah tingkahnya persis seperti Papa yang mengatakan sesuatu tanpa memikirkan orang lain. "Kenapa gue musti liburan?" tanyaku padanya. "Setidaknya biar pikiran Kakak terbuka dan tidak stuck sama satu nama dan pekerjaan terus. Hal itu akan bikin Kakak bertambah stress dan kelihatan tua." "Elo nyindir?" "Oh, gue lupa. Kakak emang udah tua." "Adek kurang ajar. Pergi sono." "Pertimbangin lagi ucapan gue barusan. Gue punya beberapa rekomen destinasi buat liburan. Satu lagi, jadi orang jangan plin plan." Astaga, selain judes cara bicara Galang terlalu menusuk. Mengingat itu semua membuatku kepikiran. Galang mungkin benar. Aku butuh liburan. Siapa tahu dengan ini, aku tidak lagi menyusahkan orang lain. Baiklah, sepertinya hari ini aku akan mengurus masa cutiku.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD