‘Devina’
Sekarang hari Sabtu, seperti biasa hari ini aku melakukan kegiatan rutinku. Bukan untuk mengajar melainkan untuk menjadi seorang pemandu wisata. Selama weekdays aku aktif di sekolah. Dan saat weekend tiba aku berjalan-jalan mendampingi turis yang datang. Namun menjadi pemandu wisata tidak selalu aku lakukan sebab terkadang tidak pengunjung yang datang ke desa. Kalaupun ada, pengunjung biasanya lebih suka meminta didampingi oleh tour guide yang sudah menjadi langganan atau sudah satu paket dengan biro perjalanan. Alhasil tidak setiap hari aku mendapat job seperti ini. Dan aku akan menceritakan sedikit dari kegiatanku sebagai pemandu wisata. Aku sudah menjadi seorang tour guide sejak dua tahun terakhir. Mengikuti jejak Silvia dan Nuri. Dulu mereka memaksaku untuk melakukan pekerjaan ini walaupun sempat ku tolak. Tapi aku tidak sanggup memberi alasan lagi sehingga mau menerima kerjaan ini, dengan catatan sebagai kerja sampingan. Aku lebih menyukai mengajar. Dan mengingat kemajuan pariwisata terus meningkat, lowongan seperti ini banyak terbuka. Aku direkrut oleh Silvia yang merupakan ketua pemandu wisata di wilayah kami. Awalnya aku merasa tidak percaya diri, tetapi berkat dukungan semua anggota aku bisa menyesuaikan diri dan mulai menyukai kegiatan ini. Dan karenanya aku jadi bisa mengenal orang-orang dari luar daerah bahkan luar negeri juga. Bisa menambah teman itu bagus bukan? Itulah mengapa Silvia mempunyai pacar seorang bule. Biasanya para pemandu wisata ini akan menjemput tamunya di kota pada jum'at malam. Itupun kalau tamu membawa rombongan dengan jumlah sedikitnya lima belas orang. Tapi mereka juga bisa datang sendiri tanpa harus dijemput. Dan kami menunggu di tempat yang sudah dijanjikan. Dan kali ini aku tidak membawa rombongan darimanapun. Karena aku mendapat jatah untuk menemani seorang tamu dari Jakarta. Setidaknya itu yang Silvia katakan. Dan kemana orang itu? Kenapa belum sampai juga? Padahal aku sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu dan yang aku dengar informasi dari pihak terminal bahwa bus dari Jakarta sudah sampai sejak tadi, seharusnya aku sudah bertemu dengan tamu itu sekarang. Aku mendesah kecil. Pekerjaan apa pun juga kita harus melakukannya dengan sabar, ya. Bukan hanya saat mengajar. Saat seperti ini juga harus diuji kesabarannya.
Ketika aku masih menggerutu dalam hati. Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di hadapanku. Aku mendongak untuk melihat siapa orang itu. Dan aku yakin kalau mulutku terbuka saking terkejutnya. Bagaimana tidak? Saat ini di depanku berdiri seorang pria yang cukup tampan dan juga tinggi. Rambutnya berantakan namun potongannya rapi. Mungkin karena efek selama dua belas jam berada di bus, raut wajahnya terlihat lelah. Namun hal itu tidak menutupi ketampanannya. Itulah kesan pertama yang aku lihat. Dan aku bersumpah, meskipun aku sering melihat pria tampan diluar sana. Aku merasa tidak ada yang seperti dia. Pria ini seperti memiliki pesona tersendiri yang memikat. Pria ini mempunyai aura yang berbeda. Aura menenangkan dan juga ada sesuatu di wajahnya yang membuat siapapun tak berpaling bila menatapnya. Aku tidak tahu bagaimana, yang pasti itulah yang aku rasakan.
"Helloo, Nona!" kata pria itu sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.
Aku tersadar. Oh, apa yang aku lakukan? Apakah aku baru saja menilai pria ini? Ya ampun, semoga dia tidak melihat muka konyolku ini. Walau kemungkinan itu 0,99%.
"Nona, apakah anda yang menjemput saya di sini?" tanyanya lagi.
Aku yang baru sadar dari keterkejutanku merasa malu dan tersenyum, tapi aku tidak masih diam, kemudian ia bertanya lagi.
“Apakah kamu sedang menunggu turis yang datang dari Jakarta? Kalau iya, kebetulan sekali. Aku juga sedang mencari orang yang akan menjemputku di sini.”
Aku melihatnya tersenyum geli padaku tapi juga tak sabar menunggu jawabanku. Akan terasa aneh dan aku pasti dianggap gila jika hanya terdiam menatap orang ini. Kenapa mendadak aku jadi kehilangan kosakata begini. Jangan-jangan dia berpikir kalau aku tidak pernah berhadapan dengan cowok lagi. Hah, sial. Ini pertama kalinya aku bersikap aneh. Biasanya bila ada orang yang baru pertama kali bertemu, mereka akan segan padaku. Jangan bilang aku terpesona sama makhluk di depanku ini. Astaga, pikiranmu perlu dibersihkan Devina. Aku menggelengkan kepala berusaha menyingkiran pikiran aneh barusan.
"Any problem?"
Tanyanya menyadarkanku kembali dari lamunan. Aku jadi gerogi berhadapan dengannya.
"Eh, saya nggak kenapa-napa kok, Mas."
"Terus kenapa kamu menggelengkan kepalamu?"
"Oh, bukan apa-apa. Cuma sedikit pusing saja."
“Hmm...”
Aku memutuskan untuk bertanya lagi untuk memastikan apakah dia turis yang disebut Silvia itu, menilik dari pertanyaan pertama yang ia lontarkan. Selain itu hari juga sudah mulai siang.
“Apakah anda orang yang bernama Rega Sebastian?”
Dia mengangguk sekilas. Jawaban itu membuatku tersenyum lalu mengajaknya untuk keluar dari area terminal.
"Kamu tadi bilang sedikit pusing. Bener nggak papa? Kalau kamu tidak enak badan, seharusnya kamu tidak usah menjemputku."
Dia membuka pembicaraan ketika kami sedang berjalan menuju parkiran.
"Saya nggak papa, kok. Lagi pula sudah menjadi kewajiban saya memberi pelayanan terbaik untuk tamu saya." aku menyengir padanya sambil memegang belakang pundakku.
Dia tertawa kecil, “Baiklah, terserah kamu saja.”
Oh Tuhan, senyumnya benar-benar manis. Ada lesung di pipi kirinya. Dan sungguh, ini hal paling indah yang pernah kulihat. Katakan aku lebay, tapi memang itu kenyataannya. Ia lalu bertanya lagi,
"Jadi kita akan naik apa untuk bisa sampai ke sana?"
"Biasanya naik bus. Cuma karena sekarang sudah sore. Jarang ada bus yang bisa sampai sana. Jadi saya membawa sepeda motor. Kalau mas berkenan..."
"Oke, no poblem. Aku yang akan menyetirnya." Dia langsung memotong ucapanku.
Sesampainya di parkiran, aku menyerahkan kunci motorku padanya. Aku lihat pria ini tidak banyak membawa barang. Hanya sebuah ransel yang cukup besar, seperti ransel para pendaki. Cukuplah kalau untuk naik motor. Saat dia mulai menstarter motor, aku mulai merasa was-was sebab teringat rute jalan yang akan dilewati.
"Mas, yakin mau menyetir motor ini? Sebaiknya tidak usah. Takutnya kamu kagok lagi lihat rute jalannya. Mending saya saja."
"Nggak papa. Lagian kalau aku yang bonceng di belakang rasanya aneh."
Ia mengedikan bahu tidak peduli ucapanku.
"Tapi..."
"Udah, ayo naik. Sudah sore banget. Bisa-bisa baru malam sampai desa."
Aku mendesah kecil. Pria ini keras kepala juga ternyata. Aku lalu duduk diboncengan setelah ia mengeluarkan motorku.
"Kamu kasih tahu arah jalannya."
"Baiklah."
Aku rasa perjalanan ini akan terasa sulit. Aku menghela napas.
Di perjalanan dia banyak bertanya tentang daerah mana yang akan dikunjungi nanti. Aku menjawab garis besarnya saja. Selebihnya akan aku jelaskan nanti kalau sudah sampai lokasi. Sepertinya dia baru pertama kali ke tempat ini.
"Mas baru pertama kali ke sini?" tanyaku.
"Iya, adikku yang memberi rekomendasi untuk datang ke sini. Karena penasaran, aku mengiyakan usulannya."
"Terus kenapa adiknya tidak ikut?"
"Aku sedang ingin liburan sendiri. Lagi pula adikku sebentar lagi ujian."
Aku manggut-manggut mendengar penuturannya. Selama perjalanan aku merasa cemas. Karena saat melewati tanjakan dan jalanan yang berbelok, beberapa kali hampir bertabrakan dengan kendaraan lain. Orang ini pasti tidak biasa menyetir di jalanan naik turun gini. Keras kepala banget, sih. Aku terus memakinya dalam hati. Hingga saat kami melewati tanjakan dan belokan yang tajam sekali lagi, motor yang kami naiki tiba-tiba oleng dan...
Braaakk!!
Aku terpental dari sepeda motor kemudian berguling ke aspal jalan. Dan saat itu semuanya gelap. Beberapa saat dengan samar aku mendengar suara riuh. Kepalaku terasa berat dan rasanya seluruh badanku nyeri semua. Seperti habis dipukul dengan palu bertubi-tubi. Aku teringat kecelakaan yang menimpaku tadi. Oh, ya ampun apakah sekarang aku masih hidup? Atau sudah melayang? Aku memberanikan diri membuka mataku perlahan. Takut melihat apa yang di depanku. Aku terkesiap setelah membuka mata karena saat ini aku dihadapkan dengan ekspresi khawatir seseorang. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku mencoba bergerak, tetapi rasanya sulit dan aku baru sadar kalau aku sudah berada di dalam pelukan pria ini. Aku buru-buru melepaskan diri darinya. Dan aku baru menyadari kalau di sekelilingku sudah berkerumun orang-orang yang melihat kejadian ini. Panik karena situasi ini, aku langsung berdiri dan semuanya terasa berputar di mataku. Aku merasakan pusing yang luar biasa hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh kembali. Untung diriku belum menyentuh tanah karena ada sebuah lengan yang menahanku.
"Kamu tidak apa-apa?"
Lelaki ini bertanya dengan suara yang terdengar cemas. Aku hanya menggeleng lemah.
"Kita ke rumah sakit aja, ya. Takutnya kenapa-napa."
Aku melihatinya dengan pandangan tajam dan mulai mengomelinya.
"Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu tidak ngotot... Ahhh..."
Aku merasakan pusing yang luar biasa dan akhirnya limbung tidak dapat menahan keseimbangan tubuhku. Penglihatanku kabur hingga semuanya gelap kembali.
***
Aku membuka mata dengan rasa pusing di kepala sudah mulai berkurang. Walaupun masih sedikit nyeri. Aku melihat ke sekelilingku. Saat ini aku berada di ruangan serba putih. Ada satu sofa di sudut kanan ranjang tempatku berbaring, di mana di atasnya terdapat jendela yang menghadap langsung ke ruangan lain di seberang sana. Sebuah televisi di depan sofa dan kamar mandi di sebelah kiri. Ruangan ini kecil, tapi nyaman. Tidak ada seorang pun selain aku di sini. Aku mulai berpikir, mengingat apa yang terjadi sehingga aku berakhir di tempat yang tidak aku sukai ini. Saat kesadaran itu tiba, aku ingat orang ceroboh yang tidak mau mendengarkanku. Karena dia, aku harus menginap di tempat ini. Lalu ke mana dia sekarang? Akan aku hajar dia kalau sudah kembali nanti. Suara pintu terbuka menghentikan segala sumpah serapah yang aku pikirkan. Aku menoleh dan melihat lelaki itu tengah berdiri di ambang pintu. Ada perban di kepalanya yang baru aku ketahui ketika ia berjalan ke arahku. Dia tersenyum terlihat bersalah padaku. Aku menatapnya dengan sengit. Tanpa mengucapkan apa pun, dia duduk di kursi dekat ranjang. Kemudian hening. Tidak ada yang bersuara. Aku masih menatapnya sinis hingga ia mengucapkan kata maaf padaku.
"Aku minta maaf."
Aku melotot tidak percaya. Karena dari semua yang terjadi dia hanya bilang maaf. Kata maaf yang sangat singkat. Sebenarnya dia niat tidak untuk meminta maaf. Seharusnya dia langsung mengatakan akan bertanggung jawab untuk semuanyaa, bukan hanya sekadar kata-kata yang tidak menyelesaikan apa-apa.
"Cuma maaf?"
Ia mengangguk, masih tidak ingin berbicara untuk memperbaiki keadaan ini. Aku menarik napas dalam mencoba berpikir jernih meskipun dalam hati aku sangat ini mengatainya dengan kalimat-kalimat kasar. Selanjutnya aku menatapnya yang masih juga diam setelah mengucapkan tiga kata tanpa arti untukku.
"Kamu itu udah bikin aku kaya gini dan motorku rusak parah. Kamu hanya bilang maaf. Tidakkah kamu bertanggung jawab dengan membayar semua kerugianku. Aku tahu kamu juga celaka sepertiku. Tapi tetap saja kamu yang menyebabkan semua ini terjadi. Kalau kamu tadi mau mendengarku, kita pasti sudah sampai tujuan. Dan sedang beristirahat di penginapan untuk perjalanan besok dan bukannya di rumah sakit. Jangan mengira aku tidak tahu apa-apa karena pingsan. Yang pasti karena kejadian ini, aku sudah memperkirakan semua kerugian yang ku dapat. Jadi, jangan coba untuk berbohong kepadaku.”
Entah bagaimana rasa pusingku bisa hilang hanya dengan melihat pria menyebalkan ini. Aku bersedekap dengan sikap defensif. Dia seperti menahan senyum saat melihatku.
"Kamu seperti ibuku."
Aku melongo, "Apa?"
"Kamu seperti ibuku. Kamu bicara panjang lebar dengan satu tarikan napas. Mengingatkanku dengan ibuku." ia terkekeh dengan geli.
"Terserah. Yang mau aku tanyakan sekarang adalah apakah kamu akan membayar semua biaya ganti rugi ini?"
Ia berhenti tertawa dan aku melihat air mukanya yang berubah. Seperti mendapat hadiah yang tidak diinginkan. Lelaki ini mengucapkan kalimat yang membuatku ingin membunuhnya sekarang juga!
"Sebenarnya... Emm... Sebenarnya aku baru menyadari kalau aku kecopetan di bus tadi."
"What?!!" teriakku.
Oh, God. Kesialan macam apa yang menimpaku saat ini?
***